
Arnal yang mendapat ajakan dari Tuan nya, mau tidak mau ia menuruti kemauannya. 'Semoga saja aku tidak mendapatkan kesialan lagi, cukup sudah aku merasakan tulangku yang hampir saja patah.' Batin Arnal berharap akan dijauhkan dari kesialan yang akan menimpanya.
"Arnal, ayo kita masuk kedalam. Tenang, istriku tidak sekejam yang kamu bayangkan." Kata Dey sambil menarik tangan sekretarisnya, Arnal hanya bisa nurut dengan pasrah.
Saat sudah di ruang tamu, tiba tiba senyum manisnya dari Vella berubah dengan senyuman getir.
"Kenapa penampilan kalian berdua acak acakan? lihat lah rambut kalian berdua." tanya Vella menatapnya geli dari ujung rambut sampai bawah, begitu juga dengan Tuan Viko dan Bunda Adellyn yang juga merasa gelo ketika melihat penampilan putranya dan Arnal yang terlihat tidak karuan.
"Kalian berdua lebih baik segera mandi terlebih dahulu, biar terlihat segar dan tidak acak acakan seperti ini. Lihat tuh, sepatu kalian saja sampai tertukar." Perintah Tuan Viko dan menunjuk pada kaki keduanya.
Dey dan Arnal karena penasaran, ia langsung mengecek sepatunya masing masing.
"Apa!" keduanya pun serempak menatap penampilannya masing masing pun terkejut dan nyengir kuda.
"Cuman sepatu yang tertukar, bukan istri juga. Tidak masalah, ya kan sayang."
"Sudah sudah sudah sana pergi, bersihkan dulu badan kalian. Bau badan kamu aku tidak tahan, cepetan pergi dan segera mandi." Usir Vella yang tidak tahan dengan bau bau aroma yang bisa menganggu indra penciuman nya.
"Ya ya ya, sayang. Kita berdua segera mandi, jangan ngambek gitu dong. Aku sudah susah payah panjat pohon asamnya. Masa ya, harus dicuekin gitu." Ucap Dey dengan rayuan, Vella pun mengangguk karena sudah tidak tahan dengan bau badan pada suaminya yang sangat menyengat itu.
Entah kenapa, Vella mulai banyak perubahan dari indra penciuman serta indra perasa dan juga mudah emosi dan ingin selalu dimanja.
Dey yang sudah tidak sabar ingin memeluk istrinya dan mengusap perutnya, cepat cepat ia segera membersihkan diri.
Begitu juga dengan Arnal, ia juga merasa gerah dan ingin segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena biang keringat akibat memanjat pohon dengan tenaga yang kuat.
Selesai mandi, Dey dan Arnal ikut berkumpul di ruang keluarga. Sepasang mata Dey celingukan seakan ada yang kurang, siapa lagi kalau bila adik perempuannya.
__ADS_1
"Vellyn, mana?" tanya Dey yang lupa dengan keberadaan adik perempuannya.
"Baru aja manjat pohon asam, amnesia mu mendadak kambuh segala. Bukannya Vellyn tinggal di rumah Paman kamu, Ganan? hem."
"Ah ya, Dey sampai lupa. Dey kira ada di rumah, kasihan Arnal tidak ada pasangannya sendiri." Kata Dey meledek.
Arnal hanya tersenyum getir mendengar Dey yang tengah meledeknya.
"Sayang, ini buah asam mudanya yang sesuai kamu minta. Kalau masih kurang hanyak, kamu bilang aja sama aku. Nanti akan aku pindahkan pohon asamnya didepan rumah, agar kamu tinggal nyuruh Arnal untuk manjat." Ucap Dey sambil bersenda gurau saat menyodorkan buah asam muda pada istrinya.
Semua yang mendengar gurauan dari Dey tertawa lepas, termasuk Arnal yang juga ikuta tertawa sambil menayangkan permintaan aneh dari istri Tuan nya.
"Aku makan, tapi ada syaratnya." Kata Vey sambil membuka bungkusan plastik yang didalamnya ada asam mudanya.
