
Karena merasa sudah cukup beristirahat, Zicko terbangun dari tidurnya. Dengan reflek, Zicko bangun dari posisi tidurnya. Kemudian ia mencoba mengumpulkan nyawanya, agar tidak terasa pusing bagian kepalanya.
"Sudah bangun kamu, Bro. Kirain mau labas menginap, gitu." Ucap Joni sambil menyodorkan minuman kopi panasnya ke Zicko.
Zicko yang sudah hafal dengan kelakuan teman dekatnya itu, segera ia menukar minumannya. Joni hanya tertawa kecil melihat Zicko yang menukar minumannya.
"Aku kira kamu sedang amnesia, rupanya kamu begitu jeli padaku." Ucap Joni yang juga sudah paham tentang sahabatnya.
"Enak! saja kalau ngomong, hem. Begini begini aku tuh masih normal, gila aje lu. Bahkan, hal konyol yang lu lakukan pada gua aja masih gua ingat. Bisa bisa gula darah gua dapat aku sumbangkan sama lu. Eh! ngomong ngomong, mulai besok kamu akan menjadi sekretarisku. Mulai sekarang, kamu tidak lagi tinggal di sini. Aku sudah menyiapkan tempat tinggal untukmu, jangan protes." Jawab Zicko dan memberi sebuah pekerjaan untuk sahabat dekatnya yang paling mengerti akan dirinya.
"Tapi Bro, rumahku ini siapa yang akan menempati? tidak ada orang sama sekali selain aku. Kamu tahu, 'kan? aku tidak lagi mempunyai siapa siapa lagi." Ucap Joni yang merasa keberatan untuk meninggalkan rumah yang menurutnya begitu banyak kenangan antara dirinya bersama kedua orang tuanya.
"Kamu bisa meminta orang lain yang membutuhkan tempat untuk tinggal di rumah kamu, bagaimana menurutmu? tidak merugikan, 'kan? percaya denganku deh." Ujar Zicko memberikan pendapat, sedangkan Joni yang mendengarnya hanya mengangguk pasrah.
"Ah! sudah lah, aku mau pulang. Aku takut, istriku sudah menungguku pulang begitu lama. Ingat, besok langsung berangkat." Ucap Zicko mengingatkan, kemudian ia segera merapihkan penampilannya.
Setelah berpamitan untuk pulang dan sudah tidak lagi ada sesuatu yang tertinggal di rumah Joni, Zicko segera pulang ke rumah.
Dalam perjalanan, Zicko fokus dengan ponselnya yang terlihat banyak panggilan yang tidak terjawab. Seketika, Zicko cemas memikirkan kesayangannya. Namun, tiba tiba Zicko mendapat sebuah pesan dari salah satu pelayan yang dijadikan sebuah laporan. Dengan seksama, Zicko membaca setiap kalimatnya dengan seksama.
Senyum mengembang pun terlihat begitu jelas pada sudut bibirnya, pak Yitno yang selalu setia menemani majikannya kemanapun pergi ikut tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Zicko yang juga tengah senyum senyum tidak jelas.
Dengan cepat, Zicko segera membalas pesan tersebut dan mematikan ponselnya. Kemudian, Zicko menatap luar hingga terbuai dengan lamunannya sendiri.
Sedangkan di rumah, Lunika tengah beristirahat setelah menyiapkan makan malamnya. Alih alih, Lunika memilih untuk duduk bersantai didalam kamar. Tepatnya, duduk disofa sambil menyibukkan dirinya dengan sebuah benda yang disebut laptop.
__ADS_1
Saat ingin menarik nafasnya panjang, tiba tiba Lunika terbangun dari posisinya karena mendengar ketukan pintu kamarnya. Dengan ragu, Lunika membukanya dengan terpaksa. Mau tidak mau, Lunika segera membuka pintu kamarnya.
"Mbak Yuyun ... kirain siapa, ada perlu apa Mbak?" tanya Lunika penasaran. Ditambah lagi ada beberapa orang yang berdiri dibelakang mbak Yuyun, semakin membuat Lunika semakin cemas.
"Ini, Nona. Ada kiriman dari tuan muda, dan Nona muda diminta untuk segera bersiap siap. Tapi sebelumnya, Nona muda diminta untuk melakukan perawatan." Jawabnya menjelaskan.
"Kenapa mesti pakai acara perawatan sih, Mbak? lagian juga dengan mandi saja sudah cukup kok, Mbak." Tanya Lunika teringat saat dirinya harus melakukan perawatan.
