Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Kejujuran


__ADS_3

Dey yang kepergok sang ayah, segera ia menoleh kebelakang.


"Dey mau keluar sebentar Pa, hanya ingin mencari angin malam saja." Jawab Dey, kemudian membuang nafasnya kasar.


"Sekarang sudah malam Dey, apa tidak lebih baik kamu istirahat saja. Kamu masih mempunyai banyak waktu untuk menikmati hari hari kamu di Tanah Air." Ujar sang ayah.


"Dey gak bisa tidur, Pa. Ah, cuman sebentar saja." Ucap Dey tetap bersikukuh pada pendiriannya.


"Terserah kamu, Papa hanya mengingatkan lalu saja."'Jawab sang ayah menyerah untuk mengingatkan pada putranya.


"Kak Dey, mau kemana?" tanya Vellyn yang tiba tiba sudah berada disebelah ayahnya.


"Kakak mau cari angin, bosan didalam kamar. Dan kamu istirahat saja, sana." Jawab Dey dan mengusir adik perempuannya untuk kembali ke kamarnya.


"Mau cari angin atau ... mau menyehatkan mata nih, cie ..." goda Vellyn sambil mengedipkan matanya seolah menggodanya.


"Cih! pandanganmu, bikin bulu kudukku merinding saja. Sudah sana kamu istirahat saja, Kakak sedang tidak ingin kamu ganggu." Ucap Dey dan tetap mengusirnya.


"Vellyn tetap mau ikut kakak untuk mencari angin malam, titik." Jawab Vellyn yang tetap pada pendiriannya.


"Terserah kamu, tapi tidak untuk berkendara. Melainkan jalan kaki, siapkan tenaga ekstramu itu." Ucap Dey, kemudian segera keluar dari rumah dengan langkah kakinya yang lebar.


Tuan Viko yang melihat kedua anaknya hanya menggelengkan kepalanya.


"Vellyn, kejar kakak kamu. Awasi terus kakak kamu itu, jangan terlewatkan." Perintah Tuan Viko pada putrinya yang selalu mendapat pesan dari ayahnya untuk mengawasi kakak laki lakinya.


"Mau kemana Dey dan Vellyn? bukankah sudah waktunya untuk istirahat?" tanya sang istri yang tiba tiba mengagetkannya.


"Katanya sih mau cari angin, entahlah. Aku sendiri tidak tahu, tapi aku sudah memberikan pesan untuk Vellyn."

__ADS_1


"Pesan apa?"


"Mengawasi Dey, aku takut Dey akan terus mengingat perempuan yang misterius itu. Aku sendiri tidak berhasil menyelidikinya, siapa tahu saja Vellyn dapat menyelidikinya." Jawabnya.


"Perempuan yang mana?" tanya sang istri yang juga penasaran.


"Nah! itu dia, aku sendiri tidak tahu. Yang aku dengar sih, ketika Dey saat meminta anak buahnya untuk mencarikan keberadaan perempuan yang disukainya itu. Tapi, sampai saat ini saja belum ada titik terangnya. Semoga saja, perempuan yang disukainya itu segera ditemukan keberadaannya." Jawab Tuan Viko menjelaskan.


"Semoga saja, perempuan yang disukai Dey sama cantiknya seperti Lunika. Entah kenapa saat aku bertemu dengannya, aku merasa dekat dengannya." Ucap sang istri.


"Hem, menurutku sih karena kamu terbawa suasana yang menginginkan menantu perempuan yang tidak kalah cantiknya dengan istri Zicko." Ujarnya menebak isi dalam pikiran istrinya.


"Iya, Kak Zayen begitu beruntung bisa mendapatkan menantu yang begitu cantik dan juga pintar. Ditambah lagi pintar bela diri, aku suka itu."


"Hem, aku tahu sekarang. Karena kamu juga jagonya bela diri, jadi kamu menginginkan seorang menantu yang tingkahnya tidak jauh beda denganmu." Ucap Tuan Viko sambil menebak isi dalam pikiran istrinya, Mama Adellyn hanya tersenyum lebar pada suaminya.


"Sudah lah, ayo kita kembali ke kamar. Aku sudah sangat mengantuk, malam ini aku ingin tidur dengan pulas." Ucapnya, setelah itu segera kembali ke kamar dan diikuti sang suami dari belakang.


"Kak Dey, berhenti dong. Aku capek banget, tau." Panggil Vellyn sambil merengek.


