
Karena Vey tidak mau mengatakannya juga, akhirnya Dey memilih melajukan mobilnya lagi. Entah kenapa Dey tidak begitu yakin jika Vey lah yang menemukannya, ia terus berpikir untuk menemukan jawabannya.
'Aku rasa bukan Vey orangnya, ah! kenapa aku penasaran begini. Kenapa juga aku tidak ada respect sedikitpun terhadapnya, padahal jelas jelas liontinnya ada padanya.' Batin Dey yang terus berpikir dan mencoba mencernanya.
Begitu juga dengan Vey, dirinya ikut dilema memikirkannya. Bahkan ia takut untuk berkata yang sejujurnya, berkali kali mencari ide pun tidak didapatkan. Seakan akan Vey terjebak didalam masalah tersebut, pelan pelan Vey menarik napasnya dan membuangnya dengan pelan.
'Bagaimana ini, jika lelaki ini tidak mempercayaiku. Apa lebih baik aku berbohong saja, ah! aku tidak berani melakukannya. Yang ada aku akan seperti dihantui masalah besar, padahal tinggal jujur apa susahnya.' Batin Vey sambil berpikir untuk mencari jalan keluarnya.
Tidak memakan waktu yang cukup lama, Vey mau Dey telah sampai di depan Kantor.
"Lingkarkan tangan kamu di lenganku, cepat! jangan banyak bertanya maupun mencari alasan." Perintah Dey, sedangkan Vey sendiri hanya bisa nurut dan pasrah.
Sambil berjalan layaknya suami istri yang terlihat begitu mesrah, semua karyawan menyambutnya dengan hormat dan santun, Vey sendiri tersenyum menyapa.
"Selwy, lihat noh! Vey yang sering kamu hina dan kamu benci, sekarang dia jadi Nona muda Bos Dey. Menakjubkan, bukan? kamu sih lewat." Ejek Yeni memanasi perempuan yang sudah berulang kali menghina Vey dan mempermalukan Vey.
"Gitu aja bangga, palingan juga dijodohkan. Mana ada sih, seorang Bos menikahi karyawannya sendiri. Mana mau, Yen. Yang ada tuh yang sekelas, sama tajirnya. Lah si Vey, apanya yang mau dibanggain. Keluarganya aja tidak jelas begitu, dih! memalukan." Sahut Selwy yang terus menghina sahabat dari rekan kerjanya, Yeni sendiri tersenyum mendengar penuturannya.
"Makanya, kalau dapat souvenir itu dibaca dengan teliti. Siapa itu Vey, pastinya kamu akan tercengang mendengarnya." Ucap Yeni yang juga baru mengetahui kebenaran tentang sahabatnya sendiri.
"Dih! ngapain juga aku membacanya, palingan juga cuman dari keluarga biasa biasa aja. Sudah deh, kamu tidak usah mengerjaiku." Jawab Selwy dan segera pergi meninggalkan Yeni.
"Huh! dasar nek lampir, diberi tahu yang sebenarnya tidak mau percaya." Gumam Yeni sambil berkacak pinggang.
Sedangkan Vey dan Dey sudah berada didalam ruangan kerjanya. Keduanya menuju kursi masing masing tanpa berucap sepatah katapun dari Dey maupun Vey.
'Lihat lah manusia angkuh itu, bersuara saja tidak. Benar benar menyebalkan, suami macam apa dia.' Batin Vey sambil mengerucutkan bibirnya.
Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu telah mengganggu konsentrasinya Vey yang tengah melamun. Tanpa pikir panjang, Vey langsung bangkit dari posisi duduknya dan segera berjalan menuju pintu.
__ADS_1
"Mau ngapain kamu?" tanya Dey tiba tiba menghentikan langkah kaki Vey yang sedikit lagi akan sampai di pintu.
"Mau buka pintu," jawab Vey sambil mengarahkan pandangan ke arah suaminya.
"Duduk, aku yang akan membuka pintunya. Cepat, kembali ke tempat dudukmu." Perintah Dey, sedangkan Vey hanya bisa mengangguk pasrah, meski sedikit kesal.
Tanpa bersuara, Vey kembali ke tempat duduknya dengan muka masam. Dey hanya tersenyum menyeringai, kemudian menekan tombol kuncinya.
Dengan otomatis, pintunya pun terbuka dengan sendirinya. Kemudian masuklah salah satu pekerja kantin membawakan sarapan pagi untuk Bosnya dan juga istrinya.
"Permisi Tuan, saya mau mengantar pesanan yang Tuan Muda pesan." Ucapnya sambil meletakkan nampan yang berisi dua porsi makanan dan dua gelas minuman.
"Terima kasih, dan sebaiknya kamu letakkan makanan ini di meja sebelah sana. Aku tidak suka meja kerjaku menjadi kotor, kamu mengerti? cepatlah pindahkan nampan ini." Perintah Dey dan menunjuk ke arah meja yang ditunjukkannya.
