
Disaat itu juga, Lunika dan seorang laki laki yang tengah ia tabrak pun keduanya saling beradu pandang satu sama lain.
"Kalau jalan itu hati hati, sakit 'kan?"
"Eh iya sakit, maaf aku sudah menabrak kamu." Sahut Lunika merasa tidak enak hati dan juga merasa bersalah.
"Oh iya, apakah aku boleh mengajukan pertanyaan?" tanyanya sambil memperhatikan Lunika.
"Tentu saja, silahkan jika ingin bertanya."
"Em ... ini hotel milik siapa ya?" tanyanya beralasan.
"Milik Radenra Karsa, kenapa? apakah Anda mencari sang pemilik hotel ini?" Jawa Lunika dan balik bertanya.
"Oooh milik Radenra Karsa, terima kasih Nona. Kalau begitu, aku duluan." Ucapnya dan berpamitan untuk pergi begitu saja.
Lunika yang mendengarnya pun hanya memperhatikan hingga menghilangnya bayangan lelaki yang tidak dikenalinya.
"Ada ada saja itu orang, hanya bertanya dan pergi begitu saja, hem." Gumamnya sampai lupa akan alasannya untuk pergi ke toilet.
"Lunika, kenapa kamu ada disini?" tanya Arnal yang tiba tiba mengagetkannya.
"Eh iya, aku sampai lupa. Aku mau ke toilet, eee tidak tahunya aku menabrak orang." Jawabnya yang baru tersadar jika dirinya telah menabrak seorang laki laki yang tidak ia kenal.
"Ooh, kirain ada apa. Iya sudah kalau mau ke toilet, kalau begitu aku duluan." Ucap Arnal yang tidak ingin menjadi bahan omongan, atau selebihnya yang bisa saja berakibat fatal atas kepercayaannya pada Bos Besarnya. Siapa lagi kalau bukan Tuan Zayen yang berstatus ayah mertua Lunika, sekaligus pengganti orang tuanya untuk menantu dan cucu kesayangannya.
Lunika sendiri hanya menganggukkan kepalanya, kemudian ia segera pergi ke toilet sesuai izin pamit pada kedua temannya.
Dengan santai, Arnal berjalan sambil menyapa teman teman sekolahnya yang tengah menikmati acara reunian bersama satu angkatan.
__ADS_1
Sampainya di tempat semula, Arnal kembali duduk bersama kedua temannya. Sedangkan Radenra masih menikmati minumannya dan ditemani cemilan ringan yang sudah disajikan oleh para pelayan hotel sesuai pesanan pemilik acara.
"Arnal, kamu lihat Lunika tidak? kok sampai sekarang belum juga kembali." Tanya Dewi sambil celingukan mencari sosok Lunika yang tengah ia tunggu untuk segera kumpul bareng bersama teman teman yang lainnya.
"Iya, aku tadi lihat Lunika. Katanya sih mau ke toilet, memangnya ada apa?" jawabnya dan balik bertanya.
"Tidak ada apa apa, aku hanya tanya saja. Takutnya dia pulang tanpa berpamitan sama kita kita, ditambah lagi Lunika kan suka berbuat nekad." Ucap Dewi yang teringat akan aksi aksi konyol pada Lunika yang sering dilakukan dimasa remajanya, pikir Dewi sambil mengingatnya.
Radenra sendiri memilih untuk menjadi pendengar, ia pun kembali memikirkan Lunika yang juga belum kembali sedari tadi. Karena membosankan, Radenra akhirnya memilih untuk bangkit dari posisi duduknya.
"Arnal, Dew, aku tinggal sebentar ya." Ucapnya berpamitan.
"Mau kemana?" tanya Dewi.
"Sebentar aja kok, serius." Jawab Radenra tanpa menyebutkan kemana ia pamit. Arnal dan Dewi pun mengangguk, sedangkan Arnal segera pergi.
Sedangkan di toilet perempuan, Lunika akhirnya selesai merapihkan penampilannya. Kemudian ia segera dan kembali berkumpul bersama teman temannya.
"Lun, tunggu." Seru seseorang padanya, Lunika pun menoleh ke sumber suara. Dilihatnya seorang laki laki yang tidak asing baginya, kemudian Lunika kembali berjalan tanpa meresponnya. Dengan cepat, Lunika mempercepat jalannya. Entah kenapa, Lunika begitu takut bila berada didekatnya.
