Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Permintaan


__ADS_3

Saat berada di kamar, Zicko menyibukkan diri dengan sang buah hatinya. Dengan tenang, bayi Niko begitu nyaman saat berada dalam gendongan sang ayah. Berulang ulang Zicko mengajaknya untuk mengobrol, meski terlihat tengah berdialog sendiri sekalipun. Namun tidak membuat Zicko merasa lelah dan bosan ketika bersama putra kesayangannya.


"Sepertinya Niko sangat nyaman denganmu, lihat lah ketika tidur dalam gendonganmu. Begitu nyenyak, bahkan terlihat sangat pulas."


"Iya dong, siapa dulu Papanya? Daddy Zicko." Puji diri sendiri, Zicko pun langsung mencium putranya dengan gemas saat pipi gembulnya yang ingin terus menerus untuk diciumnya.


"Memangnya hari ini kamu tidak berangkat ke Kantor?" tanya sang istri sambil berdiri.


"Aku sedang ingin santai dan memanjakan kalian berdua, jugaan aku sudah meminta izin sama Papa untuk datang terlambat." Jawab Zicko, kemudian lagi lagi mencium pipi gembul milik putra kesayangannya.


"Aku dan Niko baik baik saja, sayang. Lagian juga ada pelayan yang bisa menemaniku, jadi aku tidak begitu kesepian saat kamu berada di Kantor. Jika kamu ingin berangkat, berangkat saja. Lihat lah, kondisiku baik baik saja, bukan?"


"Hem, kalau begini jadinya lebih baik aku tidak akan pulang." Ucap Zicko dengan menunjukkan muka yang dibuat cemberut, sedangkan Lunika segera mendekati sang suami karena takut jika dirinya telah mengecewakan suaminya yang sudah dibela belai untuk pulang demi bertemu anak dan istrinya.


"Bukan begitu maksudku, sayang. Aku hanya tidak ingin merepotkan kamu, karena aku tahu jika kamu sangat sibuk dengan pekerjaan kamu. Aku tidak akan memberatkan kamu, serius." Sahut Lunika, kemudian ia duduk kembali sambil memangku putranya untuk diberinya ASI. Sedangkan Zicko ikut duduk disebelahnya, lalu mencium pipi milik istrinya dengan lembut.


Lunika sendiri tersenyum bahagia, ia begitu sangat beruntung mendapatkan cinta serta perhatian penuh dari suami tercintanya. Hingga membuatnya sulit untuk menggambarkan perasaan bahagianya disaat ini.


Meski ia dapat tersenyum bahagia, perasaannya pun masih ada rasa takut akan rumah tangganya.


"Kalau begitu, aku mau bersiap siap terlebih dahulu. Karena hari ini aku ada sesuatu yang harus dikerjakan secepat mungkin, sepertinya aku akan pulang terlambat malam ini. Jadi, jangan mengkhawatirkan aku yang berlebihan. Karena sekarang aku sudah tidak lagi berada di luar Kota, jadi jangan terlu mencemaakan aku, ok." Ucap Zicko menjelaskan, sedangkan Lunika hanya mengangguk dan tersenyum dihadapan suaminya.


Karena tidak ingin membuang buang waktu dengan cara yang sia sia, dengan cepat Zicko segera merapihkan penampilannya. Kemudian, pada berpamitan kepada sang istri yang tengah menyusui anaknya.


"Sayang, maafkan aku yang harus meninggalkan kamu sendirian. Aku janji, secepatnya aku menyelesaikan pekerjaanku. Setelah itu aku akan langsung pulang, percayalah padaku." Ucap Zicko meyakinkan sang istri dan menciumnya.


"Hati hati dijalan ya, sayang. Maafkan aku yang tidak membantumu menyiapkan pakaianmu, serta mengenakan dasi untukmu. Aku hanya bisa mendoakan kamu, tidak lebih." Sahut Lunika sambil tersenyum malu karena merasa tidak enak hati pada suaminya sendiri.

__ADS_1


"Doa saja sudah lebih dari cukup, bahkan lebih dari segalanya. Aku pamit untuk berangkat, jaga diri kalian baik baik. Aku akan segera pulang, jangan khawatir." Ucap Zicko, kemudian ia kembali mencium kening milik istrinya dengan lembit.


Karena tidak ingin memakan waktu yang cukup lama dan panjang, Zicko segera memberikan perintah pada supirnya untuk menambah kecepatannya.


