
Setelah mendapat penjelasan dari sang istri, Dey menunduk tidak percaya. Sedangkan Vey sendiri memilih untuk menyangga dagunya dengan satu tangannya.
'Pantas saja aku pernah melihat istri kak Zicko. Rupanya dia adalah peserta pertandingan seni bela diri itu, disaat itu juga liontinku terjatuh gegara Vellyn menarikku dengan paksa. Sayangnya perempuan yang membuatku penasaran bukan karena liontin, ternyata kini sudah menjadi istri kakakku sendiri. Sekilas wajah ayunya terbalut dengan ketangguhannya saat menghadapi lawannya yang sudah membuatku penasaran, kini terjawab sudah.' Batin Dey mengingat masa lalunya ketika sang adik merengek untuk menyaksikan pertandingan yang menjadi hobinya.
"Kenapa melamun? menyesal, ya. Karena Kak Lunika sudah menjadi istri kak Zicko, kasihan sekali." Tanya Vey sedikit meledek, Dey hanya menoleh kearah Vey tanpa berucap sepatah katapun padanya.
Entah ada kegelisahan yang seperti apa pada di Dey, hingga dirinya memilih untuk beranjak pergi dari posisi duduknya tanpa berbicara apapun pada istrinya. Kemudian Dey memilih untuk kembali ke kursi kerjanya. Begitu juga dengan Vey, karena merasa dicuekin dan tidak lagi ada pertanyaan dari suaminya ia langsung kembali ke tempat kerjanya dan menyibukkan diri dengan layar pintarnya.
Alih alih Vey memperhatikan sang suami yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Karena semakin tidak karuan yang ada dalam pikirannya, Dey memijat pelipisnya dengan pelan. Berharap dirinya untuk selalu bersikap tenang, dan juga tidak mudah untuk mengikuti emosinya yang kapan saja muncul begitu saja.
Tidak terasa, waktu yang cukup lama telah dilewati Vey maupun Dey hingga jam istirahat pun terlewatkan dan tibalah waktu jam kerja yang sudah habis.
Rasa kantuk yang tiba tiba menyerang, Vey mencoba berusaha untuk menepis rasa kantuknya itu yang sudah menguasai kesadarannya.
"Mau pulang atau menginap?"
CTAK!!
"Aw!! sakit, reseh bangat sih kamu." Pekik Vey dengan sungut, sedangkan Dey langsung menarik tangan milik Vey tanpa ampun.
"Lepasin, tanganku sakit! tau." Dey sendiri tidak peduli, ia terus berjalan sambil menggandeng tangan milik sang istri.
Vey yang tenaganya berkurang, ia tidak mampu untuk melawan suaminya. Dengan pasrah Vey akhirnya mulai berakting layaknya suami istri yang sangat lengket dan sulit untuk dipisahkan sampai didalam mobil.
Didalam perjalanan keduanya masih tetap hening, padahal sudah ada setengah jalan mereka melawati waktunya hanya dengan saling berdiam diri tanpa bertegur sapa satu sama lain.
Sikap angkuh dan keras kepala tengah menguasai daya pikir Vey dan juga Dey, keduanya sama sama sulit untuk mengendalikan emosinya masing masing.
__ADS_1
Karena ingin mengobrol lebih jauh lagi, akhirnya Dey menepikan mobilnya. Tepatnya di sebuah taman yang cukup luas dan juga nampak indah untuk dipandang.
"Kenapa berhenti?" tanya Vey sedikit gugup, ditambah lagi ketika menatap wajah Dey yang terlihat mempesona dan menggoda.
'Jantung, jantung, kondisikan pikiran waras kamu Vey. Ingat, suami kamu ini mesumnya datangnya sudah kek jin iprit.' Batin Vey mencoba untuk tetap tenang, agar dirinya tidak terlihat gugup dan juga tidak terlihat tegang serta memalukan.
"Aku hanya ingin bertanya saja sama kamu, tidak boleh?"
"Tanya saja, kalaupun aku bisa menjawab, aku pasti akan menjawabnya dengan jujur."
"Alasannya istri Zicko memberikan liontinnya pada kamu itu, apa?" tanya Dey yang masih penasaran.
