Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Pilihan


__ADS_3

Saat berada di ruang tengah, Romi memilih untuk duduk disofa dan menyandarkan diri sambil mendongakkan pandangannya. Romi mencoba untuk menjernihkan pikirannya karena tengah dalam puncak kegelisahannya. Romi sendiri tidak dapat untuk tidur dengan nyenyak, selalu saja dihantui dengan pertanyaan mengenai sebuah pernikahan.


"Romi, sedang apa kamu?" tanya sang Ibu mengagetkan.


"Mama, ngagetin Romi aja. Mama kenapa bangun? tumben." Kata Romi balik bertanya.


"Mama tidak bisa tidur, didalam kamar gerah." Sahut sang ibu sambil menyalakan kipas anginnya.


"Gerah? bukannya ada AC nya?" tanya Romi dengan keningnya yang berkerut.


"AC dikamar Mama mati, jadi gerah." Jawab sang ibu dan memilih untuk duduk dihadapan putranya.


"Oooh, kenapa Mama tidak hubungi saja tukang servis nya." Kata Romi sambil menyilangkan kedua tangannya dibagian dada bidangnya.


"Sudah, tapi besok pagi. Oh iya, kamu ngapain belum tidur? ada masalah? ceritakan saja sama Mama."


"Iya Ma, Romi sedang ada masalah yang sangat besar."


"Masalah apa?" sambung sang ayah ikut menimpali dan kini keberadaannya tengah duduk di dekat putranya.


"Papa, kenapa bangun? alasan gerah lagi, hem."


"Hem, kan Mama kamu sudah bilang tadi, jika AC nya tidak dapat dinyalakan. Makanya, kamar Papa jadi gerah. Kamu sendiri, kenapa belum juga tidur? lagi kasmaran? hem." Kata sang ayah balik bertanya, dan kini Romi membenarkan posisinya hingga menghadap ke arah kedua orang tuanya.


"Romi sedang ada masalah besar, Pa." Ucap Romi berterus terang.


"Masalah besar? memangnya kamu mempunyai masalah besar? masalah apa lagi? hem." Sang ayah semakin penasaran dengan putranya.


"Jangan bingung bingung, katakan saja sama Mama dan Papa. Siapa tahu aja, kita berdua bisa menolong kamu." Ucap sang Ibu ikut menimpali.


"Begini loh Pa, sebenarnya ini mengenai perjodohan. Maksud Romi, bahkan Tuan besar Ganan telah menjodohkan Romi dengan anak dari Tuan Kazza.

__ADS_1


"Apa!!! kamu diminta untuk menikah dengan anaknya Tuan Kazza? yang benar saja, kamu ini." Teriak sang ibu cukup kencang.


"Iya Ma, semuanya benar. Bahwa Romi diminta untuk menikahi anak dari Tuan Kazza, yang tidak lain kini menjadi sekretaris Romi sendiri. Rupanya memang sudah direncanakan untuk mendekatkan Romi dengan putrinya." Ucap Romi menjelaskannya pada kedua orang tuanya.


"Papa tidak bisa membantumu untuk menerima atau tidaknya, karena kamu yang akan menjalaninya dan kamu juga yang akan


menjadi perannya. Papa hanya bisa memberimu sebuah nasehat, tidak lebih." Ucap sang ayah dengan serius.


"Nasehat apa yang akan berikan kepada Putramu, Pa?" tanya Ibu nya Romi ikut menimpali.


"Nasehat yang akan aku berikan pada Romi yaitu, nasehat kecil yang boleh kamu terima maupun diabaikan." Jawab Ayah Romi, kemudian Beliau menatap putranya dengan serius. Bahkan Romi sendiri merasa canggung ketika dirinya berhadapan langsung dengan sang ayah.


"Romi, dengarkan nasehat receh Papa kamu ini. Jika kamu merasa berat untuk menerima nya, kamu tidak perlu memaksa diri kamu untuk menerima perjodohan itu. Ingat, sebuah pernikahan bukanlah hal sesuatu yang gampang untuk kamu ubah statusnya. Tetapi, didalam sebuah ikatan yang bernama pernikahan itu ada kalimat sakral yang harus kamu genggam dan tidak kamu remehkan. Apakah kamu maksud dengan yang Papa ucapkan? pikirkan dengan pikiran jernih mu, maka kamu akan mendapatkan jawabannya." Ucap sang ayah kepada putranya yang tengah dilema karena sebuah perjodohan yang jauh dari bayangan sebelumnya.


Romi yang mendengarnya pun, ia berusaha untuk mencernanya lebih dalam lagi. Agar dirinya tidak salah dalam memilih sesuatu yang akan menjadikan teman hidupnya dari segala macam konflik, pikir Romi dengan diamnya.


