Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Penjelasan


__ADS_3

Ketika sudah berada di ruangan kerja sang ayah, Zicko duduk dengan tenang.


"Zick," panggil sang ayah.


"Iya Pa, ada perlu apa Papa memanggil Zicko kemari?" tanya Zicko dan menatap sang ayah dengan serius.


"Untuk beberapa waktu, entah kapan. Papa dan Mama harus segera berangkat ke Luar Negri, ada pekerjaan yang harus Papa selesaikan. Papa tidak mungkin menyuruhmu, sedangkan kamu baru saja menikah. Papa hanya bisa berpesan, bekerjalah dengan tanggung jawab. Papa serahkan semua tugas Papa ke kamu, jika kamu kesulitan, kamu bisa meminta tolong dengan sekretaris kamu yaitu Arnal." Jawab sang ayah memberi pesan.


"Iya Pa, Zicko berjanji untuk menjadi orang yang bertanggung jawab. Tapi, bukannya Arnal mau menikah? pasti libur ada satu minggu 'kan, Pa?"


"Papa hanya kasih dia libur tiga hari, sedangkan besok kamu sudah harus berangkat. Karena besok, Arnal sudah libur."


"Terus, Papa kapan berangkatnya?" tanya Zicko.


"Besok, paman kamu sudah menelfon Papa untuk secepatnya berangkat. Karena kakek maupun omma kamu dan tante kamu serta sepupu kamu sendiri ingin secepatnya pulang ke tanah air. Tidak hanya itu, kakek Dana mau ikut pulang bersama Papa." Jawab sang ayah.


"Kenapa kakek Dana tidak meminta dijemput opeh tuan Guntara? bukankah tuan Gantara adalah adik kakek Dana?"


"Hem, terlalu sempit jalan pikiran kamu. Papa ada satu pesan lagi untuk kamu, yaitu tentang istrimu. Jaga istrimu dengan baik, jangan buat istrimu tidak nyaman berada didekatmu. Mungkin setelah Papa pulang, Papa dan Mama akan menemui orang tua istrimu. Sekarang, kamu boleh istirahat. Pergilah, karena Papa mau istirahat. Karena besok siang Papa harus berangkat." Jawab sang ayah, Zicko hanya mengangguk dan keluar dari ruang kerja ayahnya.


Setelah mendapatkan banyak pesan dari sang ayah, Zicko memilih untuk kembali ke kamarnya. Namun, tiba tiba ia mengurungkan niatnya.


'Ke kamar, ke ruang kerja, ke kamar, ke ruang kerja.' Batin Zicko sambil memilah memilih tempat yang mau ditempat. Selain ingin istirahat, Zicko ingin menenangkan pikirannya.


"Kamu kenapa, Zicko?" tanya sang ibu mengagetkan.


"Eh, Mama. Tidak ada apa apa kok, Ma. Zicko mau istirahat, capek." Jawab Zicko beralasan.


"Memangnya capek kenapa?" sindir sang ibu.

__ADS_1


"Tidak sih, Ma. Memangnya ada apa sih, Ma? seperti detektif saja."


"Tidak, ya sudah kalau mau istirahat. Oh iya, malam ini Mama dan Papa mau ada perlu ke rumah paman Ganan. Jadi, ajak istrimu untuk makan malam di luar. Kamu bisa ajak istri kamu ke Restoran kakek Tirta, sekalian ajak jalan jalan biar tidak bosan berada dirumah." Ucap sang ibu.


"Hem, iya Ma." Jawab Zicko hanya bisa mengangguk dan nurut.


"Ya sudah kalau begitu, Mama mau istirahat." Ucap sang ibu, lalu berjalan menuju kamarnya.


Sedangkan Zicko mulai menapaki anak tangga menuju kamarnya. Pelan pelan Zicko membuka pintu kamarnya, ia tidak ingin mengagetkan sama istri yang mungkin saja sudah istirahat.


Dan perkiraannya jauh dari bayangannya, Lunika kembali sibuk dengan benda yang bisa dijadikan peluang untuk belajar.


Alih alih Lunika segera mematikan laptopnya tatkala melihat sang suami sudah berada di kamar.


"Kenapa laptopnya dimatikan? aku tidak melarangmu, aku mau istirahat. Kalau kamu tidak nyaman dengan adanya keberadaanku di kamar ini, kamu bisa pindah ke ruang kerjaku." Ucap Zicko, kemudian ia menjatuhkan badannya diatas tempat tidur. Lalu merentangkan kedua tangannya dan memejamkan kedua matanya hingga benar benar tertidur.


'Kapan lagi aku ada waktu untuk masuk ke ruang kerjanya, kalau bukan sekarang. Aku jadi penasaran, biasanya ada sesuatu yang beda. Foto pacarnya, atau ... mantannya, atau ... siapalah." Batin Lunika yang menyimpan rasa penasarannya pada sosok suaminya sendiri.


