Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Cemberut


__ADS_3

Tuan Kazza menatap heran pada putrinya, sedangkan Kalla masih saja bengong.


"Kalla, kamu kenapa Nak?" tanya sang Ayah penuh keheranan.


"Tidak kenapa napa kok, Pa. Jadi yang menggantikan posisi Kak Daka si Romi? yang benar aja, Pa. Memangnya Papa tidak mempunyai kepercayaan yang lainnya? kenapa mesti laki laki itu sih?" tanya Kalla sedikit tidak menyetujui atas pilihan dari orang tuanya.


"Ada, tapi semuanya sibuk dengan tugasnya masing masing." Jawab Tuan Kazza dengan santai, sedangkan Kalla hanya bisa pasrah dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah.


??


Setelah cukup lama dalam perjalanan pulang, akhirnya telah sampai didepan rumah. Perasaan gelisah karena memikirkan teman kerja dalam satu ruangan, kini Kalla sedikit merasa lega karena setidaknya dirinya bisa beristirahat sebelum memulai pekerjaan nya di Kantor.


"Loh loh loh, anak Mama kenapa ini? kok tiba tiba mukanya jadi masam begitu, ada masalah?" tanya sang ibu memergoki putrinya yang tengah berjalan menuju tangga.


"Tidak apa apa, Ma. Kalla masuk ke kamar dulu ya, Ma." Sahut Kalla yang tiba tiba merasa tidak bersemangat lagi.


"Ada apa dengan Kalla, Pa?" tanya ibunda Vella sambil meraih tas kerjanya dan berjalan beriringan menuju kamarnya.


"Biasa lah anak muda, Kalla tidak mau jika yang menggantikan posisi daka yaitu Romi." Jawab Tuan Kazza sambil membuka pintu kamarnya.


Kemudian, Tuan Kazza melepaskan jaket dan dasi serta baju kemejanya dibantu oleh sang istri.


"Kirain kenapa, rupanya gara gara Romi yang akan menggantikan posisi Daka. Nanti juga bakalan lengket itu anak, Romi kan orangnya tidak dingin dingin amat seperti kakak nya si Daka." Kata sang istri, kemudian mengambilkan baju ganti untuk suaminya.


"Oh iya Pa, bagaimana dengan hubungan Daka sama calon istrinya? apakah Papa sudah berterus terang dengannya? maksud aku mengenai keberangkatannya ke Amerika." Tanya bunda Vella penasaran.

__ADS_1


"Semua baik baik saja, calon istrinya Daka sendiri tidak melakukan penolakan apapun. Jadi, aku yang akan segera mengurus keberangkatan mereka berdua. Sudah saat nya Daka mendapatkan kebahagiaan, karena aku sudah membuatnya untuk bekerja keras dengan segala tuntutan ku. Aku yakin jika perempuan yang Daka pilih adalah yang terbaik untuknya, Doakan saja untuk putra kita mendapatkan kebahagiaan." Kata Tuan Kazza meyakinkan istrinya.


"Syukur lah kalau begitu, kita tidak lagi mencemaskan si Daka. Sekarang ini yang menjadi tujuan kita yaitu memberikan sesuatu yang terbaik untuknya." Ucap sang istri yang sudah merasa lega, selanjutnya tinggal memikirkan anak perempuannya yang harus diperhatikan.


"Benar yang kamu katakan, sekarang aku sudah lapar. Ayo kita makan malam, kamu yang panggil Kalla. Sepertinya itu anak masih ngambek denganku, bujuk lah dengan benar." Kata Tuan Kazza, sang istri pun mengangguk dan mengiyakan.


Saat keluar dari kamar, Bunda Vella tidak langsung menuju ruang makan. Melainkan untuk menemui putrinya yang belum juga ke luar dari kamarnya.


Berulang kali Bunda Vella mengetuk pintunya, Kalla tidak kunjung keluar dari kamarnya. "Kenapa lagi sih itu anak, apa iya sampai segitunya marah dengan orang tuanya." Gumam Bunda Vella.


Karena tidak mendapatkan respon dari Kalla, Bunda Vella mencoba untuk mengetuk pintunya serta memanggilnya.


"Kalla, buka pintunya Nak. Ayo kita makan malam, nanti keburu dingin dan hambar loh sayang."