Dari dahulu, Zicko tidak menyukai sesuatu yang membuang buang waktu dengan sia sia. Dengan kecepatan tinggi, Zicko telah sampai di tempat dimana ia tuju. Dimana lagi kalau bukan di tempat kerjanya Arnal, mantan sekretarisnya dulu sebelum adanya masalah.


Setelah sampai, Zicko segera turun dan menemui Arnal yang terlihat sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Permisi, apakah aku mengganggu?"


Seketika, Arnal langsung menoleh ke sumber suara.


"Tuan Zicko, mari masuk. Maaf, aku tidak tahu jika ada seseorang yang datang kemari."


"Terima kasih," jawab Zicko, kemudian mengikuti langkah Arnal masuk kedalam.


"Silahkan duduk, Tuan." Ucap Arnal mempersilahkan duduk.


"Maaf, jika kedatanganku kesini telah mengganggu kesibukanmu." Ucap Zicko membuka suara.


"Tidak, Tuan. Saya tidak merasa diganggu, katakan saja apa tujuan Tuan datang ke sini." Sahut Arnal.


"Begini, aku sedang membutuhkan seseorang untuk bekerja di Kantorku. Yang jelas kedatanganku kesini untuk menarikmu kembali bekerja di Kantorku."


"Sudah lah Nal, terima saja. Mau sampai kapan kamu akan bertahan dengan semua ini, kamu harus bangkit." Sahut seseorang yang tengah berdiri tidak jauh dari Arnal maupun Zicko. Keduanya pun langsung menoleh ke sumber suara.


"Papa! sejak kapan Papa ada disitu?" tanya Arnal dengan reflek saat mendapati sahabatnya yang sudah berada didekatnya.

__ADS_1


"Sajak Mama memberitahu Papa jika ada tamu besar datang ke rumah." Sahut sang Ibu yang juga ikut menimpali.


"Hem, pasti sudah ada udang dibalik batu."


"Jadi, bagaimana? kamu mau 'kan?" tanya Zicko memastikan.


"Tapi Tuan,"


"Tidak ada tapi tapian, mau sampai kapan kamu akan menolakku?"


"Bukankah kamu sangat membutuhkan pekerjaan? ayolah Nal, kamu harus sukses. Siapa tahu saja nasibmu akan berubah jauh lebih baik lagi. Kamu tidak perlu malu, yang lalu biarlah berlalu." Sahut sang Ayah ikut menimpali.


"Bukan begitu maksudku, Pa."


"Lantas, apa yang kamu maksud? sudah lah, terima aja permintaan suaminya Lunika." Ucap sang Ayah.


"Iya, Arnal. Terima saja permintaan suaminya Lunika, mau sampai kapan kamu akan terus terusan seperti ini?" ujar sang ibu mengingatkan.


"Baik lah, jika Mama dan Papa terus memaksaku. Kalau begitu aku terima permintaan kamu, Tuan." Ucap Arnal menyetujuinya.


"Nah, gitu dong." Ucap sang ibu tersenyum mengembang.


'Kalau bukan untuk melunasi hutang hutang Papa dan Mama dimasa malu, aku tidak akan pernah mau menerima permintaan suaminya Lunika, mau bagaimanapun aku harus bisa menjaga nama baikku sendiri. Tapi karena kebutuhan yang mebdesakku, aku harus berbuat apa kalau bukan inilah jalan satu satunya untuk membantu meringankan beban Papa dan Mama.' Batin Arnal yang tidak mempunyai pilihan lain selain menerima permintaan suami dari mantan kekasihnya sendiri.


"Dil, ya? baik lah kalau begitu, siapkan diri kamu sekarang juga. Kita akan segera berangkat ke Kantor, Papaku sudah menunggunya di Kantor." Ucap Zicko yang merasa lega, karena ia tidak harus melakukan seleksi untuk mencari orang kepercayaan orang tuanya.


"Baik Tuan, kalau begitu saya tinggal dulu untuk bersiap siap." Jawab Arnal, Zicko sendiri mengangguk dan menjawabnya dengan samar.

__ADS_1


Kini, tinggal lah kedua orang tua Arnal dan Zicko yang tengah duduk di ruang tamu.


"Terima kasih ya Bu, Pak, atas kerjasamanya untuk menarik Arnal kembali ke Kantor." Ucap Zicko berterima kasih.


__ADS_2