
Vey yang mendengar ejekan dari Selwy pun hanya menatapnya sinis, kemudian ia kembali fokus untuk melihat sosok Bos baru yang mulai berjalan lewat didepannya.
"Vey, jangan lupa membungkukkan badan." Ucap Yeni mengingatkan.
"Iya ya, Yen. Tenang aja, aku pasti patuhi peraturan." Jawabnya, seketika Vey tercengang melihat sosok yang ada dihadapannya itu. Keduanya sama sama mendadak saling tatap menatap dengan tajam karena terkejut.
"Mampus! gua, kabur ..."
"Heih!!! mau kabur kemana, kamu? hah." Ucap Dey sambil menarik kerah baju milik Vey bagian belakang.
Tuan Zayen yang melihatnya pun mengernyitkan dahinya seperti tidak percaya jika keduanya sudah saling mengenal.
"Mau kabur kemana, kamu? hah! ayo ikut denganku." Ucap Dey sambil menarik kerah baju Vey sambil berjalan menuju ruang kerjanya.
"Bos, tolong lepasin. Aduh! Bos, malu dilihat."
"Emang aku pikirin, itu urusan kamu." Jawab Dey yang masih menarik kerah baju milik Vey. Tuan Zayen hanya mengawasinya dari belakang dan memilih berjalan dibelakang keponakannya.
Semua karyawan yang melihatnya pun saling berbisik membicarakan tentang Vey yang terlihat mendapat masalah dengan Bos barunya.
"Hei Yen, lihat tuh sahabat elu. Nasib buruk tengah menimpanya, sebentar lagi kamu bakalan ikutan sial dengannya. Kasihan ... makanya jangan belagu, ngerti." Ucap Selwy sambil mengejek.
"Dih! kenapa kamu yang repot repot berkomentar, kurang kerjaan lu." Sahut Yeni yang tidak mau kalah.
"Lihat saja nanti, aku jamin si Vey bakalan mendapat hukuman dari Bos baru dan bisa jadi di pecat." Ucapnya dengan percaya diri.
"Sok tahu, Lu. Mana mungkin Vey dipecat dari Kantor ini, secara Vey adalah orang kepercayaan Bos Besar. Jadi, aku rasa tidak mungkin terjadi soal Vey dipecat dari Kantor ini." Jawabnya dengan pikirannya yang positif.
Selwy yang terus diserang Yeni, dirinya segera pergi dan pergi menjauh.
Sedangkan didalam ruang kerja, kini sudah ada Tuan Zayen dan Dey serta Vey yang mendadak ditarik oleh pengganti Zicko.
__ADS_1
"Dey, lepaskan." Perintah Tuan Zayen mencoba melerai. Dey segera mendorong Vey dan melepaskannya dengan kasar.
"Aw!" pekik Vey yang hampir jatuh ke lantai, namun bagian tangannya hanya menyenggol sudut meja saja. Sehingga tidak mengakibatkan luka maupun benturan keras lainnya.
"Itu belum seberapa dengan sakit pinggangku ini, ngerti." Ucap Dey, Vey hanya menatapnya penuh kesal. Tuan Zayen mencoba mencerna dialog diantara keduanya, tatap saja tidak dapat menebaknya.
Karena begitu sulit untuk menemukan jawabannya, Tuan Zayen mencoba untuk membuka suara.
"Kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Tuan Zayen dengan penuh rasa penasaran.
"Tidak!" jawab keduanya serempak.
"Tidak, kata kalian berdua? yakin nih."
"Iya, Tu ... Pa .."
"Dey tidak mengenalnya, Paman. Justru, perempuan ini yang sudah membuat pingganggu sakit." Ucap Dey dan mengarahkan pandangannya dengan tatapan penuh kesal terhadap Ve. Sedangakan Vey yang mendapat tatapan tajam dari seseorang yang tidak dikenalinya, ia hanya memasang ekspresi biasa biasa saja. Bahkan Vey sendiri tidak merasa takut sedikitpun, justru tetap bersikap santai dan seolah olah tidak ada apapun.
"Oh, dari situ kalian berdua saling mengenal? baik lah kalau begitu. Paman ada jalan keluarnya untuk kalian berdua, agar impas semuanya."
"Paman? jangan ngada ngada kamu, Pamanku tidak mempunyai keponakan selain aku. Cih! hayalan kamu terlalu tinggi untuk menyamakan aku, tidak lucu." Kata Dey dan senyum sinis setelah kalimat terakhirnya, lagi lagi Vey hanya mengernyitkan keningnya.
