Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Bertemu lagi


__ADS_3

Pagi hari dengan cuaca yang cukup dingin karena cuaca yang terkadang sering berubah ubah tidak menentu.


Daka yang sudah terbangun dari tidurnya dan sudah bersiap siap untuk pergi ke rumah sakit, ia memastikan tidak ada sesuatu yang tertinggal. Berbeda dengan sang adik, Kalla tengah sibuk dengan penampilannya. Lebih lebih ia memilih fashion layaknya perempuan tomboy.


Karena tidak ingin datang terlambat, dengan terburu buru untuk segera berangkat ke Kantor lebih awal. Meski sedikit berat untuk ia hadapai, Kalla menyerah karena tidak ada cara lain selain mengikuti permintaan dari sang Ayah.


Lagi lagi penampilan Kalla membuat kedua orang tuanya dan sang Kakak tercengang melihatnya dengan penampilannya yang cukup tidak karuan. Jangankan Feminim, yang ada benar benar sangat jauh dari kata feminim.


"Kalla! kamu sudah gi*la, ya. Sekarang juga kamu ganti penampilanmu itu, bikin mata sepet aja." Kata Daka berkomentar, sedangkan Kalla hanya mengerucutkan bibirnya dengan perasaan dongkol.


"Biarin aja kenapa sih, lagian juga tidak jelek jelek amat penampilanku. Justru dengan penampilan yang seperti ini bikin adem ayem, percaya deh." Sahut Kalla yang tidak mau kalah dengan sang Kakak, apapun itu.


"Sudah lah, kalian berdua jangan beradu omongan kek gitu terus terusan. Yang terpenting Kalla merasa nyaman aja, tapi jangan sampai kebablasan. Kamu harus ingat baik baik, Kalla. Sekarang juga lebih baik kita lanjutkan sarapan paginya, setelah itu Papa akan antarkan kamu ke Kantor." Ucap Tuan Kazza saat pandangannya tertuju pada putri kesayangannya.


"Kalian berdua itu kakak beradik, seharusnya sikap kalian itu lebih akrab. Karena apa? karena kedua orang tua kalian hanya memiliki kalian berdua, siapa lagi coba." Ucap sang Kakek Tirta ikut menimpali.


"Yang dikatakan Kakek itu ada benarnya, Omma juga sependapat dengan Kakek." Omma Nessa pun juga ikut menimpali.


"Iya ya Pa, Omma, Kakek ..." sahut keduanya dengan serempak.


"Dan kamu, Daka. Kamu kan seorang Kakak, seharusnya kamu itu dapat menasehati adikmu dengan lebih bijak lagi. Kalian sih, dari dulu sukanya berdebat. Giliran gak ada saja, kalian mencari satu sama lain. Mana yang sepi lah, gak ada yang di rumah lah. Sebenarnya sepi atau tidaknya itu, ya kalian sendiri si pembuat suasana itu." Kata sang Ibu ikut menimpali.


Daka dan Kalla yang mendengarnya pun hanya menunduk sambil mengunyah makanannya, sedikitpun tidak ada yang berani untuk mendongakkan kepalanya.


Karena tidak ingin berlama lama di ruang makan, Kalla maupun sang kakak segera menghabiskan sarapan paginya.


Selesai sarapan pagi, Kalla sudah siap untuk berangkat ke Kantor. Sang kakak sendiri sudah yang juga sudah siap untuk berangkat pergi ke Rumah sakit.

__ADS_1


Sebelum berangkat ke tempat tujuannya masing masing, Daka mendekati sang adik.


"Kalla," panggil sang kakak.


"Iya Kak, ada apa?" sahut Kalla dan bertanya.


"Maafin Kak Daka ya, kalau selama ini Kakak sering bikin Kamu kesal dan juga membuatmu geram." Jawab Daka merasa bersalah, kemudian ia mengulurkan tangannya untuk meminta maaf.


Kalla yang mendengarnya pun tersenyum lebar, kemudian ia menerima uluran tangan dari sang Kakak. "Maafin Kalla juga ya, Kak. Jika Kalla terkadang sering menuduh Kakak, dan juga selalu banyak bertanya sampai mendesak serta memaksa Kakak." Ucap Kalla yang juga ikut meminta maaf, kemudian Daka memeluk adiknya dan segera melepaskannya karena keduanya akan segera berangkat ke tempat tujuannya masing masing.


