Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Pernyataan


__ADS_3

Dengan pelan, ibu Ruminah melangkahkan kakinya dengan perasaan cemas, takut, gugup, dan juga gelisah tentunya. Sedangkan ibu Arum menggandeng ibu Ruminah, agar rasa takutnya tidak menghantui pikirannya.


Ketika tuan Zayen dan kakek Alfan, serta yang lainnya mendapat pesan jika ibunya Lunika telah datang dari salah satu pelayan. Semua tengah mengikuti langkah kaki tuan Zayen dan kakek Alfan, maupun kakek Dana yang juga ikut untuk menemui ibunya Lunika di ruang tamu.


Tidak hanya itu, Lunika serta ibu mertuanya dan istri dari tuan Guntara maupun Jenny, Vellyn, dan juga Omma Zeil ikut menemuinya.


Entah ada angin apa, Jennyta dan ibunya melangkahkan kakinya lebih dahulu. Keduanya sangat penasaran dengan orang tua Lunika. Karena rasa penasarannya, istri tuan Guntara mempercepat langkahnya.


Sedangkan ibu Ruminah terus berdoa, berharap tidak ada sesuatu yang buruk tengah terjadi pada dirinya maupun putrinya.


'Mimpi apa aku ini? sampai sampai putriku menikah dengan keluarga Wilyam. Semoga saja, setelah ini tidak akan terjadi hal buruk yang terjadi pada putriku.' Batinnya penuh kecemasan.


Sesampainya di ruang tamu, detak jantung ibu Ruminah berdegup sangat kencang. Pikirannya mulai tidak karuan, kecemasan mulai menghantuinya.


DUAR!!!!


Seketika, tubuhnya bagai tersambar petir. Tanpa pikir panjang, ibu Ruminah langsung mendekati istri dari tuan Guntara.


"PEMBUNUH!! DASAR! KAU PEMBUNUH!!" Teriak ibu Ruminah sambil menunjuk jari telunjuknya pada istri tuan Guntara dengan tatapan kebencian.


Semua yang mendengarnya pun mendadak tercengang ketika sebuah telunjuk mengarahkan kearah istri tuan Guntara.


Disaat itu juga, seketika istri tuan Guntara mendadak tubuhnya terasa terkunci. Pikirannya kembali ke masa lalunya, seakan akan memorinya kembali terbuka.


"Da*sar! perempuan gi*la, kamu." Ucap istri tuan Guntara ikut emosi, ingatannya masih belum terkumpul dengan sempurna.


"Cukup!! hentikan." Teriak tuan Zayen mengheningkan suasana yang sedang genting.

__ADS_1


"Pengawal!! tahan perempuan itu, cepat!" perintah tuan Zayen sambil menunjuk ke arah istri tuan Guntara dengan telunjuk jarinya.


Sedangkan tuan Guntara mendadak bingung dibuatnya, ia benar benar tidak mengerti dengan perseteruan yang tengah terjadi. Kakek Dana hanya menyaksikan dan berdiri dari sisi tubuh kekar Zicko dan Romi, beliau tidak begitu fokus dengan sosok perempuan yang tidak jauh usianya dengan dirinya dikarenakan sosoknya terhalang oleh ibu Arum yang tidak lain ibunya Romi sahabat dekatnya Lunika.


"Katakan padaku, siapa perempuan itu?" tanya tuan Zayen pada ibu Ruminah kembali menunjuk ke arah istri tuan Guntara.


"Perempuan itu yang telah membunuh seorang perempuan yang tengah hamil ketika di rawat di rumah sakit, aku melihatnya begitu jelas. Naas, disaat itu juga aku pernah disekap dan hampir saja aku dibunuh olehnya. Untung saja, aku bisa lolos dan melarikan diri."


DUAR!!!!!


Seketika, tuan Guntara bagaikan tersambar petir disiang bolong. Kedua matanya mendadak tajam setajam mata elang yang siap menerkam musuhnya.


Dengan nafasnya yang terasa sesak, tuan Guntara mendekati istri keduanya. Kemudian, mencengkram lingkar baju pada lehernya.


"Perempuan lak*nat! sungguh tidak pernah aku sangka, jika kau! adalah pembunuh! berdarah dingin. Aku akan membalasmu, camkan! itu. Jangan jangan ... Jennyta adalah bukan putriku, ayo! katakan." Ucap tuan Guntara penuh amarah nya.


Semua yang ada disekelilingnya tertunduk diam, satupun tidak ada yang berani berani berucap selain tuan Zayen sendiri.


