
Setelah cukup tenang dan tidak begitu khawatir, Lunika memilih untuk duduk bersandar dan pandangannya kembali lurus kedepan sambil memikirkan sesuatu.
Meski sudah mulai percaya akan sosok suaminya, namun tetap saja ia masih merasa asing dengan suaminya sendiri. Ditambah lagi dengan perubahan pada wajah milik suaminya. Lunika tidak dapat memungkiri jika dirinya masih merasa canggung dan dan juga gelisah tentunya.
Tidak memakan waktu yang lama, beberapa orang suruhan sudah datang dengan tepat waktu.
Zicko yang mengenal salah satu anak buah ayahnya, segera ia membukakan pintu mobilnya.
"Maaf Tuan, sepertinya Tuan dan Nona sebaiknya duduk dibelakang kemudi. Biar saya yang akan membawa mobilnya, karena ini pesan dari Tuan Besar." Ucap salah satu orang kepercayaan orang tuanya, Zicko pun mengangguk dan segera pindah ke belakang. Begitu juga dengan Lunika yang juga ikut pindah tempat seperti sang suami sesuai yang diperintahkan oleh suruhan ayah mertuanya.
"Tuan, Nona, siap siap jika saya melakukan kecepatan yang tidak beraturan. Karena saya tidak bisa menjamin dengan perjalanan yang stabil pada umumnya." Ucapnya memberi peringatan, takut jika ada sesuatu yang kapan saja bisa terjadi.
"Iya, lajukan saja mobilnya." Perintah Zicko yang juga mulai tegang menghadapi ancaman yang kapan saja bisa mencelakainya, dan juga istrinya sendiri.
Selama perjalanan, semua tidak ada tanda tanda yang mencurigakan. Perjalanan tetap mulus tanpa adanya hambatan, bahkan aman aman saja.
"Sayang, kamu kenapa? kamu sakit?" tanya Zicko sambil mengecek suhu badannya. Lunika yang merasa tidak sakit dan juga tidak merasa ada gejala demam maupun yang lainnya, ia menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak apa apa, aku baik baik saja. Aku hanya khawatir saja, aku takut kejadian yang kamu alami akan terulang kembali." Jawab Lunika dengan gelisah, pikirannya pun entah kemana arahnya.
"Kamu tidak perlu takut, kita akan selamat sampai rumah." Kata Zicko mencoba meyakinkan istrinya, sedangkan Lunika masih pada dengan perasaannya yang cemas dan juga gelisah.
Disaat itu juga lama lama langit berubah menjadi mendung disertai angin kencang dan suara guntur yang menggelegar. Rasa was was yang dirasakan Lunika semakin khawatir akan keselamatan dirinya dan juga keselamatan suaminya. Bayang bayang peristiwa yang dialami suaminya kini tengah bersamayam didalam pikirannya.
Lunika yang semakin ketakutan, Zicko langsung memeluk erat tubuh istrinya. Mencoba memberi ketenangan serta tidak banyak pikiran.
__ADS_1
"Tuan, sepertinya akan segera hujan deras. Bagaimana kalau kita kembali ke rumah baru milik Tuan sendiri, dikarenakan cuaca yang semakin buruk. Hujan deras dan angin kencang sangat berbahaya dijalanan, takut ada tiang roboh dan lain sebagainya." Ujarnya memberi saran, Zicko maupun Lunika hanya mengiyakan. Karena demi keselamatan dan untuk menghindari bahaya, Zicko dan Lunika hanya bisa nurut.
Disaat itu juga langit yang awalnya mendung dan disertai petir dan guntur yang menggelegar saling bersahutan, hujan pun turun dan disertai angin yang sangat kencang.
"Tuan, bagaimana ini? cuaca semakin buruk. Semua kendaraan memilih untuk menepi, bagaimana menurut Tuan sendiri?"
Dengan perasaan yang dilema, akhirnya Zicko memilih untuk menepikan mobilnya demi keselamatan.
"Baik lah, kita nurut saja sama kamu. Tapi ... apa tidak bahaya, lihat lah banyak tiang disekeliling kita." Ucap Zicko sambil mengecek lokasi disekitarnya.
