
Masih berada dalam kamar, Lunika akhirnya telah sadarkan diri setelah cukup lama ia pingsan.
"Ma, dimana bayi Niko? ada dimana? terus ... suami Lunika dimana? baik baik saja 'kan? Lunika takut, takut jika mimpi Lunika itu benar." Tanya Lunika seperti orang yang kehilangan orang yang disayangi.
Dengan tanggap, sang ibu mertua langsung memeluk menantunya dan mengusap punggungungnya berulang ulang.
"Suami kamu baik baik saja, sayang. Ada apa denganmu? kenapa tiba tiba kamu seperti mimpi buruk?" sahut ibu mertua dan balik bertanya pada Lunika.
"Barusan Lunika mimpi buruk, Ma. Suami Lunika terbawa ombak di tepi pantai, dan jasadnya tidak dapat ditemukan. Lunika sangat takut, Ma. Lunika tidak ingin berpisah dengan cara seperti itu, Ma." Jawab Lunika sambil menangis dan air matanya membasahi pundak ibu mertuanya.
Pelan pelan, istri Tuan Zayen melepaskan pelukannya. Kemudian menatap lekat wajah sayu milik menantunya yang terlihat sedang banyak pikiran. Deng lembut, istri Tuan Zayen mengusap air mata Lunika dengan ibu jarinya.
"Buang jauh jauh mimpi burukmu itu, sayang. Suami kamu baik baik saja, sekarang Zicko sedang sibuk dengan pekerjaannya. Karena hari ini pekerja baru yang akan masuk ke Kantor, yakni orang yang akan menjadi kepercayaan Papa." Ucapnya dengan nada selembut mungkin, berharap Lunika dapat menangkap dengan pikirannya yang positif.
"Iya Nak, sekarang kamu makan dulu. Kasihan dengan kesehatan kamu, jika kamu bermalas malasan untuk makan. Apa lagi kamu baru saja melahirkan, yang jelas kamu butuh pemilihan agar lekas sembuh dari jahitannya." Ucap sang ibu mencoba untuk merayu putrinya, Lunika pun mengangguk.
Setelah itu, salah satu pelayan rumah telah membawakan makan siang untuk Lunika.
"Sini, biar Mama yang menyuapi kamu. Atau ... kamu ingin disuapin Mama kamu sendiri, Mama tidak memaksa." Ucap ibu mertua memberi pilihan, mau bagaimanapun ada sosok ibu kandung didekat Lunika. Lunika yang sedikit canggung, ia akhirnya mengiyakan untuk disuapin ibu kandungnya sendiri.
"Ya sudah kalau begitu, Mama mau ke kamar sebentar. Jika ada apa apa, kamu cukup takan bel nya. Nanti Mama akan menemui kamu, ya sudah Mama pamit untuk keluar." Ucap sang Ibu mertua lagi, Lunika pun mengangguk dan menjawabnya dengan singkat.
"Kamu jangan terlalu banyak pikiran, kasihan kamunya. Jangan terbawa dengan sebuah mimpi buruk, karena bisa mengakibatkan rasa semangatmu menjadi hilang." Ucap sang ibu sambil menyuapi putrinya.
__ADS_1
"Iya Ma, maafkan Lunika yang sudah membuat seisi rumah menjadi panik." Sahut Lunika merasa bersalah, ditambah lagi dirinya yang sudah pingsan dan menyusahkan banyak orang, pikirnya.
"Tidak perlu kamu meminta maaf, semua terjadi karena memang kenyataannya yang harus terjadi. Setidaknya kita akan lebih hati hati lagi untuk kedepannya. Sudah lah, kamu tidak perlu risau maupun merasa pusing yang tidak berujung." Ucap sang ibu memberi nasehat, meski sedikit demi sedikit.
Sedangkan di luaran sana, sosok Tuan Zayen sedang dalam perjalanan. Air mata yang Beliau tahan, akhirnya tumpah juga. Bagaimana tidak bersedih, putra kesayangannya telah mengalami kecelakaan dan juga belum ditemukan.
Setelah cukup lama dalam perjalanan karena jalanan, Tuan Zayen berusaha untuk tetap tenang dan bersabar Meski kesabarannya serasa ingin meledak bak Bom yang menggelegar. Disaat itu juga, suara ponsel dari saku celananya tengah membuyarkan lamunannya. Secepat kilat, Tuan Zayen segera merogohnya dan melihat sebuah pesan masuk.
