Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Menerka nerka


__ADS_3

Suasana didalam gedung pun cukup padat, meski undangan yang tersebar dalam waktu yang cukup dadakan. Namun tidak dapat dipungkiri, semua para tamu undangan kini tengah memadati ruangan yang cukup megah dengan dekorasi yang sangat memukau para tamu undangan.


Dey berkali kali mengatur pernafasannya, berusaha untuk tetap tenang meski pernikahan yang tidak didasari dengan perasaan suka sekalipun. Entah apa yang ada dibenak Dey, memikirkan menikah bak membeli kucing dalam karung, pikirnya sambil membuang nafas kasarnya.


"Dey," panggil Zicko sambil mencolek sepupunya.


"Hem," tanpa berucap Dey meresponnya.


"Awas Dey, nanti kamu mendadak jantungan melihat calon istrimu yang sebentar lagi keluar dan duduk di sebelah kamu. Cie ... pengantin baru, cie cie." Ledek Zicko berbisik didekat daun telinga milik Dey.


"Bodoh amat, emang aku pikiran. Cih! jantungan, tidak akan." Sahut Dey dengan suara yang dikecilkan.


Sedangkan di sudut ruangan yang tidak jauh dari tempat duduk Zicko, Lunika kini tengah duduk bersebelahan dengan Vellyn dan ditemani ibu mertuanya serta kedua orang tua kandungnya dan juga ibu asuhnya. Senyum mengembang terlihat jelas pada kedua sudut bibir milik Lunika saat memperhatikan suasana disekelilingnya.


Disaat itu juga, Lunika teringat ketika dirinya menjadi pengantin baru yang dalam pikirannya hanyalah pernikahan semu. Namun kenyataannya pernikahan yang dianggap semua kini telah menjadi sepasang suami istri yang begitu nyata, bahkan sebentar lagi Lunika akan segera menyandang statusnya sebagai seorang ibu dari anak yang dikandungnya.


Tanpa Lunika sadari, ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya sejak kedatangannya di acara pernikahan Vey dan Dey. Lunika tanpa asik berkumpul bersama keluarga yang lainnya.


"Vey, aku mau ke toilet sebentar."


"Ayo Kak, Vellyn temani. Nanti Kak Zicko bisa marah jika Vellyn tidak menemani Kak Lun, bisa bisa nanti mendapat hukuman dari Kak Zicko." Sahut Vellyn yang takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, ditambah lagi yang sudah hamil tua. Rasa khawatir pun tengah menghantuinya, apalagi cucu pertama dari keluarga Kakek Alfan.


"Benar nih, kamu tidak apa apa jika Kakak minta ditemani kamu?" tanya Lunika sedikit tidak enak hati. Meski terasa risih dengan adanya banyak penjagaan untuk dirinya, Lunika tidak mampu untuk menolaknya. Ditambah lagi anak yang dikandungnya adalah harapan yang akan dijadikan penerus dari keluarga Tuan Zayen, apapun itu penuh penjagaan yang sangat ketat dan tidak ada yang terlewatkan.

__ADS_1


"Kakak adalah bagian keluarga Vellyn, dan bayi yang ada didalam kandungan Kak Lun adalah keponakan Vellyn. Jadi, Vellyn ikut bertanggung jawab." Jawab Vellyn dan tersenyum, kemudian menggandeng tangannya dan menuntunnya sampai ke toilet.


"Kak Lun, Vellyn tunggu disini saja, ya."


"Iya, tidak apa apa. Kakak masih bisa berjalan dengan normal, kamu tunggu saja disini. Ya sudah kalau begitu, Kak Lun masuk dulu."


Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya Lunika selesai juga dengan hajatnya.


"Vellyn, Kakak sudah selesai. Ayo kita kembali ke tempat duduk kita, Kakak sudah tidak sabar ingin melihat momen pernikahan Kakak kamu." Panggil Lunika dan mengajaknya untuk ketempat semula, yang dimana dirinya duduk untuk menyaksikan sepupu suaminya mengucapkan kalimat sakralnya.


"Sama kalau begitu Kak, Vellyn juga sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi Kak Dey ketika melihat calon istrinya itu." Jawab Vellyn sambil membayangkan ekspresi Kakaknya saat bertemu dengan perempuan yang akan menjadi istrinya.


Dengan hati hati dalam berjalan dikarenakan padatnya para tamu undangan, Lunika maupun Vellyn sangat hati hati ketika berjalan menuju ketempat duduknya.


Dengan sigap, seseorang tengah menangkap Lunika dan menyangga tububuhnya layaknya sepasang suami istri yang tengah bermain dansa. Zicko yang mendengar teriakan Vellyn, pandangannya pun langsung tertuju pada sang istri yang tengah berada pada seseorang.


