
Sampainya di depan Kantor, Kalla dan Romi turun dari mobil. Sedangkan Tuan Kazza menunggu sopirnya datang, kemudian meninggalkan Kantor tersebut untuk ke Kantor yang satunya.
"Romi, didalam Kantor sudah ada yang akan mengarahkan kamu. Jadi, saya tidak perlu untuk ikut masuk kedalam Kantor." Ucap Tuan Kazza memberi pesan.
"Baik Tuan," jawab Romi.
"Kok Papa tidak ikutan masuk, sih? Kalla kan masih belum terbiasa, Pa ...." Ucap Kalla menimpali.
"Kemarin kamu kan udah masuk ke Kantor ini, dan kamu sudah tahu tempat kerjamu, dimana dan dengan siapa kamu dalam ruangan kerjamu." Sahut Tua Kazza mengingatkan putrinya.
"Tapi Pa ... kan baru satu hari, mana Kalla bisa ngerti. Kemarin aja Kalla masih banyak yang tidak tahu, apa lagi hari ini. Kenal dia aja, tidak. Bagaimana sih Papa? ayo dong Pa ... sehari ini ... aja." Jawab Kalla dengan memohon.
"Tidak ada kata memohon, mulai sekarang kamu harus belajar menggunakan waktu sebaik mungkin untuk mempelajarinya dari nol. Kamu tidak perlu khawatir, orang kepercayaan Paman kamu tidak diragukan lagi kepandaiannya. Romi yang akan mengajarimu dari nol, dan kamu pelajari dengan baik." Ucap sang ayah yang tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
Kalla yang mendengarnya pun hanya bisa pasrah dan tidak lagi dapat berkutik sedikitpun.
Karena sudah menjadi keputusan orang tuanya, Kalla memilih untuk diam dan juga nurut. Karena supir pribadinya sudah datang, Tuan Kazza langsung berpamitan untuk berangkat ke Kantor yang satunya.
Setelah tidak lagi nampak bayangan mobil milik Tuan Kazza, kini tinggal lah Romi dan Kalla yang masih berdiri di depan Kantor.
Semua karyawan yang melihatnya pun tidak luput bertanya tanya mengenai sosok Romi yang tidak pernah lihat sama sekali didalam Kantor.
__ADS_1
Dengan sikapnya yang dingin karena adanya anak dari Bos nya, Romi tetap berjalan dengan santai menuju ruangan yang akan diarahkan oleh seseorang yang sudah mendapatkan amanat dari Tuan Kazza.
"Eh! tunggu," panggil Kalla dengan larinya yang cukup kencang. Sampainya di sebelah Romi, Kalla terengah engah dan mengatur pernapasannya.
"Kamu tega banget sih ninggalin aku, keringatan nih badanku. Ini semua gara gara kamu, bikin kesal aja." Tuduh Kalla dengan perasaan kesal.
"Salah Nona sendiri, kenapa juga mesti nyalahin saya. Itu kan kesalahan Nona sendiri yang sedari tadi berdiri kek patung hidup aja." Sahut Romi dengan santai, dan kini tidak peduli dengan siapa dirinya berhadapan.
"Ih, kamu ini nyebelin banget sih." Sungut Kalla dengan perasaan dongkol.
"Bukan urusan saya, Nona." Sahut Romi yang terus berjalan mengikuti seseorang yang sudah diperintahkan oleh Tuan Kazza.
Semua karyawan yang melihat Romi dan Kalla yang tengah berdebat, tidak ada satupun yang tidak membicarakan nya. Semua membicarakannya, apa lagi dengan posisi Romi yang terbilang orang baru. Semua menjadi penasaran, dan lebih lebih dengan sosok Kalla.
'Dih! itu orang nyebelin banget sih, mimpi apa aku semalam. Sampai sampai aku harus bertemu dengan nya lagi, sok cakep lagi. Tapi memang cakep sih, dih! kenapa ota*kku jadi konslet gini sih.' Batin Kalla sambil memperhatikan Romi yang tengah sibuk dengan layar pintarnya.
Sedangkan Romi tetap bersikap santai, ia tidak begitu peduli dengan Kalla yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.
