
Waktu yang tidak ditunggu tunggu oleh Dey, kini telah tiba waktunya untuk melepas status lajangnya.
"Kak Dey, bangun. Ayo cepetan mandi, kita semua sudah bersiap siap. Tinggal nunggu Kak Dey, ayo kak Cepetan. Semua keluarga juga sudah berkumpul di rumah loh, ayo buruan bangun." Panggil Vellyn yang terus membangunkan sang kakak sambil menarik tangannya.
"Apa apaan sih Vel, ganggu orang tidur saja. Aku masih ngantuk, capek! tau."
"Kak Dey, hari ini adalah hari bersejarah buat Kakak. Ayolah cepetan bangun, Kak."
"Hari bersejarah macam apa? hem. Menikah, maksud kamu? cih!"
"Kakak belum tahu sih, perempuan yang mau Kakak nikahi. Pokoknya cocok banget deh buat Kak Dey, serius. Satu dinginnya kebangetan, dan yang satunya kebalikannya." Ucap Vellyn sambil senyum menggoda.
"Hem, semua perempuan sama aja."
"Sama yang bagaimana, Kak?" tanya Vellyn.
"Tau ah, sudah sana kamu keluar. Kakak mau tidur lagi, masih ngantuk."
"Kak Dey, ayolah cepetan bangun."
"Iya ya ya, bawel banget sih kamu." Sahut Dey dengan sungut, kemudian ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Akhirnya, Kak Dey nyerah juga." Gumam Vellyn, kemudian ia menyiapkan pakaian yang akan dikenakan sang Kakak. Setelah itu Vellyn keluar dari kamar dan segera menemui keluarga yang lainnya.
Sampainya di ruang tamu maupun ruang keluarga, Vellyn dibuat bingung dengan berkumpulnya anggota keluarga besarnya. Dari keluarga Wilyam, serta keluarga Danuarta. Perpaduan diawali persahabatan hingga perjodohan sampai turun temurun.
Karena tidak begitu mengenal satu persatu keluarganya akibat lebih lama tinggal di Amerika, Vellyn tetap menjadi sosok yang ramah tamah pada anggota keluarganya.
__ADS_1
Disaat itu juga, sepasang matanya tertuju dengan perempuan yang sangat dikenalinya. Siapa lagi kalau bukan Lunika, istri Zicko yang pernah satu rumah bersamanya.
"Kak Lunika," seru Vellyn memanggil Lunika yang tengah duduk di ruang keluarga bersama suaminya.
Suara yang tidak begitu asing ditelinga Lunika, segera ia menoleh ke arah sumber suara. Senyum mengembang terlihat jelas pada keduanya, Vellyn pun langsung menghampirinya.
"Kak Lunika, Kak Zicko, dimana Paman dan Tante Afna?" tanya Vellyn sambil celingukan. Vellyn tidak mengenali keluarga besarnya dari keluarga Wilyam, terkecuali dari silsilah keluarganya sendiri, yaitu dari kakek buyut Zio.
"Vellyn, kamu terlihat sangat cantik." Puji Lunika dengan senyumnya manisnya.
"Kak Lunika juga sangat cantik, apalagi dengan perut Kakak yang besar ini. Pokoknya tambah sempurna deh penampilan Kakak." Ucap Vellyn yang juga ikut memujinya.
"Sayang, sekarang aku mau menemui Dey. Aku harus menemaninya sampai ditempat tujuan, kasihan dia. Tidak apa apa 'kan? lagian juga ada Vellyn yang bisa menemani kamu. Jugaan dirumah paman Viko banyak anggota keluarga kita yang akan ikut mengantarkan Dey sampai ke gedung pernikahan."
"Iya, tidak apa apa. Lagian juga ada Mama dan juga ada Ibu, sekarang juga pergilah dan temui Dey. Kasihan Dey, pastinya dia juga butuh penyemangat. Apalagi Sesuatu perjodohan itu tidak sebahagia yang kita bayangkan, bisa jadi hatinya masih rapuh." Jawab Lunika yang mengerti maksud dari suaminya.
"Ya sudah kalau begitu, Kakak titipkan istri Kakak pada kamu ya Vell. Jika ada apa apa, kamu segera hubungi Kakak." Ucap Zicko pada Vellyn, sepupunya.
