Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Tanpa bantahan


__ADS_3

Masih di dalam ruangan kerja, Vey dan Dey masih juga tidak ada yang bersuara.


"Permisi, Tuan." Ucap salah satu suruhan tuan Zayen yang sudah berdiri didekat pintu.


"Masuklah," perintah Dey sambil menatap layar pintarnya. Kemudian segera menghadap Dey, dengan santai Dey mendongakkan pandangannya lurus kedepan.


"Ada apa?" tanya Dey tanpa basa basi.


"Begini Tuan, saya dapat perintah dari Tuan Zayen bahwa Nona Vey diminta untuk pulang." Jawabnya.


"Silahkan bicara sendiri kepada orangnya, aku sedang tidak ingin berbicara dengannya. Aku sangat sibuk dengan pekerjaanku ini, katakan saja langsung dengannya." Ucap Dey tanpa menoleh kearah Vey.


Vey yang dapat mendengarkannya pun merasa lega, ia tidak harus berlama lama di ruangan tersebut bersama Bosnya.


'Akhirnya, aku bisa keluar dari ruangan ini. Aku yakin jika yang memintaku untuk pulang adalah paman Zayen, siapa lagi.' Batin Vey sedikit lega karena akan terbebas dari ruangan yang menurutnya sangat terkutuk.


"Maaf Nona, ada yang ingin saya sampaikan." Ucapnya sedikit menunduk.


"Katakan saja, Pak." Jawab Vey dengan tenang.


"Maaf Nona, jika Nona diminta untuk pulang sekarang juga oleh Tuan Zayen. Sekarang supir pribadi Nona sudah menunggunya di depan Kantor. Mari, saya antar sampai ke depan Nona." Ucapnya dengan sangat hati hati, karena sudah mengetahui siapa Vey sebenarnya.


"Dih! bapak, kenapa berubah kalem gitu. Jangan sungkan sungkan, Pak. Bukankah kita sering istirahat di Kantin bareng, Pak Jagur nih ada ada saja." Jawab Vey yang sudah kembali seperti biasa, suka bergurau dan mudah untuk mengobrol. Pak Jagur sendiri sedikitpun tidak merespon gurauan dari Vey, beliau tetap bersikap tenang layaknya bawahan kepada atasannya.


Sedangkan Dey sendiri tidak begitu memperdulikan gurauan Vey pada suruhan Pamannya. Karena sudah tidak ingin berlama lama di dalam ruangan kerjanya, Vey segera beranjak pergi untuk menghindari kekesalannya pada Dey.


Tanpa permisi ataupun berpamitan, dengan santainya Vey melangkahkan kakinya keluar. Dey sendiri tetap tidak memperdulikannya, ia fokus dengan layar pintarnya.


"Dey!" bentak Tuan Viko yang masih emosi.


"Viko, tenangkan emosimu." Ucap Tuan Zayen melerai, takut akan menambah masalah yang berkepanjangan antara anak dan orang tua.


"Bagaimana aku mau menahan emosiku, keponakan kamu itu sudah membuat aliran darahku membeku." Sahut Tuan Viko masih dengan rasa kesalnya.

__ADS_1


"Terus ... mau Papa itu, apa? mau marah? percuma. Dey sudah cukup Papa atur atur, bahkan Dey sudah menerima permintaan Papa untuk menikah dengan perempuan yang tidak Dey sukai. Bahkan, Dey sendiri tidak mengetahui seperti apa calon istri Dey." Ucap Dey bertanya dengan perasaan kesal.


"Dey, persiapkan diri kamu sebaik mungkin. Sebelum Zicko berangkat, kamu diharapkan sudah menikah. Katakan pada Paman, pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Tuan Zayen tanpa basa basi, fokus pada topik utama.


"Terserah, Dey hanya tidak ingin satu rumah bersama Papa. Dey paling tidak suka urusan rumah tangga ada yang ikut mencampurinya, titik." Jawab Dey.


"Baik lah, apakah masih ada yang kamu inginkan?" tanyanya lagi.


"Tidak ada, cuman itu." Jawab Dey dengan datar.


"Ya sudah, Paman dan Papa kamu akan keluar. Pelajari semuanya, karena kamu yang akan mengendalikan perusahaan ini. Karena Zicko sudah lepas tangan, hanya saja membantu sebagian. Karena tidak lama lagi, Zicko beserta istrinya akan menggantikan kamu di Amerika." Ucap Tuan Zayen menjelaskan, Dey hanya mengangguk.


