
Pagi yang cerah, secerah harapan Zicko dua tahun yang lalu. Masa masa yang penuh rintangan untuk dilewatinya dengan kesendiriannya tanpa seorang anak dan istri di dekatnya.
Perpisahan, bukanlah keinginannya. Apa hendak dikata, jika perpisahan lah yang harus mereka berdua lewati dan dijalaninya untuk bertahan dalam kesetiaan.
Dan kini, semua telah berlalu. Semua telah menjadi kenangan yang sangat berharga, bahkan tidak akan pernah terlupakan. Meski dalam kondisi yang berbeda, Lunika akhirnya luluh akan perasaannya dan menerima kondisi seperti apapun tentang suaminya yang sekarang ini.
"Sayang ..."
"Diam lah, aku masih merindukanmu. Aku ingin bermanja manja denganmu, aku masih ingin terus memelukmu." Ucap Zicko sambil memeluk istrinya dan menc*iuminya.
"Niko, apakah kamu tidak ingin bertemu dengan nya?" alih alih Lunika mencari alasan agar bisa bernapas lega.
"Ah! iya, aku baru ingat jika aku sudah menjadi seorang Ayah sekarang." Ucap Zicko dan melepaskan pelukannya, sedangkan Lunika akhirnya dapat bernapas lega.
"Bagaimana kalau kita temui Niko sekarang? aku ingin melihat reaksi Niko ketika bertemu dengan ku, apakah akan ketakutan? atau ... justru akan memelukku dengan erat."
"Kalau soal itu sihp aku kurang tau, sayang. Berdoa saja, semoga Niko cepat dekat dengan mu." Kata Lunika meyakinkan.
"Aku sudah siap untuk menerima segala resikonya, tidak dapat dipungkiri jika Niko akan merasa asing dengan hadirnya aku ditengah tengah kalian. Meski itu yang terjadi, aku tidak akan pernah putus asa untuk selalu dekat dengan nya. Aku akan terus melakukan pendekatan hingga kita menjadi lebih dekat dan akrab." Ucap Zicko sambil menyemangati
diri sendiri.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita temui Niko di kamar nya."
"Sejak kapan Niko punya kamar sendiri?" tanya sang suami yang tiba tiba kaget mendengar sang istri mengatakan jika putranya memiliki kamar sendiri.
"Sejak kamu pulang ke rumah Utama, memangnya kamu mau jika semalaman kamu diganggu Niko? hem." Jawab Lunika mengingatkan, Zicko yang mendengar penuturan dari istrinya hanya tertawa kecil dan mencubit gemas pada pipi kanannya.
"Pintar juga kamu, apa jangan jangan semalam kamu sengaja mengerjai ku? hem. Dan diam diam kamu menginginkannya, namun malu untuk memintanya padaku."
__ADS_1
"Dih, enak aja main tuduh yang tidak akurat." Jawab Lunika dibuat ketus.
"Sayang, jangan ngambek gitu dong. Kalau ngambek gitu, nanti malam bisa bisa aku bersemedi seperti pawang ular dong." Ucap Zicko merayu.
"Mau bertemu dengan Niko, atau ... mau berdebat."
"Bertemu Niko, dan ... menggendongmu." Sahut Zicko dan langsung menggendongnya.
"Sayang, lepasin dong. Malu dilihat sama Papa dan Mama, sayang."
"Biarin aja, sekarang tunjukkan dimana kamar Niko."
"Di ujung sana, tepatnya disebelah kamar Mama dan Papa." Jawab Lunika sambil menunjuk ke arah yang ditunjukkan.
Setelah sampai didepan pintu, dengan pelan Zicko menurunkan istrinya. Kemudian dengan pelan membuka pintu kamarnya.
"Kesayangannya Mama, sudah mandi rupanya. Hum ... wangi sekali aromanya, wah ... semakin ganteng aja anak Mama.
"Kok anak Mama doang, Papa nya tidak diajak gitu? menyedihkan, selama ini rupanya Papa kamu ini tidak anggap Nak. Padahal Papa kamu ini ikut dalam pemrosesan pembuatan kamu, sayang." Celetuk Zicko dari belakang sang istri sambil memasang ekspresi yang dibuat sesedih mungkin.
Disaat itu juga, Lunika langsung menoleh kebelakang. Dilihatnya sang suami dengan ekspresi sedihnya. Kemudian Lunika langsung menoleh kearah babby sitter anaknya.