Dengan senyumnya yang mengembang, Lunika segera bergegas menuju ruang kerja suaminya. Dengan pelan, Lunika membuka pintunya. Dilihatnya disetiap sudut ruangan tersebut, sepasang mata milik Lunika memperhatikannya begitu sangat jelas.


Seketika, pandangannya tertuju pada sebuah bingkai berukuran sederhana terletak di meja kerjanya. Sebuah foto pengantin yang terlihat begitu serasi dengan senyuman manis nya.


"Foto pernikahan? kenapa sudah terpajang di ruang kerjanya? apakah ini termasuk dramanya didepan kedua orang tuanya?" Ucapnya lirih, kemudian Lunika memilih untuk duduk disofa. Saat melangkah menuju sofa, langkah kakinya tiba tiba terhenti.


Lunika serasa menginjakkan sesuatu, dan mencoba untuk mengeceknya. Karena rasa penasaran, Lunika berjongkok dan mencoba mengambilnya.


"Foto, foto siapa ini? sepertinya aku tidak asing dengan foto ini. Aden? yang benar saja, kenapa bisa ada fotonya Aden? apakah mereka berdua bersaudara? atau ... teman akrabnya." Ucapnya lirih dengan rasa penasarannya.


Saat penasaran dengan sosok Aden, tiba tiba ada sebuah foto perempuan cantik bersama suaminya. Foto yang terlihat memiliki hubungan lebih dari sekedar teman.

__ADS_1


'Foto siapa ini? apakah kekasihnya? kelihatannya cantik dan juga dari keluarga berada. Apakah hubungan mereka tidak mendapat restu? atau ... ada sebab lainnya?' Batinnya semakin penasaran.


"Sedang ngapain kamu?" suara yang tiba tiba mengagetkan Lunika yang tengah memegangi beberapa lembar foto ditangannya.


"Berikan kepadaku yang ada ditanganmu itu, cepat."


Dengan sedikit rasa takut, Lunika terpaksa memberikannya pada sang suami.


"Maaf, aku tidak sengaja menemukannya di lantai. Aku tidak bohong, serius." Ucap Lunika berusaha untuk meyakinkan suaminya dan memberikan beberapa foto yang ia temukan dilantai.


"Aku hanya minta yang ada ditanganmu itu, dan aku tidak menuduhmu yang mencurinya." Jawab Zicko dan menerima beberapa lembar foto yang ditemukan sang istri.


Setelah itu, Zicko memeriksanya satu persatu. Dilihatnya foto dirinya bersama teman temannya ketika masih kuliah, dan terakhir dengan foto mantan kekasihnya. Kemudian, Zicko menatap istrinya setelah melihat foto yang terakhir.


"Kamu penasaran dengan foto ini?" tanya Zicko menunjukkan foto Aden saat berada di luar negri bersamanya. Lunika mengangguk, karena memang kenyataannya jika dirinya sangat penasaran dengan sosok Aden.


"Dia Aden, saudara sekaligus teman waktu kuliah di luar negri. Kamu mengenalnya 'kan? aku sudah mengetahuinya sebelum kamu mengetahuinya." Ucap Zicko sambil menjelaskan pada istrinya. Seketika, Lunika kaget mendengar penuturannya.


"Aku sudah mengetahui semua tentangmu, termasuk Arnal mantan kekasihmu itu." Ucapnya dengan tatapan seriusnya, lagi lagi Lunika shock mendengarnya.


"Kamu mengetahuinya? apakah kamu juga temannya?" tanya Lunika dengan antusias.


"Arnal adalah sekretaris ku, dia bekerja denganku." Jawabnya, Lunika kembali tercengang mendengarnya. Apa yang didengarnya seperti tidak percaya.


"Apakah kamu juga penasaran dengan foto perempuan ini?" tanya Zicko yang mengerti akan rasa penasaran pada istrinya sendiri, Lunika hanya mengangguk. Karena memang kenyatannya jika dirinya merasa penasaran dengan foto perempuan cantik bersama sang suami.


"Perempuan ini, perempuan yang sudah pernah menemaniku selama aku kuliah di luar negri. Namanya Seril, yang sekarang ini sudah menjadi seorang model yang namanya mulai terkenal. Tidak hanya itu, perempuan ini juga pernah mengisi hari hariku dan juga menempati ruang hatiku. Itu dulu, bukan sekarang. Yang jelas setatusku dengannya, sudah tidak ada lagi kesempatan untuk diperbaiki lagi. Apakah penjelasanku ini sudah bisa kamu pahami?"


"Itu privasi kamu, apapun yang sudah aku pahami tidak perlu aku memberitahumu." Jawab Lunika berusaha untuk tenang, meski ingatannya kembali teringat dengan sosok mantannya yaitu Arnal.

__ADS_1


__ADS_2