"Maaf, lepaskan." Ucap Lunika dan membenarkan posisinya, kemudian sepasang matanya saling bertemu.


"Aden, benarkah?" tanya Lunika seperti tidak percaya.


"Iya, aku Aden. Apa kabarmu? dimana suami kamu?" tanya Aden sambil memperhatikan perut Lunika yang semakin membesar. Ingatannya kembali dengan rasa sakitnya yang masih terukir dalam ingatannya, lagi lagi dirinya harus bertemu kembali.


BUG!!!

__ADS_1


Seketika, Zicko melayangkan tinjuannya hingga mengenai pada sudut bibir miliknya. Aden yang mendapatkan serangan dari Zicko pun ia langsung mengusap darah segar yang keluar pada sudut bibirnya.


"Jangan berani beraninya kamu menyentuh istriku, ingat! itu." Ucap Zicko dengan sorot matanya yang tajam, sedangkan tamu undangan yang lainnya tengah memperhatikan kericuhan yang dibuat oleh Zicko karena amarahnya. Lunika sendiri bingung untuk melerainya, ditambah lagi dengan kondisinya yang tidak dapat melerainya. Lunika takut akan mendapat sasaran dari emosi suaminya sendiri, ditambah lagi sang suami tengah dikuasai emosinya yang begitu besar. Mau tidak mau, Lunika lebih memilih untuk diam.


"Kamu bilang apa barusan? jangan menyentuh istri kamu? apa aku tidak salah dengar? hah. Sedangkan kamu sendiri suaminya, kenapa kamu membiarkan istri kamu sendirian dan hanya ditemani sepupu kamu? dimana letak perhatian kamu pada istri kamu? hah." Ucap Aden, kemudian mengibaskan tangannya dan pergi begitu saja dari hadapan Zicko yang tidak kalah emosinya.


Sedangkan Zicko masih dengan perasaan kesalnya, kedua tangannya pun masih mengepal kuat dibarengi emosinya yang semakin memuncak. Begitu juga dengan Vellyn yang bingung berkata apa, ditambah lagi ia telat sedikit dari Aden.


"Kak Zicko, Vellyn minta maaf. Tadi Vellyn telat menolong Kak Lunika, habisnya tadi Vellyn terhalang sama orang yang ada didepan Kak Lun. Dan tangan Vellyn sepertinya tadi ada yang menariknya, hingga akhirnya Vellyn tidak bisa menangkap tubuh Kak Lunika." Ucap Vellyn yang merasa sangat bersalah, ia merasa tidak berguna mempunyai ilmu bela diri dan tidak dapat melindungi kakak iparnya yang didalam rahimnya ada keponakannya.


"Sayang, aku minta maaf, ya. Kalau aku sudah membuat masalah. Aku benar benar tidak tahu tiba tiba kakiku terkilir." Ucap Lunika yang juga merasa bersalah.


'Seperti ada yang tidak beres, apakah Aden yang melakukannya? siapa lagi kalau bukan dia. Secara dia masih menyukainya, aku dapat melihatnya dari tatapan matanya.' Batin Zicko menerka nerka, kemudian ia segera mengingat dan mencoba untuk memeriksa lewat CCTV untuk menyelidiki tentang adanya keanehan yang mengganjal didalam nalarnya.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, dan kamu juga tidak bersalah. Sudah lah, lupakan saja. Lebih baik sekarang kita berkumpul bersama keluarga yang lainnya." Ajak Zicko, Vellyn dan Lunika hanya mengangguk. Sedangkan Zicko kini menggandeng istrinya, takut ada sesuatu yang mengincar istrinya yang tengah hamil tua.


Sedangkan yang tengah duduk dengan statusnya yang masih lajang, Dey kembali menarik nafasnya panjang ketika seseorang yang ada di dekatnya memberitahu jika pengantin perempuannya akan segera datang dan duduk disebelahnya.


Tidak lama kemudian, calon pengantin perempuannya telah didampingi oleh dua orang di sebelah kanan dan kirinya. Dengan sangat hati hati, sedikitpun ia tidak berani menunjukkan wajahnya sendiri dan memilih untuk tetap menunduk tanpa menoleh kearah sebelahnya.


'Benarkah hari ini aku akan menikah? seperti apa lelaki yang ada disebelahku ini? kalau dia sudah tua, bagaimana? oooh! tidak bisa aku bayangkan. Aku akan kabur dan tidak akan pernah pulang, jika usianya sudah tua dan juga botak berkumis lagi.' Batinnya penuh khayalan yang benar benar menguras emosi serta menguras pikirannya hanya untuk menebaknya.


'Jangan jangan perempuan yang akan menjadi istriku ini sangat buruk rupanya, udah gitu menyebalkan melebihi Vey yang super menjengkelkan itu.' Batin Dey yang juga menerka nerkanya.

__ADS_1


__ADS_2