
Setelah mendapatkan alamat dari bang Martha, tuan Zayen, tuan Guntara, tuan Seyn, kakek Ganan dan kakek Dana kini tengah menuju kesuatu tempat yang akan dituju.
Dengan perasaan cemas dan was was, tuan Guntara tidak henti hentinya berdoa dan berharap semua akan baik baik saja tanpa ada pertumpahan darah.
Perjalan cukup memakan waktu yang lama, bahkan harus melewati jalanan yang sangat curam. Bahkan, akses jalan yang ditempuh cukup menguras emosi. Dikarenakan jalanan yang lumayan cukup parah.
"Bagaimana ini, tuan Zayen? apa kita bisa selamat? lihat lah kita ini. Bahkan, kita tanpa membawa senjata apapun untuk jaga diri." Tanya tuan Guntara dengan perasaan yang sangat cemas.
"Tenang saja, paman. Semua akan baik baik saja, beberpa anak buah sudah lebih dahulu untuk sampai ke lokasi. Semua akan bergerak cepat, ketika kita sampai. Lebih baik kita fokus untuk menangkapnya, itu yang lebih penting." Sahut Seyn sambil menjelaskan.
Karena tidak ingin terjadi apa apa, tuan Seyn segera membuka sesuatu yang didalamnya ada beberapa pistol.
"Paman, peganglah pistol ini. Ingat, ini hanya untuk darurat." Panggil Seyn dan memberikannya sebuah pistol dan serta mengingatkan untuk tidak salah menggunakan senjata tersebut.
"Kenapa kamu bisa membawa senjata macam ini, Seyn?" tanya tuan Guntara semakin tidak mengerti.
"Ini hanya untuk jaga jaga, jangan khawatir, aku sudah konfirmasi dengan pihak kepolisian."
"Apa? memangnya kamu tidak takut, jika kamu dikasuskan."
"Aku mantan tahanan, dan aku sudah siap jika aku harus dibui. Tapi semua ini sudah aku bicarakan baik baik dengan kepolisian sebelum aku membawa senjata ini. Jika sampai aku melayangkan nyawa satu saja, maka tahanan yang akan menjadi tempat tinggal ku setelah ini."
"Tidak, aku tidak akan memakai senjata ini. Jika aku melayangkan senjata ini, maka kamu yang akan terseret masuk ke jeruji besi." Ucap tuan Guntara yang merasa takut.
"Jangan takut, semua akan baik baik saja." Sahut kakek Dana meyakinkan tuan Guntara.
"Baik lah, aku percaya dengan mu Kak." Jawab tuan Guntara berusaha untuk meyakinkan diri sendiri.
Setelah melewati jalanan yang cukup terjal, mobil yang dinaikinya telah sampai berada didepan rumah yang di mana bang Martha sudah memberikan alamatnya.
"Tempat ini, tempat sarangnya para penjahat terk*utuk." Ucap tuan Seyn yang lebih dulu merasa geram.
__ADS_1
"Jangan turun, sepertinya tuan rumah sudah mengetahui kedatangan kita. Aku yakin jika si pemilik rumah ini sudah mengintai kita dari rekamannya itu. Lihat lah, kita akan memulainya." Ucap tuan Zayen yang sudah bisa menangkap taktiknya.
"Paman, apakah paman Guntara sudah siap untuk menemui mereka?" tanya tuan Seyn.
"Aku siap, karena aku sudah sangat penasaran pada pelakunya." Jawab tuan Guntara.
Sedangkan kakek Ganan tetap bersikap santai, berbeda dengan kakek Dana yang begitu mencemaskannya.
'Dari dulu, tuan Ganan selalu santai setiap menghadapi masalah. Sungguh, aku sangat kagum dengan caranya tanpa gegabah. Bahkan rasa takut, cemas, dan gelisah pun tidak terlihat pada dirinya.' Batin kakek Dana menatap takjub ketika menilai sosok kakek Ganan dengan sejuta caranya yang begitu lihai dan santai untuk menghadapinya.
Kakek Dana dapat menyimpulkannya, dikarenakan kebusukannya dimasa lalunya dapat diketahui oleh kakek Ganan sendiri. Warisan kecerdikannya tidak jauh beda dengan sang ayah, yaitu kakek buyut Angga.
"Tunggu! Ada perlu apa kalian mendatangi markas kami, hah!" suara bentakan begitu nyaring untuk didengar.
"Pertemukanku dengan Tuanmu, cepat!" jawab tuan Seyn yang juga tidak kalah dengan nada yang keras.
"Masuk lah!"
