
Cukup lama keduanya tertidur, akhirnya terbangun juga dari tidurnya. Kini Lunika dan Zicko sama sama menatap satu sama lain, keduanya serasa baru mengenal. Namun, sikap dan perilakunya masih tetap tidak berubah.
"Suami kamu yang sekarang ini tambab ganteng, 'kan?" lagi lagi Zicko mengedipkan matanya. Lunika yang melihat keanehan pada suaminya langsung menutup wajahnya dengan bantal.
"Sayang, lepasin dong bantal nya. Harus berapa kali aku menyatakan jati diriku ini sama kamu, sayang? aku ini Zicko suami kamu." Kata Zicko berusaha untuk melepaskan bantal yang menjadi penutup wajah istrinya.
"Jangan, jangan kamu lepaskan. Aku masih belum terbiasa untuk berhadapan dengan muka yang sangat tidak aku kenali, kamu memang suamiku. Tapi ... aku masih sulit untuk mengenalmu, aku membutuhkan waktu untuk mengenalimu." Sahut Lunika masih dengan posisinya yang memegangi bantal.
"Terus aku harus bagaimana, sayang? oh iya, aku ada ide."
"Ide? ide apaan?" tanya Lunika langsung mengganti posisinya dan duduk sambil menatap suaminya dengan reflek.
Tanpa pikir panjang, Zicko langsung menahan tengkuk leher milik istrinya. Kemudian tanpa ampun Zicko langsung menc*ium bibir milik istrinya itu yang benar benar menggodanya.
"Emmpp lepaskan, aku masih belum bisa." Ucap Lunika yang pada akhirnya bisa mendorong tubuh suaminya hingga terpental jatuh ke lantai.
"Aw! bisa bisanya kamu lakukan ini padaku, sayang. Dua kali dorong, encok badanku." Sambil memegangi pinggangnya, Zicko berusaha untuk berdiri tanpa bantuan istrinya.
"Habisnya, kamu main nyosor aja. Aku masih belum terbiasa dengan wajah kamu itu, udah kek oppa oppa gitu. Ganteng sih, tapi aku lebih nyaman dengan wajah kamu yang dulu." Kata Lunika berterus terang.
"Ya, aku kira kamu seperti perempuan perempuan yang lainnya. Yang suka baca novel dengan visual oppa oppa gitu, hem."
"Itu bukan type ku, type ku seperti Mama Afna."
"Hem! baik lah kalau begitu, aku akan merubahnya lagi. Kalau tambah ancur bagaimana? nanti kamu menyesal loh. Udah deh, terima aja aku yang sekarang yang ganteng glowing dan klimis gini. Nyamuk aja terpleset loh, hem."
"Padahal aku ingin mengusap wajahmu yang bagian dagu mu serta rahangmu itu ada tipis tipisnya bulu yang bisa aku lakukan dengan gemas saat aku berada didada bidang mu."
Zicko hanya menunjukkan kening yang berkerut, dia benar benar tidak menyangka atas permintaan istrinya diluar pemikirannya.
"Susah amat hanya ingin en"na en*na, benar benar perjuanganku kini semakin rumit dengan embel embel permintaan kamu itu." Gumam Zicko sambil berkacak pinggang membelakangi sang istri.
"Kamu bilang apa, tadi?" tanya Lunika yang sudah berada dihadapan suaminya.
__ADS_1
"Wajahku kurang ganteng kek Papa Zeyen, yang ditumbuhi dengan brewok. Benar, 'kan?"
"Iya," jawabnya singkat. Zicko yang mendengarnya pun membelalakan kedua bola matanya dengan posisi menatap sang istri.
Tanpa pikir panjang, Zicko langsung bergegas pergi meninggalkan istrinya.
"Kamu mau kemana? kita belum makan malam." Panggil Lunika sambil mengejar langkah kaki suaminya.
"Zicko, Lunika, kalian mau kemana? kok terlihat terburu buru?" tanya sang ibu memergoki nya.
"Tanya saja sama menantu kesayangan Mama, Zicko pamit."
"Tunggu, jangan pergi dulu." Cegah Lunika yang sudah berada dihadapan suaminya sambil merentangkan kedua tangannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Lunika mendesak.
