
Usai memberi banyak pertanyaan, kakek Ganan maupun kakek Alfan merasa sedikit lega. Sedangkan Lunika dan Zicko memilih untuk beristirahat. Selain banyak pikiran, Zicko tidak ingin istrinya banyak memikirkan sesuatu yang bisa mengganggu kesehatannya. Ditambah lagi, Zicko sangat berharap dengan adanya kado terindah untuknya dan sang istri.
Dengan sangat hati hati, Zicko menjaga istrinya dari segala macam yang dapat mengganggu kesehatannya.
Kini, kakek Ganan maupun kakek Alfan mulai berpikir keras untuk menemukan titik terang akan sebuah masalah yang harus dikuak kembali akan masa lalu dari istri Zicko Wilyam.
Dengan seksama dan pandangannya yang serius, kakek Alfan maupun kakek Ganan sama sama memeriksa setiap video video semua yang pernah berinteraksi dengan keluarga Wilyam Walaupun itu hanya sebatas tukang bubur yang pernah disapa oleh anggota.
"Kita ini menyelidiki Lunika, kenapa keluarga kita yang diselidiki? kamu tidak sedang dalam mode kurang sesaji, 'kan?" tanya kakek Alfan yang tidak mengerti dengan jalan keluar kakek Ganan.
"Aku sedang menyelidiki kasus tuan Dana. Tidak tahu kenapa, aku ingin menyelidikinya lebih dalam lagi." Jawab kakek Ganan yang penasaran dengan sosok kehidupan sahabatnya itu.
"Lalu, bagaimana dengan Elin? maksudku Eyang Elin, kekasih tuan Dana." Tanya kakek Alfan sedikit menahan tawa, entah kenapa semuanya seperti mimpi dengan statusnya yang sudah begitu tua, pikir kakek Alfan.
Sedangkan kakek Ganan hanya mengernyitkan dahinya saat mendengar sebutan Eyang untuk kekasih sahabatnya sendiri.
"Terus kita nyebutnya siapa? Nona Elin, begitu?"
"Hem! Elin aja kan, bisa." Ujar Kakek Ganan, sedangkan kakek Alfan hanya menganggukkan kepalanya.
Dirasa sudah cukup lelah menyelidiki kasus sahabatnya dan cucu menantunya, kakek Ganan dan kakek Alfan segera menyudahi obrolannya. Saat hendak membereskan meja, tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Kakek Alfan yang malas membuka, beliau hanya menekan tombol remotnya dan terbukalah sebuah pintu yang cukup lebar.
"Kamu, ada apa Zayen?" tanya sang ayah sambil membereskan laptopnya.
"Ada sesuatu yang mengganjal dibenak pikiranku, Pa." Jawab tuan Zayen, kemudian duduk dihadapan ayah sarta pamannya.
"Sesuatu? maksud kamu?" tanya sang ayah yang tidak mengerti.
__ADS_1
"Soal Lunika,"
"Lunika? ada apa dengan Lunika?" sahut kakek Ganan bertanya.
"Sepertinya Lunika harus dijadikan umpan untuk mengetahui siapa pelakunya, hanya itu jalan satu satunya."
"Tidak! Zicko tidak akan pernah mengizinkannya, aku tidak akan melakukan hal bo*doh untuk menyelidiki istriku. Masih ada cara lain selain dengan cara menjadikan umpan untuk mengetahui jejaknya." Sahut Zicko yang tiba tiba sudah berada didekat ayahnya, semua sontak kaget mendengarnya.
"Kamu tidak perlu khawatir, Zicko. Semua akan baik baik saja, Lunika tetap dalam pengawasan kita. Percaya saja sama Papa, semua akan berjalan dengan baik. Istri kamu akan tetap ada perlindungan jika ada yang menyakitinya." Ujar sang ayah yang tetap bersikukuh.
"Memangnya apa yang kamu khawatirkan, Zicko?" tanya kakek Ganan menimpali.
"Karena Zicko takut, jika pada diri Lunika ada kehidupan kedua. Karena kami sedang berharap harap cemas, Kek." Jawab Zicko dengan serius.
Sedangkan tuan Zayen dan kakek Alfan, serta kakek Ganan saling menatap secara bergantian.
"Ini! lagi, putranya berbicara kok ikutan travelling." Sindir kakek Ganan.
