Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Mendapatkan informasi


__ADS_3

Masih didalam perjalanan pulang, keduanya sama sama sibuk dalam pikirannya masing masing. Diantara keduanya pun tidak ada yang terdengar bersuara, tidak Lunika maupun suami yang bergeming sepatah kata pun.


Setelah cukup lama dalam perjalanan, keduanya telah sampai di sebuah rumah yang cukup besar dan juga dengan bangunan yang luas. Meski rumah tersebut tidak sebesar milik kedua orangnya, namun rumah tersebut cukup lah besar ukurannya.


"Kita ada dimana?" tanya Lunika celingukan meski masih berada di dalam mobil.


"Rumah kita, sayang." Jawab Zicko sambil melepas sabuk pengaman nya, begitu juga dengan Lunika.


"Rumah kita? jangan ngada ngada, aku tidak akan percaya." Ucap Lunika sedikit ketus.


"Sudah, jangan banyak tanya. Semakin banyak tanya, maka kamu akan semakin bingung. Ayo, kita turun." Kata suami, kemudian mengajak istrinya untuk segera turun dan masuk kedalam rumah.


"Siapa yang banyak tanya? aku tuh cuman bertanya, ber! - ta! - nya! hem." Ucap Lunika sambil mengeja, lagi lagi suaminya hanya tersenyum melihatnya.


"Sudah lah, ayo kita turun. Apa perlu aku menggendong kamu? baik lah, dengan senang hati." Ajak suaminya, Lunika mendadak kaget mendengarnya.


"Jangan jangan jangan, jangan gendong aku." Sahut Lunika dengan terburu buru untuk segera keluar dari mobil, agar sang suami tidak bermain drama. Namun sayangnya, Zicko lebih sigap untuk melakukannya.


Dan benar saja, Lunika sudah berada dalam gendongan suaminya. Lunika yang terus memberontak agar bisa lepas dari suaminya pun ia tidak mampu melawannya. Justru semakin kuat tenaga pada suaminya, benar benar membuat Lunika kualahan melepaskannya.


"Sudah dong, turunin aku. Buruan cepetan, lihat tuh kita seperti tontonan. Mereka semua melihat kita, jangan membuatku malu. Aku masih bisa jalan sendiri, aku sedang tidak sakit." Perintah Lunika yang terus memberontak untuk bisa lepas dari suaminya.


Seketika, Lunika membulatkan kedua bola matanya saat dirinya merasakan sesuatu yang menempel pada bibirnya.

__ADS_1


"Aw!" pekik Zicko ketika bibirnya mendapat gigitan dari sang istri.


"Rasain, emang enak." Sungut Lunika dengan tatapan kesal, sedangkan Zicko hanya tersenyum ketika mendengar ucapan dari istrinya. Kemudian ia tidak perduli seberapa rasa kesal yang ada pada istrinya, Zicko tetap bersikukuh untuk membuat istrinya untuk mengenali lebih jauh lagi.


Bagi Zicko meluluhkan hatinya tidak mudah untuk melakukannya, dan yang pastinya penuh perjuangan. Lain dulu dan lain pula yang sekarang, karena sekarang ada sebuah kenangan dibalut luka. Sedangkan lukanya sangat ingin bisa dibalut dengan kenangan manisnya. Dengan susah payah, Zicko akan terus berusaha untuk mendapatkan cintanya kembali yang pernah dijadikan sebuah kenangan oleh istri yang dicintainya.


Begitu juga dengan Lunika, meski waktunya hanya berdurasi yang hanya dua tahun. Namun selama berada dalam dua tahun itu, tidak mudah bagi Lunika untuk melewatinya. Ditambah lagi dengan rasanya di posisi yang baru saja melahirkan, dan seketika itu juga harus kehilangan penyemangat hidupnya.


Tidak munafik bagi Lunika, dan bukan berarti terlalu larut dalam kesedihan. Tidak, tidak ada tentang larut dalam kesedihan, yang intinya tidak mudah ketika Lunika harus melawan arus yang begitu berat untuk di lewatinya. Bahkan dimasa masa itulah dirinya merasa sulit untuk mengalahkannya egonya. Ditambah lagi ketika dirinya sudah mulai melapangkan hatinya, kini harus menerima kenyataan yang sesungguhnya tidak pernah muncul dibenaknya.


