Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Kebenaran


__ADS_3

Tuan Guntara masih tertahan oleh Merry yang masih menempelkan bibir pistolnya tepat di dagunya. Rasa kebencian semakin bertambah pada tuan Guntara pada Merry yang sudah kelewat batas.


Dengan sorot matanya yang masih tajam, Merry tengah siap untuk melepaskan pelatuk yang sudah ia tekan. Sekali lepas, tembus lah satu peluru tepat dikepala tuan Guntara.


Semua yang ada disekelilingnya, kini tidak bisa untuk berkutik sebelum Merry maupun Reina memulai percakapannya.


"Merry! singkirkan pistolnya, atau kamu akan lebih menyesal lagi." Ucap tuan Zayen dengan suara yang meninggi dan terdengar sangat keras.


"Kamu bilang apa, Zayen? singkirkan pistolnya kata kamu. Memangnya kamu pikir kamu itu siapanya aku, hah! kamu itu tidak lain adalah musuhku."


"Aku tahu semuanya, jika putramu telah menikahi anak yang sudah aku culik dan aku siksa masa kecilnya." Jawab Merry diakhiri dengan tawanya yang lepas.


"Jadi!"


"Iya! menantumu itu adalah anak dari Guntara, hasil pernikahannya dengan Keira."


DUUUUAAARRR!!!!!


Semua terasa tersambar petir, tidak ada yang menyangkanya. Jika semuanya adalah perbuatan kedua perempuan yang sudah dibutakan hatinya.


Tuan Guntara masih tercengang mendengar kalimat dari Merry, ia benar benar tidak pernah menyangkanya jika Merry memiliki aksi nekadnya untuk menghancurkan rumah tangganya.


Detak jantung Tuan Guntara kembali bergemuruh hebat, lagi lagi ia tidak dapat berkutik lagi. Tenaga Merry semakin kuat, dan sulit untuknya untuk melawannya. Selain usianya yang tidak lagi muda, tuan Guntara sudah lama tidak pernah mengasah kemampuannya tentang bela diri.

__ADS_1


Sejak menikah yang kedua kalinya, tuan Guntara memilih menyibukkan dirinya dengan dunia pekerjaannya. Bahkan beliau jarang mempelajari kembali ilmu beladirinya. Berbeda dengan tuan Zayen dan tuan Seyn, kedua ayah yang masing masing memiliki anak satu selalu menyempatkan dirinya untuk terus mengasah ilmu beladirinya.


"Reina! hentikan perbuatan konyol kamu ini." Ucap Seyn yang semakin geram terhadap Merry dan Reina.


"Aku tidak akan puas sebelum kematian paman kol*otmu itu masih hidup." Jawab Reina dengan tatapan kebencian. Sedangkan Seyn tetap berusaha untuk bersikap tenang, meski sebenarnya sudah tidak memiliki kesabaran untuk meleny*apkan Reina mantan istrinya dulu.


"Dan satu lagi, secepatnya Guntara akan aku lenyapkan. Setelah itu, putrinya yang pernah aku buang." Sahut Merry dengan senyum sinisnya.


"Bedebah! kamu Reina! Merry! aku yakin jika kamu memperalat Merry untuk membalaskan dendammu padaku dan paman Dana, dan kamu memilih sasaran paman Guntara untuk dibadikan sasaran yang tepat di ot*akmu." Ucap Seyn sambil menebaknya.


"Tepat! sekali, yang kamu ucapkan adalah benar adanya. Aku memang dendam dengan kakek paman kol*otmu Dana, karena sudah membiarkan aku menderita dibalik jeruji besi. Maka, aku memilih Merry yang sangat tepat untuk menjadikannya perantaku. Kamu tahu? Merry pernah ditolak Guntara, bukan? disitulah, permainanku dimulai. Bahkan, aku sudah mengetahuinya jika Guntara adalah adik dari paman ko*lotmu itu." Jawab Reina dan diakhiri dengan tawa lepas, Seyn maupun yang lainnya ikut geram mendengarnya. Ketiganya sama sama mengepalkan tangannya dengan erat. Tatapan kebencian begitu jelas dengan nyata, dendam! dendam yang selalu beruntutan. Kini, dendam kembali karena asmara dan dibutakan akal sehatnya. Tanpa berpikir panjang, Reina maupun Merry tengah melakukan perbuatannya yang sangat tidak baik dan tidak pantas untuk dilakukannya.


