
"Bagaimana menurut kamu, Zicko?" tanya sang Paman.
"Baik lah, jika keputusan Paman sudah bulat. Zicko akan mencarikan sekretaris untuk Deyzan. Ngomong ngomong sekretaris Deyzan perempuan atau laki laki, Paman?"
"Terserah kamu mana baiknya, yang terpenting dapat bekerja dengan baik. Karena dalam waktu dekat ini, Paman harus segera kembali ke Amerika. Mau tidak mau, kamulah yang akan bertanggung jawab soal Deyzan."
Zicko tercengang mendengarnya, ketika dirinya dimintai untuk bertanggung jawab atas sepupunya, yakni mengenai sepupu laki lakinya yaitu Deyzan.
"Iya Paman, Zicko usahakan untuk Deyzan." Jawab Zicko mencoba untuk meyakinkan pamannya.
"Vik, bagaimana?" tanya kakak iparnya, yaitu ayah Zicko.
"Aku hanya bisa memberi perintah pada putramu, Kak. Dey begitu keras kepala jika aku yang menasehatinya, jelas sekali jika Dey menuruni watak sifat kamu. Yang dingin dan sulit untuk berbicara, entah bagaimana nanti jika bersama istrinya. Mungkinkah suasana akan menjadi horor dan misterius. Coba diingat lagi, begitu susahnya kamu untuk dikendalikan, siapa lagi jika bukan aku yang mengingatkanmu." Jawab Tuan Viko yang kembali teringat saat masa mudanya ketika dirinya menjadi penasehat untuk Tuan Zayen.
"Wajar lah, jika Dey menuruni sifatku. Karena akulah Pamannya, dan aliran darahku sama dengan milik Dey." Ucap Tuan Zayen yang tetap memuji dirinya sendiri, begitulah sosok seorang Zayen. Selalu menang dari sosok Viko, mungkin sudah hukumnya mereka berdua.
"Hem, kamu pikir siapa pemilik penanam sahamnya. Jelas aku lah yang memprosenya hingga menjadi tampan dan menjadi bahan rebutan, hanya saja aliran darahmu yang sama. Untung saja bukan aliran sengkedan, atau irigasi." Sahut Tuan Viko kembali bergurau.
"Cih! kamu ini, masih aja ngelawak. Tentu saja putramu tampan, Pamannya saja tampannya tidak tertandingi." Ucap Tuan Zayen terus memuji diri sendiri.
"Terus, diterusin aja. Kalian berdua nih ya, dari dulu suka banget kalau disuruh berdiskusi tentang mana yang tampan dan mana yang pintar. Sekarang juga, ayo kita makan malam." Sahut istri Tuan Zayen sambil berkacak pinggang dan tiba tiba sudah berada didalam ruangan privat.
Sedangkan Zicko memilih untuk segera pergi sebelum mendapatkan omelan dari ibunya.
"Iya ya, sayang." Jawab tuan Zayen, kemudian segera keluar dari ruang privat dan diikuti oleh Viko dari belakang. Sedang Deyzan yang sudah dipanggil oleh sang ibu, segera ia keluar dari kamarnya.
Saat melangkahkan kakinya, sepasang matanya mengarah pada tangga yang menuju kamar Zicko.
__ADS_1
"Perempuan itu ..." gumamnya tiba tiba terhenti.
"Awas!!!!" teriak Dey dengan kencang dan menangkap tubuh Lunika dengan sigap.
Keduanya saling beradu pandang, detak jantung milik Dey tidak karuan dan berdegup sangat kencang.
'Rasa ini ...' batinnya.
"Maaf, lepaskan. Terima kasih sudah menyelamatkan aku." Ucap Lunika dengan was was dan juga gemetaran. Sedangkan Dey masih bengong menatap wajah Lunika, seakan ada sesuatu yang mengganjal hatinya.
Zicko yang melihat kejadian itu hatinya terbakar api cemburu, rahangnya mengeras dan ota*knya terasa mendidih tatkala sang istri telah dselamatkan Deyzan sepupunya sendiri.
"Lepaskan tanganmu, Dey. Lunika istriku, bukan kekasihmu." Ucap Zicko dengan kesal dan bercampur rasa cemburu.
"Maaf Zick, aku hanya menolongnya." Jawab Dey mencoba menjelaskannya, Zicko menatapnya dengan kesal.
