
Zicko masih berada didalam kamar, dengan seksama ia memperhatikan isi dalam kamar istrinya.
"Rajin juga kamarnya, aku kira dia perempuan pemalas. Rupanya sangat rapi dan bersih, kelihatan nyaman untuk beristirahat." Ucapnya lirih, sepasang matanya tertuju pada sepatu yang sangat dikenalnya.
"Sepatu? sepertinya aku mengenal pemiliknya." Ucapnya lirih dan mendekati untuk memastikannya.
"Benar, ini sepatuku. Kenapa bisa berada di rumahnya? ah! iya, aku lupa. Gara gara masuk got, aku mendapatkan kesialan saat mau menabraknya." Ucapnya menggerutu.
Sesudah mengganti pakaiannya, Zicko bergegas keluar dari kamar istrinya. Sampai di ruang tamu, dilihatnya sang istri yang tengah duduk di ruang tamu sambil mengusap luka jahitan pada kakinya.
"Sedang apa kamu? kaki kamu sakit?" tanya Zicko penasaran.
"Tidak, kakiku baik baik saja." Jawab Lunika beralasan, sedangkan Zicko segera mendekat dan duduk disebelahnya.
"Mana yang sakit, aku mau lihat."
"Jangan, kaki aku baik baik saja. Aku tidak bohong, serius." Jawab Lunika berusaha untuk menutupi salah satu kakinya, Zicko sendiri menatapnya dengan tajam.
"Kamu jangan berbohong, cepat singkirkan tanganmu sekarang juga. Karena aku mau melihatnya." Ucap Zicko memaksanya dan menyingkirkan tangan milik istrinya.
Seketika, Zicko kembali teringat akan kejadian yang telah lama ia alami. Luka kaki yang terlihat begitu jelas dengan bekas jahitan pada salah satu kaki milik istrinya.
"Masih sakit?" tanya Zicko yang tiba tiba berubah dengan suara yang pelan.
"Tidak, aku sudah tidak merasakan sakit. Lagian, ini luka yang sudah cukup lama. Lagi pula juga luka ini tidak begitu serius, hanya meninggalkan bekas luka saja. Oh iya, apakah kamu sudah siap untuk berangkat ke rumah pak RT?"
"Kalau boleh tahu, kenapa kamu bisa mendapatkan luka yang seperti ini?" tanya Zicko dengan penasaran.
"Tidak penting untuk diceritakan, ini hanya sebuah kecelakaan kecil saat aku mencoba menolong anak sekolah yang tidak memperhatikan jalanan. Sayangnya, aku tidak mengetahui keadaannya. Dikarenakan aku sendiri dalam keadaan yang juga terluka pada salah satu kakiku." Jawab Lunika menceritakan.
"Kenapa kamu tidak mencari tahu keberadaan anak sekolah yang telah kamu selamatkan itu, seharusnya kamu memintanya untuk mempertanggung jawabkan atas luka kamu itu." Ucap Zicko.
__ADS_1
"Untuk apa? apa aku harus mengemis? tidak, aku tidak akan melakukan hal yang sudah menjadi tujuanku untuk menolong. Meski aku sendiri dalam keadaan kesusahan sekalipun, itu prinsip aku." Jawab Lunika dengan tenang.
"Bahkan kamu sendiri tidak membencinya?" tanya Zicko menyelidik.
"Tergantung, jika orangnya sombong sepertimu, maka aku akan sangat membencinya." Jawab Lunika, Zicko yang mendengar penuturan dari sang istri pun tiba tiba nafasnya terasa sesak.
"Tidak perlu ikutan tegang juga, kali. Aku hanya brcanda, aku tidak seperti itu orangnya. Padahal bukan kamu orangnya, tetapi aku melihatmu seperti terbawa oleh ceritaku. Apakah aku sudah pantas untuk menjadi seorang penulis novel? lucu sekali omonganku ini." Ucap Lunika, kemudian ia segera bangkit dari posisi duduknya.
Zicko hanya menarik nafasnya pelan dan membuangnya kasar. Lalu, Zicko bergegas mengikuti sang istri yang tengah ke luar dari rumahnya.
'Maafkan aku, jika aku sudah meninggalkan luka pada kakimu demi menyelamatkan nyawaku. Aku benar benar berhutang nyawa padamu, maafkan aku yang mungkin saja kamu akan terus mengingatnya. Aku janji setelah Jenyta menikah, aku akan berterus denganmu. Maafkan aku jika aku masih harus berbohong denganmu, maaf.' Batin Zicko penuh dengan rasa bersalah.
"Lun, tunggu. Panggil Zicko sedikit kaku. Lunika yang merasa namanya dipanggil pun terasa aneh mendengarnya, lalu menoleh ke sumber suara.
