
Sampainya di rumah, Lunika menidurkan putranya. Kemudian ia ikut merebahkan tubuhnya disebelahnya, ditatapnya langit langit kamarnya.
"Apakah ini mimpi? iya, aku yakin jika semua ini mimpi." Gumam Lunika sambil menepuk nepuk kedua pipinya.
"Iya, ini nyata. Aku sudah menikah, yang benar saja. Mau tidak mau, aku akan tetap membawa Niko. Tapi ... kalau tidak diizinkan, bagaimana? ah! positif thinking itu jauh lebih baik." Gumamnya sambil mencari ide untuk membawa putranya tinggal bersama.
Karena merasa gerah dalam sehari belum juga mandi, Lunika segera bangkit dari posisinya. Kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sambil berendam, berharap masalah yang tengah dihadapinya akan segera pergi.
Saat menatap cermin, tiba tiba Lunika kembali teringat saat dirinya menerima minuman dari teman dekatnya.
"Dewi! apakah dewi sudah bersengkongkol dengan laki laki itu? aku rasa sih iya, siapa lagi. Tapi ... akupun melihat Aden tengah mabok berat, terus ... aaah! bikin pusing aja. Lalu, siapa yang harus aku curigai? semuanya benar benar mencurigakan." Gumam Lunika sambil menerka siapa dalang dibalik jebakan yang mengenai dirinya.
Karena tidak ingin semakin dibuat pusing dengan hal yang masih sulit untuk dicerna, Lunika memilih segera membersihkan diri dan beristirahat.
Rasa kesal, rasa capek, jenuh dan rasa yang lainnya tengah menguasainya, akhirnya Lunika memilih untuk beristirahat lebih awal. Bahkan rasa lapar pun sudah tidak ia rasakan, yang ia inginkan hanyalah beristirahat dengan tenang.
Sedangkan di lain tempat, seseorang tengah meluapkan emosi dan juga rasa kekesalannya.
"Sekarang juga, cepat! kalian selidiki siapa lelaki itu. Jangan pernah menemuiku, sebelum ada kabar yang memuaskan kalian sampaikan."
"Baik, Bos." Jawabnya sambil menunduk.
Sedangkan didalam kamar, Tuan Zayen dan istri tengah berdiskusi mengenai Niko yang akan ditinggal Lunika untuk beberapa waktu.
"Kamu yakin jika Niko tidak ikut dengan Lunika?" tanya Tuan Zayen.
"Mauku sih tetap ikut, tapi ... Lunika kan harus beradaptasi terlebih dahulu. Jika Lunika sudah mengenal suaminya kan mudah, aku takut batin Lunika belum siap. Ditambah lagi usia Niko yang masih dua tahun, aku takut Niko yang akan jadi imbasnya karena emosi Lunika yang belum siap menerima suaminya." Jawab sang istri sambil mencari cara.
__ADS_1
"Iya juga sih, kita lihat selama satu minggu tinggal bersama suaminya. Jika baik baik saja, maka kita serahkan Niko pada orang tuanya." Ucap Tuan Zayen yang juga sama pemikirannya.
"Sudah malam, apa kamu tidak lapar?"
"Ah iya, aku sampai lupa. Lunika juga belum makan malam, bahkan makan siang pun sepertinya juga belum."
"Hem, cepat perintahkan pada pelayan untuk menghidangkan makan malamnya. Aku pun sudah lapar, apalagi Lunika yang sedari tadi siang belum juga makan." Perintah sang suami, nyonya Afna pun merasa bersalah karena telah mengabaikan menantunya.
"Baik lah, aku akan menemui pelayan untuk menyiapkan makan malam." Sahut sang istri, kemudian segera bergegas pergi ke dapur.
Lunika yang baru saja memejamkan kedua matanya, tiba tiba ia dikagetkan dengan suara ketukan pintu.
Sambil menguap, Lunika terpaksa bangun dari tidurnya. Dengan tubuhnya yang terasa sempoyongan, Lunika berjalan untuk membuka pintu kamarnya.
"Mama," panggil Lunika sambil menutup mulutnya karena menguap.
"Lunika sangat mengantuk, Ma. Mama duluan aja, nanti Lunika menyusul." Jawab Lunika yang sudah tidak dapat menahan rasa kantuknya.
