
Saat menepikan mobilnya, Dey kembali menghubungi orang kepercayaannya dan berharap dapat membantunya. Berulang kali menelpon, tetap saja tidak mendapatkan respon. Sambil mengacak rambutnya berulang ulang, Dey prustasi karena tidak bisa meminta bantuan.
"Ini pasti sudah di setting oleh Papa, sengaja ingin mengerjaiku. Cih! alangkah teganya dengan putranya sendiri." Gumam Dey yang masih dalam mobil.
Seketika, Dey teringat dengan Arnal. "Ah! ya, Arnal kan dulunya penjual buah. Kenapa dari tadi tidak meminta bantuan darinya? ah! bod*ohnya aku ini." Gumam Dey yang mulai merasa lega dan tidak lagi merasa cemas hanya memikirkan buah asam muda.
Karena tidak mau lama lama, akhirnya Dey segera menghubungi Arnal.
"Arnal, aku mau minta tolong bantuan mu." Kata Dey memulai bicara dipanggilan telponnya.
"Em ... kamu tahu asam muda, 'kan?" tanya Dey, Arnal pun balik bertanya pada Dey.
"Tolong carikan aku asam muda, istriku menginginkannya sekarang juga. Tolong belikan asam muda dengan harga berapun akan aku bayar." Ucap Dey, Arnal pun menyanggupinya. Setelah itu, Dey kembali bertanya untuk melakukan pertemuan dan langsung mematikan panggilan telponnya.
Rasa cemas pun hilang, Dey tidak lagi merasa prustasi dan juga kebingungan. Sesuatunya dapat ditangani dengan mudah dan tidak susah payah mencarinya kesana kemari.
Sedangkan ditempat lain, Romi tengah dalam perjalanan menuju Kantor milik Tuan Seyn dengan perasaan gelisah. Berulang kali Romi mencoba menata kosa kata yang akan dibicarakan dengan Tuan Seyn mengenai jawaban tentang perjodohannya denga Kalla.
"Semoga jawaban aku tidak memalukan. Jika aku harus menanggung malu, maka aku akan mengundurkan diri dari tempat kerjaku." Gumam Romi sambil menyetir mobilnya.
Begitu juga dengan Kalla, dirinya tidak kalah heboh saat dalam perjalanan menuju Kantor Tuan Seyn.
"Pak, lama banget sih. Perasaan dari tadi tidak sampai sampai, kelamaan."
"Sabar, Nona. Sebentar lagi juga sampai, tidak lama." Sahut Pak Supir sambil fokus dengan setirnya.
Tidak memakan waktu yang lama, Kalla telah sampai lebih dulu daripada si Romi.
Dengan malas, Kalla keluar dari mobil yang dinaikinya. Saat tinggal memasuki Kantor, terasa berat jika kakinya untuk diajak masuk kedalam. Mau tidak mau, Kalla tetap akan masuk sesuai permintaan Tuan Seyn dan Kakek Ganan.
__ADS_1
Sambil berjalan, semua karyawan terkejut melihatnyan. Banyak yang berprasangka buruk terhadapnya mengenai simpanan Bos nya. Namun ada juga yang tetap berprasangka baik dengan hadirnya sosok Kalla di Kantor Bosnya.
Kalla yang sedikit demi sedikit dapat menangkap pembicaraan beberapa karyawan Kantor milik Pamannya, ia memilih untuk tidak menanggapinya.
Sampai didepan pintu, Kalla menarik napasnya pelan dan membuangnya dengan kasar. 'Semoga pilihan aku ini tidak mengecewakan aku.' Batin Kalla sebelum menekan tombol pintunya.
Setelah menekan tombol pintunya, dengan singkat pintunya terbuka dengan sendirinya. Kalla masih berdiri diambang pintu, perasaannya kembali dibuat ragu dan terasa berat untuk melangkahkan kakinya masuk.
"Kemarilah, ayo silahkan duduk." Kata Tuan Seyn, sedangkan Kalla hanya bisa nurut. Saat sudah berada dihadapan Tuan Seyn, Kalla merasa bingung untuk memulainya.
"Bagaimana? apakah kedatangan kamu ini mau memberikan sebuah jawaban untuk Paman?" tanya Seyn langsung pada pokok intinya. Kalla pun mengangguk, Tuan Seyn pun tersenyum.
"Katakan langsung, apakah kamu mau menerima Romi menjadi suami kamu?" tanya Tuan Seyn dengan tatapan yang cukup serius.