Dengan santai dan begitu tenang, kakek Dana tetap bersikap biasa biasa saja seperti halnya akan menghadiri sebuah rapat di Kantornya.
PROK PROK PROK PROK!!!
Sebuah tepukan tangan tengah menerima kedatangan kakek Dana dengan keluarganya.
Sosok dua perempuan masih dengan kain penutupnya, hanya kacamata yang terlihat. Itupun tidak untuk seluruh wajahnya, bahkan cara berpakaiannya pun sangat sulit untuk ditebaknya.
"Tepat! tepat! sekali, kalian semua dengan mudahnya mengantarkan nyawa pada kami."
PROK PROK PROK PROK!! keduanya kembali bertepuk tangan.
Kakek Dana, tuan Seyn, dan yang lainnya ikut geram mendengarnya. Rasa ingin segera menekan sebuah pelatuk dan menghempaskan peluru tertuju pada sosok yang sangat menji*jikkan itu, pikir tuan Seyn dan yang lainnya.
__ADS_1
Karena tidak ingin berlama lama, tuan Seyn yang sudah menaruh curiga pada sosok dua perempuan tersebut, ia lebih memilih untuk maju paling depan diantara yang lainnya.
"Kalau berani, tunjukkan! dirimu pada kami. Jangan menjadi pecundang di balik topeng kalian." Ucap tuan Seyn dengan nada geramnya.
"Cu*ih!" meludah begitu sangat jelas.
Dengan terang terangan, kedua sosok perempuan yang ada dihadapan Seyn langsung menunjukkan jati dirinya.
Seketika, semua terbelalak tidak percaya. Apa lagi tuan Guntara dan kakek Dana, sungguh tidak pernah menyangkanya.
"Reina ... Merry ...!!" ucap semuanya dengan mengepalkan kedua tangannya erat. Sungguh, semua tidak ada yang pernah menyangka jika dua sosok perempuan yang ada dihadapannya adalah wanita yang begitu menjijikkan, pikir kakek Dana, tuan Seyn, dan tuan Guntara. Sedangkan kakek Ganan dan tuan Zayen pun benar benar tidak habis pikir dengan dua perempuan yang tidak jauh dari hadapannya begitu dalam menyimpan kebenciannya.
"Puas! kalian sekarang, hah! lihatlah, begitu berantakannya nasib kamu kakek ko*lot ..." ucap Reina dan diakhiri tawanya yang lepas menatap kakek Dana.
"Kepa .... rat! kalian berdua." Sahut kakek Dana dengan sorot matanya yang tajam.
"Dan! kamu Guntara, bo*dohnya kamu sangat disayangkan. Masuk juga dalam perangkapku, yang tidak lain kamu telah menikahi seorang perempuan ja*lang yang berkedok perempuan penyelamat. Elima, yang diam diam sudah mengandung anak laki laki lain. Yang tidak lain adalah anak dari Martha." Ucap Merry dengan tawanya yang lepas.
Sorot mata tuan Guntara semakin tajam, rahangnya semakin mengeras bahkan pada giginya terdengar menggelutuk keras. Kedua tangannya mengepal kuat, seraya ingin melayangkan tinjuannya. Bahkan, ingin rasanya menekan pelatuk serta menghempaskan pelurunya. Namun, sebisa mungkin untuk menahannya.
Dengan rasa ketidaksabarannya, tuan Guntara mendekatinya. Lalu, segera ia mencengkramnya.
Saat mencengkram Merry, disaat itu juga Merry dengan tenaganya yang kuat. Tanpa pikir panjang, Merry langsung melintirkan tangan milik tuan Guntara dan menjatuhkan tubuhnya dan menekannya semakin kuat. Kemudian, Merry melakukan aksinya dengan cara menempelkan bibir pistol tepat di dagu milik tuan Guntara.
"Diam! kalian semua! atau ... peluru ini akan masuk dan tembus ke ubun ubunnya." Ancam Merry, semua tidak pernah menyangkanya jika Merry telah banyak perebahan. Bahkan tenaganya semakin kuat, dan sangat jago.
Oh iya, waktu itu pernah ada yang tanya soal kisah keseruan Reynan dan Zakka. Kini, kisah mereka sudah update lagi ya... monggo yang mau intip lagi. Ettt tapi judulnya sudah ganti ya, kini judulnya berubah menjadi "Zahra istri pilihanku" Ada adik yang super nyebelin dan biang kerok, ada juga sang kakak yang super dingin.
Kalau penasaran, monggo ...
Semangat membaca ...
__ADS_1