"Benar juga kata Tuan, justru akan lebih bahaya jika kita menepikan mobilnya. Baik lah, saya akan melajukan mobilnya sesuai keadaan dijalanan. Jika darurat, maka akan saya tambahkan kecepatannya." Sahutnya, Zicko hanya menganggukkan untuk tanda menyetujuinya.
Dengan perasaan was was dan juga gelisah, Zicko masih memeluk istrinya. Takut, jika sang istri akan semakin ketakutan dengan cuaca yang cukup ekstrim.
Perasaan Lunika dan Zicko kembali tenang dan tidak secemas yang baru saja dilewatinya. Saat hendak menyandarkan tubuhnya, tiba tiba terdengar suara panggilan lewat sambungan telfon milik Zicko.
Dengan cepat, Zicko segera merogoh ponselnya dalam saku jaketnya dan membuka layar kuncinya. Kemudian dilihat nomor dari anak buahnya, dengan cepat kilat Zicko langsung menerima panggilan masuk.
"Apa!! sudah di kepung?" seketika, Zicko maupun Lunika yang mendengarnya pun sontak kaget dangan pikirannya yang semakin khawatir.
Begitu juga dengan suruhan ayahnya yang kini tengah bersama Zicko untuk menjadi supirnya pun ikut kaget mendengarnya.
"Biar aku saja yang akan menyetir mobilnya." Paksa Zicko yang tidak ingin mengalami kejadian yang kedua kalinya.
"Jangan! Tuan, bahaya. Biarkan saya saja yang akan mengendarai mobil ini, lebih baik Tuan menjaga Nona." Perintahnya yang juga tidak ingin kejadian silam akan terulang lagi.
__ADS_1
"Iya benar, yang dikatakannya itu ada benarnya." Kata Lunika ikut memberi saran, sedangkan Zicko hanya mengangguk pasrah.
DUG!!!
"Aw!!" pekik Zicko maupun Lunika yang sama sama merasakan sakit pada bagian keningnya masing masing akibat terbentur kursi depan.
Disaat itu juga, Zicko menoleh ke belakang. Dengan cepat kilat, mobil yang terlihat mencurigakan telah kabur dengan kencang.
"Brengs*ek! Sial! rupanya sudah terang terangan mengajak perang." Umpat Zicko penuh kekesalan.
"Cepet! kamu tambahkan kecepatannya, jangan kamu kasih sela untuk nya menyalip. Bila perlu kamu pepet terus hingga tidak ada jalanan untuknya, dan senggol sekuat mungkin." Perintah Zicko yang sudah mulai geram.
Lunika yang masih ragu memanggil sebutan sayang, ia bingung harus memanggil suaminya dengan sebutan apa.
"Kenapa kamu tidak menghubungi orang di rumah?" tanya Lunika pada pokok intinya.
"Tidak perlu menghubungi orang rumah, karena sudah ada anak buah Papa yang sedari tadi mengikuti kita. Jadi, persiapkan diri kamu untuk berjaga jaga jika kita akan keluar dari mobil ini." Sahut Zicko masih dengan pikirannya yang sangat khawatir akan keselamatan dirinya dan juga sang istri.
"Terus ... apa yang harus kita lakukan?" tanya Lunika dengan cemas.
"Posisi kita sudah tidak aman lagi, persiapkan diri kamu dengan baik. Yang kita hadapi bukan anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Tetapi nyawa kita dalam bahaya, bahkan yang sedang kita hadapi ini antara hidup dan mati." Kata Zicko menjelaskan sambil berpegangan kursi dengan kuat, begitu juga dengan Lunika yang sudah tidak merasa nyaman dengan posisi duduknya yang berkali kali geser ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang karena lajunya mobil dengan kecepatan yang tidak beraturan.
Karena demi menghindari kejaran dari lawan nya, suruhan orang tua Zicko melajukan mobilnya masuk ke suatu tempat yang cukup sunyi dan sangat sepi.
"Kita ada dimana?" tanya Lunika dengan cemas dan sambil celingukan di tempat sekitarnya.
__ADS_1