Perasaan tidak enak mulai bersemayam didalam pikiran Arnal, lagi lagi ia mencoba untuk mencerna ucapan dari istri Tuan nya.
'Syarat apa lagi, ini. Jangan sampai menyeretku untuk ikut dalam kejurang yang sama.' Batin Arnal yang mulai menerka nerka dengan sebuah syarat dari Vey.
Bayangkan saja, pinggangnya yang masih terasa sakit, ia harus menambah permintaan dari istrinya.
"Temani aku makan buah asam mudanya." Jawab Vey dengan santai, ia tidak lupa meminta asisten rumah untuk mencuci asam mudanya.
Dey maupun Arnal saat mendengar jawaban dari Vey pun, merasa lega dan tidak ada jebakan lainnya.
"Syukur lah, cuman menemani makan buah asam muda." Ucap Arnal dan Dey dengan kompak sambil mengelus dada bidangnya masing masing.
Sedangkan Tuan Viko dan istri yang tidak mau ikut terlibat dari jeratan menantunya, cepat cepat segera menyingkir dari hadapan Vey.
__ADS_1
"Mama dan Papa mau istirahat, kalian bertiga jangan saling berantem." Ucap Tuan Viko berpamitan, ketiganya mengiyakan disertai dengan anggukan kepala.
Kini tinggal lah Dey, Arnal dan Vey yang berada di ruang keluarga.
"Sayang, buruan dimakan buah asam nya." Kata Dey yang sudah terasa ngilu duluan ketika melihat istrinya yang sudah siap menikmati buah asamnya.
Begitu juga dengan Arnal yang merasa ngilu pada semua giginya, ingin rasanya meneteskan air li*urnya karena tidak kuat melihat istri Tuan nya yang hendak menikmati asam muda.
"Nih, buat kalian berdua. Makan lah buah asam muda nya."
"What !!" teriak keduanya serempak.
"Aduh! sayang, yang bener aja dong. Masa kamu menyuruh kita berdua makan buah asam mudanya."
"Bukankah aku sudah bilang, aku minta ditemani kalian berdua. Yang berarti harus imut makan, titik." Jawab Vey yang sudah tidak bisa diganggu gugat.
Dey dan Arnal saling menatap satu sama lain, keduanya sama sama seperti makan buah simalakama. Yang dimana dirinya yang manjat pohon dan metik dengan perjuangan hingga terjatuh dari poho, kini harus menikmati buah hasil petikan nya. Arnal dan Dey sama sama tidak dapat membayangkannya dengan rada asam yang tiada tandingannya.
"Sayang, yang lainnya dong ... gigi aku ngilu nih." Pinta Dey sambil memohon dengan menangkupkan kedua tangannya.
Permintaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, kini harus menimpa dirinya dan juga sekretarisnya.
"Cepetan, aku mau mengabadikan momen ini." Kata Vey dengan bersemangat, Dey dan Arnal hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah.
Mau tidak mau, keduanya tidak mempunyai pilihan lain. Akhirnya Dey dan Arnal menyanggupi permintaan dari Vey. Dey memberi kode pada Arnal dengan cara menganggukan kepalanya, Arnal pun membalasnya dengan anggukan. Meski berat, Arnal tidak mempunyai pilihan lain. Ditambah lagi dirinya akan menjadi adik ipar nya, hitung hitung berbuat baik. Siapa tahu juga, Arnal membutuhkan Dey ketika istrinya hamil anaknya, pikir Dey yang mulai berpikir dengan positif.
"Baik lah sayang, kita berdua menyanggupi permintaan kamu." Ucap Dey dengan segala keparahan nya, sang istri tersenyum mengambang mendengarnya.
__ADS_1
Setelah menerima syarat dari istri tercintanya, Dey dan Arnal mulai mengigit ujung buah asam nya.
Dengan ekspresi bibir yang kesana kemari maju mundur dan berg*oyang memutar tidak karuan, Dey dan Arnal menahan rasa ngilu pada giginya yang terasa amat asam.