Karena tidak ada lagi yang mau dibicarakan, Tuan Zayen dan Tuan Viko segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Viko, tunggu." Panggil Tuan Zayen, Tuan Viko berhenti dan menoleh kearah kakak iparnya.


"Apakah kamu sudah menghubungi keluarga perempuan?" tanya Tuan Zayen.


"Ya sudah, ayo kita kembali membereskan pekerjaan kita. Karena sebentar lagi Dey yang akan memimpin perusahaan ini." Ucap Tuan Zayen, Tuan Zicko pun mengangguk.


"Jadi setelah Dey menikah, kita akan bertukaran dengan anak kita. Kamu yang akan mengawasi Dey, dan aku yang akan mengawasi putramu." Sahut Tuan Viko.


"Hem, apakah kamu keberatan? tenang saja, di Amerika kamu tidak akan kesepian. Cucuku yang akan menemani hari harimu, dan aku akan menarik Vellyn kerumahku." Ucap Tuan Zayen.


"Ya ya ya ya, terserah kamu saja Kak."


"Ah sudah lah, ayo kita kembali ke ruangan kita." Ajak Tuan Zayen untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.


Sedangkan dalam perjalanan pulang, Vey masih menyandarkan dirinya pada kaca jendela mobil. Sesekali ia menangkap bayangan orang orang yang lalu lalang dengan arah berlawanan.


Tidak lama kemudian, Vey telah sampai didepan rumahnya. Ingin rasanya menenggelamkan diri sejenak, berharap masalah yang tengah dihadapinya akan segera berakhir.


"Nona, kita sudah sampai." Ucap pak Sopir mengagetkan Vey.

__ADS_1


Dengan malas, Vey segera turun dari mobil. Kemudian ia berjalan dengan sangat lambat, bahkan semangat dan keceriannya seakan telah lenyap begitu saja.


"Vey! bibir kamu kenapa? wah, pasti kamu habis berantem."


"Sok tahu banget sih kakak, siapa juga yang berantem. Yang ada Vey mendapat sial, sial, dan sial."


"Sial? sial yang bagaimana? cie ... yang habis dicium kumbang."


"Dih, si Kak Denra ngelantur. Mana ada dicium kumbang sampai berdarah, ada ada saja."


"Ya ... siapa tahu aja kumbang berwujud manusia, yang ganasnya melebih lebah."


"Ih! tidak lucu, bukannya kasihan lihat adeknya bibirnya dower. Eh! ini punya kakak menyebalkan, tidak lucu." Ucap Vey dengan sewot.


"Vey, kemarilah. Ada yang ingin Kakek omongin, cepetan kesini." Seru sang kakek memanggil cucunya.


Vey hanya bisa nurut, dengan malas ia mendekati sang kakek dan duduk disebelahnya.


"Bibir kamu kenapa bisa bengkak begitu? hem, kamu tidak sedang diarea dunia persilatan, 'kan?" tanya sang kakek sambil memperhatikan bibir milik cucunya yang terlihat bengkak.


"Vey tadi kebentur meja, Kek." Jawabnya beralasan, sang kakek hanya tersenyum mendengarnya.


"Ih, kenapa Kakek jadi tersenyum. Kakek seneng gitu ye, ngeliat cucunya kebentur meja. Sampai sampai bibir Vey jadi bengkak kek gini, Kak Denra dan Kakek ternyata sama aja tidak kasihan sama Vey. Bukannya terkejut kek, khawatir kek, tanya pelakunya kek, terus orangnya dihajar kek, atau apalah yang membuat Kakak dan kakek terkejut." Ucap Vey dengan cemberut.


"Hem, sudah dengarkan kakek bicara. Ada yang ingin Kakek sampaikan ke kamu."


"Memangnya Kakek ingin berbicara, apa?" tanya Vey dengan malas.


"Persiapkan diri kamu mulai dari sekarang, besok kamu sudah tidak mendapatkan izin dari kakek." Jawab sang kakek.


"Maksud Kakek?" tanya Vey seperti tidak percaya.


"Hem, tidak usah pura pura lupa kamu, Vey." Sahut sang kakak menimpali.

__ADS_1


__ADS_2