"Maaf Nona, ini sudah menjadi perintah Tuan muda. Saya tidak bisa menolaknya, karena ini bagian pekerjaan saya." Jawabnya beralasan.
"Ya sudah, terserah Mbaknya saja. Mari, masuk ke kamar." Ucap Lunika dengan pasrah, mau tidak mau Lunika sendiri tidak mampu menolaknya.
Saat sudah berada didalam kamar, Lunika mendapat perawatan yang sebelumnya tidak pernah sangkakan. Meski merasa risih sekalipun, Lunika tidak dapat menolaknya.
"Maaf Nona, kami sendiri juga tidak tahu. Karena ini hanya perintah tanpa diberitahu alasannya, Nona. Jadi, kami benar benar tidak tahu. Nanti Nona bisa tanyakan sendiri pada Tuan Muda, agar Nona sendiri tahu kejelasannya." Jawabnya menjelaskan, Lunika hanya mengangguk pasrah.
Setelah cukup lama melakukan perawatan, Lunika segera bangkit dari posisinya. Berkali kali mencoba menerkanya, Lunika masih saja belum bisa mengetahui apa maksud dari perawatannya.
"Nona, ini didalamnya ada pakaian yang harus Nona kenakan. Ada satu hal lagi, Tuan muda melarang Nona untuk keluar dari kamar sebelum Tuan muda pulang." Ucapnya memberi sebuah pesan untuk Lunika.
"Baik deh Mbak, kalau begitu terima kasih banyak ya, Mbak. Malam ini badan Lunika terasa lebih segar dan tidak lagi lesu dan pegal pegal." Jawab Lunika berterima kasih.
"Syukurlah, Nona. Kalau begitu, kami pamit untuk melanjutkan pekerjaan kami." Ucapnya berpamitan, setelah segera keluar dari kamar Nona mudanya.
Kini, didalam kamar hanya ada Lunika yang tengah sendirian. Lunika sendiri masih mengenakan handuknya.
__ADS_1
"Sebenarnya mau ada acara apaan sih? kenapa juga harus melakukan perawatan. Ada ada saja deh, bikin penasaran aja." Ucapnya menggerutu.
"Ini lagi, pakaian masih banyak juga. Kenapa mesti harus menghambur hamburkan uang segala sih, heran deh. Jadi penasaran, pakaian macam apa yang dibeli untukku. Tapi ... sepertinya kok ringan begini, ya. Mencurigakan." Ucapnya sambil mencoba membukanya.
Dengan detak jantungnya yang berdegup kencang, Lunika mencoba memeriksanya. Takut, bila baju yang ia kenakan tidak ia sukai.
Saat hendak melihatnya, tiba tiba suara pada ponselnya tengah mengagetkannya. Dengan sigap, Lunika langsung mentambarnya.
Dilihatnya nama kontak suaminya sendiri, cepat cepat segera menerima panggilannya.
"Sayang, bagaimana? apakah kamu sudah melakukan perawatan?" tanya sang suami dari seberang telfon.
"Iya, aku sudah melakukan perawatan. Memangnya kamu mau mengajakku kemana sih, sayang? kenapa juga harus melakukan perawatan segala." Jawab Lunika membuat Zicko tertawa kecil mendengarnya.
"Yah .... tertawa lagi, tidak lucu! tau. Jangan jangan kamu mau mengerjai aku, ya."
"Iya, malam ini aku mau mengerjaimu habis habisan. Memangnya kamu belum melihat pakaian yang aku belikan? hem."
"Belum, baru saja mau lihat, kamu udah menelfonku duluan. Awas, ya! kalau isinya Bom. Aku tidak akan memaafkan kamu, titik." Ucap Lunika sedikit ketus, Zicko yang mendengarnya terasa lucu ketika mendengar istrinya berbicara dengan ketus.
"Tebakan kamu benar, isinya Bom. Ingat, Bom nya akan meledak setelah aku sudah sampai rumah. Sudah lah, sekarang lebih baik bersiap siap. Aku pun mau bersiap siap untuk pulang, sudah tidak sabar ingin memelukmu." Ucap Zicko, kemudian ia mematikan panggilan telfonnya dan sebelumnya memberi sebuah ci*uman dari kejauhan.
Sedangkan Lunika sendiri, segera ia meletakkan kembali ponselnya. Kemudian ia kembali bercermin sambil menatap wajah kesalnya.
"Bikin penasaran aja, deh. Aku buka aja sekarang, dari pada penasaran. Lagian juga disuruh memakainya, semoga saja pakaiannya tidak seperti yang aku bayangkan." Ucapnya didepan cermin.
__ADS_1