"Siapa suruh kamu untuk ikut dengan Kakak, aku sudah mengusirmu untuk istirahat saja dikamar. Tapi kamunya ngeyel terus, itu sudah menjadi resiko untukmu." Sahut Dey tanpa mempedulikan sang adik yang tengah kelelahan saat mengikutinya.


"Kak, berhenti dong. Aku capek, plis deh." Seru Vellyn yang terus merengek, Dey yang tidak tega melihatnya segera memutar posisinya dan mengarah pada adik perempuannya.


Dilihatnya seorang adik perempuan yang tengah duduk dipinggir jalanan sambil meluruskan kedua kakinya. Seketika, ingatan Dey kembali dimasa lalunya.


"Perempuan itu, kenapa selalu kembali dalam ingatanku. Andai saja, aku mengingatnya kembali. Wajahnya, senyumnya yang manis meski hanya sekilas, namun dapat membuatku sulit untuk aku lupakan. Meski kini telah hilang bak ditelan bumi tanpa kulihat kejelasannya." Ucapnya bergeming.


"Kak Dey, sini dong." Panggil Vellyn yang merasa sudah kelelahan. Dey yang tersadar dari lamunannya segera menghampiri adik perempuannya.

__ADS_1


"Makanya jangan ikut, capek 'kan? ngeyel sih." Ucap Dey, kemudian ikut duduk disebelahnya. Vellyn yang mendapatkan ocehan dari sang kakak hanya senyum pasta gigi.


"Kak Dey, aku boleh bertanya sesuatu tidak?" tanya Vellyn membuka obrolan.


"Mau tanya apa? hem, jangan bertanya kapan Kakak nikah. Karena kamu tidak akan pernah mendapatkan jawabannya, ngerti." Jawab Dey sambil melirik kearah adiknya.


"Dih, siapa juga yang mau bertanya soal menikah." Ucap Vellyn yang tidak mau kalah dengan sang kakak.


"Cepetan, jangan lama lama. Sudah hampir larut malam nih, aku tidak mau berlama lama dipinggir jalanan." Sahut Dey sambil meluruskan kedua kakinya.


"Iya ya, baik lah aku mau bertanya. Begini, sebenarnya siapa sih perempuan yang kakak sukai? plis! jangan menghindar dari pertanyaan Vellyn." Tanya Vellyn sedikit ada rasa takut dan cemas.


Dey yang mendapatkan pertanyaan dari sang adik hanya menatapnya dengan lekat tanpa berucap sepatah katapun.


"Plis! jangan hukum Vellyn, karena Vellyn ingin hidup normal pada umumnya. Yaitu dekat dengan kak Dey dan dapat berbagi cerita, suka maupun duka." Ucap Dey dengan tatapan serius.


"Memangnya kamu pikir, hidup normal itu harus berbagi cerita, begitu maksud kamu?" tanya Dey yang juga menatap Vellyn dengan lekat.


"Iya ... ya begitu, soalnya kak Dey itu dingin banget. Udah kek CEO CEO di novel pada umumnya." Jawab Vellyn sedikit gugup.


"Hem, itu perasaan kamu aja. Memangnya yang kamu lihat ini sedingin es balok, begitu?"


"Hem, masih tanya lagi."


"Kamu ini ingin mencari tahu tentang Kakak, atau ... perempuan yang kakak sukai?"


"Dua duanya, soalnya Kak Dey itu juga misterius buat Vellyn. Apalagi dengan perempuan yang Kak Dey sukai, Vellyn sangat penasaran."


"Hem, segitunya kah kamu menilai Kakak kamu sendiri? dangkal sekali cara berpikirnya kamu. Bagaimana Kak Dey mau menunjukkan perempuan yang Kakak suka, sedangkan Kakak sendiri belum pernah bertemu langsung dengan orangnya."

__ADS_1


"What!! yang bener saja Kak? jadi Kak Dey sendiri belum juga bertemu, alias bertatap muka dengannya, begitu? wah ... jatuh cinta macam apa itu, benar benar seperti membuat candi satu malam aja. Sesuatu yang mustahil untuk menemukan sosok perempuan yang kakak sukai."


"Makanya, untuk apa Kakak bercerita dengan kamu. Yang ada kamu tidak akan pernah percaya pada Kakak kamu ini, dan yang ada kamu akan memberiku jurus penasehat yang handal." Sindirnya sambil melirik kearah adik perempuannya.


__ADS_2