Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Ingin memastikan


__ADS_3

Masih berada di pesta pernikahan Arnal dan Hana, Romi akhirnya memilih untuk segera memberi ucapan selamat kepada Arnal teman dekatnya.


"Arnal, selamat atas pernikahan kamu. Maaf, aku buru buru harus pergi." Ucap Romi memberikan ucapan selamat sekaligus berpamitan untuk pulang.


"Terima kasih ya, Rom. Aku mohon dengan sangat, tolong cegah Aden. Aku takut, emosinya akan semakin memuncak." Jawab Arnal, Romi pun mengangguk dan pergi tanpa pamit dengan kedua orang tuan Arnal.


Seketika, tubuh Arnal mendadak lemas. Pikirannya pun semakin kacau dan juga tidak karuan, perihal dengan apa yang telah ia lihat sebelumnya. Sebuah ciuman yang mendarat dipipi milik seorang perempuan yang sangat dicintainya begitu nyata dan jelas dihadapannya.


Tanpa pikir panjang, Arnal langsung melepas jasnya dan segera pergi meninggalkan acara pernikahannya sendiri.


"Arnal!! tunggu! jangan pergi, Nak." Teriak sang ibu memanggil putranya yang tengah berlari begitu kencang, Arnal pun tidak meresponnya. Berkali kali sang istri ikut mengejar dan memanggilnya, tetap saja tidak mendapatkan respon dari Arnal.


Dengan emosinya yang tidak terkendalikan, Arnal menambah kecepatannya agar segera sampai di tempat tujuan. Begitu juga dengan Aden, ia pun tidak kalah cepatnya mengendarai mobilnya.


"Aku yakin, Zicko hanya bersandiwara didepan umum. Aku tidak percaya sama sekali, jika Lunika adalah istrinya. Aku harus segera menemui mereka berdua untuk meminta bukti, sebelum Arnal lebih dulu melakukan hal konyolnya untuk menceraikan Hana." Ucapnya dengan perasaan yang tidak lagi tenang.


Sedangkan Lunika masih dalam perjalanan pulang bersama sang suami, Lunika hanya menatap luar jendela dengan perasaan yang berkecamuk. Pikirannya pun sulit untuk ditenangkan, ditambah lagi dirinya teringat akan sesuatu yang tidak pernah ia sangkakan sebelumnya. Sesekali Zicko menoleh kearah istrinya, berharap semua akan baik baik saja.


"Hentikan lamunanmu itu, kamu tidak perlu memikirkan dua laki laki itu. Tidak ada gunanya, tau! itupun kalau kamu masih sadar." Ucap Zicko yang masih menoleh kearah istrinya, Lunika yang mendengarnya pun ikut menoleh kearah suaminya yang posisi duduknya bersebelahan.


"Siapa juga yang memikirkan dua laki laki itu, aku hanya memikirkan etika kamu yang tidak bisa melihat situasi serta kondisi didalam gedung." Jawab Lunika dengan tatapan sedikit kesal.


Zicko sendiri berusaha untuk memecahkan sebuah ucapan yang tengah diucapkan oleh istrinya itu.


"Etika? etika yang bagaimana, maksud kamu? hem." Tanya Zicko pura pura tidak mengerti, sedangkan Lunika masih memasang muka cemberut nya didepan suaminya.

__ADS_1


"Pikir saja sendiri, aku tidak ada waktu untuk menjelaskannya." Jawab Lunika dengan ketus, Zicko sendiri hanya tertawa kecil.


"Oooh ... karena aku telah mencium kamu? kenapa bisa masuk kategori etika? hem." Ucap Zicko dengan santai, sedangkan Lunika hanya menelan salivanya.


Karena tidak ingin menambah pikiran dan masalah yang tidak penting, Zicko sedikit menggeserkan posisi duduknya dekat di jendela kaca mobil. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya tepat dipangkuan istrinya, kemudian menatapnya dengan lekat.


"Bangun, badan kamu ini sangat berat. Aku bukan ibu kamu, bangunlah." Ucap Lunika sambil menyingkirkan sang suami yang tengah berada di pangkuannya.


"Aku sangat capek, biarkan aku istirahat dalam perjalanan. Kamu tahu? energiku sudah terkuras habis karena dua curut tadi, dua laki laki yang tergila gila denganmu. Biarkan aku tidur sebentar, jangan protes." Jawab Zicko dan memejamkan kedua matanya.


Sedangkan Lunika sendiri hanya bisa pasrah, jika dirinya tidak bisa berbuat apa apa selain mengalah dengan suaminya sendiri. Pelan pelan, Lunika mengatur pernapasannya agar tetap terlihat tenang. Dirinya berharap, semua masalah akan segera terselesaikan tanpa ada sebuah kebencian sedikitpun, pikirnya.


