
Masih dengan Vey yang sendirian berada didalam Apartemen tanpa teman yang menemaninya.
Suara bel pun tengah menyadarkan Vey dari ponselnya, kemudian ia dengan cepat segera membuka pintunya.
"Itu pasti Yeni, aku yakin itu." Gumamnya sambil berjalan menuju pintu.
"Kamu!" sambil menatap kesal, Vey mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? apakah kamu sedang membuat janji dengan seseorang?" tanya Dey sambil menyelidik gerak gerik dari Vey.
"Dih! siapa juga yang sedang menunggu seseorang. Memangnya kamu kira aku sedang ada janji, begitu maksud kamu? yang ada aku sudah sangat lapar. Aku kira ada pesanan online dari kamu, tidak tahunya kamu sendiri yang datang." Jawabnya beralasan.
"Terus ... ini apaan? kamu pesen makanan dengan siapa? apakah kamu pesan tukang jualannya juga? hah." Ucap Dey sambil menunjukkan sesuatu padanya dan mengunci pintunya serta berjalan menuju sofa, seketika dirinya teringat pada sahabatnya untuk datang dan membawakannya makanan untuk dirinya.
Vey yang malas berdebat dan meladeni suaminya, ia memilih untuk tersenyum dan berusaha merampasnya dari tangan suaminya. Namun naas, Vey terkilir dan memutar badannya sambil menarik baju suaminya hingga keduanya jatuh tersungkur ke lantai.
DEG!!
Detak jantung keduanya sama sama berdetak sangat kuat, nafasnya memburu dan terasa panas. Vey yang berada dalam kungkungan suaminya hanya bisa berdiam diri, ditambah lagi dengan posisi sama sama mencium bibirnya. Keduanya masih sama diamnya, satupun tidak ada yang memulainya.
Entah ada angin apa, tiba tiba Dey memulai menggerakkan bibirnya dan menciumnya lagi dengan lembut. Vey yang mendapat sentuhan tanpa arogan, dengan pasrah ia menerima perlakuan dari suaminya hingga perlakuannya semakin panas dan memulai menjalar entah kemana mana. Vey sendiri menikmatinya bersama sentuhan lembut dari suaminya sendiri, tanpa sadar telah menjalar lebih jauh lagi. Hingga terhanyut dan terbawa oleh hasrat yang membara dan sulit untuk dikendalikan.
Seketika, keduanya terperanjat kaget saat mendengar bel pintu tengah menggagalkan Dey saat ingin menyalurkan sesuatu yang sudah tidak bisa untuk ditahannya.
"Sial!" umpat Dey tanpa sadar ada Vey di hadapannya.
__ADS_1
"Bereskan semua yang sudah jatuh, bawa ke ruang makan. Jangan lupa, hangatkan kembali makanannya. Buatkan aku jus semangka, lalu kasih es batunya sedikit saja." Perintah Dey yang seakan akan tidak terjadi apa apa, padahal Dey sendiri melakukannya cukup jauh menjelajahi istrinya. Kemudian Dey segera membuka pintunya, sedangkan Vey segera membenarkan kancing bajunya kembali dan merapihkan rambutnya yang sudah berantakan karena ulah suaminya.
"Dasar! mesum, bodoh! bodoh! bodoh! kenapa aku menuruti nafsunya itu. Sedikit demi sedikit bisa bisa ia mencicipi semua kepunyaanku." Vey terus bergeming dan mengrutuki dirinya sendiri sambil mengambil makanan yang jatuh akibat Dey yang ketarik oleh dirinya sendiri hingga terjatuh ke lantai.
Sedangkan Dey kini tengah membukakan pintunya, dilihatnya seorang yang tengah berdiri diambang pintu.
"Mama, kenapa kesini?" tanya Dey mengernyitkan dahinya.
"Kemana aja kamu, hah? dari tadi Mama hubungi nomor kamu tetapi tidak aktif."
"Oooh, tadi Dey sedang keluar. Memangnya ada apa Mama menghubungi Dey? kelihatannya serius."
"Zicko, sekarang Zicko sudah berangkat ke luar Kota. Jadi, mulai besok kamu sudah diminta untuk masuk ke Kantor. Ada banyak pekerjaan untuk kamu, dan kamu diminta untuk bisa menyelesaikannya."
"Kenapa keberangkatan kak Zicko dipercepat? apakah prediksi istrinya sebentar lagi akan melahirkan?" tanya Dey sambil berjalan menuju sofa dan segera duduk.