"Hem, aku akan menempelkan bulu bulu di area wajahku. Agar kamu bisa jatuh cinta lagi denganku, apa kamu tidak tahu betapa tersiksa nya aku ini? aku itu cuman emp ...." disaat itu juga, Lunika membekap mulut suaminya dan mendorongnya keluar. Sedangkan istri Tuan Zayen hanya menggelengkan kepalanya saat mendapati tingkah anak dan menantunya.
Dan disaat itu juga, Ibunda Afna baru tersadar jika putranya sudah mengubah wajahnya menjadi orang asing.
"Kenapa kamu jadi senyum senyum begitu? ada yang lucu kah?" tanya sang suami yang mendapati istrinya terlihat tengah senyum senyum sendiri tidak jelas.
"Itu loh, anak kamu Zicko. Lunika masih belum terbiasa dengan wajah Zicko yang baru, mereka berdua harus mengulangi untuk saling mengenal." Jawab sang istri menjelaskan.
"Iya juga ya, aku baru ingat kalau wajah Zicko sudah berubah." Ucap Tuan Zayen yang baru saja menyadari akan perubahan pada putranya.
"Sayang, ayo lah kita berdamai. Suami kamu ini tidak buruk buruk amat, ganteng mah iya." Rayu Zicko yang terus berusaha untuk mendapatkan sikap manjanya sang istri yang dulu.
Lunika masih bersikukuh atas pendiriannya, entah sengaja mengerjai suaminya, atau ... memang benar benar membutuhkan waktu untuk menerima suaminya.
"Baik lah, aku mau keluar. Aku mau cari udara segar, siapa tau aja ada yang bening bening diluaran sana." Ucap Zicko sengaja mengerjai sang istri, berharap ucapannya akan mendapatkan respon sesuai yang diharapkannya.
Tidak hanya itu saja, lagi lagi Zicko mengedipkan matanya untuk menggoda sang istri. Lunika bukannya tergoda, justru bergidik ngeri melihatnya.
__ADS_1
"Sudah sana ... di tambal dulu itu rahang kamu dengan bulu bulu yang menggoda, jangan sampai jelek hasilnya, titik."
"What!! suruh tambal bulu? sayang, jangan begitu dong kalau mau mengerjaiku. Bagaimana kalau aku pijat kamu saja, tenang ... ada ples plus ples nya, mau ya?"
"Aw!! kenapa kamu jadi galak begini sih, sayang? ayolah terima wajah suami kamu ini yang gantengnya limited edition."
"Dih! limited edition, kamu bilang? No! tidak ada limited limitedtan. Sekarang juga, cepetan berangkat." Ucap Lunika dengan ketus, Zicko hanya pasrah. Sedangkan Lunika tertawa kecil saat meninggalkan sang suami yang berada di teras rumah.
Sambil menggigit jari jemarinya, Zicko akhirnya memilih untuk pergi ke suatu tempat.
BRUG!
Dengan kasar, Zicko menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Tuan! sejak kapan masuk ke kamar ku?"
"Sejak istriku mengusirku," jawab Zicko asal. Yang mendengarnya pun kaget dibuatnya.
"Di usir? memangnya kesalahan apa yang Tuan Zicko lakukan?" tanya nya penasaran.
"Aku diminta untuk merubah wajahku yang di tumbuhi bulu kuduk, maksud aku ada brewoknya." Sahut Zicko.
Yang mendengarnya terkekeh geli, bahkan baru pertama kali ini ada sebuah permintaan yang menurutnya sangat konyol.
"Ci*h, ketawa. Bukannya nyariin solusinya, eh! ngetawain. Benar benar kamu ini, ya. Orang kepercayaan tapi tidak ada akhlaknya sama sekali.
"Bukannya tidak ada akhlak nya, Tuan. Hanya saja, permintaannya itu loh." Jawabnya, lagi lagi masih tertawa lepas mengingat atas permintaan dari seorang istri Tuan nya.
"Hem, mau membantuku atau tidak nih?"
"Katakan saja, apa yang Tuan inginkan?"
"Hem, istriku memintaku untuk merubah wajahku yang ada brewoknya." Sahut Zicko sambil mencari jalan keluar.
__ADS_1
"Mana ada dalam satu malam langsung ada brewoknya, yang ada tuh ... Tuan harus membuat istri Tuan merasa nyaman. Satu lagi, buat lah istri Tuan kembali jatuh cinta lagi dengan keadaan Tuan Zicko yang sekarang ini. Bukan menyamakan wajah yang dulu, begitu."
"Begitu, ya?" tanya Zicko kembali memastikan.