
Masih berada di dalam kamar tamu, tuan Dana masih memperhatikan kesadaran dari pujaan hatinya itu.
Sempurna! pandangan dari ibunya Lunika benar benar terlihat jelas saat menatap langit langit kamar. Kemudian, ia menoleh kearah sebelah kanan. Namun, tidak ia dapati seseorang yang ada didekatnya.
Kemudian, dengan pelan pelan menoleh kearah sebelah kiri.
DUAR!!!!
Seketika, jantung miliknya serasa ingin copot. Tubunya mendadak lemas, tatapannya pun mendadak tercengang. Tidak hanya itu, detak jantungnya semakin tidak beraturan. Perasaannya kembali terasa masih muda, mimpi! benar benar terasa mimpi.
Sedangkan kakek Dana menyapanya dengan senyumannya yang terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya. Namun, senyumnya seketika menjadi redup. Kakek Dana tidak mampu menatap wajahnya, beliau memilih untuk menundukkan kepalanya.
"Elin, aku Dana. Jordana, laki laki yang tidak tahu diri." Ucapnya sambil menunduk, beliau benar benar merasa bersalah besar padanya. Bahkan, ia sendiri sangat malu untuk berhadapan langsung dengan sosok perempuan yang dirindukannya.
"Be --benarkah? benarkah kamu Da --Dana?" tanyanya seperti mimpi dan dibarengi air mata yang tengah membasahi kedua pipinya. Sedangkan kakek Dana hanya mengangguk, beliau masih tidak mampu untuk mendongakkan pandangannya.
Rasa bersalahnya tidak mampu untuk menatap perempuan yang pernah ia campakkan.
"Kamu jahat! Dana. Kamu benar benar tega membiarkan aku sendirian, kamu tega melukaiku hingga aku tidak tahu dengan cara apa aku menyembuhkan lukaku ini." Ucapnya dengan nafasnya yang terasa sesak, sedangkan kakek Dana pun tidak mampu untuk menatapnya.
Namun setelah dipikir pikir oleh kakek Dana, dengan berani mendongakkan pandangannya. Meski menyimpan rasa bersalahnya atas perbuatannya dimasa lalunya.
"Maafkan aku, Elin. Kamu berhak menghukumku, kamu berhak melakukan apapun sesuka hatimu. Bila itu yang bisa membuatmu lega, aku siap menerima hukuman darimu. Tapi aku mohon, maafkan aku. Maafkan aku yang tidak tahu diri ini, Elin." Jawab kakek Dana dengan menatapnya dengan lekat.
Sambil menarik nafasnya pelan, kakek Dana meraih tangan kekasihnya dulu. Dilihatnya sosok perempuan yang pernah ia cintainya, kini keadaannya tidak lagi seperti dulu dikala masih muda. Kulitnya yang tidak lagi mulus, rambut yang tidak lagi hitam legam, wajah yang tidak lagi terlihat muda layaknya anak muda di jamannya.
"Elin, maukah kamu memaafkan aku? maafkan atas perbuatanku selama ini yang sudah mengabaikanmu."
Mau bagaimana lagi, perasaannya pun tidak dapat untuk dbohongi. Ibu Ruminah yang tidak lain adalah Elin, akhirnya mengangguk pelan sambil menatap wajah kakek Dana yang tidak lagi muda. Namun keduanya masih terlihat muda, meski sudah dimakan usia.
"Aku memaafkanmu, karena aku tidak memiliki hak untuk menghukummu. Sebuah perpisahan adalah bagian dari hukuman untukmu dan untuk diriku, maafkan aku juga yang baru saja menuduhmu seorang penjahat. Maaf, aku hanya terbawa emosiku." Ucapnya, kemudian tangan kanannya ikut menggenggam tangan milik kakek Dana.
Senyum pada keduanya benar benar terlihat jelas senyum bahagia, dengan lembut kakek Dana menc*ium punggung tangannya dan keduanya tersenyum bahagia.
