Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Ke suatu tempat


__ADS_3

Pagi hari, Zicko dan istri tengah bermalas malasan didalam kamar. Meski keduanya sudah bangun sejak pagi buta.


"Sayang, kamu benar nih tidak berangkat kerja?" tanya Lunika sambil menyisir rambutnya yang panjang dan hitam lekat.


Zicko yang tengah mengenakan jam tangannya pun segera mendekati sang istri, kemudian ia membantunya untuk menguncir rambut milik istrinya.


"Apa ucapanku yang semalam itu masih kurang jelas untuk kamu dengar? hem."


"Bukan begitu, aku hanya takut jika kamu kena marah sama Papa."


"Papa tidak akan marah padaku, sayang..."


Setelah selesai membantu istrinya mengunci rambutnya, Zicko memutar posisi sang istri hingga sudah berada dihadapannya.


"Papa sudah memberiku kebebasan ketika usia kehamilan kamu sudah memasuki sembilan bulan, jadi untuk sekarang ini aku bebas melakukan aktivitasku. Lagian ngapain sih kamu memikirkan pekerjaanku, aku bukan anak kecil yang tidak bisa membagi waktu." Jawab Zicko menjelaskannya.


"Oh iya, tadi malam aku melihat kuku tangan serta kuku kaki kamu semuanya terlihat panjang dengan sekilas pandanganku. Bagaimana kalau aku yang memotongnya? biar kamu mudah untuk beraktivitas." Ucapnya dan meraih tangan milik istrinya, kemudian menuntun istrinya menuju ke sofa.


Lunika yang mendapat perlakuan dari suaminya hanya bisa pasrah, bahkan tidak lagi dapat berkutik. Dengan telaten, Zicko memotong kuku milik istrinya penuh hati hati.


"Sudah, sekarang ayo kita keluar. Sepertinya Mama dan Papa sudah berada di ruang makan, ayo kita temui Mama dan Papa." Ajak Zicko, Lunika hanya mengangguk dan nurut pada suaminya.


Setelah beres dan tidak ada yang tertinggal, Zicko menggandeng instrinya lewat jalan pintas untuk menghindari sesuatu yang bahaya untuk calon anak sarta untuk istrinya.


Saat berada di ruang makan, Zicko dah Lunika duduk berdekatan dan menghadap pada orang tuanya.


"Kita sarapan terlebih dahulu, nanti akan ada yang ingin Papa sampaikan pada kalian." Ucap sang ayah pada anak dan menantunya.


"Iya, Pa." Jawab pada keduanya serempak, kemudian Lunika mengambilkan sarapan pagi untuk suaminya. Dua potong roti yang diolesi dengan selai beserta susu hangatnya.


Hening, seperti biasa saat menikmati sarapan pagi tidak ada yang berucap sepatah katapun terkecuali mendadak ada sesuatu hal yang sangat penting.


Usai sarapan pagi, tidak ada yang beranjak dari kursinya. Tuan Zayen maupun anak dan menantunya serta istrinya sendiri masih dengan posisinya yang tidak berubah.

__ADS_1


"Lunika," panggil ayah mertuanya.


"Iya, Pa." Dengan serius, Lunika menatap ayah mertuanya.


"Beberapa hari lagi Zicko akan Papa beri tugas untuk ke luar Kota, apakah kamu mengizinkannya?" tanya tuan Zayen dengan tatapan yang juga serius.


"Lunika tidak melarangnya, Pa. Suami Lunika sudah mengatakannya tadi malam, Lunika tahu itu sangat penting. Lunika tidak menuntut untuk tidak berangkat, Lunika mengizinkannya." Jawab Lunika sebaik mungkin, takut akan melukai perasan ayah mertua dan juga ibu mertuanya.


"Terima kasih ya Lun, kamu sudah mengizinkan suami kamu untuk pergi ke luar Kota. Kamu tidak perlu khawatir, Zicko dalam pengawasan anak buah Papa. Lebih baik kamu fokuskan pada calon buah hati kamu, ada anak Zicko dan juga cucu Papa sekaligus penerus Papa." Ucap ayah mertua, Lunika berusaha untuk tersenyum. Meski senyumnya terasa getir sekalipun, Lunika berusaha untuk tidak menahan suami pergi ke luar Kota.


"Iya Lun, kamu tidak perlu mengkhawatirkan Zicko. Suami kamu perginya tidak lama, hanya sebentar. Lagian juga buat masa depan anak anak kamu nantinya, setidaknya bisa sukses untuk kedepannya." Ucap ibu mertua ikut menimpali.


"Iya Ma, Lunika ngerty. Lunika tidak keberatan kok, Ma." Jawab Lunika berusaha untuk tersenyum di hadapan ibu mertuanya maupun ayah mertua serta suaminya yang ada disebelahnya.