"Ya sudah, nanti biar pelayan yang akan mengantarkan makan malamnya. Kalau begitu Mama turun, ya. Ingat, jangan tidur duluan." Ucap sang ibu mertua yang mengerti akan kondisi menantunya yang tengah banyak pikiran.
"Iya Ma, terima kasih banyak. Maafkan Lunika yang sudah merepotkan Mama." Jawab Lunika sambil menahan rasa kantuknya.
"Sudah, tidak perlu meminta maaf. Kalau begitu Mama duluan, jangan tidur duluan."
"Iya Ma." Jawab Lunika singkat, sedangkan ibu mertua segera keluar dari kamar menantunya.
Dengan malas karena berat untuk menahan rasa kantuknya, terpaksa Lunika menunggu pelayan datang membawakan makan malamnya.
__ADS_1
Sambil menunggu, alih alih Lunika membuka memory kenangan bersama suaminya. Begitu berat perjalanan hidup untuk dilewati bersama putra kesayangannya. Dengan seksama Lunika menatap sebuah foto pernikahan yang terbingkai besar menempel pada dinding kamarnya.
Air matanya pun jatuh membasahi kedua pipinya, kenangan yang begitu indah seakan tidak akan tidak bisa untuk diulangi. Pelan pelan Lunika mendekati sebuah foto besar yang menempel pada dinding, diusap nya foto tersebut dengan perasaan rindu yang begitu mendalam.
"Sayang, kenapa kamu begitu cepat meninggalkan aku dan buah hati kita. Kamu tahu? aku sangat merindukanmu, aku ingin sekali menatap wajahmu kembali. Senyummu, perhatianmu, semua yang ada padamu aku mrindukan." Gumam Lunika sambil menitikan air matanya, rasa kehilangan membuatnya tidak lagi bersemangat. Bahkan Lunika menutup rapat rapat hatinya untuk orang lain, ia tetap berusaha untuk menjaga hatinya hanya untuk suami yang ia cintai.
"Permisi Nona,"
Seketika, Lunika terperanjat kaget mendengarnya dan ia langsung menoleh ke sumber suara.
"Mbak Lena, silahkan masuk." Sahut Lunika sambil mengusap air matanya, kemudian mempersilahkan pelayannya untuk masuk.
"Permisi Nona, saya diminta pada Nyonya untuk mengantarkan makan malamnya." Ucapnya sambil memegangi sebuah nampan yang berisi makanan dan minumannya.
"Terima kasih banyak ya, Mbak. Jadi ngerepotin Mbak Lena, maaf banget." Sahut Lunika dengan senyum.
"Tidak Nona, saya tidak merasa direpotkan. Ini sudah menjadi tanggung jawab saya untuk melayani Nona." Ucapnya sambil meletakkan nampannya. Kemudian berpamitan untuk seger keluar dari kamar.
Setelah makanan berada di hadapannya, lagi lagi ***** makannya pun hilang. Lunika kembali teringat pernikahannya yang baru, rasa sakit hati dan kesal kini menguasai pikirannya lagi.
Karena tidak ingin jatuh sakit demi sang buah hati, akhirnya Lunika menikmati makan malamnya tanpa ada yang menemani. Dua tahun sudah ia lewati dalam kesendirian tanpa seorang suami, Lunika berusaha untuk kuat dan sabar menghadapinya. Pahit manis sudah ia rasakan dari kecil, namun ketika kehilangan suami yang dicintainya seakan dunianya telah redup.
Sambil melamun, makanan yang disajikan oleh pelayan pun habis tidak tersisa. Setelah cukup lama, kemudian ia masuk kamar mandi untuk cuci muka dan menggosok gigi. Rasa kantuk pun menyerangnya lagi dan pada akhirnya melanjutkan tidurnya.
Malam begitu panjang untuknya bermimpi, tidak terasa sudah waktunya untuk bangun sepagi mungkin. Banyak persiapan yang harus dibutuhkan oleh Lunika, yakni persiapan mental untuk menjalani rumah tangga bersama suami barunya.
"Perasaan aku masih tidur dengan lelap, ini sudah pagi aja. Padahal aku inginnya malam aja terus, biar lama aku berada di rumah ini. Aku pun tidak ingin jauh dari putraku, apapun caranya aku akan mengajak Niko untuk ikut. Jika tidak, aku akan memintanya cerai." Gumamnya didepan cermin sambil menyisiri rambut panjangnya.
__ADS_1