"Bagaimana? apakah nasehat receh Papa kamu ini bisa kamu terima? Papa tidak akan memaksamu untuk menolak maupun untuk menerima. Kamu yang memilih, dan kamulah yang menjalaninya. Terus, kamu juga yang akan menjadi kepala rumah tangganya. Jadi, Papa minta sama kamu untuk dipikirkan kembali. Jangan sampai ada penyesalan dan kekecewaan. Jika kamu mau menerima perjodohan itu, maka kamu harus temui langsung perempuannya. Jangan sampai diantara kamu dan dia hanya bertahan dari titik keterpaksaan." Ucap sang ayah lagi untuk memberi pertimbangan pada putranya agar tidak salah memilih keputusan.


Sampainya didalam kamar, Romi merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Sambil menatap langit langit kamarnya, Romi kembali mencerna apa yang sudah ia dengar dari nasehat yang diberikan untuknya.


"Usiaku yang kini tidak lagi muda, bahkan sudah berkepala tiga. Belum tua tua amat sih, tapi ... kenapa aku merasa tidak laku laku, ya. Ah! nasibku ini terlalu rumit untuk aku cerna sendiri, lalu kenapa begitu entengnya aku mencerna ucapan dari Papa. Cih! jangan bilang, jika aku sedang dalam mode jomlo yang gelisah karena jodoh." Gumam Romi sambil menatap langit langit kamarnya.


Karena dirasa sangat mengantuk, Romi memilih untuk memejamkan kedua matanya. Berharap ketika bangun tidak mendapatkan siraman air sang ibu, pikirnya.


Ditempat lain juga, yakni dikediaman rumah orang tua Arnal. Sosok laki laki itu pun tidak lepas dari kegelisahannya yang tidak jauh beda dengan Romi sahabatnya sendiri.


Berulang kali Arnal berpindah posisi ketika tidur, tetap saja masih sama. Bahkan seluruh tubuhnya terasa pegal pegal tidak karuan, ditambah lagi dirinya yang sudah siap menerima perjodohan itu.


"Aku sedang tidak bermimpi, 'kan? benar nih, jika aku akan menikah. Mimpi apaan tadi siang, perasaan aku tidak bermimpi." Gumam Arnal yang merasa masih terasa mimpi.


Karena tidak ingin terlalu banyak memikirkan sesuatu yang bisa membuatnya semakin pusing. Arnal memilih untuk beristirahat, agar badannya tidak semakin remuk karena lama perjalanan dari luar Kota.

__ADS_1


*******


Pagi yang cerah, semua orang banyak menyibukkan diri dengan aktivitasnya masing masing. Begitu juga dengan Daka, dirinya tengah bersiap siap untuk mengurus keberangkatannya ke luar Negri. Segala aktivitasnya di Kantor, ia sudah lepas tangan dan sudah diwakilkan oleh Romi.


"Daka, kamu tidak sarapan dulu, Nak?" tanya sang Ibu memergoki putranya yang terlihat terburu buru.


"Daka tidak mempunyai waktu lagi, Ma. Nanti Daka sarapannya di luar saja, bareng Enja." Sahut Daka sambil mengenakan sepatunya dibawah anak tangga.


"Oooh iya, Mama lupa. Hati hati dijalan, semoga segera selesai urus urusannya dan segera berangkat untuk dilakukan penanganan buat Enja calon istri kamu."


"Iya Ma, doain Daka. Semoga hari ini urus urusan selesai, dan bisa membawa Enja agar segera dilakukan penanganan dan bisa pulih seperti dulu lagi. Kalau begitu, Daka pamit." Jawab Daka sekaligus berpamitan.


"Hati hati," kata sang ibu.


Selama perjalanan, Daka mempercepat laju kendaraannya. Berharap tidak membuang buang waktu, pikirnya. Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya Daka telah sampai di halaman Panti asuhan.


Dengan langkah kakinya yang cukup lebar, Daka telah sampai didepan kamar milik calon istrinya.


"Nak Daka," panggil Ibu Mala dan mengagetkannya saat hendak mengetuk pintu kamar milik calon istrinya.


"Ibu, selamat pagi." Sapa Daka dengan ramah.


"Enja sedang mandi, Nak. Sebentar lagi juga selesai, ditunggu sebentar ya, Nak Daka." Kata Ibu Mala, Daka pun mengangguk.


"Ibu sampai lupa tidak mempersilahkan duduk sama Nak Daka, silahkan duduk Nak Daka." Ucap Ibu Mala merasa tidak enak hati.


Dengan sopan, Daka akhirnya duduk sambil menunggu calon istrinya yang sedang melakukan ritual mandinya. Sambil menunggu, Daka menyibukkan diri dengan benda pipihnya agar tidak membuatnya bosan.


Setelah cukup lama, akhirnya Enja telah selesai membersihkan diri. Kemudian, pintu kamarnya pun terbuka oleh asisten rumahnya yang dikirim untuk merawat Enja selama masih berada di Panti asuhan. Maunya Daka sih, ingin membawa calon istrinya untuk tinggal di rumahnya, namun Enja tetap menolaknya karena belum resmi menjadi istri sah nya.


"Permisi Tuan, Nona Enja sudah mandi." Ucapnya pada Daka.

__ADS_1


__ADS_2