"Ada apa Bos? tumben panggil namaku dengan benar, biasanya hei!" tanya Lunika sedikit heran.
"Memangnya kamu maunya dipanggil dengan sebutan apa? hem." Jawab Zicko, lalu memanggil pak Yitno diminta membawa buku nikahnya untuk sebagai bukti. Sambil berjalan, Zicko langsung meraih tangan milik istrinya.
"Hem, gitu ya. Bukan karena ada pacar kamu, 'kan?"
"Pacar? Arnal, maksud kamu?" tanya Lunika menebak.
"Iya, aku tidak sengaja lihat fotonya berada dikamar kamu." Jawab Zicko sambil berjalan beriringan dengan sang istri.
"Itu dulu, bukan yang sekarang. Sudah lama aku melepaskannya, dan aku tidak akan pernah kembali dengannya. Aku mau fokus dengan hutangku padamu, tidak lebih." Ucap Lunika terpaksa untuk beralasan, meski berat untuk berucap.
"Kenapa kamu melepaskannya? apa karena tidak kamu dapatkan restu dari kedua orang tuanya? maaf, aku hanya menebak sesuai kebanyakan kasus saat ini." Tanya Zicko yang terus berjalan menuju rumah pak RT.
"Aku memiliki sebuah alasan, dan itu sangat privat untukku." Jawab Lunika yang tidak ingin membahas soal mantan kekasihnya, dikarenakan ia yang tidak ingin mendapatkan luka semakin dalam.
Setelah cukup lama berjalan kaki menuju rumah pak RT, Zicko serta sang istri dan pak Yitno telah sampai di kediaman rumah pak RT yang tidak jauh dari rumah Lunika.
__ADS_1
"Eeeh, Lunika. Kamu toh, Lun ... siapa dia? calon suami kamu, ya?" tanya istri pak RT.
"Iya Bu, eh! bukan begitu maksudnya. Itu, dia ..." jawabnya terhenti.
"Saya suami Lunika, Bu. Kedatangan saya kemari untuk bertemu dengan pak RT dan mau menunjukkan bukti buku pernikahan kita berdua, dan pada intinya kami mau menginap di kampung ini." Sahut Zicko tanpa canggung sedikitpun.
"Suami? kapan kamu menikahnya, Lun?" tanya istri pak RT terkejut.
"Loh loh, ada tamu kok tidak dipersilahkan masuk. Ibu ini bagaimana, toh bu? loh, Lunika? kamu ..." ucap pak RT yang tidak menyangka jika yang ada dihadapannya sosok Lunika yang mendapat gelar nama idolanya pinggiran kota.
"Iya Pak, saya Lunika. Saya mau ada perlu dengan pak RT, penting." Jawab Lunika dengan senyumnya sedikit gugup.
"Oh, ayo masuk." Ucap pak RT mengajaknya untuk segera masuk kedalam rumah, Zicko maupun Lunika dan pak Yitno mengikutinya dari belakang.
Saat sudah berada didalam rumah pak RT, Zicko dan Lunika maupun pak Yitno dipersilahkan untuk duduk.
"Ada perlu apa kamu datang kerumah kami, Lun?" tanya pak RT sambil memperhatikan sosok Zicko yang terlihat bukan orang sembarangan.
"Begini pak RT, sebenarnya saya ini adalah suaminya Lunika."
"Apa!!" teriak pak RT terkejut.
"Iya Pak, saya suaminya Lunika. Pernikahan saya di kota, tepatnya di kediaman orang tua saya tinggal. Dikarenakan, ibunya Lunika tengah sakit. Jadi, pernikahan saya hanya sederhana mungkin. Saya hanya mau melapor untuk tidak dijadikan orang yang dicurigai, karena kita berdua memiliki bukti yang akurat. Ini, bukti buku nikah saya dan Lunika selaku istri sah saya." Jawab Zicko menjelaskan.
"Oooh, jadi kamu sudah menikah? selamat ya, Lun. Semoga bahagia selalu dan segera diberi momongan." Ucap istrinya pak RT menimpali.
"Terima kasih ya, Bu. Maafkan saya jika pernikahan saya tidak diketahui oleh warga setempat." Jawab Lunika dengan malu.
"Oh iya, teman kamu Hana besok mau menikah. Ngomong ngomong kamu mendapatkan undangan darinya, tidak?" tanya istrinya pak RT.
"Saya mendapatkan undangan kok, Bu. Besok saya dan suami akan menghadiri pesta pernikahannya, makanya itu saya menyempatkannya untuk pulang." Jawab Lunika dan tersenyum, sedangkan pak RT dan sang istri pun menatap Lunika dengan keheranan.
__ADS_1