Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Tidak percaya


__ADS_3

Setelah berpamitan, Zicko dan Lunika tengah dalam perjalanan pulang ke rumah. Keduanya nampak bahagia dengan sempurna, meski masih ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran Zicko. Namun, sebisa mungkin untuk tetap bersikap tenang dihadapan istrinya sendiri.


Untuk menghilangkan kejenuhannya didalam mobil, Lunika menatap luar sambil melamunkan sesuatu.


'Aku masih tidak percaya, benarkah aku sudah bersuami? begitu sempurnanya dia untukku. Aku merasa ini adalah mimpi.' Batin Lunika yang merasa tidak percaya.


"Kamu ngelamunin apa, sayang? hem." Tanya Zicko membuyarkan lamunannya.


"Tidak ada yang aku lamunin, aku hanya merasa seperti mimpi. Tidak lebih, serius." Jawab Lunika, kemudian bersandar pada bahu suaminya.


"Ini nyata, bukan mimpi. Jodoh itu unik, ya. Aku merasa bahwa kehadiran kamu itu benar benar sangat spesial, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Apapun alasannya, aku akan tetap bersamamu." Ucap Zicko sambil mengusap pelan lengan istrinya berulang ulang. Kemudian, Lunika menatap wajah suaminya dengan lekat.


"Lucu aja sih, tapi memang kenyataannya." Jawab Lunika, kemudian ia melingkarkan kedua tangannya dibagian pinggang milik suaminya dengan erat.


Tidak lama kemudian, mobil yang dinaikinya pun telah terhenti didepan rumahnya. Lagi lagi, Lunika teringat ketika dirinya mulai menginjakkan kakinya dirumah suaminya itu.


"Ayo, kita masuk. Kamu kenapa sih, perasaan dari tadi kamu itu melamun terus. Ada masalah? jujur saja." Ajak Zicko dengan menyimpan rasa penasarannya.


"Tidak ada, aku tidak memiliki masalah apapun. Aku itu hanya teringat saat pertama kalinya aku masuk ke rumah kamu, itu saja." Jawab Lunika berterus terang.

__ADS_1


'Semoga saja yang kamu katakan itu ada benarnya, aku hanya takut jika kamu masih memikirkan mantan kekasihmu itu. Tidak hanya itu juga, aku takut jika Aden akan terus mengejarmu. Karena aku tahu, dia sangat menyukaimu dan bahkan sudah beberapa kali dia mengutarakan perasaannya pada dirimu. Entah kenapa, kamu sangat kehilanganmu.' Batin Zicko dengan perasaan cemas, ia merasa takut jika masa lalu dari keluarganya akan terulang kembali pada dirinya.


Sesampainya didalam rumah, suasananya pun kembali sepi dan tidak pernah berubah. Sejak kakek Alfan memutuskan untuk tinggal di luar Negri, suasana berubah menjadi sunyi dan sepi. Ditambah lagi kedua orang tuanya yang selalu sibuk dengan Dunia bisnisnya, semakin jarang untuk berada di rumah.


"Selamat pagi Tuan, Nona." Sapa pelayan rumah.


"Mbak Yuyun, selamat pagi juga ..." jawab Lunika dengan senyum ramah dan balik menyapa. Kemudian, keduanya segera masuk ke kamarnya.


"Sudah cantik ... ramah, lagi. Berbeda dengan Nona Seril, yang manja dan sombong. Semoga saja, Nona Lunika benar benar jodoh untuk Tuan Muda." Ucapnya lirih yang tiba tiba teringat akan sosok mantan kekasih majikannya.


Sedangkan di luar sana, ada Aden yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Namun, ia alih alih melihat sebuah memory kenangan bersama teman sekolahnya serta ada sosok perempuan yang disukainya. Tiba tiba ia kembali teringat akan sebuah pengakuan dari sahabatnya, begitu sakit untuk ia dengar.


"Aden!" seru sang kakek memanggilnya dengan suara yang meninggi.


"Iya Kek, Aden minta maaf sudah membuat kakek geram." Jawab Aden yang masih fokus dengan layar laptopnya.