"Ehem! ehem. Cie ... sekian lama, akhirnya berbuah manis seperti yang kalian berdua harapkan. Tenang saja, tidak ada waktu yang terlambat untuk kalian berdua. Sekarang juga, kalian berdua harus resmi menjadi suami istri." Ucap kakek Ganan mengagetkan, sedangkan yang lainnya berada dibelakang kakek Ganan ikut tersenyum bahagia melihat sahabatnya telah menemukan cintanya kembali.
Senyum mengembang pun terlihat jelas pada kedua sudut bibir milik kakek Dana dan kekasihnya.
Tanpa gedung yang mewah, tanpa suasana yang meriah, dan juga tanpa penampilan yang begitu wah, pernikahan akan segera dimulai di kediaman keluarga kakek Alfan.
__ADS_1
Semua terlihat sangat sederhana, namun mampu menyatukan ikatan cinta yang pernah lama berpisah karena sebuah sesuatu yang tidak pernah disangkakannya.
Semua hening, tidak ada satupun yang berucap sepatah katapun di dalam ruangan khusus. Acara yang begitu mendadak, kini akan segera dimulai.
Dengan percaya diri, kakek Dana telah memantapkan apa yang sudah menjadi keinginannya.
Kalimat demi kalimat, kakek Dana mengucapkan kalimat sakralnya terdengar begitu sangat jelas. Usai mengucapkan kalimat sakral, semua bernafas lega. Kini, tidak ada lagi yang dikhawatirkan diantara dua insan yang sudah lama terpisah. Hanya satu permasalahannya, yaitu dalang dari semuanya.
"Akhirnya ... aku bisa bernafas lega. Selamat ya, Elin, dan kamu Tuan Dana. Semoga pernikahan ini adalah pernikahan yang terakhir dan yang menjadi saksi atas perjuangan cinta kalian berdua. Semua tidak ada yang terlambat, selagi kita masih mempunyai waktu untuk berusaha." Ucap kakek Ganan dan memberi ucapan selamat pada sahabatnya.
"Terima kasih ya, Tuan Ganan. Aku menyesal, kenapa dari dulu aku tidak meminta bantuan kamu. Andai saja, namun takdir berkata lain. Aku harus melewati ujianku hingga aku bisa bertemu dengannya kembali." Jawab kakek Dana dan tersenyum bahagia.
Sedangkan Omma Zeil dan Omma Maura, kini mendekati sahabatnya. Begitu juga dengan istri kakek Tirta, Omma Nessa ikut mendekatinya.
"Selamat ya Elin, akhirnya penantianmu kini telah kamu temukan kembali. Aku ikut bahagia, semoga perpisahan tidak akan terulang kembali." Ucap Omma Maura, kemudian memeluknya dengan erat.
"Kak Elin, aku hanya bisa memanggilmu kakak Elin. Karena aku yang paling muda dan yang paling manja, aku merindukan masa masa itu." Ucap Omma Zeil, lalu memeluknya dan menitikan air matanya.
'Maafkan aku, aku yang pernah menyukai kekasihmu. Maafkan aku, aku yang hanya bisa bergumam dalam ingatanku.' Batin Omma Zeil teringat akan masa lalunya.
Setelah itu, Omma Zeil melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.
"Tidak, aku hanya terharu dan ikut bahagia." Jawab Omma Zeil beralasan.
"Hei ... hari ini adalah hari bahagianya Elin dan tuan Dana, kenapa kamu menangis, adikku? nanti kamu bisa terlihat jelek, tau." Ucap kakek Ganan mengalihkan apa yang tengah dipikirkan oleh adik sepupunya, yaitu Omma Zeil.
"Kakak, lucu sekali aku memanggilnya dengan sebutan kakak. Padahal, kita sudah ada cucu masing masing." Jawab Omma Zeil dibarengi riuh tawa yang teringat akan kebersamaan di kala masih muda.
"Terus ... aku yang bontot,"
"Dan aku yang paling bontot ..."
"Dicuekin begitu saja, maksudnya?" sindir Zicko dan Vellyn bersamaan saling bergantian.
Semua yang mendengarnya pun tertawa lepas saat melihat ekspresi Zicko dan Vellyn.
"Kak Dana," panggil tuan Guntara sambil berjalan.
