Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Kejujuran


__ADS_3

Jadwal pulang pun telah tiba, perasaan lega kini tengah membebaskan Kalla yang sudah mulai terasa penat ketika selama delapan jam berada didalam Kantor.


"Kak, kita mau langsung pulang atau ... ke rumah sakit?" tanya Kalla sambil membereskan meja kerjanya.


"Kamu pulang saja, Kakak sudah meminta supir di rumah untuk menjemputmu." Jawab Daka yang juga sambil membereskan meja kerjanya.


Kalla yang mendengar jawaban dari sang Kakak pun hanya membuang napasnya dengan kasar.


"Kenapa Kak Daka tidak mau mengajak Kalla untuk menjenguk Kak Enja?" tanya Kalla dengan lesu sambil menunjukkan muka masamnya.


"Lain waktu aja, sekarang lebih baik kamu pulang. Katakan sama Mama atau Papa, jika Kakak pulangnya terlambat. Sudah, cuman itu saja." Sahut Daka sambil mengenakan Jas nya.


"Kak, jahat banget sih sama Kalla. Padahal cuman ikut aja apa susahnya sih? benar benar dah." Sungut Kalla sambil cemberut.


"Baik lah, jika kamu masih tetap memaksa. Tapi ingat, jangan banyak tanya atau apa lah. Tetap diam dan jaga etika dan sikap, apakah kamu mengerti?"


"Iya Kak, iya. Kalla janji tidak akan membuat onar lagi, serius." Sahut Kalla dengan senyum merekah karena berhasil merayu sang Kakak. Sedangkan Daka segera keluar dari keluar dari ruang kerjanya dan diikuti Kalla dari belakang.


Saat berjalan beriringan, lagi lagi semua karyawan melihatnya sambil berbisik layaknya penggosip.


Daka dan Kalla yang merasa jadi pusat perhatian, keduanya tidak begitu memperdulikan nya. Saat sudah berada didalam mobil, Daka melajukan mobilnya dengan kecepatab sedang.


Rasa penasaran yang begitu banyak masih tersimpan dalam ingatannya.


"Kak Daka," panggil Kalla sambil menatap ke arah sang kakak yang tengah fokus dengan setir mobilnya.

__ADS_1


"Hem, ada apa?"


"Kak, mau tanya nih. Kak Enja sebenarnya mengetahui status Kakak, tidak sih? kok tadi Kakak melarang mobilnya untuk masuk ke area panti asuhan. Bukankah Kak Enja adalah sekretaris Kakak? kok pakai menyembunyikan identitas sehala, mana yang lucu? hem." Tanya Kalla yang masih menyisahkan rasa pemasarannya.


Sambil menyetir mobilnya, Daka berusaha untuk tetap tenang ketika menghadapi berbagai macam pertanyaan dari sang adik.


"Tidak, Enja tidak tahu jika Kakak adalah Bosnya, yang Enja tahu kalau Kakak adalah orang kepercayaan nya. Yang diketahui oleh banyak orang, yakni jika Kakak kamu ini hanya lah Bos Tebengan aja. Makanya, tidak ada yang tertarik dengan Kakak kamu ini, mungkin. Atau ... hanya dijadikan bahan gosip aja, enyah lah." Jawab Daka masih sambil menyetir.


Setelah cukup lama dalam perjalanan, tidak terasa sudah sampai di area rumah sakit karena banyaknya mengobrol selama dalam perjalanan menuju rumah sakit.


'Pantas aja, Kak Daka tidak melakukan pertolongan dengan cepat. Rupanya selama ini Papa membatasi pengeluaran Kakak, semoga aja setelah ini semuanya akan menjadi lebih baik lagi. Ka Enja yang segera mendapatkan pelayanan yang bagus untuk dilakukannya operasi. Tapi ... semua itu tidak mudah pastinya, harus ada donor mata. Uang Kakak kan banyak, pasti bisa lah untuk mendapatkan pendonor mata.' Batin Kalla penuh harap akan kesembuhan perempuan yang dicintai sang Kakak.


"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ajak Daka sambil melepaskan sabuk pengamannya, kemudian langsung turun dari mobil dan diikuti oleh Kalla.