Senyum getir dan sinis, Reina menatap orang orang yang sangat dibencinya. Terutama, kakek Dana dan Seyn. Sedangkan tuan Guntara dijadikan jembatan akan dendam yang tersimpan dihati Reina.


Reina sengaja menyembunyikan identitas adik perempuannya, karena sudah dari awal untuk menjadi senjatanya. Tuan Seyn, kakek Dana, dan semuanya tidak ada yang pernah menyangkanya. Bahwa yang menjadi dalang utamanya adalah Reina, mantan istri dari kakek Dana dan tuan Seyn.


"Jadi, selama ini kalian kabur. Bagus! setelah ini, kalian berdua akan mendekam selama lamanya." Ucap tuan Zayen dengan santai dan menunjukkan sebuah pistol yang sudah diusapnya lembut dan meniupnya dengan tatapan menantangnya.


"Kamu pikir, aku takut dengan mantan tahanan sepertimu! cu*ih!" Jawab Reina dengan senyum sinisnya dan tidak luput dari meludahnya.


"Lepaskan! atau aku akan balik menyerangmu, Merry!" bentak Tuan Guntara menatap perempuan yang pernah ditolaknya.


"Aku tidak akan membiarkan kamu untuk hidup, camkan itu! tuan Guntara." Jawab Merry dan kembali menekan bibir pistolnya masih di dagu milik tuan Guntara. Sedangkan tuan Guntara hanya bisa bermain dengan dramanya sendiri untuk tetap tenang dan mengikuti kemana arah Merry berbuat dengan sesuka hatinya.

__ADS_1


Sedangkan Reina, ia tidak kalahnya mengeluarkan sebuah pistol dari balik punggungnya. Kemudian, ia mengarahkannya tepat ke arah kakek Dana.


"Lakukan! lakukan jika yang kamu mampu membunuhku, Reina. Apa kamu sudah lupa, kamu bisa bertahan hidup itu karena siapa."


"Omong kosong! kau tua ba*ngka, da*sar be*debah." Ucap Reina mendekati kakek Dana sambil mengarahkan pistolnya tepat ke arah kening milik kakek Dana.


"lihat lah ini! kamu akan mati! tua ba*ngka." Ucap Reina yang sudah mengarahkan sebuah pistol tepat! di kening kakek Dana. Sedangkan Tuan Zayen dan Seyn juga menunjukkan pistolnya.


Seketika, sebuah pistol yang ada pada tuan Zayen dan tuan Seyn kini telah dirampas oleh seorang perempuan dengan cepat. Semua dibuat cemas dan juga tegang, seseorang yang datang secara tiba tiba dengan penampilan serba hitam. Memakai masker dan kaca mata hitam, semua bertanya tanya dalam hatinya masing masing.


"Siapa kamu!" Bentak tuan Zayen, namun sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya.


Disaat itu juga, kedua matanya bermain dengan lihai. Kedua tangannya pun tengah menekan sebuah pelatuk dengan kuat. Sekali lepas, dua peluru dapat melayang pada dua arah.


Reina maupun Merry sama penasarannya, keduanya pun dibuat bingung olehnya. Bahkan Merry dan Reina sama sekali tidak memerintahkan anak buahnya untuk mendatangi markas sebelum mendapat arahan.


Sosok perempuan yang misterius itu tengah mengelilingi satu persatu diantara tuan Zayen dan yang lainnya sambil menodongkan pistolnya satu persatu diantara orang orang yang berasa didalam markas tersebut. Semua dibuat gelisah, takut! itu pasti.


'Siapa dia, apakah istri Martha? Elima? tidak! tidak mungkin itu Elima. Karena aku yakin jika Elima tengah disandera oleh tuan Zayen. Aku tahu kelicikan kakek Ganan, ini pasti suruhannya. Cu*ih! caramu begitu sangat busuk, kakek Ganan ... ah! aku yakin bahwa perempuan itu adalah suruhan Martha.' Batin Reina dengan senyumnya yang mengembang.


Begitu juga dengan tuan Zayen dan yang lainnya ikut penasaran dengan sosok perempuan yang begitu lihai.


'Siapa perempuan itu? apakah bagian dari anak buah Reina? bisa jadi.' Batin tuan Zayen menerkanya.

__ADS_1


__ADS_2