Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Penjelasan


__ADS_3

Dey masih menatap istrinya dengan lekat tanpa bersuara, kemudian pandangannya kembali tertuju pada sebuah kalung liontin yang ada ditangannya.


"Aku berikan liontin ini untuk kamu, terimalah dan pakailah." Ucap Dey sambil membuka kancingnya dan mengenakannya pada Vey, sedangkan Vey sendiri hanya diam ketika sang suami memasangkan sebuah kalung liontin pasa istrinya.


Setelah itu, ditatapnya sang istri yang begitu cantik ketika memakainya. Dey tersenyum tipis, Vey sendiri masih bingung dibuatnya.


"Kenapa kamu memakaikannya padaku?bukankah kamu akan memberikannya pada seseorang yang menemukan liontin ini?"


Dey semakin mendekatkan pada istrinya, hingga jarak pada keduanya sangatlah dekat.


"Untuk apa memberikannya pada perempuan yang sudah bahagia bersama pilihannya, kenapa tidak dengan seseorang yang sudah menyimpan dan menjaganya hingga sekarang ini. Ngapain juga aku harus menambah masalah pada hidupku, sedangkan yang pasti saja sudah ada dihadapanku." Jawab Dey dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


Vey sendiri semakin gugup dibuatnya, bahkan ia bingung harus berkata apa atas ucapan dari suaminya itu.


"Maksud kamu? aku masih tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan barusan." Tanya Vey untuk memperjelas dengan apa yang sudah diucapkan oleh suaminya.


'Ini perempuan kenapa masih tidak mengerti juga dengan yang aku bicarakan, apa iya aku harus membekamnya dengan sebuah ciuman?hem.


"Aku menginginkanmu untuk menjadi istriku yang sesungguhnya. Aku serius dengan ucapanku, jika kamu ragu dengan ucapanku, kamu bisa melepasnya. Didalamnya ada sebuah cincin, jika kamu mau menerimanya aku akan memakaikannya lagi untuk kamu."


DUAR!!!


Seketika, Vey tecengang mendengar penuturan dari suaminya. Ia seperti bermimpi ketika suami berucap yang tidak pernah hadir didalam benak pikirannya.


"Jangan berpikiran yang aneh aneh, ini kalung pemberian dari Kakekku sebelum pergi untuk selama lamanya. Namun naas, aku membawa kalungnya disebuah pertandingan seni beladiri. Itupun karena Vellyn yang memaksaku untuk ikut melihat pertandingan itu, padahal aku sudah menolaknya. Dan benar saja, aku kehilangan sebuah liontin. Rencana aku akan memberikannya pada perempuan yang aku sukai, tapi rupanya aku tidak mempunyai kekasih."

__ADS_1


Vey masih terdiam, ia mencoba mencernanya sedikit demi sedikit. Berharap, apa yang diucapkan suaminya benar adanya tanpa ada kebohongan.


"Kenapa kamu masih diam? apakah masih ada yang mengganjal dipikiran kamu? katakan saja, aku akan mengoreksinya."


"Aku tidak tahu harus berkata apa, kamu berbicara namun seperti orang bercerita. Aku bingung untuk meresponnya, ucapan kamu itu benar dari hati atau ... hanya sebuah bercerita."


Dey kembali menatap lekat pada istrinya, sebuah bibir miliknya dengan pelan mendarat tepat dibibir ranum milik Vey dan menciumnya dengan lembut. Vey sendiri tidak melakukan penolakan, justru ia ikut membalasnya. Kemudian Dey mendekat pada daun telinga istrinya untuk membisikkan sesuatu.


Sambil mencium aroma parfum milik istrinya, Dey meraih tangan kanan milik istrinya dan menuntunnya didada bidang miliknya.


"Aku menginginkanmu untuk singgah dan menetap didalam sini, selamanya. Temani hidupku, jatuh maupun berjaya." Bisik Dey didekat indra pendengaran istrinya. Seketika, lagi lagi Vey kembali tercengang mendengarnya. Detak jantungnya kini bergemuruh tidak karuan, ditambah lagi nafas suaminya terasa hangat untuk dirasakannya.


Begitu juga dengan Dey, ia semakin terbawa suasana ketika istrinya tanpa memberontak sedikitpun.


Dipandanginya kembali wajah istrinya dengan lekat, Dey menatapnya dengan senyum yang menggoda. Vey yang menatapnya pun tidak dapat untuk berkutik, ia sendiri terhipnotis dengan sikap suaminya yang jauh dari bayangannya.


