
Dey yang tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti istrinya, mau tidak mau Dey akhirnya mau memanjat pohon asam yang lumayan cukup besar. Tidak hanya itu saja, Dey juga meminta Arnal untuk ikut dengan aksinya yang akan memanjat pohon asam yang besar itu.
"Tuan, bisa manjat pohon asam nya, tidak?" tanya Arnal untuk memastikannya. Dey yang tidak mau kalah dari Arnal, dengan yakin menyanggupinya.
"Tenang saja, aku bisa manjat pohon nya kok. Apa lagi dengan bantuan tangga, bagiku sangat lah gampang." Sahut Dey dengan rasa percaya dirinya sambil melakukan panggilan video sama istri tercintanya.
Saat panggilan Video sudah menyambung, Dey menyerahkan benda pipihnya kepada kakek pemilik pohon asam.
Senyum mengembang begitu terlihat jelas pada kedua sudut bibir milik Vella yang tengah memperhatikan suaminya lewat panggilan video.
Dey mengernyitkan dahinya saat melihat kedua orang tuanya ikut menyaksikan putranya yang hendak memanjat pohon asam. "Mama sama Papa kurang kerjaan amat lah, sampai segitunya ingin melihat putranya memanjat pohon asam." Gumam Dey dengan perasaan campur aduk.
"Tuan, ayo kita manjat." Ajak Arnal yang tidak ingin berlama lama di bawah pohon asam, ia ingin segera cepat cepat pergi dari rumah kakek tersebut sebelum drama dari Tuan nya semakin menjadi, pikir Arnal yang tidak ingin mendapatkan sial berlipat ganda.
"Ya, tunggu sebentar. Aku mau melepa sepatuku dulu, bisa bisa terpeleset akunya." Jawab Dey, kemudian ia segera melepaskan sepatunya. Begitu juga dengan Arnal yang baru saja menyadari akan dirinya sendiri yang juga belum melepas sepatunya.
Usai kedua melepaskan sepatunya, Dey lebih dulu untuk memanjat pohon asam nya. Kemudian disusul oleh Arnal yang juga ikut manjat pohon asam tersebut.
Sedangkan Tuan Viko beserta istri dan menantunya tengah memperhatikan Dey yang tengah manjat pohon asam yang cukup besar kondisi batang pokoknya.
"Arnal, ngeri amat lihat bawah. Kalau kita jatuh, bagaimana ini? mati dong, kitanya." Tanya Dey yang tiba tiba gemetaran saat sudah berada diatas pohon asam.
"Jangan bilang soal mati, Tuan. Saya ini belum menikah, sayang sekali jika hidup saya harus berakhir sampai disini." Kata Arnal dengan segala celotehan nya itu.
"Kamu pikir kamu aja yang masih enggan untuk mati, aku belum siap mati karena masih banyak dosa aku nya." Ucap Dey yang sudah berada diatas pohon asam.
__ADS_1
Karena tidak ingin berlama lama diatas pohon asam, cepat cepat ia segera memetik buah asamnya. Begitu juga dengan Arnal, ia pun sama halnya dengan Tuan nya yang tidak ingin berlama lama diatas pohon.
"Arnal, aku sudah dapat banyak. Ayo kita turun, kalau kurang besok kita kesini lagi." Kata Dey yang sudah mulai bosan diatas pohon, dengan senang hati Arnal mengiyakan.
"Tuan, saya duluan ya yang turun. " Kata Arnal yang sudah ingin cepat cepat turun karena menahan sesuatu yang sedari tadi ia tahan.
"Ya, terserah kamu aja." Sahut Dey sambil mencari celah untuk turun kebawah dengan sangat hati hati, takut jatuh begitu saja.
Dengan pelan, Arnal menapaki anak tangga sangat hati hati. "Akhirnya, aku bisa turun juga." Ucap Arnal dengan lega.
Entah ada masalah apa dengan Dey, yang tiba tiba kaki sebelah kiri salah menginjak. Disangkakannya anak tangga, tidak tahunya hanya angan angan nya saja. Alhasil, Dey terpeleset dan terjatuh.
"Aaaaaaaaa!!!!" teriak Dey yang terasa mengudara.