"Aku yakin, anak kamu masih hidup tuan Guntara." Ucap kakek Ganan yang tiba tiba sudah berada di dekat tuan Zayen. Semua yang mendengarnya pun menoleh ke sumber suara, sedangkan ibu Ruminah masih terjaga ketat. Takut, sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Tuan Guntara yang mendengar ucapan dari kakek Ganan, ia kembali menatap tajam pada istrinya. Satu tangannya pun masih mencengkram istrinya.


"Katakan padaku sekarang juga, dimana anakku yang sudah kamu sembunyikan. Cepat! katakan, apa perlu aku pata*hkan kedua kaki kamu ini." Ancam tuan Guntara pada istrinya.


"Tidak, aku tidak mengetahui semuanya. Percayalah padaku, sayang. Perempuan itu sudah memfitnahku, kamu jangan percaya dengannya." Jawab sang istri mencoba meyakinkan suaminya dengan tatapan rasa takut yang tengah menguasai pikirannya.


"Aku lebih percaya dengannya, karena seseorang yang reflek akan mengutarakan kebenarannya, bukan bermain drama sepertimu." Ucap tuan Guntara yang masih dengan posisinya, bahkan Jennyta sendiri memilih untuk berdiam diri.

__ADS_1


"Cepat! katakan sekarang juga, apa perlu aku mengantarkan kamu ke Hotel tahanan?" ancam tuan Guntara yang terus mengancam.


Seketika istrinya teringat, jika keluarga Wilyam bukan sembarangan orang yang mudah untuk dibohongi. Bahkan masalah sekecil apapun dapat diselidikinya. Namun, teringat akan sebuah perjanjiannya pada seseorang yang memiliki kerjasama yang menurutnya saling menguntungkan.


Kakek Ganan yang melihatnya pun ikutan geram melihat serta mendengarnya. Sedangkan Lunika yang menyaksikan situasi yang genting, ia pelan pelan melangkahkan kakinya kearah ibunya.


"Ku beri hitungan sampai ketiga, jika tidak berkata jujur, maka aku yang akan mencebloskannya ke penjara dengan bukti yang aku meliki.


DUAR!!!


Lagi lagi istri tuan Guntara terasa tercekik, bahkan dirinya tidak memiliki alasan apapun.


"Baik! aku akan berkata jujur, tapi ada syaratnya."


"Syarat! kamu bilang, kamu pikir kamu sudah benar? tidak! aku tidak sudi menerima syarat darimu. Kalaupun kau tidak mau jujur, aku bisa menjebloskanmu ke penjara seumur hidupmu." Sahut tuan Guntara dengan tatapan kebenciannya.


"Kamu, nurut saja dengan perkataanku. Kalau kamu ingin menghadapi sebuah penyelidikan, gunakan dramamu." Ucapnya kakek Ganan lirih didekat tuan Guntara.


"Baik! aku akan terima permintaan kamu, cepat! katakan syarat apa yang kamu minta."


"Jangan ceraikan aku!" jawab sang istri dengan penuh harap.


"Aku terima permintaan kamu, dan sekarang juga katakan padaku, dimana kau sembunyikan anakku? hah!" tanyanya diakhiri dengan bentakan.


"Aku tidak tahu anakmu yang sekarang, anakmu sudah hilang ketika berusia 10 tahun. Bersusah payah aku mencarinya untuk membalaskan dendamku pada istri pertamamu, namun aku gagal. Aku memberinya nama, Yilan." Jawabnya sambil menatap suaminya, Zayen yang mendengarkannya pun langsung mendekati istri tuan Guntara sangat dekat sambil menajamkan sorot matanya.


"Aku tidak percaya dengan jawaban busukmu, itu. Aku akan mempercayaimu, jika yang kamu ucapkan adalah benar dari pendengaranku. Sekali lagi kamu bohong! aku sudah siapkan tempat yang ternyaman untukmu, yaitu Hotel tahanan." Ancam tuan Zayen pada istri tuan Guntara. Semua masih hening, terkecuali tuan Zayen, tuan Guntara, dan kakek Ganan. Sedangkan yang lainnya hanya mendengarkannya.

__ADS_1


Istri dari tuan Guntara sudah tidak memiliki pilihan lain selain pasrah dan menyerahkan diri, karena baginya tidak ada gunanya untuk berbohong dihadapan keluarga Wilyam. Ditambah lagi, keluarga Wilyam bukan sembarang orang yang mudah untuk dikelabui.


__ADS_2