"Aden, hentikan perasaan kamu itu. Lupakan lah masa lalu kamu, tidak baik memikirkan perempuan yang sudah berstatus istri orang. Apalagi berstatus istri sahabat dekat kamu, serta masih bagian keluarga kamu. Ingat! Aden, Kakek sudah mengingatkan kamu. Jangan bermain api dengan sahabatmu, jika kamu ingin selamat." Ucap sang kakek yang terus mengingatkan cucu kesayangannya, agar tidak gegabah dalam menyikapi emosinya sendiri.


"Kek, bagaimana Aden tidak sakit hati? jika yang harus menjadi lawan Aden adalah Zicko. Kakek tahu sendiri 'kan? Aden sangat menyukai Lunika. Bahkan, Aden sudah bersabar untuk menunggunya. Meski Arnal yang jelas memiliki hubungan dengannya, Aden terus berusaha mencintainya dengan diam. Dan sekarang, apa yang Aden dapatkan. Ketika Arnal sudah memiliki istri, dan pada akhirnya Aden harus terluka yang lebih dalam lagi." Jawab Aden yang terus masih dikuasai akan rasa sakit hatinya.

__ADS_1


"Kakek tahu, mencintai dengan diam itu tidak mudah. Bahkan sangat menyakitkan, apalagi harus berujung dengan rasa sakit hati pada sahabat sendiri. Tapi, mau bagaimana lagi. Jika kenyataannya memanglah harus terjadi, tidak mungkin untuk merebutnya dengan paksa." Ucap sang kakek.


"Kek, Aden harus bagaimana? perasaan ini sudah terlalu besar. Bahkan, Aden sulit jika harus melupakannya. Aden sakit, Kek." Ucap Aden prustasi.


"Aden, lapangkanlah hati kamu, Nak ... jangan kamu kuasai pikiranmu itu dengan emosimu. Setiap orang memiliki jodohnya masing masing, untukmu bersabar lah. Mungkin memang kenyataannya jika Lunika adalah jodohnya Zicko, bukan untukmu." Ucap sang kakak terus menasehatinya.


"Entah lah, Kek. Aden sedang tidak lagi bisa untuk berpikir, Aden ingin pergi ke luar Negri saja. Mungkin, akan jauh lebih baik. Mungkin benar kata kakek, jika Aden harus melupakannya. Tolong Kek, izinkan Aden untuk berangkat ke Amerika." Jawab Aden dengan permintaan, kemudian ia segera bangkit dari posisi duduknya.


"Cucuku, jika itu keinginan kamu untuk bisa melupakan Lunika. Kakek tidak keberatan, kakek mendukungmu. Tapi ... jika kamu memiliki niat terselubung, jangan harap kamu bisa melakukannya. Kamu akan mendapatkan penyesalan yang begitu dalam, ingat! itu." Ucap sang kakek sedikit mengancam pada kalimat terakhirnya.


"Kakek tidak perlu khawatir, Aden tidak akan melakukannya." Jawab Aden meyakinkan.


"Kakek akan pegang ucapan kamu, Aden. Jika sampai kamu ingkar dengan ucapanmu itu, kakek tidak akan pernah memaafkan kamu." Ucap sang kakek dengan tatapannya yang serius, Aden pun mengangguk.


"Baik lah, Kakek pegang omongan kamu itu." Jawab sang kakek, kemudian Beliau menepuk nepuk pundak milik cucu kesayangannya.


Sedangkan di lain sisi, ada sepasang pengantin baru yang sedang mulai ada keributan. Siapalagi kalau bukan pasangan Arnal dan Hana.


"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Hana sambil bolak balik mengikuti langkah suaminya yang tengah memasukkan pakaian dalam koper. Kemudian, ia menatap lekat pada istrinya.

__ADS_1


"Kamu ingin tahu aku mau kemana? aku mau pergi jauh dari kehidupan kamu, puas! kamu. Asal kamu tahu, aku mu*ak melihatmu. Kalau kamu tidak terima dengan perlakuanku, pergi saja dari hadapanku. Beres, 'kan? mau apa lagi? kalau bukan karena kedua orang tuaku, aku tidak sudi menikahimu. Tapi sayangnya, kamu itu sangat bo*doh. Aku sengaja menikahimu, lalu aku ceraikan kamu secepatnya." Jawab Arnal dengan sorot matanya yang sangat tajam, Hana yang mendengarnya pun terasa tersambar petir. Tubuhnya mendadak lemas, pandangannya seakan kabur tidak dapat untuknya melihat.


__ADS_2