"Lupakan, anggap saja aku sedang belajar merayu perempuan yang aku sukai. Ayo, kita pulang. Kamu tidak perlu menjawabnya jika kamu ragu, aku hanya akan mendengarkan yang pasti untukku." Ucap Dey, kemudian melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang. Vey masih tidak bergeming sedikitpun, ia mencoba untuk berpikir yang positif, Vey tidak ingin masuk dalam hubungan kepalsuan. Sebisa mungkin ia berjaga diri agar dapat terlepas dari sebuah kebohongan, meski itu terlihat nyata sekalipun. Dey sendiri tetap berpikir positif, apapun itu responnya dari sang istri.


"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ajak Dey sambil melepas sabuk pengamannya. Begitu juga dengan Vey, namun ia tetap tidak mejawabnya. Vey lebih memilih untuk mengikuti suaminya dari belakang, bahkan tidak terlihat semesra ketika berjalan di Kantor.


Hening, Dey sengaja tetap berdiri didepan pintu. Kemudian ia memutar badannya dan menatap istrinya kembali.


"Kamu sakit gigi?" tanya Dey dengan posisi kedua tangannya berada dalam saku celananya, Vey sendiri menggelengkan kepalanya tanpa berucap.


"Lantas, kenapa kamu dari tadi diam tanpa berucap? hah."

__ADS_1


"Tidak ada apa apa, aku capek dan ingin istirahat." Jawabnya beralasan.


Dey yang terasa dongkol dengan sikap Vey, ia langsung membuka pintunya dan segera masuk kedalam kamar. Dey melemparkan semua pakaiannya ke sofa hingga celana kolornya yang tersisa, kemudian ia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dey tidak perduli pada istrinya, ia sengaja untuk memancing sejauh mana Vey akan menjawab pertanyaannya yang ia berikan didalam mobil.


Vey yang merasa risih melihat suaminya bertelanjang dada dan hanya mengenakan kolor, Vey memilih untuk beristirahat di sofa. Dey meliriknya sekilas, dilihatnya sang istri tengah beristirahat disofa.


Tanpa pikir panjang, Dey bangkit dari posisi tidurnya dan mendekati Vey yang sedang memejamkan kedua matanya. Seketika, Vey terperanjat dari posisinya.


"Mau ngapain, aku mau istirahat. Sudah sana kamu istirahat, aku capek."


"Sejak kapan kamu memilih tidur disofa? biasanya juga kamu mengusirku, hem. Apakah karena pertanyaanku tadi, atau ... karena sebuah liontin?"


"Bukan itu alasannya, aku hanya ingin membiarkan kamu istirahat tanpa aku harus mengganggumu."


"Bohong, bukan itu alasan kamu." Ucap Dey dan mendekati istrinya semakin dekat, bahkan keduanya tidak ada lagi jarak. Vey semakin gugup dibuatnya.


"Katakan padaku sekarang juga, apa yang ingin kamu inginkan? katakan saja sejujurnya. Karena aku tidak ingin membuat beban dalam hidupmu, aku ingin menjalani hubungan yang normal dan sebagaimana mestinya. Jadi, katakan saja apa pilihanmu, sebelum kita lebih jauh menjalani ini semua." Tanya Dey dengan serius, Vey sendiri masih bingung dibuatnya.


"Em ... aku takut, jika suatu saat nanti aku hanya mendapatkan kebohongan darimu." Jawabnya sambil menunduk.


Disaat itu juga, Dey memeluk istrinya dengan erat. Vey sendiri tidak melakukan penolakan dan membiarkan suaminya tetap memeluknya.


"Kenapa kamu harus takut? bukankah kamu sering menghadapi lawanmu saat bertanding? lalu kenapa kamu tidak mampu untuk menjalani pilihan kamu? tunjukan padaku, jika kamu mampu. Aku bukan lelaki pecundang seperti yang kamu pikirkan, dan pecundang itu bukan typeku. Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan, kamu takut jika sebenarnya aku menyukai Lunika, bukan?"


Vey hanya mengangguk, karena ia sendiri mengakuinya. Ditambah lagi Lunika tengah diperebutkan oleh kakaknya sendiri, membuat Vey semakin yakin bahwa suaminya pun mungkin saja menaruh hati, pikirnya.

__ADS_1


Dey melepaskan pelukannya, kemudian ia menatap istrinya dan tersenyum.


"Itu tidak mungkin terjadi padaku, untuk apa aku harus menyukainya. Sedangkan dia belum tentu meresponku, sia sia akunya yang memilih dia yang sudah menjadi milik orang lain. Sedangkan yang nyata dan benar benar sah milikku, kenapa aku harus mengabaikannya. Akunya yang rugi dong, tinggal merayumu saja kenapa mesti harus melepaskan." Ucap Dey berterus terang, kemudian mengecup lembut kening istrinya dan memeluknya kembali.


__ADS_2