BRUK!!!!!
Bukannya untung, Arnal benar benar mendapatkan kesialan yang cukup menyakitkan pada pinggangnya yang terasa patah tulang.
Dey yang disangkanya cukup aman karena jatuh berada diatas Arnal, tidak tahunya nasib yang ia terima cukup menyedihkan. Pasalnya, bagian pan*tatnya meleset jatuh ke tanah, otomatis merasakan sakit yang sama.
"Aduh! pinggang ku terasa mau patah," pekik Dey sambil memegangi pinggulnya yang lumayan rasa sakitnya.
"Mana yang sakit? coba katakan langsung pada Kakek. Cepetan sini, coba kakek periksa dulu pinggang kalian berdua. Takutnya nanti ada yang terkilir, urusannya akan tambah sulit untuk penyembuhan." Tanya sang kakek yang merasa takut jika terjadi sesuatu pada Dey dan Arnal.
"Tapi Kek, nanti kalau tambah sakit, bagaimana? saya takut akan bertambah sakit." Tanya Dey sambil menahan rasa sakit pada pinggangnya.
__ADS_1
"Tidak akan tambah sakit, justru kalau tidak cepetan diurut, nanti akan bertambah sakit." Jawab sang kakek meyakinkan.
"Benar, Tuan. Lebih baik kita minta tolong sama Kakek, takutnya sakit dipinggang akan tambah sakit." Timpal Arnal yang juga sama halnya yang tengah menahan rasa sakit pada bagian pinggangnya.
Karena tidak mempunyai pilihan lain, Arnal dan Dey akhirnya menuruti apa yang dikatakan dang kakek. Mau tidak mau, demi kesembuhan, pikir keduanya.
Dengan persetujuan dari keduanya, Arnal yang lebih dulu diurut oleh sang kakek. Kemudian setelah itu tinggal giliran Dey yang harus diurut.
Sambil menahan rasa sakit yang cukup hebat, sebisa mungkin Dey tidak menunjukkan sisi kelemahannya. Meski yang sebenarnya ia menjaga sikapnya yang selalu berusaha untuk tetap bersikap tenang.
Setelah selesai diurut, Dey dan Arnal berpamitan untuk pulang. Sebelum pulang, Dey memberikan banyak hadiah dan bayaran kepada sang kakek.
"Nak, kakek tidak kekurangan. Lebih baik kamu gunakan yang kiranya kamu butuhkan, kakek ikhlas menolong kalian berdua. Sudah lah jangan menolak, tidak baik." Ucap sang kakek berusaha untuk menolak pemberian dari Tuan nya.
"Kakek bisa berbagi dengan warga setempat, saya mohon untuk tidak menolak pembekuan sari saya." Ucap Dey berusaha untuk merayu kakek pemilik pohon asam tersebut.
"Ya Kek, jangan menolak pemberian. Selagi tidak merugikan, silahkan gunakan kartunya." Ucap Arnal ikut menimpali, sang kakek tersenyum saat melihat Dey dan Arnal.
"Baik lah jika kalian tetap memaksa Kakek, dengan senang hati akan kakek bagi bagikan pada warga setempat yang sedang membutuhkan bantuan." Jawab sang kakek yang pada akhirnya menerima permintaan dari Dey dan Arnal.
Setelah dirasa tidak ada yang tertinggal, Dey dan Arnal segera berpamitan untuk pulang. Kemudian, keduanya segera meninggalkan rumah milik kakek sang pemilik rumah tangganya.
Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya Dey dan Arnal telah sampai berada dihalaman rumahnya.
"Ayo kita turun, kita sudah sampai nih." Ajak Arnal yang sudah tidak sabar ingin segera pulang ke rumah, pikir nya.
__ADS_1
Dey yang menerima ajakan dari sekretaris kepercayaan keluarga Wilyam, mau tidak mau Dey tetap masuk kedalam rumah.
"Arnal, kamu jangan pulang dulu. Temani aku untuk menemui istriku, setidaknya kamu menjadi saksinya." Pinta Dey penuh harap, Arnal yang diminta oleh Tuan Muda nya, ia hanya bisa mengikutinya.