
Masih di rumah sakit, tepatnya sudah berganti malam hari. Kini keadaan Lunika sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, sedikit demi sedikit ia dapat menerima keadaan dirinya yang sebenarnya. Yakni berusaha untuk kuat demi sang buah hati menunggu kepulangan suaminya.
"Suprise ..." suara terdengar begitu nyaring dan sangat jelas. Siapa lagi kalau bukan suara Zicko yang mengagetkan ruang rawat istrinya.
Seketika, bulir bulir air mata pada keduanya tak mampu untuk dibendung. Lunika dan Zicko sama sama menangis bahagia, dengan cepat Zicko segera memeluk istrinya cukup erat. Tidak hanya itu, Zicko berulang kali mencium kening dan kedua pipi milik istrinya tanpa bosan.
"Sayang, maafkan aku yang telat untuk pulang. Terima kasih sayang, kamu istriku yang sangat hebat. Kamu mampu berjuang sendiri tanpa aku disampingmu, aku sangat beruntung mempunyai istri sehebat dan sekuat kamu." Ucap Zicko dan mengusap air mata istrinya dengan ibu jarinya, Lunika pun tersenyum mengembang melihat suaminya baik baik saja tanpa adanya luka maupun yang menakutkan.
"Aku sangat mengkhawatirkan kamu, aku takut jauh darimu. Bahkan aku sangat takut terjadi sesuatu pada diri kamu, aku takut." Ucap Lunika yang masih menangis bahagia dan terharu ketika suaminya sudah berada dihadapannya.
"Terima kasih, sayang. Kamu sudah begitu mengkhawatirkan aku, sekarang aku baik baik saja. Oh iya, dimana jagoanku. Aku sudah tidak sabar ingin menggendongnya, aku ingin menciumnya." Sahut Zicko, kemudian pandangannya menuju kearah yang ditunjukkan istrinya mengarah ke kotak bayi.
Lagi lagi senyum mengembang terlihat jelas pada kedua sudut bibir milik Zicko, dengan langkah kakinya pelan, Zicko mendekati putra kesayangannya.
"Pasti kamu itu Niko, jagoan Daddy. Iya, Daddy dan Bunda memberimu nama Niko Wilyam. Lihat lah, kamu sangat tampan seperti Daddy kamu. Siapa lagi kalau bukan Daddy Zicko Wilyam, ingat lah bahwa kamu akan menjadi penerus Daddy di kemudian hari." Ucap Zicko sambil mengajak bayinya untuk mengobrol, meski tidak akan bisa meresponnya.
"Ma, Zicko gendong ya ..." Ucap Zicko meminta izin pada ibunya. Nyonya Afna pun mengangguk sambil mendekati putranya, takut akan kesulitan menggendong bayinya.
"Tunggu, biar Mama bantu kamu untuk menggendong bayimu." Ucap sang ibu menghentikan niat Zicko yang hendak mengambil anaknya yang tidur pulas.
__ADS_1
"Kamu yakin sudah bisa? kalau kesulitan bilang saja, nanti Mama bantu kamu untuk menggendong Niko." Ucap sang ibu mengingatkan, takut jika putranya kualahan untuk menggendong putranya.
"Iya Zicko, kamu harus hati hati menggendong bayimu. Tulangnya belum sekeras tulang kamu, semuanya serba sensitif dan harus hati hati. Ditambah lagi yang usianya baru melahirkan, kamu harus benar benar memperhatikannya dengan hati hati." Sahut istri kakek Dana mengingatkan.
"Iya Bu, Zicko sudah mahir." Jelasnya yang sok tahu.
"Hem ... itu bayi, bukan boneka gendong. Berhati hatilah, Nak Zicko." Ucap istri kakek Dana yang terus mengingatkan.
"Iya Bu ..." jawab Zicko, sedangkan yang lainnya menahan tawa ketika melihat ekspresi Zicko yang tengah diberi nasehat dari ibu asuh Lunika.
Karena rasa yang sudah tidak lagi sabar, dengan sangat hati hati Zicko mulai mencoba untuk menggendong putranya sesuai dengan yang diajarkan dari istri kakek Dana bagaimana caranya menggendong bayi dengan benar.
Lunika yang melihatnya pun tersenyum bahagia, rasa ketakutan yang menghantuinya kini mulai mereda. Meski ada sedikit rasa yang mengganjal dihatinya, Lunika mencoba untuk menepis pikiran buruknya.