"Em ... disaat itu Kak Lunika masih menjalin hubungannya dengan kak Arnal, sahabat kak Denra. Karena takut membuat masalah, liontinnya diberikannya padaku. Sebenarnya aku sudah menolaknya, tapi Kak Lunika tetap memaksanya."
"Oooh, terus ...."
"Kak Lunika type perempuan yang setia, bahkan tidak pernah menilai status kaya dan miskin. Kak Denra saja ditolaknya, meski sampai sekarang harus bertahan dengan rasa sakitnya tanpa adanya seorang perempuan yang disukainya." Ucap Vey menjelaskan.
"Aku sendiri tidak tahu, aku sudah berusaha mengingatkan dan memintanya untuk segera mencari penggantinya. Namun, jawaban kak Denra tetap bersikukuh untuk tetap setia tanpa memiliki."
"Seperti tidak ada perempuan lain saja, hingga harus menjadi gila tanpa disadarinya."
"Kok begitu? kejam sekali ucapan kamu itu, tajam."
"Bukan tajam, tapi kenyataan. Apa iya harus menyakiti diri sendiri, sedangkan perempuan yang disukainya tidak akan pernah dimilikinya. Begitukah rasanya jatuh cinta bukan pada tempatnya? bahkan sampai tidak tahu ada yang lebih baik dari orang yang disukainya."
"Itu pilihan Kak Denra, tempatku hanya mengingatkan serta menuntunnya. Soal pilihan itu hak pribadi masing masing seseorang, kita tidak diizinkan untuk menghakiminya. Apa yang tidak mungkin, jika pada akhirnya kak Denra akan menjadi suami kak Lunika. Jika ketentuan takdir sudah berkata, kita mau apa?"
__ADS_1
Dey yang kalah dengan penjelasannya dari sang istri, ia memilih untuk diam sejenak. Dey mencoba untuk mengatur pernapasannya, kemudian kembali menatap istrinya dengan lekat.
"Bolehkah aku bertanya lagi?"
"Silahkan, aku akan menjawabnya."
"Kenapa kamu tidak jual saja liontinnya? kenapa juga kamu menyimpannya? atau ... kamu bisa kasihkan kepada orang lain seperti yang dilakukan istri kak Zicko, hem." Tanyanya tanpa ekspresi apa pun.
"What! jual? berikan pada orang lain? aku tidak menyukai sesuatu yang hilang. Meski bukan milikku sekalipun, setidaknya aku bertanggung jawab untuk tidak menghilangkannya. Karena sesuatu yang hilang pasti akan kembali, meski itu tidak akan aku miliki lagi." Jawabnya dengan puitis, entah jawaban dari mana, Vey begitu mahir dalam mencari kata kata untuk membalas pertanyaan dari suaminya.
"Yang serius? biasanya juga banyak alasan, bisa jadi ini samua hanya alasan kamu untuk menjawabnya."
"Dih! kamu itu kenapa sih? aku jujur masih salah, apa lagi bohong. Yang ada aku akan dikutuk menjadi batu, dih."
"Terus ... apa kamu masih menginginkan liontin ini? ayo jawab."
Seketika, Vey membelalakan kedua bola matanya. Tercengang bukan karena meleleh hatinya, tetapi bingung harus menjawab dengan kata kata seperti apa. Ditambah lagi keduanya tidak ada pengakuan atas perasaan masing masing, hingga membuat Vey dan Dey sama sama bingung dibuatnya.
'Jika aku jawab iya, ini orang bakalan kebesaran kepala. Jika aku menolak, yang ada aku akan dijadikan seribu pertanyaan oleh ini orang.' Batin Vey yang dilema dengan sebuah pilihan dari suaminya. Disaat itu juga, Vey segera memutar otaknya untuk membuat jawaban yang tidak menjadikan jebakan pada dirinya sendiri.
"Kenapa diam? ayo cepetan dijawab."
"Em ... tunggu sebentar. Aku sedang berpikir, aku tidak ingin jawabanku tidak sesuai dengan yang ada didalam otakku."
"Cepetan, tidak perlu pakai lama."
"Iya ya ya, aku akan menjawabnya."
__ADS_1
"Sudah, ayo buruan." Desak sang suami yang tidak ada kssabaran sedikitpun.
"Untuk apa aku menerima liontin dari kamu, sedangkan kamu sendiri begitu acuh terhadapku. Lalu, apa untungnya aku membawa masalah dalam hidupku."