"Kalla, ayo kita berangkat." Ajak sang ayah yang sudah siap untuk berangkat ke Kantor.


"Iya Pa, sebentar lagi." Sahut Kalla yang sudah siap untuk berangkat, sebelumnya ia berpamitan dengan sang ibu.


"Kalla berangkat ke Kantor ya, Ma." Ucap Kalla berpamitan, lalu mencium tangan sang ibu.


Begitu juga dengan Daka yang juga ikut berpamitan. "Ma, Daka berangkat." Kata Daka ikut berpamitan dan juga mencium tangan sang ibu.


"Salam ya, buat Enja calon istri kamu. Mama hari ini harus mengantar Omma dan Kakek untuk kontrol di Rumah sakit." Ucap sang Ibu.


"Iya Ma, tidak apa apa. Masih ada hari yang lainnya, kesehatan Omma dan Kakek jauh lebih penting.


"Ya sudah kalau mau berangkat, hati hati dalam perjalanan, dan jangan kebut kebutan." Ucap sang ibu memberi pesan.


"Iya Ma, Daka berangkat." Ucap Daka, kemudian ia segera berangkat menuju rumah sakit.


Sedangkan dalam perjalanan, Romi tengah mengendarai mobilnya. Tiba tiba ada sesuatu yang ia rasakan dengan ban mobilnya.

__ADS_1


"Kenapa lagi ini mobil? perasaan mobilnya baik baik aja, loh loh loh ... sepertinya ban nya bocor." Gumam Romi yang masih terus melakukan mobilnya dengan pelan.


Karena rasa penasarannya, akhirnya Romi menepikan mobilnya. "Si*al! ban nya bocor, lagi." Umpat Romi dengan emosi.


"Mana bengkel jauh, lagi. Sial amat aku ini, bisa terlambat kalau begini." Gumam Romi berdecak kesal, mau tidak mau ia langsung menghubungi pihak bengkel dan juga menghubungi taxi.


Sambil menunggu taxi, Romi mondar mandir karena takut jika dirinya akan datang terlambat. "Mana ini hari pertamaku kerja di Kantor Tuan Kazza, lagi. Aaah! benar benar ini hari, semoga aja tidak akan ada kesialan lagi." Gumam Romi sambil harap harap cemas menunggu taxi.


"Romi, kamu ada disini?" tanya Tuan Kazza mengagetkan. Sedangkan Kalla yang melihat siapa orangnya yang tengah bicara dengan sang ayah, tiba tiba perasaannya pun berubah menjadi dongkol.


"Iya Tuan, mobil saya bocor. Terpaksa saya menunggu taxi." Jawab Romi dibarengi senyumnya yang ramah.


"Ngapain kamu nunggu taxi, ayo kita berangkat bareng."


"Tapi Tuan, saya sudah memesan taxi. Tidak baik jika menggagalkan pesanan, Tuan." Jawab Romi berusaha untuk menolak ajakan dari Bosnya.


"Tenang saja, biar supir saya yang naik Taxi. Sekarang kamu yang mengendarai mobilnya." Perintah Tuan Kazza yang tidak mempunyai cara lain. Mau tidak mau, Romi hanya bisa nurut dengan apa yang diperintahkan dari Tuan Kazza.


Sedangkan Kalla membulatkan kedua bola matanya, rasa gondok nya semakin besar.


'Jangan jangan ini modus, lagi. Biar aku bisa berangkat dengannya, begitu? oh! tidak.' Batin Kalla dengan perasaan kesal.


Selama perjalanan, Kalla hanya menjadi pendengar setia antara Romi dan sang ayah.


'Sok akrab banget sih ini orang, semoga aja orangnya tidak ngeselin. Kalau iya, awas aja loh. Aku bakal buat dia tidak kerasan didalam Kantor, titik.' Batin Kalla yang terus mencari ide untuk persiapan jika dirinya telah dibuat kesal oleh seseorang yang bernama Romi.


Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya Kalla dan Romi telah sampai di Kantor yang pernah dipimpin oleh Daka.

__ADS_1


__ADS_2