"Baik Tuan, permisi." Jawabnya dan memindahkan sebuah nampan yang berisi sarapan pagi di meja yang tidak jauh dari tempat duduk Vey. Setelah itu keluar dan kembali menutup pintunya.
Dey yang juga merasa lapar, ia bangkit dan mendekati istrinya. "Ayo kita sarapan, aku mau menagih janjimu." Ajak Dey kembali teringat akan sebuah liontin, Vey pun mengangguk dan nurut pada suaminya.
"Rasa malu itu berhak untuk dimiliki setiap orang, bahkan wajib."
"Cih! rasa malu yang bagaimana dulu, hem. Sudahlah jangan banyak drama, aku sudah lapar. Bukankah kamu sendiri sudah lapar? sampai sampai kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku karena lapar, cih! sejarang mau pura pura amnesia segala." Tuduh Dey kembali teringat dengan alasan yang Vey katakan.
"Iya ya, aku ngerti maksud kamu." Jawab Vey, kemudian ia segera menikmati sarapan pagi bersama suami yang entah asli ataupun palsu. Vey masih biasa biasa saja, bahkan tidak terlihat sebagaimana mestinya sepasang suami istri yang sesungguhnya, pikir Dey didalam lamunannya.
Entah karena lapar, entah karena terburu buru. Keduanya telah menyelesaikan sarapan paginya, setelah itu Vey membereskan meja yang dijadikan tempat untuk sarapan pagi bersama sang suami. Sedangkan Dey tidak juga beranjak pergi dari tempat duduknya.
"Duduklah disini, aku mau menagih janjimu yang katanya mau menjawab pertanyaan dariku." Perintah Dey, sedangkan Vey masih bingung untuk menjawabnya.
"Em ... di rumah aja bagaimana?" elak Vey mencoba untuk berpikir.
__ADS_1
"Enak saja di rumah, aku maunya sekarang juga. Jadi, cepatlah duduk disini. Apa perlu aku menyeretmu dan memaksamu untuk menjawab dengan jujur, sekarang juga cepetan duduk disini." Sahut Dey yang semakin tidak sabar menunggu jawaban dari istrinya.
"Baiklah, aku akan menjelaskannya pada kamu." Jawab Vey, kemudian ia segera berjalan mendekati suaminya dan duduk disebelahnya seperti yang diminta suaminya.
"Cepat jelaskan padaku, dari mana kamu dapatkan liontin milikku? jawab dengan jujur. Jangan kira aku tidak bisa membaca gelagat kamu, cepat jelaskan." Perintah Dey yang sudah tidak sabar untuk mendengar penjelasan dari istrinya.
"Aku akan menjelaskannya dengan jujur seperti yang kamu minta, sebenarnya liontin itu ... bukanlah aku yang menemukannya. Tetapi ... perempuan lain yang lebih cantik dariku dan lebih jago bela dirinya dariku, perempuan itu bernama ..." cukup lama Vey terdiam dan sulit untuk melanjutkan kalimatnya.
"Siapa! ayo katakan."
"Kak Lun -- Lunika, istri dari kak Zicko." Jawabnya sedikit terbata.
"Apa!!! istri Kak Zicko, kamu bilang? jangan mengelak dan jangan mengada ngada kamu."
"Katanya kamu bisa membaca gelagatku, lalu kenapa kamu masih tidak percaya? aku yang labil, atau kamu sendiri yang tidak mempunyai rasa percaya pada orang lain."
"Sekarang juga kamu jelaskan sedetailnya padaku, cepetan." Desak Dey memaksa.
Flashback On
"Kak Lun, ayo cepetan masuk ke area. Sekarang giliran Kakak yang akan maju, nama Kakak sudah di panggil dari tadi. Nanti kalau Kakak gagal, bagaimana? ini kesempatan Kak Lun untuk menang." Panggil Vey pada Lunika yang tengah fokus dengan sesuatu yang ada di tangannya, Vey yang tidak sabar segera menghampirinya.
"Itu apaan, Kak Lun?" tanya Vey penasaran.
"Oh, ini liontin. Aku menemukannya jatuh tergeletak begitu saja, aku tanyakan tidak ada yang mengakuinya." Jawab Lunika sambil menunjukkan sebuah liontin yang begitu sangat bagus.
"Wah, bagus banget Kak. Ini sepertinya punya cewek, lihatlah bentuk hatinya. Sangat lucu kalau lelaki yang memakainya, bukan?"
"Iya, ini sangat cocok untuk kamu. Nih, buat kamu. Kakak lebih memilih untuk memenangkan pertandingan di dalam area, doakan Kakak untuk menang. Ya sudah, kalau begitu Kakak mau masuk kedalam area pertandingan." Ucap Lunika dan segera pergi meninggalkan Vey.
__ADS_1
Flashback Of