
Saat berada di ruang kerja, Zicko menyibukkan diri dengan pekerjaannya sambil menunggu seseorang.
Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu tengah membuyarkan lamunannya. Kemudian, ia langsung menekan tombol remot yang ada didepannya itu.
Pintu pun terbuka dengan lebar, kemudian seseorang tengah masuk dan posisi sedikit membungkuk dihadapannya.
"Silahkan duduk, jangan canggung." Ucap Zicko mempersilahkannya untuk duduk dihadapannya. Dengan sedikit canggung, mau tidak mau menuruti perintah dari Zicko. Dengan tatapan Zicko yang merasa curiga, segera ia langsung bertanya pada pokok intinya.
"Katakan padaku dengan jujur, kenapa kamu tidak masuk kerja? apakah kamu sedang sakit?" tanya Zicko yang masih menatapnya penuh selidik.
"Maaf Bos, jika kedatangan saya ini kurang sopan. Sebenarnya saya ingin mengundurkan diri, saya tidak bisa untuk melanjutkan kerja di Kantor Bos." Jawabnya yang masih menunduk karena malu, meski sebenarnya sangat geram pada Bosnya sendiri.
"Apa karena Lunika sudah menjadi istriku? hingga membuatmu tidak lagi nyaman untuk bekerja di Kantorku? katakan saja dengan jujur." Tanya Zicko menebaknya.
"Tidak ada hubungan apapun dengan Lunika, Bos. Saya hanya ingin beristirahat dalam beberapa waktu, dan semua ini tidak ada hubungannya dengan Lunika. Saya sudah rela untuk melepaskan Lunika, mungkin memang kenyataannya bukan lah jodoh saya. Jadi, Bos Zicko tidak perlu menaruh curiga pada saya." Jawabnya dengan penuh alasan.
"Baiklah, jika kamu memang menginginkan untuk berhenti bekerja di Kantorku ini. Aku tidak akan pernah memaksamu, Arnal. Semua keputusan ada pada kamu, aku bukan orang yang gampang untuk memecat karyawanku begitu saja tanpa alasan. Jadi, ini murni kamu sendiri yang telah mengundurkan diri. Soal gaji dan pesangon, kamu akan menerimanya dalam waktu dekat ini." Ucap Zicko.
"Terima kasih, Bos. Kalau begitu, saya permisi untuk segera pergi." Jawab Arnal dan berpamitan, Zicko hanya mengangguk.
Setelah berpamitan, Arnal segera keluar dari ruang kerja milik Bosnya itu. Sedangkan Zicko mulai memijat pelipisnya dengan pelan, berharap akan segera mendapat gantinya.
__ADS_1
"Apakah Arnal dapat dipercaya, jika dirinya benar benar mengundurkan diri? entah kenapa aku menaruh rasa curigaku padanya. Semoga saja, pikiranku ini salah. Tapi ... mau bagaimanapun, Lunika adalah cinta pertamanya. Begitu juga dengan Aden, mereka berdua sama sama menyukai perempuan yang sama. Dan sekarang, perempuan yang mereka berdua sukai ternyata sudah menjadi milikku." Ucapnya yang terus berpikir mengenai keselamatan istrinya sendiri.
Karena tidak ingin semakin runyam dalam pikirannya, Zicko memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya. Berharap, pekerjaannya yang menumpuk segunung segera dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat.
Disaat itu juga, sebuah ponsel miliknya tengah menggetarkan meja kerjanya. sepasang matanya, Zicko langsung mengarahkan pandangannya pada sebuah pesan masuk. Dengan cepat, Zicko segera menyambar ponselnya dan membuka layar ponselnya.
Seketika, Zicko mendadak tercengang ketika membaca pesan masuk dengan seksama serta teliti dan tanpa ada yang tertinggal setiap kallimatnya, Zicko mencoba mencerna sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Aden mau pergi ke Luar Negri? mau ngapain dia. Atau ... jangan jangan dia memiliki sebuah rencana baru untukku, benarkah? bagaimana ini, jika kenyataannya terjadi. Semoga saja, Aden tidak bertindak konyol padaku maupun pada Lunika. Aku harus mencari tahu sampai ke akar akarnya, karena aku merasa ada sebuah rencana pada Aden. Bagaimana aku tidak curiga dengannya? dia yang akan pergi ke Amerika dengan cara tiba tiba." Ucapnya lirih sambil memikirkan apa maksud dari sahabatnya sendiri.