"Mbak Yona boleh keluar, biar saya saja yang akan mengenakan baju untuk Niko." Ucap Lunika yang tidak ingin drama rumah tangganya di saksikan langsung oleh asisten rumah.
"Iya Nona, saya permisi. Tuan, saya permisi." Sahut mbak Yona berpamitan. Dan kini tinggal lah Lunika, sang suami, dan putranya saja yang berada didalam kamar tersebut.
"Bukan begitu maksudnya sayang, Niko ya anak kamu juga."
"Terus ... kenapa tadi kamu tidak mengatakannya jika Niko anak kamu dan anak aku juga, hem."
__ADS_1
"Sebutan seperti itu ya memang sudah terbiasa, sayang. Nanti kamu juga bakal mengucapkan hal yang sama.
"Masa," sahut Zicko dengan singkat. Sedangkan Lunika tidak begitu menanggapi sang suami, ia kembali fokus untuk mengenakan baju anaknya.
"Sayang ... sini, Mama mau memperkenalkan kamu dengan Papa. Lihat lah, Papa kamu sudah pulang, sayang." Ucap Lunika memperkenalkan Niko pada ayahnya, Zicko pun segera berjongkok dihadapan Putranya.
Ditatap wajah putranya dengan lekat dan diperhatikan nya dari ujung rambut hingga ujung kaki, semua tidak ada yang tertinggal kemiripan dirinya yang dulu pada putra kesayangannya.
Entah kenapa tiba tiba Zicko menitikan air matanya. Rasa bahagia yang pernah hilang, kini telah kembali dengan sempurna. Kebahagiaan yang baru saja ia dapatkan dalam sehari, seakan hilang dalam waktu dengan sekejap mata. Rupanya kebahagiaan yang telah hilang, kini telah dikembalikan dengan sempurna. Bahkan kebahagiaan yang ia dapatkan tidak terhitung dan sulit untuk digambarkan serta dijabarkan.
"Niko, ini Papa, sayang. Papa nya Niko, Papa kembali untuk Niko dan Mama. Sini sayang, Papa ingin memelukmu." Ucap Zicko sambil merentangkan kedua tangannya, seraya ingin memeluk erat putra kesayangan yang sekian lama ia rindukan.
"Ma ma, Ma ma." Ucap Niko berulang ulang menyebut nama ibunya, Zicko hanya tersenyum saat melihat putranya memanggil manggil sebutan ibunya.
"Sayang, ini Papa. Coba ikutin Mama, ya. Pa -- pa, Pa - pa, coba Niko ulangi lagi.
"Ma ma, Ma ma." Ucap Niko yang terus berulang ulang memanggil sebutan ibu nya.
"Sayang, panggil lagi dengan benar, ya. Pa pa, Pa pa." Kata Lunika mengajari putranya untuk memanggil sang ayah dengan sebutan Papa, sedangkan Niko hanya menatap ayahnya dengan tatapan sedikit takut. Wajar saja jika ada rasa takut pada diri Niko saat melihat sang ayah, dua tahun lamanya tidak pernah berada disampingnya membuat Niko merasa asing dengan sosok sang ayah yang kini berada dihadapannya.
Zicko yang mendengar putranya yang hanya memanggil sebutan Mama, hati kecilnya sedikit merasa sedih. Menyesal itu pasti ada, namun tidak dapat dipungkiri jika dirinya harus siap mental ketika berhadapan dengan putranya.
"Sayang, bersabar lah. Semua butuh waktu, aku yakin jika Niko pasti akan cepat mengenalimu. Yang terpenting kamu selalu mendekatinya, nanti juga akan terbiasa dan semua harapan mu akan terwujud. Kamu harus beradaptasi dari nol, semua butuh perjuangan untuk mendapatkan nya.
"Iya benar, aku tahu apa yang kamu maksudkan. Aku pun tidak akan pernah menyerah untuk mendekati Niko, dan aku akan terus mencoba untuk membuatnya lebih dekat denganku."
'Andai semua baik baik saja, aku tidak akan pernah mengalami hal serumit ini. Sekarang aku harus meluluhkan anakku sendiri setelah aku meluluhkan hati istriku.' Batin Zicko, kemudian ia menarik napasnya pelan dan membuangnya dengan pelan.
Berharap apa yang diharapkannya sesuai dengan impiannya, yaitu memiliki keluarga yang bahagia.
__ADS_1