"Memang siapa yang melucu, dih! kepedean banget. Mau aku panggil Paman Kek, atau Ayah kek, atau apa kek, itu tidak mengaruh apapun." Jawab Vey yang tidak kalah tajamnya saat menatap Dey yang masih memegangi pinggangnya.
"Sudah sudah, dari pada kalian berdua berantem yang berkepanjangan. Lebih baik sekarang dilakukan pemijatan, sedangkan yang memijatnya pinggang kamu si Vey."
"Apa!!!" teriak keduanya bersamaan.
"Hem, jangan protes." Ucap Tuan Zayen pada keduanya.
Dey maupun Vey sama sama saling menatap tajam satu sama lain, keduanya sama dongkolnya.
__ADS_1
"Tapi ... Vey tidak bisa memijat, Paman."
"Cih! siapa juga yang mau dipijat sama perempuan yang tenaganya super kek kamu, bisa bisa tulangku patah karenamu, nabrak aja sudah kek kena encok segala."
"Terserah kamu Dey, Mama kamu sudah cancel tukang pijatnya. Tidak hanya itu saja, Mama kamu sudah meminta Paman untuk mencari tukang pijat, Vey ahlinya. Selain jago bersilat tentang bela diri, Vey mahir dalam menangani soal pijat memijat dan soal mengurut." Sahut Tuan Zayen tetap pada pendiriannya, bahkan keponakannya merengek sekalipun tidak akan dikabulkan permintaannya.
Karena tidak mau lama lama menanggapi keponakannya, Tuan Zayen segera menghubungi seseorang untuk mengantarkan minyak urut ke ruang kerjanya Dey..
Dey yang tidak ingin mendapat pijatan dari Vey, ia langsung berpikir untuk mencari alasan yang tepat untuknya.
"Paman, Dey mana bisa diurut sama perempuan. Ganti aja tukang urutnya ya, Paman?" ujar Dey beralasan. Berharap permintaannya diterima, namun sayangnya Tuan Zayen tidak bisa Goya sedikitpun.
"Iya Paman, nanti biar Vey yang carikan penggantinya seorang laki laki." Sahut Vey yang juga mencari alasan, lagi lagi keputusan dari Tuan Zayen tidak bisa untuk dirubahnya.
Namun, tiba tiba datanglah sebuah ide yang datang secara reflek. Vey tersenyum mengembang ketika ide briliannya muncul, Dey hanya mengernyitkan dahinya ketika melihat senyum mematikan pada Vey.
'Ini anak sedang merencakan apa lah, senyum begitu udah kek kurang waras aja.' Batin Dey yang dapat menangkap ekspresi Vey yang mencurigakan.
Vey yang sedari senyum senyum sendiri tanpa ia sadari tengah diperhatikan Tuan Zayen dan Dey. Bahkan ada seseorang yang tengah masuk pun tidak menyadarinya. Vey masih disibukkan dengan lamunan serta ide konyol yang sudah nangkring dan siap untuk dihempaskan.
"Vey, ngelamun aja. Nanti kesambet Dey, kamu." Ledek Tuan Zayen, Dey yang merasa namanya dijadikan ledekan hanya mengernyitkan dahinya.
"Iya Paman, maaf. Maksud Vey, Tuan." Sahut Vey.
"Aduh! kenapa ni mulutku selalu menyebutnya Paman." Gumam Vey, Dey yang mendengarnya hanya menarik nafasnya panjang dan membuangnya kasar.
"Ya sudah kalau begitu, Paman mau pindah ke ruangan lain. Jika kamu sudah diurut, Paman dan Papa kamu kembali masuk ke ruangan kerjamu." Ucap Tuan Zayen memberi pesan, keduanya hanya bisa pasrah dan menuruti perintah dari Tuan Zayen.
Kini, tinggal lah Vey dan Dey yang masih berada diruangan tersebut, Dey kembali menatap tajam kearah Vey.
"Tidak segitunya juga, kali. Menatapku saja sudah seperti singa lapar yang siap menerkam, dih! norak."
__ADS_1
"Kamu bilang apaan tadi? singa kelaparan? enak saja kamu bilang." Sahut Dey yang masih merasa kesal pada Vey.
"Sudah! mau diurut atau tidak. Kalau tidak, aku mau keluar. Ngapain juga aku didalam ruangan ini, cuman untuk menatapmu saja. Dih! seperti lelakinya cuman kamu saja." Ucap Vey yang tidak mau kalah.