"Ya Paman, dengan hati yang terbuka Kalla menerima Romi untuk menjadi pendamping hidup." Jawab Kalla dengan tatapan yang serius.
Tanpa disadari oleh Kalla, bahwa orang yang dimaksudkan sudah berdiri diambang pintu.
Romi yang sudah mantap dengan keputusannya, ia pun duduk disebelah Kalla. Keduanya saling menatap satu sama lain, sapaan pun tidak ada pada keduanya.
'Dih! ini orang kaku amat lah, nyapa aja tidak. Benar benar menyebalkan ini orang, huh.' Batin Kalla dengan kesal.
"Romi, Kalla sudah menjawabnya. Sekarang juga giliran kamu untuk memberikan keputusan."
Romi yang mendapat pertanyaan tanpa basa basi, ia kembali menoleh ke arah Kalla. Keduanya kembali saling menatap dan tanpa ada senyum sedikitpun.
"Saya menerima Kalla menjadi bagian hidup saya, suka maupun duka. Yang jelas, saya akan memperistrikannya. Saya pun akan bertanggung jawab tentangnya, apapun itu. Tapi satu hal yang harus diingat, diri ini bukan seseorang yang mudah untuk dituntut lebih. Melainkan akan terus berusaha untuk melakukan yang terbaik. Jika mau menerima diri ini sebagai seorang suami, maka terimalah kesederhanaannya." Ucap Romi cukup panjang ucapannya. Disaat itu juga, Kalla yang mendengarnya pun merasa lega.
"Akhirnya kalian memberikan jawaban yang sama sama menerimanya, semoga keputusan ini murni dari pilihan kalian berdua. Baik lah, pernikahan kalian todak lama lagi akan diadakan resepsi. Jadi, persiapkan mental kalian masing masing. Nanti jika waktu yang ditentukan sudah diputuskan, kalian berdua akan diberi kabar. Jadi, keputusannya sudah dil, ok. Silahkan jika kalian berdua mau pulang." Kata Tuan Seyn, Romi maupun Kalla pun berpamitan. Setelah itu, keduanya pulang dengan arah yang berbeda tanpa berpamitan satu sama lain.
__ADS_1
Sedangkan di kediaman Tuan Zayen tengah disibukkan dengan keberangkatannya Zicko bersama anak istri untuk pergi liburan ke luar Negri.
"Kalian berdua berangkatnya masih besok pagi, 'kan?" tanya Bunda Afna sambil membantu mengemasi bawaannya milik cucu kesayangannya.
"Ya, Ma. Kata Paman Kazza berangkatnya disuruh bareng Daka, kata Paman biar ada temannya." Jawab Zicko yang juga tengah membantu istrinya mengemasi barang bawaannya.
"Ya, tidak apa apa. Mama juga sependapat sama Paman Kazza, kasihan calon istri Daka jika sendirian." Ucap Bunda Afna.
"Ya, Ma. Lunika jadi ada temannya jika berangkat bareng Daka dan Enja calon istrinya." Ucap Lunika ikut menimpali.
"Kalau begitu seharian ini biarkan Mama bersama Niko, boleh? Soalnya besok Mama akan kesepian, jadi Mama ingin seharian bersama Niko."
"Boleh kok Ma, kenapa tidak? kebetulan juga hari ini Zicko mau keluar sebentar mau ada perlu." Sahut Zicko sambil merapihkan pakaiannya.
Setelah itu, Bunda Afna segera menemui cucu kesayangannya. Zicko sendiri bersiap siap untuk keluar, sedangkan Lunika memilih berada dirumah untuk istirahat.
Ditempat lain, Dey tengah menunggu Arnal yang sudah dijanjikan untuk mencarikan buah asam muda nya. Terasa capek menunggu, Dey menelpon nya lagi karena rasa ketidaksabarannya itu. Disaat itu juga, Dey tersenyum mengembang ketika mendapati Arnal yang tengah berjalan mendekat.
"Mana buah asam muda nya?" tanya Dey sambil memeriksa Arnal dengan cara memutarkan badannya.
"Tidak ada, Tuan."
"What !!! kamu bilang tidak ada? terus ... bukannya tadi kamu bilang ada? hah."
"Ada, tapi di pohon."
"Di pohon? kenapa kamu tidak bilang dari tadi."
"Hem, bukankah sambungan teleponnya tadi dimatiin?"
__ADS_1
"Kelamaan, jangan banyak omong. Ayo buruan antarkan aku ke pemilik pohon asam nya." Kata Dey yang sudah tidak sabar.