
Lunika yang tengah gundah gulana, ia duduk termenung disuatu tempat yang dimana Lunika menghabiskan waktunya bersama dengan adik adik didiknya.
Dan kini ia kembali mendatangi tempat yang dijadikan tempat untuk menenangkan diri. Rasa sakit serta kecewa tengah menguasai pikirannya yang benar benar sangat lah kacau.
PUK!
"Aw!" pekik Lunika kaget, dengan sigap ia langsung menyambar tangan serta menariknya dengan kuat dan melintirkannya hingga sang pemiliknya ikut meringis kesakitan karena ulah Lunika dengan reflek.
"Paman Seyn! maksud Lunika, Ka - kak." Panggil Lunika dengan reflek, kemudian ia segera melepaskan tangan milik sepupunya. Yang tidak lain kedua orang tuanya adalah kakak beradik.
"Panggil saja senyaman kamu, tidak perlu canggung maupun yang lainnya. Sedang apa kamu disini? sendirian? oh iya, apakah kamu bagian dari tempat ini?" Tanya Tuan Seyn berbasa basi.
"Paman sendiri, kenapa ada disini? apakah paman sengaja menguntit Lunika?" Lunika memilih untuk balik bertanya dari pada harus menjawab pertanyaan dari paman nya sendiri.
"Apa kamu belum juga mengetahuinya? jika tempat ini adalah tempat yang dimana Paman dan ayah mertua kamu, serta Tante Neyla adalah bagian dari tempat ini. Sayangnya, kita semua sudah jarang melakukan pertemuan. Datang ke tempat ini, alasannya pun sama sepertimu mendatanginya." Jawab Tuan Seyn menjelaskannya, Lunika sendiri baru mengetahuinya jika dirinya satu hobi bersama keluarganya sendiri.
"Oooh, pantas."
"Pantas kenapa?" tanya Tuan Seyn dibuatnya penasaran.
__ADS_1
"Pantas aja Paman datang kesini, rupanya tempat ini bagian dari Paman." Jawab Lunika, kemudian ia kembali menatap lurus kedepan. Ingatannya kembali dengan apa yang tengah ia membuatnya ingin melampiaskan kekesalannya.
"kenapa tidak bersama suami kamu itu, maksudnya Rayan." Sahut Tuan Seyn dan berbasa basi menanyakan tentang suami sepupunya itu.
Seketika, Lunika mendadak terdiam. Dirinya kembali teringat dengan sesuatu yang baru saja di hindarinya, dan kini harus terusik lagi dengan pertanyaan yang tidak ingin didengarkannya.
"Kenapa kamu diam? apa kamu sedang ada masalah? atau ... apakah kamu sudah mulai membenci suami kamu?" tanya Tuan Seyn mencoba untuk menebaknya. Sedangkan Lunika sendiri masih tidak bergeming, ia masih terasa sakit dan kecewa karena sang suami yang sudah begitu tega telah membohonginya ketika dirinya dalam keadaan membutuhkan tempat bersandar untuk meluapkan segala emosi yang ia rasakan tanpa adanya sandaran yang membuatnya nyaman.
"Paman tau, yang sedang kamu rasakan saat ini adalah sangat menyakitkan. Tapi, apakah kamu sudah mencernanya dengan benar? bukan maksud Paman untuk membelanya. Hanya saja seberapa besar dan kecilnya sebuah masalah, belajar lah untuk diselesaikan dengan kepala yang dingin." Ucap Tuan Seyn yang mencoba untuk menasehati keponakannya.
Punika hanya menjadi pendengar setia, sedikitpun ia masih tidak juga bergeming. Sunyi, hening seketika.
"Paman sih enak bicaranya, karena Paman tidak merasakannya. Bukan berarti Lunika membela diri, Lunika hanya berbicara sesuai dengan apa yang sedang Lunika rasakan." Ucap Lunika yang masih sulit untuk menerima kenyataan yang ada.
"Terus ... apakah kamu tega untuk menjauhkan putramu dengan ayahnya? kasihan sekali jika sampai itu terjadi." Sindir Tuan Seyn dengan sengaja, Lunika hanya melirik tajam pada Paman nya.