"Iya, adikku. Ada apa? bagaimana istri kamu?" jawab kakek Dana dan balik bertanya.
__ADS_1
"Istriku sedang diamankan, semua akan dilanjutkan setelah ini. Untuk Kak Dana dan kak Elin, selamat atas pernikahan kalian. Semoga tidak ada lagi sebuah perpisahan, dan kebahagiaan yang akan terus bersama kak Elin dan kak Dana." Jawab tuan Guntara memberi ucapan selamat pada kakaknya, kemudian keduanya saling berpelukan.
Setelah itu, kakek Dana melepaskannya dan memegangi kedua pundak adik laki lakinya.
"Begitu juga dengan kamu, semoga anakmu segera ditemukan dan tidak ada lagi sebuah perpisahan. Mungkin ini balasannya, dan kamu yang harus menuainya. Maafkan kakak, maafkan atas kesalahan kakak selama ini. Karena perbuatan kakak, kamu yang harus berpisah dengan anakmu dan juga harus kehilangan istrimu." Ucap kakek Dana penuh penyesalan.
"Kak Dana tidak perlu meminta maaf, semua sudah menjadi takdirnya masing masing." Jawab tuan Guntara dengan yakin.
"Ya sudah, karena semuanya tidak ada lagi kecemasan. Bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu, setelah itu kita lanjutkan lagi obrolan kita." Ucap kakek Ganan menyudahi obrolannya.
****
Usai menikmati makan siang, kini semuanya kembali berkumpul di ruang keluarga.
"Cie ... sekarang udah jadi nyonya Dana, ups! akhirnya keceplosan jugs mulut aroganku ini." Ucap tuan Tirta yang tidak pernah berubah dari masa mudanya. Dingin, namun pandai bergurau bersama yang lainnya.
"Sudah lah, kita sedang tidak ada waktu untuk bergurau. Kita masih ada beberapa masalah yang juga belum kita temukan titik terangnya." Sahut kakek Ganan menimpali.
"Apa kamu lupa, tuan Ganan? bukankah Dokter Hanan telah berpesan pada kita, jika kita dilarang memberi pertanyaan yang dapat mengganggu ingatannya." Bisik kakek Alfan pada kakek Ganan.
"Kamu tenang saja, aku sudah menyiapkan Dokter yang terbaik. Ini lebih penting, dan waktunya sudah tidak bisa untuk di undur lagi." Jawabnya dengan lirih, semua hanya melihatnya penuh keheranan. Kakek Alfan pun hanya mengangguk pasrah, Beliau tahu jika kakek Ganan paling tidak bisa untuk mengubah jalan pikirnya.
"Elin, maaf sebelumnya. Apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya kakek Dana dengan sangat hati hati.
"Tentu saja boleh, katakan saja." Jawabnya.
"Siapa yang kamu maksud Veronika?"
Seketika, Lunika dan ibunya mendadak kaget mendengarnya. Sedangkan Lunika berusaha untuk tenang, meski dalam pikirannya tengah berkecamuk. Lagi lagi Lunika teringat dengan sosok bang Martha yang selama ini sudah banyak menyiksa dirinya.
Mukanya mendadak pucat, tubuhnya pun gemetaran. Zicko yang berada didekat istrinya ikut kaget melihat istrinya berubah menjadi ketakutan.
Akhirnya, semua yang ada didalam ruang keluarga pandangannya tertuju pada Lunika. Semua berubah menjadi panik, mukanya terlihat pucat dan gemetaran.
"Sayang, kamu kenapa? kamu sakit?" tanya Zicko sambil memeriksa suhu tubuh pada istrinya.
"Veronika, aku benci nama itu." Ucapnya berulang ulang sambil memeluk suaminya.
Sedangkan yang lainnya mendadak kaget melihat Lunika yang berubah ketakutan.
__ADS_1
"Nak Zicko, bawa istrimu ke kamar. Biar ibu yang menceritakan semuanya pada keluarga kamu." Perintah ibu mertuanya, Zicko hanya mengangguk dan menggendong istrinya untuk segera masuk ke kamarnya.