"Apa, ke rumah sakit?" gumamnya.
"Pak, sekarang juga kita ke rumah sakit. Kedua korban sudah dilarikan ke rumah sakit, semoga saja diantara salah satunya ada Zicko."
"Iya Tuan, semoga benar adanya Tuan Zicko." Sahut Pak Supir, kemudian segera menuju ke rumah sakit.
Sampai di ruangan pasien, napas Tuan Zayen masih terengah engah. Sebelum melihatnya, Tuan Zayen mengatur pernapasannya.
"Tenangkan pikirannya dulu, Kak." Ucap Tuan Viko.
"Arnal, kenapa cuman Arnal?" tanya Tuan Zayen seperti tidak percaya.
"Maaf Kak, Zicko belum dapat ditemukan. Pak Tama pun sudah tidak dapat diselamatkan, karena terjebak didalam mobil. Sedangkan Arnal dan Zicko terbawa arus, sementara Arnal dapat menepi dan berpegang pada sebuah ranting besar. Bersabarlah, semoga Zicko selamat. Sekarang masih dalam pencarian, bahkan aku sudah mengerahkan banyak anak buah untuk mencarinya." Ucap Tuan Viko sedikit berat untuk mengungkapkan jika keponakannya belum ditemukan. Namun mau bagaimana lagi, kenyataan jika Zicko belum ditemukan.
Seketika, sekujur tubuh milik Tuan Zayen kembali tidak berdaya. Begitu berat untuk menopang kedua kakinya, bahkan napasnya pun terasa sesak. Pandangannya tiba tiba kabur, sekuat tenaga Beliau untuk tegar.
__ADS_1
"Bersabarlah Kak, Zicko pasti bisa melewati ini semua. Begitu juga dengan Kakak dan Keluarga, lebih baik kita berdua demi keselamatan Zicko agar segera ditemukan." Ucap Tuan Viko menguatkan, kemudian menuntunnya untuk duduk.
Sedangkan Arnal masih mengalami trauma berat akibat kecelakaan yang menimpanya. Pihak keluarganya pun tidak lama kemudian telah datang.
Kini, Tuan Zayen masih bersandar dengan pikirannya yang tidak karuan. Beliau tidak dapat membayangkan jika Putranya juga tidak dapat ditemukan, Beliau terus menerus memikirkan cucunya yang masih bayi. Kebahagiaan yang diharapkannya kini seakan sirna begitu saja.
Saat hendak ikut duduk disebelah Kakak iparnya, Tuan Viko mendapat panggilan telpon. Dengan cepat, Tuan Viko langsung menerima panggilan telfon.
"Bagaimana dengan keponakan saya, Pak? apakah sudah dapat temukan?" tanya Tuan Viko yang tidak lagi sabar menunggu kabar tersebut.
"Apa!! belum ditemukan? hanya Jasnya saja?"
"Viko! antarkan aku ke lokasi itu. Cepetan, aku yakin, Zicko tidak jauh dari tempat itu." Perintah Tuan Zayen setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut adik iparnya.
"Tapi Kak, di luar masih hujan deras. Medannya pun sulit untuk kita lewati, bahaya untuk keselematan kita." Sahut Tuan Zicko mencoba untuk mencegahnya, sedang Tuan Zayen tetap bersikukuh untuk berangkat.
Mau tidak mau, Tuan Viko segera menghubungi anak buahnya yang handal dalam medan yang sangat susah untuk dilewati.
Dengan waktu yang singkat, seseorang yang sangat dipercayainya sudah menunggu di depan rumah sakit. Tuan Zayen dan Tuan Viko segera berangkat ke lokasi yang dimana ditemukannya Jas milik Zicko.
Setelah sampai di lokasi, Tuan Zayen dan Tuan Viko menghampiri beberapa anggota Polisi maupun anggota TNI.
"Pak, bagaimana kabar selanjutnya?" tanya Tuan Zayen yang sudah tidak bisa untuk bersabar.
__ADS_1
"Maaf Tuan, kami telah menemukan Jas milik korban. Sepertinya korban telah melepaskan pakaiannya, untuk memudahkan berenang. Itu yang dapat kami selidiki, kemungkinan besar tidak jauh dari lokasi itu. Tim kami masih berusaha untuk mencarinya, semoga segera ditemukan." Jawab Pak Polisi, Tuan Zayen hanya bisa pasrah dan berdoa.