Saat memeriksa berkas berkas yang ada dimeja kerjanya, Romi segera memeriksanya. Kemudian ia menoleh ke arah Kalla. Disaat itu juga, keduanya saling menatap satu sama lain.
"Ngapain lihat lihat, kurang kerjaan ya? biasa aja kali kalo mau lihat lihat aku." Ucap Kalla dengan berani, karena memang sengaja Kalla berusaha untuk tidak membuat Romi terasa nyaman berada didalam Kantor.
__ADS_1
Romi yang mendengar perkataan dari Kalla, ia langsung bangkit dari posisi duduknya sambil membawa tumpukan kertas yang cukup untuk menghukum Kalla, pikir Romi dengan akal nya.
Kalla yang melihatnya pun mendadak tercengang saat Romi membawakan tugas untuknya.
"Perkataan Nona memang sangat benar, jika saya memang kurang kerjaan. Karena apa? karena pekerjaan ini adalah rupanya tugas Nona untuk segera diselesaikan dengan cepat. Makanya, saya tidak mempunyai pekerjaan. Karena pekerjaan ini rupanya harus berpindah tempat ke tempat Nona mengerjakan pekerjaan Nona sebagai sekretaris saya." Ucap Romi dengan senyum tipis, Kalla yang melihat serta mendengarnya pun semakin geram. Bahkan ia merasa gondok ketika mendapati Romi yang sengaja ingin mengerjai nya.
"Awas kamu, ya! aku bakal balas semuanya." Ancam Kalla dengan sungut, lagi lagi Romi hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Jangan halu yang berlebihan untuk balas dendam dengan saya, takutnya Nona akan terjebak didalamnya." Jawab Romi dengan senyumnya cukup membuat Kalla semakin kesal dan gondok.
Setelah itu, Romi kembali ke tempat duduknya dan meneruskan pekerjaan yang belum seksa ia kerjakan. Sedangkan Kalla masih menatap kesal dengan tumpukan yang benar benar sulit untuk dibayangkan.
'Benar benar mimpi buruk aku ini, si*al.' Batin Kalla dengan kesal, mau tidak mau Kalla tetap melakukan pekerjaan.
Bukan karena takut dengan Romi, tetapi takut jika akan mendapatkan hukuman yang lebih dari orang tuanya. Dengan terpaksa, Kalla tetap untuk menjadi penurut. Meski diselimuti dengan perasan kesal, geram, benci, dan gondok, tentunya.
'Ah iya, kenapa aku tidak minta bantuan Paman Zayen aja apa, ya? biar si Vellyn aja yang menjadi sekretaris di Kantor ini. Sedangkan aku menjadi sekretarisnya si Deyzan. Ah iya, ide yang cukup manjur.' Batin Kalla sambil mencari ide, agar dirinya bisa lepas dari Romi, pikirnya.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di Rumah sakit. Daka telah berada di dalam kamar pasien, yakni calon istrinya yang bernama Enja.
"Nanti siang kamu sudah diizinkan Dokter untuk pulang. Kata Dokter, kamu tidak boleh banyak pikiran. Dan aku minta sama kamu untuk tidak memikirkan sesuatu yang dapat membuat kesehatanmu menurun. Percayalah, mulai sekarang dan seterusnya aku tidak akan meninggalkanmu lagi yang begitu lama. Aku akan terus berada disampingmu, percayalah denganku." Ucap Daka sambil memegangi kedua tangan milik Enja.
__ADS_1
"Aku hanya memikirkan keadaan anak anak Panti, itu saja. Karena sejak aku kecelakaan, keuangan Panti asuhan mulai menurun. Dan disitulah aku kehilangan semangat karena kondisiku yang tidak lagi seperti dulu, hanya itu yang aku pikirkan." Jawab Enja menjelaskan.
"Maafkan aku, ya. Mulai sekarang aku tidak akan mengabaikan Panti asuhan lagi, aku yang akan bertanggung jawab semuanya." Ucap Daka meyakinkan calon istrinya, Enja yang mendengarnya pun tersenyum meski tidak bisa melihatnya.