"Lun, Lunika!" kini laki laki itu sudah berada di hadapannya. Sedangkan Lunika masih diam dan tidak bergeming, perasaannya kini bukannya senang bertemu teman temannya, justru semakin tidak tenang. Seolah hidupnya serasa masih diawasi, pikir Lunika.
"Mau apa Den? maaf, aku ingin berkumpul dengan yang lainnya." Jawab Lunika beralasan.
"Lun, kenapa sih! kamu selalu menghindar dariku. Apa aku ada salah denganmu? jika ia, katakan salahku ada dimana?"
Lunika masih juga tidak bergeming, dirinya sendiri bingung untuk menjelaskannya.
"Baik lah, jika kamu tidak mau menjawabnya. Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab pertanyaan dariku, yang terpenting aku sudah menanyakannya padamu. Dan jujur, aku masih menyukaimu Lun. Bahkan kalau diizinkan, aku akan menikahimu secepatnya. Tapi, sepertinya tidak akan mungkin. Aku tahu, di hatimu masih ada nama Zicko." Ucap Radenra, kemudian tanpa pamit ia langsung pergi meninggalkan Lunika yang masih berdiri membisu.
__ADS_1
"Enak banget ya, disukai banyak cowok cowok ganteng dan tajir. Sayangnya, kamu bo*doh." Ucap seseorang yang tiba tiba membuyarkan lamunan Lunika yang masih menatap lurus kedepan. Kemudian ia menoleh kearah sumber suara, tepatnya yang tengah berdiri disebelahnya.
"Kamu, apa urusanmu Hana? hem. Masalah gitu buat kamu, norak." Sahut Lunika yang kini mulai berani untuk membalas ucapan orang yang kiranya perlu diberi pelajaran, pikirnya.
"Mentang mentang sekarang jadi bagian orang paling tajir, sudah mulai sombong kamu. Palingan juga setelah kamu ke luar dari rumah mendiang suami kamu akan jatuh miskin lagi. Atau ... jangan jangan juga menikah lagi dengan Aden." Ucap Hana yang belum mengetahui silsilah Lunika yang juga tidak lain adalah pewaris tunggal di keluarganya.
"Jaga baik baik ucapan kamu, Hana. Jangan sampai nasibmu yang baik sekarang ini hanya tinggal kenangan." Ancam Lunika dengan tatapan dan senyumnya yang tidak kalah sinisnya. Karena malas menanggapi omongan receh yang tidak mempunyai adab, Lunika segera pergi meninggalkan perempuan yang pernah menjadi sahabat baiknya dan kini harus menjadi musuhnya.
"Sialan! kenapa sih, Lunika selalu beruntung. Kenapa juga banyak laki laki tampan dan tajir mendekatinya, apa sih bagusnya Lunika. Cantik sih, tapi kan miskin." Gumam Hana yang tanpa sadar ada seseorang dibelakangnya.
"Karena Lunika tidak memiliki sifat sepertimu, licik dan juga jahat." Sahut seseorang dengan lantang, seketika Hana menoleh ke belakang. Dilihatnya seseorang yang sangat dikenalnya dengan tatapan seringainya.
"Arnal! ngapain kamu menguping! kurang kerjaan banget sih! kamu." Ucap Hana dengan sungut, Arnal hanya tersenyum.
"Buruan bertobat, sebelum penyesalan datang diakhir perbuatan burukmu." Ucap Arnal mengingatkan, Hana hanya mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Kemudian membuang nafasnya dengan kasar, lalu segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Semoga saja Hana tidak melakukan hal bodoh untuk menyakiti Lunika." Gumam Arnal yang merasa khawatir jika mantan istrinya berbhat nekad dan menyakiti mantan kekasihnya.
Karena waktu acara akan segera dimulai, Arnal segera menuju ke tempat yang dimana teman temannya berkumpul.
Sedangkan di kediaman keluarga Tuan Zayen, sepasang suami istri tengah bermain bersama cucu kesayangannya.
"Sayang,"
"Iya, ada apa?" tanyanya.
"Arnal, kamu tahu 'kan?"
"Iya, kenapa dengan Arnal?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Lunika kita jodohkan dengan Arnal? bukankah Arnal pernah menjalin hubungan dengan Lunika? sepertinya Arnal masih suka dengan Lunika." Ucap sang istri langsung pada ininya.
"Hem, sudah aku bilang jangan memikirkan hal itu. Biarkan Lunika memilih jalan hidupnya, jangan kita paksakan untuk menuntutnya menikah." Sahut Tuan Zayen yang tidak ingin menambah masalah yang lebih besar, apalagi mengenai perasaan, pikir Tuan Zayen.