'Kenapa aku merasa nyaman berada di pangkuannya, perasaan macam apa ini. Kenapa tiba tiba aku merasa begitu tenang dan setenang pangkuan Mama.' Batin Zicko yang tidak menyadari akan perasaannya sendiri.


Sedangkan Lunika memilih untuk menatap luar sambil melamunkan sesuatu.


Tidak lama kemudian, Aden telah sampai didepan rumah Lunika. Begitu juga dengan Romi maupun Arnal yang juga sudah sampai didepan rumah milik ibunya Lunika. Ketiganya sama sama berdiri didekat kendaraan masing masing.


Dengan perasaannya yang masih menyimpan kekesalannya, Aden langsung menghampiri Arnal yang tengah berdiri didekat pintu mobilnya itu.


"Arnal, ngapain kamu kesini? kamu mau mancari muka didepan Lunika, begitu maksud kamu? hem. Kamu itu tidak lebih dari seorang pecundang, ngerti. Kamu mencintai Lunika, tetapi kamu tidak bisa mempertahankan perasaan kamu itu. Kamu hanya mementingkan sesuatu yang tidak penting untuk kamu, cu*ih. " Tanya Aden yang masih menyimpan kekesalannya. Sedangkan Romi masih dengan posisinya sambil memperhatikan kedua temannya yang tengah serius dalam berbicara.


"Aku sudah mengajaknya untuk kabur dan menikah denganku, kenyataannya Lunika tetap tidak mau. Salahku dimana? hah! aku itu sudah berbicara dengannya, aku akan segera menceraikan Hana dalam waktu dekat ini." Jawab Arnal yang tidak kalah geramnya saat berbicara dengan teman dekatnya.


Romi yang tidak ingin semakin runyam, segera ia mendekati kedua temannya.

__ADS_1


"Aku peringatkan kepadamu, sekarang juga kamu cepat lah pulang. Sebelum ibunya Lunika mendengar perdebatan kalian berdua, aku tidak ingin kondisi ibunya Lunika semakin menjadi." Perintah Romi mengusir kedua temannya.


"Ada apa, ini? kenapa kedengarannya ada keributan? Arnal, kamu ... bukankah hari ini adalah hari pernikahan kamu? kenapa kamu bisa ada disini?" tanya ibu Ruminah yang tiba tiba sudah berada diambang pintu dibantu oleh ibu Arum selaku ibunya Romi yang tengah menemani ibu Ruminah.


Sambil berdiri dengan sedikit sempoyongan, ibu Ruminah mencoba untuk menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran. Ibu Ruminah dengan posisinya sambil menahan dadanya yang terasa, beliau berusaha untuk memastikan sesuatu yang tengah terjadi.


"Maaf, Bu. Saya hanya ... saya hanya ingin memastikannya saja, apakah Lunika sudah ..."


"Sudah pulang, Bu?" tanya Romi yang langsung menyambarnya.


"Begini loh, Bu. Tadi ada kesalahan kecil di pesta pernikahan Arnal, masalahnya Arnal telah menikah dengan Hana. Iya kan, Rom?" sahut Aden yang mengerti maksud dari ucapan Romi mengenai kesehatan ibunya.


"Iya, Bu. Kalau begitu, saya permisi untuk mengantarkan Arnal kembali ke pesta pernikahannya." Jawab Romi yang mengikuti drama dari Aden.


"Jadi ... kamu menikah dengan sahabatnya Lunika, Hana maksudnya?" tanya ibu Ruminah sambil mengatur pernapasan nya.


Arnal tidak kuasa untuk berucap, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan rasa penyesalan.


"Pergilah sejarang juga, cepat! pergi. Mulai sekarang, aku tidak ingin melihatmu lagi. Aku benar benar kecewa denganmu, Arnal. Sekarang juga, pergilah. Cepat! pergi, aku tidak sudi melihat wajah penghianat sepertimu yang sudah melukai perasaan putriku."


"Bu, bukan maksud Arnal untuk melukai perasaan Lunika. Arnal pun tidak menginginkan pernikahan semacam ini, Arnal hanya mencintai Lunika, Bu. Arnal mohon, maafkan Arnal." Ucap Arnal sambil bersimpuh dikaki ibu Rumi.


"Pergilah, aku tidak ingin melihatmu. Cepat! pergi sekarang juga, sebelum habis kesabaranku." Jawab ibu Rumi dengan suara membentak.


"Kamu sudah beristri, pulanglah. Jangan sampai nama baik keluarga kamu akan tercoreng lebih buruk lagi." Ucap Romi mengingatkan, tidak lama kemudian telah datang beberapa orang tengah menjemput Arnal. Mau tidak mau, Arnal hanya bisa pasrah. Meski kenyataannya ingin memberontak, dan ingin segera lepas dari belenggu status perkaw*inannya.

__ADS_1


Kini, tinggal lah Romi dan Aden yang masih berada didepan rumah ibunya Lunika.


__ADS_2