"Apaan sih Ma? perut Kalla mules." Ucap Kalla ketika membuka pintu kamarnya.


"Maksud Mama apaan? Kalla tidak ngerti deh, alsan apa maksud Mama?" tanya Kalla.


"Hem, lupakan saja. Ayo kita makan malam, nanti keburu hambar." Ajak sang ibu sambil meraih tangan putrinya.


"Iya ya ya, Ma." Jawab Kalla dengan pasrah dan ikut sang Ibu ke ruang makan.


Sampainya di ruang makan, suasana seakan kembali seperti dulu. Tidak ada seorang Kakak duduk di sebelah nya, dan kini suasana berubah menjadi sepi lagi.


"Kalla, kok cuman dilihatin doang makanannya. Nanti perut kamu beneran sakit loh."

__ADS_1


"Kok Mama bilangnya kek gitu sih ... iya iya iya, nih Kalla makan." Jawab Kalla masih terlihat cemberut, kedua orang tuanya justru tertawa kecil saat mendapati anak perempuannya yang terlihat menggemaskan.


"Kalla ... Kalla, kamu itu lucu." Kata sang ayah meledek, Kalla sendiri cepat cepat untuk menghabiskan makan malam nya dan segera kembali ke kamarnya.


Sedangkan di rumah Deyzan, kini sama halnya tengah menikmati makan malamnya yang juga berjumlah tiga orang saja.


Setelah selesai makan malam, Vellyn segera beranjak dari ruang makan untuk kembali ke kamarnya. Sedangkan Vey dan suami masih duduk di ruang makan untuk menikmati buah yang sudah dihidangkan.


"Sayang, sepertinya besok aku pulangnya terlambat. Tidak apa apa, 'kan? soalnya masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan secepat mungkin. Ini aja aku meminta Arnal untuk segera pulang setelah semua proyeknya di luar Kota selesai." Ucap Dey sebelum masuk kedalam kamar.


"Tidak apa apa, jugaan sudah ada Vellyn yang bisa dijadikan teman dirumah." Jawab Vey sambil mengunyah buah pir.


"Tapi ingat, jangan keluar rumah tanpa seizin ku. Apakah kamu mengerti? aku hanya ingin menjaga mu, aku tidak mau terjadi sesuatu pada diri kamu. Apalagi kita sedang proses, kita harus berhati hati dalam segi apapun." Ucap Dey mengingatkan.


"Iya, sayang. Aku mengerti maksud mu, aku tidak akan pergi kemana mana kok. Jugaan mau ngapain keluar rumah, ujung ujungnya sama aja tidak ada kamu." Kata Vey sedikit menggombali sang suami.


Dey yang sudah mulai tergoda dengan istrinya, ia segera menggendong Vey sampai didalam kamar. Kemudian Dey langsung mengunci kamarnya sambil menggendong istri tercintanya.


Vey yang mengerti maksud dari suaminya, ia terlebih dahulu menggoda suaminya dengan cara mendaratkan sebuah ci*uman mesra pada sang suami.


Setelah itu, Dey langsung membalasnya lebih. Vey yang mendapat perlakuan dari suaminya pun, ia semakin terbawa suasana yang tengah diciptakan oleh keduanya hingga sampai ke puncak nya.


Setelah usai melakukan ritual panjangnya, keduanya pun terkulai lemas atas ritual yang dilakukan oleh keduanya. "Semoga kita berhasil, berdoalah." Kata Dey sambil berbisik didekat daun telinga istrinya, Vey sendiri menganggukkan kepalanya. Kemudian, Dey mencium kening istrinya dengan lembut sebelum kedua matanya terpejam.


Karena badan terasa capek dan juga lelah, Vey maupun Dey memilih untuk segera tidur. Keduanya terlelap dadi tidurnya dan menuju mimpi nya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Vellyn, ia yang sedari memikirkan sebuah perjodohan dari Pamannya, Vellyn sendiri tidak kunjung untuk tidur. Perasaannya semakin tidak karuan, ia terus memikirkan apa yang harus dilakukannya.


"Kenapa sih, perasaan dari kemarin otakku terus memikirkan nya." Gumam Vellyn sambil berdiri didepan kaca.


__ADS_2