'Entah kenpa, aku sangat mengkhawatirkan. Aku takut diantara aku, suamiku, dan calon yah hatiku sedang dalam keadaan yang tidak baik baik saja.' Batin Lunika dengan cemas, serta pikirannya yang sangat kacau.


"Ya sudah, hari ini Papa mau berangkat ke Kantor ditemani Mama. Kalian berdua nikmati hari ini dengan sebaik mungkin, jangan pergi jauh jauh." Ucap tuan Zayen mengingatkan serta berpamitan untuk berangkat ke Kantor.


"Ingat, Zicko. Jangan sampai istri kamu kelelahan, kasihan dengan kondisi perutnya yang semakin membesar." Ucap sang ibu yang juga ikut memberi pesan untuk putranya.


"Cih! udah kek pengantin baru aja, kamu Zick." Sahut sang ayah yang mendengar jawaban dari putranya.


"Ye, Papa. Bilang aja kalau Papa pingin muda lagi, sekarang juga boleh buatkan Zicko adik. Sedih tau Pa, Zicko tidak punya saudara. Masih pantas lah, jika Zicko mempunyai adik lagi." Ucap Zicko sambil mengedipkan matanya tertuju pada sang ayah.


CTAK!!!


"Dasar! anak tidak akhlak."


"Aw! sakit tau, Pa."


"Sudah, jangan ngelantur kemana mana." Ucap sang ayah dan langsung pergi meninggalkan putranya yang semakin aneh menurutnya.


"Lihat lah, putramu semakin kurang ajar padaku." Ucap tuan Zayen sambil berjalan beriringan dengan sang istri yang tengah terkekeh geli saat melihat ekspresi suaminya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Zicko, tidak henti hentinya dia tertawa melihat ekspresi ayahnya.


"Sayang, sudah deh jangan tertawa terus. Tidak baik mentertawakan orang tua." Ucap Lunika mengingatkan suaminya.


"Habisnya kadang kadang Papa terlihat lucu."


"Hem," Lunika hanya mengernyitkan dahinya.


"Bagaimana kalau aku ajak kamu jalan jalan ke suatu tempat, mau 'kan?" ajak Zicko.


"Kemana? palingan juga di Restoran, aku tidak mau." Jawab Lunika sambil memasang muka cemberutnya.


"Siapa juga yang mau mengajak kamu ke Restoran, sayang ... aku mau mengajakmu ke tempat yang banyak cerita tentang kedua orang tuaku. Penasaran 'kan? ayo kita bersiap siap."


"Ke tempat yang benyak cerita tentang Papa dan Mama? dimana?" tanya Lunika penasaran dan serba ingin tahu.


"Kejutan, dong. Kalau dikasih tau namanya bukan kejutan, tapi pemberitahuan." Jawab Zicko dan langsung mencium pipi kiri milik istrinya. Kemudian mengajak istrinya untuk bersiap siap, Lunika sendiri hanya bisa nurut dengan apa yang diminta suaminya.


Sesudah bersiap siap, Zicko dan Lunika segera berangkat ke suatu tempat yang penuh cerita. Tidak memakan waktu yang lama, keduanya telah sampai di tempat yang ditujuinya. Karena rasa ketidaksabarannya, Zicko dan Lunika segera turun dari mobil.


Saat berdiri dan memandangi tempat tersebut dengan kagum, Lunika mendekati suaminya.


"Sayang, ini tempat apaan? serius deh aku sangat penasaran. Tempatnya kok unik banget ya, sepertinya kalau malam sangat menyenangkan. Apalagi dengan lampu lampu yang menyala berbagai macam warna." Tanya Lunika terkagum dengan tempat yang menurutnya sangat lah unik.


"Ini Danau kecil, sayang. Di tempat inilah, Mama selalu menghabiskan waktu kencannya bersama Papa." Jawab Zicko menjelaskan.


"Kencan? kencan yang bagaimana, sayang? bukankah Papa dan Mama itu dijodohkan. Bahkan Papa harus menjadi pengganti paman Seyn. Yang benar itu, paman Seyn mungkin."


"Hem, memang pacaran itu hanya untuk kalangan yang belum menikah? tidak juga, kali."


"Ah Iya ya, seperti kita ini. Tapi ... kita tidak mempunyai tempat spesial." Ucap Lunika sambil menatap Danau yang cukup luas, meski terbilang kecil.


Zicko yang mendengar penuturan dari istrinya pun sedikit tersentil bagian ulu hatinya. Pelan pelan, Zicko memeluk istrinya dari belakang. Kemudian meletakkan dagunya diatas pundak milik istrinya.

__ADS_1


"Maafkan aku yang selalu sibuk dengan dunia kerjaku, sampai sampai aku mengabaikan kamu. Sekarang katakan padaku, tempat seperti apa yang kamu inginkan. Aku akan mengabulkan permintaan kamu." Ucap Zicko yang masih dengan posisinya.


__ADS_2