
Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada putranya, Tuan Zayen akhirnya memilih untuk melakukan sesuatu agar putranya dengan selamat.
"Untuk kamu, jangan sampai lengah menjaga cucu kita. Setidaknya kamu temani, dan hibur Lunika agar tidak begitu mencemaskan Zicko. Jika membutuhkan sesuatu, kamu cukup menghubungi nomor yang sudah aku berikan tadi. Setelah kondisi Lunika sudah membaik dan dapat diizinkan untuk pulang, hubungi aku." Ucap Tuan Zayen, istrinya pun mengangguk.
Karena ingin secepatnya menghubungi putranya kembali, Tuan Zayen segera menelpon anak buahnya yang dapat diandalkannya.
Sedangkan didalam kamar pasien, setelah menikmati makan siangnya, Lunika tengah bersandar sambil memberikan ASI pada sang buah hati.
"Ma, suami Lunika apakah sudah dihubungi?" tanya Lunika pada ibu kandungnya. Sedangkan ibu mertuanya sedang berada diluaran sana.
"Papa mertua kamu sedang menghubunginya, dan Mama mertua kamu sedang menyusulnya." Sahut sang ibu memberitahu.
"Iya Nak, kamu tidak perlu khawatir. Mungkin suami kamu sedang ada kesibukan, yang terpenting kamu dan anak kamu telah selamat." Ucap sang ibu asuh ikut menimpali, Lunika hanya mengangguk.
'Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini, apakah ada sesuatu yang akan terjadi pada suamiku? ya Tuhan ... semoga suamiku baik baik saja.' Batin Lunika yang entah kenapa perasaannya pun berubah menjadi tidak karuan, gelisah dan juga cemas memikirkan suaminya.
"Sayang ... bagaimana dengan cucu Mama, tidak rewel 'kan? em ... apakah kamu mau makan? biar Mama yang akan menggendong cucu kesayangan Mama. Oh iya, Mama sampai lupa. Kamu akan memberinya nama siapa? agar Mama lebih muda untuk menggodanya." Ucap sang ibu mertua yang tiba tiba sudah datang dan menyapa ramah.
__ADS_1
"Baru saja selesai Ma, kalau soal nama ... Lunika dan suami sudah mempunyai pilihan. Jika anak kami lahir seorang laki laki, maka kami akan memberinya nama Niko Wilyam. Seperti nama kita berdua, kita ambil sama sama dua huruf diantara nama kami." Jawab Lunika sambil mengusap pucuk kepala putranya.
"Nama yang sangat bagus, semoga kelak akan menjadi penerus keluarga. Baik lah, kalau begitu kamu istirahat saja. Biar Niko yang ganteng ini ditemani Omma Omma cantik, bagaimana? kesehatan kamu jauh lebih penting. Agar secepatnya kamu keluar dari rumah sakit ini, dan secepatnya bisa pulang dan beristirahat dengan tenang." Ucap sang ibu mertua.
"Tapi, Ma ... Lunika masih kepikiran dengan suami." Jawab Lunika dengan lesu.
"Suami kamu baik baik saja, mungkin sedang memberimu kejutan. Lebih baik kamu berpikir yang positif, jangan memikirkan yang tidak tidak. Kasihan anak kamu jika kamunya banyak memikirkan sesuatu, lebih baik kamu tenangkan pikiran kamu." Ucap sang ibu kandungnya menimpali.
"Iya Nak, mungkin saja suami kamu sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jadi, belum sempat untuk menghubungi kamu. Bersabarlah, nanti jika pekerjaannya selesai juga akan menghubungi kamu." Sahut sang ibu asuhnya yang juga ikut menimpali.
"Iya sayang, kamu jangan khawatir. Tadi Mama sudah meminta Papa untuk menghubungi Zicko, kamu tidak perlu cemas. Anggap saja, Zicko sedang memberikan kejutan untuk kamu dan juga untuk Niko. Sekarang lebih baik kamu fokus dengan Niko, dia sangat membutuhkan kamu." Ucap sang ibu mertua meyakinkan.
"Sini, Mama peluk kamu sebentar." Ucap sang ibu Mertua, kemudian menyerahkan bayi Niko kepada istri kakek Dana.