"Akhirnya kita sampai juga ya, Kak. Eh ngomong ngomong Kak Daka sudah meminta izin sama Mama, belum? takutnya nanti Mama dan Papa menunggu kita pulang, bagaimana? bisa bisa nanti kita dijadikan per*k*edel, lagi." Sahut Kalla sambil membayangkan jika mendapatkan hukuman dari kedua orang tuanya, lebih lebih hukuman dari seorang ibu. Membuat pikiran Kalla melancong tidak karuan untuk membayangkannya.


"Kamu tidak perlu takut, Kakak sudah mengirimkan pesan jika kita akan pulang terlambat. Dan Mama juga mengizinkan kita, maka dari itu kamu jangan banyak bicara." Kata Daka, kemudian ia berjalan untuk segera menemui Enja kekasihnya yang pernah terabaikan.


"Kak Daka, jangan terburu buru kenapa sih. Kalla lempoh nih, ngikuti langkah kaki Kak Daka udah kek macem pembalap aja deh." Seru Kalla memanggil sang Kakak yang tengah mengejar langkah kakinya yang cukup lebar itu.


"Jang cerewet, sudah lah ikutin aja dari belakang." Sahut Daka yang terus berjalan tanpa menghentikan langkah kakinya.


"Hah, sudah sampai? akhirnya kaki aku tidak jadi pegel pegel. Syukur deh, masih bisa bernapas lega." Gumam Kalla sambil mengatur napasnya akibat jalannya yang cukup gesit dan terburu buru karena harus mengejar sang Kakak.


Karena rasa yang sudah tidak lagi sabar, Daka langsung membuka pintunya untuk segera masuk.

__ADS_1


"Nak Daka," panggil ibu Mala dengan spontan. Sedangkan Enja hanya kaget saat melihat kakak beradik yang tiba tiba sudah datang dihadapannya itu.


"Hai, Kak Enja. Akhirnya Kakak mau juga untuk dirawat, semoga lekas sembuh ya Kak." Ucap Kalla yang kini tidak lagi malu malu untuk menyapa, sedangkan Enja membalasnya dengan tersenyum.


"Terima kasih, kalian berdua telah bersedia datang menjenguk ku." Kata Enja, sedangkan Kalla yang tidak ingin mengganggu dua insan yang tengah ingin mengobrol berdua. Akhirnya Kalla mengajak Ibu Mala tanpa ragu ragu untuk keluar dari ruangan tersebut.


Kini, tinggal lah Daka dan Enja. Karena sudah tidak ada yang lainnya, akhirnya Daka membantu Enja untuk membenarkan posisi duduknya. Setelah itu, Daka duduk disebelahnya dan meraih tangan milik Enja.


Rasa rindu yang sudah lama terpisahkan, akhirnya dapat dipertemukan kembali.


"Bagaimana keadaan kamu setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit?" tanya Daka sambil memegangi tangan milik perempuan yang ia rindukan.


"Lumayan mendingan, maafkan aku yang merepotkan kamu. Kemana aja kamu selama ini, apakah naik jabatan lagi? sampai sampai kamu pergi tidak pernah kembali." Jawab Enja dan balik bertanya.


"Maafkan aku yang sudah mengabaikan kamu, waktu itu aku benar benar dalam keadaan yang tidak bisa berbuat apa apa untuk kamu." Ucap Daka tertunduk sedih.


"Lupakan saja, tidak perlu kamu mengingatnya lagi." Kata Enja sambil menatap lurus sembarang arah, karena ia sendiri tidak tahu apa yang ada dihadapannya.


"Kamu mau kan memaafkan aku, Enja? aku janji, aku tidak akan mengulangi kesalahanku yang kedua kalinya." Ucap Daka penuh sesal, namun ia tidak bisa untuk mengulangi waktu yang sudah dilewatinya.


Yang bisa Daka lakukan yakni untuk meminta maaf dan juga berjanji, lalu mencobanya untuk memberi perhatian kepada Enja orang yang ia sukai.


Enja yang mendengar penuturan dari Daka pun, ia tersenyum mendengarnya.


"Kamu tidak bersalah, untuk apa kamu meminta maaf. Kamu bukan suamiku, sah sah saja jika kamu meninggalkan aku." Sahut Enja dengan sikapnya yang cukup tenang.

__ADS_1


__ADS_2