Setelah sampai didalam kamar, dengan pelan Zicko menurunkan istrinya ditempat tidur. Keduanya saling menatap satu sama lain, detak jantung yang awalnya biasa biasa saja, kini berdegup tidak karuan.


"Aku tidak akan pernah melewatkan sedetik tanpa kamu, sekarang dan seterusnya." Ucap Zicko mulai bicara, Lunika sendiri masih terdiam.


Ingin rasanya memberontak, tenaganya jauh lebih kuat suaminya daripada dirinya sendiri.


Sedangkan Lunika sedikit malu saat mendapati sang suami tengah mengganti pakaiannya didepan sang istri.


"Aku suami kamu, bahkan kita sudah melewatinya tiap malam. Tidak hanya itu, bahkan lebih dari itu." Bisik suami didekat indra pendengarannya, sedangkan Lunika bergidik ngeri mendengarnya.


Karena tidak ingin membuat sang istri semakin emosi, segera ia pindah ke ruangan kerjanya. Setelah bayangan suaminya tidak lagi terlihat, dengan terburu buru segera mengunci pintunya.


"Akhirnya, aku bisa bernapas lega." Gumamnya tanpa melihat sebuah pintu yang terdapat kode pintu untuk membukanya. Karena rasa capek akibat banyak pikiran, Lunika langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur hingga tertidur pulas.

__ADS_1


Tanpa disadari oleh Lunika sebelumnya, Zicko kini sudah berada didalam kamar untuk merubah kamarnya menjadi dingin. Bahkan membuat sang istri semakin kedinginan, dan menjadi peluang emas untuknya.


Tapi ... niatnya pun diurungkan, ia tidak ingin terlalu memaksakan keadaan. Biarlah semua akan mengalir sebagaimana mestinya air mengalir, pikir Zicko yang tidak ingin memaksakan diri.


Karena tidak ada pilihan, akhirnya Zicko memilih untuk menyelesaikan misinya. Ditambah lagi jika identitas serta keberadaannya dapat ditemukan musuh akan jauh lebih bahaya. Tidak hanya itu saja, Zicko masih ada sang buah hati yang harus dilakukan penjagaan ketat.


Saat hendak membuka layar pintarnya, tiba tiba sebuah panggilan masuk ke nomornya. Dengan cepat, Zicko langsung menerima panggilannya.


Disaat itu juga, Zicko langsung keluar dari ruangan kerjanya untuk menemui seseorang yang ada di ruang tamu.


"Ayo, ikut aku ke ruangan privacy." Ajak Zicko yang sama sekali tidak menyukai sesuatu yang sangat lambat.


"Cepat jelaskan semuanya, jangan sampai ada yang terlewatkan." Perintah Zicko dengan rasa tidak sabar.


"Begini Tuan, saya telah mendapatkan info yang cukup akurat. Bahwa detik ini, saat ini, jika identitas Tuan telah diketahui oleh lawan." Ucap seorang yang menjadi kepercayaannya.


"Apa!! dia sudah mengetahui identitasku?"


"Benar, Tuan. Sepertinya percuma saja jika Tuan bersembunyi, karena lawan sudah mengetahuinya. Nanti yang ada Tuan sendiri yang akan menjadi bahan tawaan, dan pastinya akan ada sebuah berita yang bisa untuk dipelintirkan beritanya." Sahut nya, kemudian kemudian ia menyerahkan sebuah rekaman yang sudah didapatkan melalui penintaiannya.


Zicko yang sudah melihat jejak rekaman pembicaraan seseorang yang berada di suatu tempat yang sangat jauh keberadaannya pun semakin geram dibuatnya, kedua tangannya mengepal kuat.


"Bagaimana menurut Tuan? apakah kita harus melakukan pengepungan secepatnya?"

__ADS_1


"Jangan, awasi saja terus. Biarkan lawan kita yang akan menunjukkan batang hidungnya di depan kita, jangan gegabah untuk melawannya." Perintah Zicko dengan perasaan penuh kekesalannya.


"Baik, Tuan. Saya mengerti maksudnya, kalau begitu saya permisi." Jawabnya, kemudian segera pergi dari rumah Tuannya untuk terus melakukan penyelidikan sedetail mungkin.


__ADS_2