Karena sudah mengetahui ada sosok yang tengah berdiri dengan cukup lama, akhirnya Tuan Seyn segera menyingkir.
"Luapkan semua kekesalanmu, karena kamu berhak untuk meluapkannya." Ucap sosok laki laki yang sangat dikenalinya, siapa lagi kalau bukan suaminya sendiri.
__ADS_1
Lunika masih duduk sambil meringkuk pada kakinya dan menunduk ke bawah, dirinya masih terasa berat untuk menerima sebuah pertanyaan yang tengah dilontarkan oleh suaminya sendiri.
Karena tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya memilih untuk duduk disebelah sang istri. Ingin rasanya merangkulnya serta memeluknya dengan erat seperti malam hari yang sudah dilewatinya, namun ia urungkan kembali untuk merayu sang istri yang mungkin saja masih menyimpan sejuta kekesalannya.
"Zicko yang dulu sudah mati, wajahnya tidak akan pernah kembali lagi. Sayangnya, tidak ada rekaman jejak disaat itu. Jadi, wajar saja jika kamu membenciku. Tapi percayalah, aku tidak pernah merekayasa tentang siapa aku yang sebenarnya. Aku masih Zicko yang dulu, bahkan tidak pernah berubah sedikitpun. Hanya saja, wajahku yang terkutuk ini harus menerima kenyataan yang tidak pernah aku bayangkan." Ucapnya yang terus menjelaskannya pada siang istri, berharap akan mengerti dengan apa yang akan dijelaskan pada istrinya.
Lunika yang masih belum puas dengan penjelasan dari suaminya, ia tetap diam dan tidak bergeming sepatah katapun. Karena sang istri yang juga belum menerima kebenaran yang ia jelaskan, akhirnya ia memilih untuk melanjutkan kembali penjelasan yang lebih jelas lagi.
"Aku tahu, jika kamu masih belum bisa untuk mempercayaiku. Bahkan melakukan tes DNA sekalipun, sepertinya kamu akan tetap dan bersikukuh dengan pendiriammu. Aku tahu, apa yang kamu rasakan saat ini jauh lebih pahit dari pada obat pada umumnya. Tapi percayalah denganku, aku melakukan semua ini semata mata karena ada alasannya. Satu, karena wajahku yang sudah rusak parah dan harus melakukan penangan yang khusus dan membutuhkan waktu yang cukup lama selama dalam pemulihan." Ucapnya lagi menjelaskan, lagi lagi Lunika masih tidak bergeming.
"Dan yang kedua, aku harus melakukan penyelidikan yang lebih akurat. Maka dari itu, aku hanya bisa mengawasimu lewat seseorang yang selama ini menjadi kepercayaanku. Aku sangat berhutang budi padanya, karenanya aku masih hidup. Bahkan jika harus ditimbang dengan rasa cintaku padamu sepertinya tidak sebanding dengan pengorbanannya."
Seketika, Lunika menoleh kearah sang suami dengan reflek. Entah kenapa ia sedikit mulai penasaran dengan seseorang yang sudah menolong suaminya. Ingin rasanya bertanya, namun ia masih enggan, Lunika masih tetap dengan gengsinya. Meski pada kenyataannya ia sangat penasaran, namun ia urungkan untuk bertanya.
"Akhirnya kamu menoleh juga kearahku, apakah karena penasaran?"
Lagi lagi Lunika membuang muka, ia merasa kikuk dibuatnya. Ingin mengaku kalah, namun ia tetap menjaga gengsinya.
"Apakah kamu tidak ingin mengenalkanku dengan Niko?" tanya sang suami sengaja untuk mengalihkan pembicaraan yang sudah membuat istrinya dan juga dirinya semakin tegang. Setidaknya ada jeda untuk meregangkan otot serta otak yang terasa mendidih.
__ADS_1
Lunika yang masih menyimpan sejuta pertanyaan, ia berusaha untuk tetap tidak bergeming sebelum pikirannya sedikit tenang dan sedang tidak kacau.