Karena tidak ingin melihat menantunya bersedih karena memikirkan suaminya, Nyonya Afna segera memeluk menantunya. Berharap kesedihannya akan berkurang, dan kembali ceria.
"Mama mengerti dengan situasi kamu saat ini, sayang. Mama tahu, jika kamu pasti sangat mengkhawatirkan suami kamu. Mama dapat memahaminya, Mama sendiri pernah mengalaminya bagaimana rasanya jauh dari suami ketika kita membutuhkan pendamping untuk menguatkan diri kita. Bersabarlah, mungkin ini ujian kamu." Ucap sang ibu mertua sambil mengusap punggung menantunya berulang ulang untuk menyemangati dan menguatkan untuk tidak berpikiran negatif pada suaminya.
__ADS_1
Tanpa diminta, Lunika menitikan air matanya. Meski belum genap satu tahun pernikahannya, Lunika begitu dekat dengan ibu mertuanya dibanding ibu kandungnya sendiri. Namun, Lunika tetap hormat dan memperlakukan dengan cara tidak membeda bedakan. Hanya saja, ia lebih terbuka dengan ibu mertuanya.
Setelah sudah cukup memberi ketenangan pada menantunya, nyonya Afna kembali melepaskan pelukannya. Kemudian menghapus air mata menantunya, sebagaimana Beliau yang juga diperlakukan sangat baik oleh ibu mertuanya sendiri, yakni Omma Zeil.
"Sekarang kamu jangan menangis lagi, kasihan Niko. Dia sangat membutuhkan kamu, dari segi apapun. Sekarang lebih baik kamu istirahat, jangan memikirkan apapun tentang suami kamu. Percayalah dengan Mama, jika suami kamu baik baik saja." Ucap sang ibu mertua meyakinkan, meski yang sebenarnya ikut khawatir akan keselamatan putranya yang sedang dalam perjalanan untuk pulang karena ketidaksabarannya ingin bertemu dengan istri dan juga buah hatinya.
Berbagai macam alasan untuk menguatkan menantunya, Nyonya Afna sendiri menyimpan berjuta kekhawatiran. Sebisa mungkin untuk menunjukkan sikap tenangnya demi kebaikan menantunya serta cucu kesayangannya.
Karena tidak kuat menahan rasa sesak didadanya ketika menatap kesedihan menantunya, nyonya Afna akhirnya meminta izin untuk ke kamar mandi. Sedangkan Lunika menuruti permintaan sang ibu mertuanya untuk beristirahat, sang buah hatinya kini tengah digendong oleh istri Tuan Guntara. Yang tidak lain ibu kandung Lunika sendiri.
Tepatnya didalam kamar mandi, nyonya Afna akhirnya menumpahkan rasa kesedihannya karena memikirkan keadaan putranya.
"Tidak cuman kamu saja Lun, Mama sendiri ikut cemas dan juga khawatir. Semoga saja kecemasan kita hanya halusinasi buruk yang tengah menguasai pikiran kita. Mungkin, karena Mama pernah merasakannya bagaimana rasanya jauh dari suami ketika kita sangat membutuhkan suami berada didekat kita. Begitu juga dengan kamu, karena kamu baru pertama kalinya menghadapi persalinan tanpa adanya suami. Hanya saja kita berada diposisi yang sebaliknya, dulu Mama ketika mendapat kabar bahagia saat ada janin yang tumbuh di rahim Mama. Sedangkan kamu, yang dimana kamu tengah berjuang untuk melahirkan." Gumam nyonya Afna meluapkan kesedihannya.
Karena tidak ingin wajahnya terlihat sembab, Nyonya Afna segera mengasuhnya dengan air. Kemudian menarik napasnya pelan, lalu membuangnya dengan kasar. Dilihatnya masih terlihat sembab, Nyonya Afna bersandar didinding kamar mandi sambil bercermin.
Tiba tiba, Nyonya Afna mendengar tangisan bayi yang melengking dan tangisannya mengudara. Seketika, tubuhnya gemetaran dan segera keluar dari kamar mandi. Disaat itu juga kepanikan kembali muncul setelah melihat bayi siapa yang menangis histeris.
__ADS_1
Lunika yang baru saja terlelap dari tidurnya, seketika ia terbangun dan tubuhnya ikut gemetaran saat mendengar suara tangisan dari putranya yang sangat melengking itu. Semua mendadak panik dan ketakutan.