"Iya sayang, maafkan aku yang teledor saat berjalan. Aku minta maaf, aku salah." Ucap Lunika yang tidak ingin memperkeruh suasana.
"Aku lupa, karena aku buru buru." Ucap Lunika mencoba berterus terang.
"Istri kamu tidak bersalah Zick, namanya juga lupa." Ucap Dey yang mencoba untuk tidak salah paham pada istri sepupunya.
"Kamu tidak usah mengguruiku, urus saja diri kamu sendiri." Jawab Zicko yang susah untuk dikendalikan.
"Ada apa ini? kenapa kalian bertiga menjadi ricuh? hah." Tanya Tuan Zayen yang mendapati anak dan keponakannya terdengar bertengkar.
"Maaf Pa, ini kesalahan dari Lunika." Jawab Lunika yang memang merasa bersalah atas kelupaannya saat sang suami yang selalu mengingatkannya untuk tidak menggunakan tangga, melainkan jalan pintas.
__ADS_1
"Tidak, Paman. Ini salah Dey yang tengah melewati anak tangga, hingga membuat Zicko menjadi salah paham." Sahut Dey menimpali, ia tidak ingin diantara Zicko maupun sang istri yang akan mendapat marahnya.
"Paman tidak percaya dengan ucapan kamu, Dey. Dari dulu kamu tidak pernah berubah, selalu menyalahkan diri sendiri." Ucap Tuan Zayen yang tidak bisa dibohongi.
"Katakan pada Papa, ada apa ini?" tanya sang ayah menyelidik.
"Lunika yang ceroboh saat menuruni anak tangga, Pa. Zicko sudah melarangnya untuk tidak menuruni anak tangga, tapi Lunika tetap saja sulit untuk diingatkan. Saat menuruni anak tangga yang tinggal beberapa anak tangga lagi, tiba tiba Lunika terpeleset. Kemudian Dey menangkap tubuh Lunika, hanya itu." Jawabnya menjelaskan.
"Tapi ... keduanya sempat beradu pandang, itu saja." Ucap Zicko menjelaskan, kemudian melirik kearah sepupunya.
"Cie ... kak Zicko cemburu nih ... senangnya jadi kak Lunika, dicintai dengan sempurna." Goda Vellyn pada kakak iparnya, Lunika sendiri hanya senyum malu malu.
"Oooooh! jadi karena masalah cemburu, hem." Ucapnya serempak pada kedua orang tua Zicko dan kedua orang tua Deyzan.
"Biasalah anak muda, rasa cemburu bisa mengalahkan apapun." Sindir Mama Afna pada Tuan Zayen saat cemburu pada Viko.
"Kamu tidak sedang menyindirku, 'kan?" tanya Tuan Zayen berbisik sambil menyikut lengan istrinya. Sedangkan Mama Afna hanya menahan tawanya, ketika memory masa lalunya teringat kembali.
"Sudah sudah, sekarang sudah waktunya untuk makan malam. Ayolah, kita kembali ke ruang makan. Nanti keburu rasanya hambar dan tidak berselera." Ajak Tuan Viko pada yang lainnya, semua hanya mengangguk dan berjalan menuju ruang makan.
Namun tidak untuk Zicko dan Lunika, keduanya masih berdiri dan saling diam. "Aku mau ke kamar." Ucap Lunika membuka suara, Zicko langsung meraih tangan istrinya.
"Maafkan aku, jika rasa cemburuku lebih besar dari rasa cintaku. Aku takut kehilangan kamu, itu aja."
"Dan kamu tidak takut kehilangan buah hati kita, maksud kamu?"
"Bukan begitu, sayang. Maksud aku dua duanya, aku tidak ingin kehilangan kamu dan juga calon sang buah hati kita. Sayang, maafkan aku." Ucap Zicko dengan memohon.
__ADS_1
"Aku akan memaafkan kamu, jika kamu segera meminta maaf dengan sepupu kamu. Karena kalau bukan pertolongannya, mungkin aku dan sang buah hati sedang berbaring dirumah sakit. Bahkan bisa jadi aku dalam kondisi yang tidak baik baik saja." Jawab Lunika memberi pilihan, Zicko yang memang merasa bersalah, akhirnya ia menuruti permintaan istrinya.
"Baiklah, aku akan meminta maaf pada Deyzan. Setelah itu, maafkan aku." Ucap Zicko dengan tatapan seriusnya, Lunika pun mengangguk dan tersenyum.