Zicko yang masih mencurigai Aden, tiba tiba ia kembali teringat dengan sosok Arnal yang baru saja mengundurkan diri. Pikirannya pun kembali pada sesuatu yang membuatnya curiga semakin jauh.
Zicko kembali teringat pada keluarganya sendiri. Selain pamannya yang bernama Viko, Zicko teringat akan sosok kakek Ganan yang lebih lihai dalam sikap santainya namun berjalan dengan pasti. Senyum lebar begitu terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya sendiri, Zicko memulai untuk melakukan sesuatu sebelum semua hal buruk terjadi dan menimpa dirinya maupun istrinya yang kini telah ia cintai dengan sempurna.
Karena tidak ingin membuang buang waktunya, Zicko segera menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian, ia segera meninggalkan kantor dan pergi kesuatu tempat yang sudah dijadikan tempat untuk menenangkan dirinya.
Usai selesai menyesuaikan pekerjaannya, Zicko langsung pergi dari Kantornya. Dengan kecepatan tinggi, Zicko semakin menambah kecepatannya. Tidak memakan waktu yang begitu lama, Zicko telah sampai di tempat tujuannya.
Tanpa permisi karena sudah terbiasa, Zicko langsung masuk begitu saja. Sesampainya didalam, Zicko merebahkan tubuhnya sambil terlentang.
"Bro! ada masalah?"
__ADS_1
"Tidak cuman ada masalah, tapi sangat banyak." Jawabnya tanpa menoleh.
"Kamu ini, sudah kaya masih saja banyak masalah. Nasibnya jadi orang kaya itu susah ya, Bro. Mendingan jadi orang miskin saja sepertiku ini, Bro. Bebas ekspresi, tapi banyakan ekspresi sedihnya, Bro." Ucapnya sambil duduk disebelah Zicko.
"Iya Jon, yang kamu katakan itu memang benar. Biar aku saja yang menjadi orang kaya, Jon. Kamu tidak akan mampu, karena susah." Jawab Zicko meledek.
"Sialan! kamu, Bro. Aku juga mau sih, jadi orang kaya sepertimu. Tapi aku tidak mau pusing seperti kamu, Bro." Ucap Joni yang tidak kalah ikut meledek.
"Hem! sudah lah, aku mau istirahat. Aku sedang prustasi, pusing, dan lagi tidak ingin berpikir." Jawab Zicko dengan lesu, kemudian ia segera memejamkan kedua matanya untuk bisa terlelap dari tidurnya.
Tidak lama kemudian, Zicko langsung tertidur begitu saja. Sedangkan Joni hanya membuang nafasnya dengan kasar, lalu ikut istirahat disebelahnya.
Sedangkan Lunika yang masih berada di rumah, ia mulai gelisah. Berkali kali ia menghubungi suaminya, namun tidak ada jawaban satu kalipun. Dengan rasa tidak bersemangat, Lunika memilih untuk pergi ke dapur. Mencoba untuk mengalihkan pikiran buruk pada suaminya sendiri.
"Aduh, Nona. Lebih baik Nona tidak usah masuk ke dapur, biar saya saja yang melakukan pekerjaan ini. Saya takut, jika tuan muda mengetahuinya. Nanti, bisa bisa saya dipecatnya." Ucap salah satu pelayan rumah yang sedikit takut akan tanggung jawabnya untuk menjaga istri tuan mudanya.
"Mbak Yuyun jangan khawatir, suami Lunika tidak akan memecat mbak Yuyun." Jawab Lunika sambil mengupas bawang putih.
"Tapi, Nona ... saya sudah diperintahkan untuk menjaga Nona. Jadi, saya tidak mungkin membiarkan Nona untuk melakukan pekerjaan kasar seperti ini." Ucap mbak Yuyun pada Nona mudanya, Lunika sendiri tetap bersikukuh atas kemauannya.
Sedangkan semua pelayan rumah tidak lagi bisa menolaknya, apapun yang dilakukan Lunika tidak berani untuk melarangnya.
__ADS_1