Saat berada di dalam kamar milik Dey, sepasang mata Zicko mendapati sepupunya yang tengah berdiri didepan cermin sambil mengenakan kemejanya.
"Wih! adikku ini, tambah semangat saja sepertinya." Ledek Viko sambil senyum menggoda.
"Iya dong, harus semangat. Memang cuman kamu aja yang akan mendapat perhatian istri, aku pastikan istriku lah yang paling perhatian dengan suaminya." Sahut Dey dengan cara membuat sepupunya merasa puas dan tidak terus meledekinya, pikir Dey sambil mengenakan dasinya.
"Syukurlah, semoga ucapan kamu barusan memang benar dari hatimu." Ucap Zicko, kemudian ia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur sambil terlentang.
"Dey, kamu serius mau pindah dari rumah ini?" tanya Zicko yang masih dengan posisinya.
__ADS_1
"Tentunya, aku akan lebih memilih untuk tinggal bersama istriku saja. Kenapa kamu bertanya seperti itu? oh, kamu pasti mikirnya aku tidak mau merawat kedua orang tuaku, begitu maksud kamu?"
"Bukan, bukan begitu maksudku Dey. Apa tidak sayang jika rumah ini jadi kosong? bukankah paman Viko dan tante Adel mau kembali ke luar Negri? sedangkan Vellyn akan ditarik kembali untuk tinggal bersama orang tuaku. Karena setelah tidak lama lagi akupun akan segera berangkat ke Amerika, jadi untuk apa kamu pindah ke rumah baru? mendingan kamu tinggal di apartemen untuk sementara waktu." Ucap Zicko menjelaskan, Dey pun langsung menoleh kebelakang. Tepatnya menatap Zicko yang tengah berbaring di atas tempat tidur.
"Aku sudah tahu dari awal, jadi kamu tidak perlu mengulangi kalimat dari kedua orang tuaku lagi. Sekarang juga lebih baik kamu cepetan keluar, dari pada menggangu konsentrasiku."
"Hem, rupanya kamu masih menyimpan sikap dinginmu sejak kepulangan ke Tanah Air yang sebelum ini. Apakah kamu sedang mempunyai masalah? ayolah ceritakan padaku, sebelum kita berangkat ke pesta pernikahan kamu."
"Sok tahu banget kamu tentang aku, siapa juga yang punya masalah. Ah sudahlah, ayo kita keluar. Aku paling tidak suka jika kamarku ini dihuni orang lain selain diriku sendiri, ngerti.
Seketika, Zicko tercengang mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Dey.
"Hanya kamu sendiri? terus, istrimu tidak boleh jadi penghuninya begitu? wah ... harus ditindak lanjuti ini."
"Tidak penting, sudah cepetan ayo kita keluar." Dey yang sudah tidak sabar, ia langsung menarik tangan Zicko dengan kuat.
"Dey, lepaskan tanganmu. Lihatlah, semua keluarga memperhatikan kita. Nanti istriku curiga, bagaimana? aku ini masih normal."
"Bodoh amat, emang aku pikirin. Biarin aja jadi gosip, aku bisa jadi gagal nikah kalau aku disangka G. Gampang, 'kan? sangat gampang sekali jika aku mau menggagalkan pernikahanku." Sahut Dey menakutinya, Zicko sendiri yang mendengarkannya pun bergidik ngeri tidak karuan.
"Dey, buruan lepasin tanganmu." Ucap Zicko yang semakin ngeri mendengar penuturan dan ide konyol yang sudah terlintas didalam otaknya Dey.
Dengan kasar, Dey melepaskan tangan milik sepupunya. Kemudian ia segera menghampiri kedua orang tuanya yang tengah duduk di ruang keluarga bersama keluarga besarnya yang lain.
"Pa, jadi berangkat atau tidak?"
"Tentu saja kita akan segera berangkat, apakah kamu sudah siap?"
__ADS_1
"Seperti yang Papa harapkan, Dey harus siap, bukan?"
Dengan perasaan bersalah karena harus melakukan perjodohan, Tuan Viko merasa tidak tega melihatnya. Namun mau bagaimana lagi, perjodohan ibarat tumbal. Mau tidak mau, korban tetap akan menerimanya.