Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Meminta sesuatu


__ADS_3

Di kediaman rumah Deyzan, ia sengaja untuk libur bekerja agar bisa menemani istrinya yang sedang melakukan program hamil. Dilihatnya sang istri tengah sibuk menyiapkan makan siang dibantu oleh salah satu pelayan rumahnya.


"Sayang, kenapa kamu masih menyiapkan semua ini? hem. Kalau kamu kecapekan, bagaimana sayang? aku tidak ingin kamu kenapa kenapa. Apa kamu sudah lupa dengan pesan dokter? kamu dilarang bekerja keras. Lagian juga ada banyak pelayan, kamu cukup memintanya untuk disiapkan makan siang, malam, dan sarapan pagi. Apa yang kamu inginkan, kamu tinggal suruh pelayan." Kata Dey yang tidak ingin pesan dari Dokter diabaikan begitu saja.


"Tidak ada hubungannya dengan memasak, sayang? percaya saja dengan takdir, nasib, dan ujian. Kita berusaha, tapi tidak segitunya juga, kali. Aku bukannya tidak mau mematuhi pesan dari Dokter, lagian juga aku tidak melakukan pekerjaan berat. Sudah lah, kita cukup bersabar dan berusaha semampu kita. Jangan sampai kita terlalu lebay untuk menanggapi sebuah masalah yang sedang kita hadapi." Jawab Vey tetap pada pendiriannya, meski hati kecilnya ingin menangis histeris.


Bukan ingin meremehkan suaminya, hanya saja terlalu berlebihan bagi Vey untuk melakukan aktivitas yang lumrah, pikirnya.


Dey yang mendengar penuturan dari istrinya pun hanya bisa pasrah, dirinya sendiri tidak berani untuk memaksakan nya. Dey merasa takut jika rumah tangganya akan bermasalah hanya karena sesuatu yang tidak bisa mengalah.


Tidak dapat dipungkiri, Dey maupun Vey sudah lama menantikan hadirnya buah hati. Namun apa hendak dikata, keduanya masih diminta untuk bersabar dan terus bersabar.


"Sayang, aku sudah siapkan semuanya. Kita makan siang dulu, yuk. Oh iya, aku boleh meminta sesuatu, tidak?" ajak Vey dan menanyakan sesuatu.


"Apa, sayang?"


"Kenapa Vellyn tidak diajak untuk tinggal bersama kita, aku kesepian."


"Tapi ... kita sedang Promil, sayang. Nanti hari harimu terganggu lagi, Vellyn tidak bisa tenang kalau dirumah. Bisa bisa dia mengajakmu untuk aktif dalam seni bela dirinya. Tidak, aku tidak mengizinkannya untuk tinggal bersama kita." Jawab Dey yang tetap melarangnya.


"Aku janji, aku tidak akan melakukannya. Kalau sebatas olahraga sih wajar wajar saja, sayang. Aku hanya ingin ada teman, itu saja."


"Terus ... kamu merasa terganggu adanya aku bersamamu, begitu maksud kamu?"


"Bukan, bukan seperti itu maksud aku. Bagaimana caranya aku harus menjelaskan nya padamu, sayang. Aku hanya butuh teman, dan bukan berarti aku tidak butuh kamu. Aku hanya ingin kita bisa bersenda gurau bersama, kumpul bersama. Dari kecil, aku tidak memiliki Ibu. Aku hanya ingin ada teman seorang adik perempuan yang bisa tinggal bersama." Ucap Vey penuh harap. Disaat itu juga, Dey baru menyadarinya.


"Kamu yakin?"


Vey pun mengangguk, Dey langsung memeluk istrinya. "Baik lah, nanti aku akan menjemput Vellyn untuk pulang. Sekarang, kita makan siang dulu." Ucap Dey meyakinkan istrinya kemudian melepas pelukannya dan mengecup kening istrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Maafkan aku ya, sayang. Barusan aku sudah egois, bahkan masih mau menang sendiri." Kata Dey penuh sesal atas sikapnya pada siang istri.


"Sudah lah, lupakan saja. Kamu tidak perlu meminta maaf, karena kamu tidak bersalah. Aku sudah lapar, dan aku ingin mendapatkan suapan darimu." Ucap Vey dan mengajak suaminya untuk makan siang.