"Hem." tuan Zayen hanya berdehem tanpa berucap sepatah katapun.
"Iya, kakek mengerti. Nanti kita akan cari jalan keluarnya, yang terpenting untuk saat ini sudah mendapatkan ide. Meski idenya harus tertolak mentah karena sebuah keadaan, tidak apa apa." Ucap kakek Alfan ikut menimpali.
Tidak terasa waktupun sudah sore, kakek Ganan dan yang lainnya segera keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke ruang keluarga.
Sampainya di ruangan keluarga, terlihat jelas kakek Dana tengah beristirahat. Begitu juga dengan kakek Tirta yang juga ikut beristirahat di sofa.
"Aku pamit pulang, nanti malam aku dan istriku akan datang kesini lagi. Ingat, tujuan kita malam ini. Jangan sampai ada sesuatu yang kurang, aku tidak ingin masalah akan terus bertambah." Ucap kakek Ganan berpamitan.
"Tenang saja, aku sudah mengaturnya sedemikian baik. Apapun yang harus kita lakukan, kita tidak boleh lengah sedikitpun." Jawab kakek Alfan meyakinkannya, kemudian setelah itu kakek Ganan segera pulang.
__ADS_1
Kini, tinggal kakek Tirta dan kakek Dana yang masih tertidur pulas di ruang keluarga. Sedangkan kakek Alfan sendiri enggan untuk membangunkan kedua sahabatnya sekaligus besannya sendiri.
Sedangkan Zicko kembali ke kamarnya, ia tidak ingin sang istri sendirian. Ditambah lagi dalam keadaan yang masih mengkhawatirkan akan keselamatan istrinya.
"Sayang, sudah sore nih. Apakah kamu tidak ingin mandi? nanti malam ibu akan kesini loh. Apa kamu tidak ingin menyambutnya dengan hangat? tidak hanya itu, sahabat kamu si Romi dan kedua orang tuanya juga akan datang kesini. Jadi ... persiapkan diri kamu untuk menyambutnya dengan baik. Aku sudah siapkan pakaian kita untuk nanti malam, karena malam ini adalah malam spesial." Ucap Zicko sambil tiduran diatas pangkuan istrinya.
"Entah lah, aku merasa tidak bersemangat. Aku masih memikirkan keselamatan ibu, aku takut jika bang Martha akan menyakiti ibu." Jawab Lunika tidak bersemangat, dirinya juga memasang muka lesunya.
"Bukankah sudah aku katakan, jika papa sudah mengirimkan beberapa anak buahnya untuk berjaga jaga. Percayalah, semua akan baik baik saja. Yang paling penting sekarang ini, kamu segera mandi. Tidak baik jika mandi terlalu sorean dan diwaktu malam hari, tidak baik untuk kesehatan." Ucap Zicko menjelaskan serta meyakinkan istrinya agar dapat mempercayainya.
"Baik lah, aku akan segera mandi." Jawab Lunika masih tidak bersemangat, ia terus memikirkan keadaan ibunya.
Sedangkan semua para pelayan tengah disibukkan dengan kesibukan yang tidak seperti biasanya. Begitu juga dengan mbak Yuyun, sedari tadi ia sibuk dengan pengawasannya.
Tidak terasa, waktu yang ditunggu tunggu pun sudah hampir mendekati waktu yang dijanjikan.
Disaat itu juga, kakek Dana dan kakek Tirta terbangun dari tidur pulasnya.
"Jam berapa ini?" sambil mengucek kedua matanya, kakek Tirta sambil melihat jam tangannya.
"Apa!!!" teriaknya dengan reflek.
"Sudah hampir gelap rupanya." Sahut kakek Dana yang juga sudah terbangun dari tidur pulasnya.
"Sudah lah, kalian berdua buruan segera mandi. Aku sudah perintahkan pada anak buahku untuk menjemput istri kamu. Untuk tuan Dana, bagaimana kalau tuan untuk segera mandi. Tidak baik mandi di malam hari untuk kesehatan." Ucap kakek Alfan pada keduanya.
"Tuan Ganan dimana? apakah dia pulang?" tanya kakek Tirta sambil celingukan.
"Paman Ganan sudah pulang dari tadi, Paman." Sahut tuan Zayen yang sudah berada dihadapannya.
__ADS_1