"Terus ... apa ada lagi yang mau Mama sampaikan?"
"Tidak, Mama hanya ingin bertemu dengan Vey." Sahut sang ibu dan berjalan menuju ruang makan, dilihatnya menantunya yang tengah sibuk menyiapkan makan siangnya. Tanpa Vey sadari, sang ibu mertuanya sedang memperhatikannya dengan seksama dan disertai senyum bahagia yang mengukir senyum manis dikedua sudut bibir sang ibu mertua.
"Wah ... rupanya menantu Mama pandai melayani suaminya ya, beruntung sekali Dey memiliki istri seperti kamu." Puji ibu mertua pada menantunya. Sedang Dey hanya berkacak pinggang ketika mendengar ibunya yang tengah memuji istrinya sendiri.
'Cih! pandai melayani suaminya, Mama bilang? yang ada itu pencitraan namanya. Manggang roti saja dimakan sendiri, cih! benar benar menyebalkan.' Batin Dey dengan kesal saat mendengar seorang ibu yang tengah memuji menantunya.
"Mama, sejak kapan Mama datang? kok Vey tidak tahu jika Mama datang."
__ADS_1
"Karena kamu sibuk untuk melayani suami kamu, rupanya kamu tidak hanya jago di area bela diri. Namun, kamu juga pandai melayani suami kamu. Mama benar benar beruntung bisa dapatkan menantu sepertimu, sudah cantik, pintar dan perhatian lagi." Ucap ibu mertua dan membantu Vey untuk menuang air minum kedalam gelas, sedangkan Dey memilih untuk segera duduk.
Dey sengaja untuk duduk, ia ingin melihat seperti apa perlakuan Vey padanya ketika sang ibu tengah memujinya.
"Ma, ayo kita duduk. Kita makan siang bersama di Apartemen ini, Dey sudah sangat lapar." Ajak Dey pada ibunya, kemudian menarik kursinya untuk sang ibu.
Dengan senyum merekah, akhirnya duduk tidak jauh dari putra kesayangannya. Sedangkan Vey segera melayani suaminya dan juga ibu mertuanya dengan sangat santun, Dey sendiri hanya tersenyum sinis sambil menatap istrinya.
Sedangkan dikediaman Tuan Zayen, Lunika merasa kesepian di dalam kamarnya. Pikirannya pun kembali teringat pada suaminya yang tengah dalam perjalanan ke luar Kota, secepatnya segera Lunika menepis pikiran buruknya. Berharap, apa yang tengah dipikirkannya akan segera ia lewati tanpa suatu halangan apapun.
"Kak Lun, kenapa melamun?" tiba tiba Velly datang mengagetkanya.
"Vellyn, bikin Kakak kaget saja kamu ini. Kamu serius nih, jika kamu mau menemani Kakak?"
"Tentu saja, aku siap untuk menjadi Pengawal pribadi Kak Zicko junior."
"Hem, memangnya kamu bisa dan mampu?" tanya Lunika memulai obrolan bersama adik perempuan yang berstatus sepupu dari suaminya.
"Tentu saja, Kak Lun harus percaya dengan Vellyn." Ucapnya meyakinkan, Lunika sendiri tersenyum. Dirinya tidak lagi merasa kesepian, bahkan ia merasa terhibur adanya Vellyn dirumah.
"Vellyn, kamu sudah datang?"
"Iya Tante Afna, Vellyn diminta Paman Zayen untuk segera datang. Jadi, kebetulan sekali. Lagian juga Vellyn bosan di rumah terus kalau libur, Papa dan Mama selalu melarang keras untuk pergi jalan jalan. Apalagi Kak Dey, amit amit pelitnya." Jawab Vellyn sambil berkeluh kesah karena penjagaan yang cukup ketat untuk dirinya.
"Papa dan Mama kamu itu ada benarnya, begitu juga dengan Kak Dey. Tidak hanya itu saja, di rumah ini pun kamu dilarang untuk bepergian. Kamu tetap berada di rumah ini untuk menemani Kakak kamu." Ucapnya, Vellyn pun tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Siap, Tante. Vellyn akan memegang amanah dari Kak Zicko, tadi sebelum Vellyn kesini, Kak Zicko berpesan pada Vellyn untuk menjaga Kak Lun sampai Kak Zicko kembali pulang." Jawab Vellyn dan teringat akan pesan pesan yang Zicko berikan untuknya.