"Iya dong Pa, Zicko kan Papanya." Sahut Zicko sambil mencium gemas putra kesayangannya.
Setelah dirasa sudah cukup, Zicko menidurkan kembali putranya ke tempat semula. Kemudian ia mendekati sang istri yang tengah bersandar ditemani ibunya dan ibu mertuanya serta ibu asuhnya.
"Ya sudah, kalau begitu kita bertiga izin pulang. Dan besok pagi pagi Mama akan datang kesini lagi untuk menjemput kalian. Sekarang istirahatlah, kalian pasti capek. Soal untuk mengurus bayi Niko, Mama sudah menyewa salah satu asisten Dokter yang handal untuk merawat cucu Mama. Jadi, jika ada apa apa kalian cukup tekan bel nya." Ucap ibunya Zicko berpamitan.
__ADS_1
"Iya Nak, Ibu harus pulang. Besok Ibu pasti akan datang ke rumah kalian, sekarang istirahatlah. Kesehatan jauh lebih penting dari segalanya, ya sudah Ibu pulang." Ucap istri Kakek Dana ikut berpamanitan.
"Mama juga mau pamit untuk pulang, sekarang sudah ada suami kamu yang bisa menemani kamu. Kita semua tidak ingin mengganggu kebahagiaan kalian berdua yang sudah kalian tunggu jauh jauh hari. Ingat, jika ada sesuatu yang kalian butuhkan, cepatlah tekan bel nya. Sudah malam, lebih baik kalian berdua beristirahat." Ucap sang ibu yang juga ikutan berpamitan.
Bukan tidak ingin menemani, hanya saja tidak ingin mengganggu kebahagiaan Lunika dan Zicko yang kini tengah bahagia. Karena tidak ingin semakin larut malam, semua kini telah meninggalkan Lunika dan Zicko serta bayi Niko yang masih didalam ruang rawat inap.
Kebahagiaan yang sudah dinanti nantikan sejauh hari, kini telah di sambut dengan berjuta rasa yang menyeruak didalam hati oleh keduanya, yakni Zicko dan Lunika. Sedih dan bahagia telah bercampur aduk menjadi satu, dan kini kebahagiaan itu telah didapatkannya.
Karena rasa kantuk yang tidak lagi dapat ditahan, akhirnya Zicko dan Lunika memilih untuk beristirahat.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya disebuah rumah yang sulit untuk dijangkau. Kini masih ada seseorang yang tengah sibuk dengan sejuta cara untuk melakukan aksinya. Berkali kali orang tersebut melemparkan barang yang ada didekatnya hingga berantakan karena rasa kekesalannya terhadap seseorang yang sangat ia benci.
"Pers*etan semua, aku akan membalasnya. Kali ini aku telah gagal untuk menghancurkannya. Tapi tidak untuk kedepannya, aku akan tertawa lepas mentertawakan sebuah leluconku. Dan akan aku pastikan, tidak ada satupun yang dapat menghalangiku dan menangkapku. Seribu cara telah aku kuasai untuk membuat sesuatu hancur berantakan." Ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
Kebencian yang begitu dalam, kini telah membutakan jalan pikiran menjadi tidak lagi sehat. Bahkan ia begitu liciknya menyusun strateginya, kegagalannya pun tidak membuatnya menyerah. Justru semakin membuat si pelaku ingin terus mencobanya.
Sedangkan dikediaman Tuan Zayen, Beliau kembali gelisah dan tidak dapat untuk tidur dengan nyenyak. Bahkan ia kembali teringat masa lalunya serta tentang masa lalu menantunya sendiri yang senasib hidupnya.
"Sayang, kenapa kamu belum tidur? apa sedang kamu pikirkan?" tanya sang istri yang tiba tiba terbangun dan dikejutkan dengan suaminya yang sudah bersandar dikepala ranjang.
__ADS_1
"Aku teringat cucuku, aku takut kejadian dulu akan terulang lagi." Jawabnya sambil mengacak rambutnya yang tidak gatal.
"Jangan berpikiran yang aneh aneh, Zicko sudah pulang dengan selamat dan kini sudah bersama anak dan istrinya. Lagian juga penjagaan yang sangat ketat, jadi sulit untuk mencari cela." Ucap sang istri untuk menenangkan suaminya yang tengah mencemaskan cucu kesayangannya.