Dengan telaten, Dey menyuapi istrinya dengan perasaan bahagia. Begitu juga dengan Vey, dirinya ikut menyuapi suaminya. Hingga tidak terasa keduanya sudah menghabiskan masing masing satu piring.


Setelah selesai makan siang, Dey segera bersiap siap untuk menjemput adik perempuan nya yang sudah lama tinggal di kediaman Tuan Zayen.


"Sayang, kamu yakin tidak mau ikut?" tanya Dey untuk memastikannya.


"Aku di rumah saja, sayang."


"Hem, jika aku yang menjemputnya, Vellyn tidak bakalan mau. Vellyn cukup keras kepala denganku, jadi lebih baik kita berdua yang langsung jemput Vellyn. Aku yakin jika Vellyn akan tambah semangat jika kamu yang menjemputnya." Kata Dey mengingatkan istrinya.


"Tapi aku malu, sayang. Kalau sampai Vellyn menolak untuk di ajak pulang, bagaimana?"


"Percaya lah denganku, Vellyn tidak akan menolaknya. Justru dengan senang hati dia akan ikut pulang bersama kita." Ucap Dey untuk meyakinkan istrinya, Vey pun tersenyum mengembang.


"Yah ... jangan gitu dong sayang, nanti aku tidurnya sama siapa? apa iya harus dengan bantal guling? hem."


"Biarin aja, itu hukuman untuk kamu." Ucap Vey sambil berjalan menuju tangga.


"Kalau Vellyn berhasil diajak pulang, nanti malam lima ronde, ok." Kata Dey sambil mengejar langkah istrinya, disaat itu juga Vey langsung membalikkan badannya dan menghadap ke arah suaminya.


"Kamu pikir aku ini robot, yang tidak mengenal lelah." Sahut Vey sambil berkacak pinggang, Dey pun tertawa kecil mendengarnya sambil berjalan mendekati istrinya.


Tanpa pikir panjang, Dey langsung menggendong istrinya menuju kamarnya.


"Sayang, lepasin dong. Perjanjian kita belum dimulai, ayo turunkan aku." Pinta Vey sambil berusaha untuk melepas diri dari gendongan suaminya.

__ADS_1


"Aku cicil satu ronde dulu ya, sayang." Goda Dey sambil menatap Vey dengan penuh godaan.


Sampai didalam kamar, dengan pelan Dey menurunkan istrinya.


"Buruan bersiap siap, takutnya Vellyn segera kabur dari rumah. Itu anak kan sukanya jalan jalan, apa lagi sudah ada Kak Zicko, manjanya mulai tidak terkontrol." Pinta suaminya, Vey pun mengangguk dan segera bersiap siap. Begitu juga dengan Dey yang ikut bersiap siap untuk menjemput adik perempuan nya.


Setelah tidak ada yang kurang, Dey dan istri segera berangkat ke tempat tujuannya. Didalam perjalanan, keduanya tidak pernah lepas saling bercerita maupun bertukar pendapat.


Tidak memakan waktu lama, akhirnya Dey dan Vey telah sampai di halaman rumah milik Paman nya.


"Sayang, kita sudah sampai." Kata Dey mengagetkan istrinya yang tengah melamun.


"Ah iya, aku sampai lupa." Jawab Vey yang tersadar dari lamunannya.


"Hem, makanya tadi dicicil dulu satu ronde. Jadi, tidak kebanyakan melamun."


"Hem," Vey hanya berdehem.


"Ah sudah lah, ayo kita turun." Ajak Dey sambil melepaskan sabuk pengamannya.


"Kak Vey!!" teriak Vellyn sambil berlari dan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk kakak iparnya.


Dengan senang hati, Vey langsung merentangkan kedua tangannya. Keduanya pun berpelukan layaknya kakak beradik yang sudah sekian lamanya tidak pernah bertemu.


"Tumben, kak Dey ngajak Kak Vey datang ke rumah Paman. Biasanya kalau ada acara doang, hem."


"Kamu apa kabarnya, Vellyn?" sapa Vey pada adik iparnya.


"Ah iya, Vellyn sampai lupa untuk menyapa kabar Kak Vey. Kabar Vellyn sangat baik, Kak. Kalau Kak Vey sendiri, bagaimana kabarnya?"

__ADS_1


"Kabar Kak Vey sama sepertimu, sangat baik." Jawab Vey dengan senyum yang ramah.


__ADS_2