
Saat dalam perjalanan, Vellyn memilih duduk di bangku belakang sambil bersandarkan di jendela kaca dengan melamun.
Hening, tidak ada yang berani berucap sepatah kata pun diantara Arnal dan Vellyn. Keduanya sama sama hening selama perjalanan.
Setelah memakan waktu yang cukup panjang dan membuat Vellyn serasa bosan berada di dalam mobil.
"Lama banget sih, perasaan dari tadi tidak sampai sampai juga deh. Awas ya, kalau sampai kamu mengerjai ku. Aku tidak segan segan untuk melapor sama kakek Alfan, agar kamu di pecat dari pekerjaan kamu itu." Ancam Vellyn yang tiba tiba membuka suara.
"Kenapa mesti kakek Alfan, Nona? kenapa tidak semua keluarga Wilyam?" sahut Arnal sambil fokus dengan setirnya. Lagi lagi Vellyn dibuat nya geram atas jawaban dari Arnal.
Karena malas untuk berdebat, akhirnya Vellyn memilih untuk memejamkan kedua matanya sambil bersandar. Tidak lama kemudian, akhirnya mobil yang dinaiki Vellyn telah sampai dihalaman rumah Tuan Zayen.
"Nona, kita sudah sampai." Ucap Arnal membangunkan Vellyn yang tengah tertidur pulas.
"Apa! sudah sampai? kamu sedang tidak mencoba membohongiju, 'kan?" tanya Vellyn yang takut akan dikerjain Arnal.
"Apa untungnya saya membohongi Nona, kalau tidak percaya silahkan turun, Nona. Karena saya mau melanjutkan perjalanan saya keluar Kota." Jawab Arnal meyakinkan nya, Vellyn sendiri akhirnya mengucek kedua matanya untuk memastikan tempat disekitarnya.
"Ah iya, kirain bohong. Kalau begitu, Terima kasih banyak tumpangan nya dan sarapan paginya." Ucap Vellyn, kemudian ia langsung segera keluar dari dalam mobil.
Setelah Vellyn sudah keluar dari mobil, akhirnya Arnal melajukan mobilnya kambali. Bayangan mobilnya pun mulai tidak terlihat, Vellyn segara masuk kedalam rumah.
"Vellyn, sudah pulang kamu Nak?" tanya Bunda Afna ketika sudah berada di anak tangga yang terakhir.
"Eh Tante Afna, iya nih baru pulang. Niko dimana Tante? kok sepi." Jawab Vellyn dan menanyakan keberadaan keponakan nya.
__ADS_1
"Niko sudah berangkat jalan jalan sudah dari tadi, katanya sih mau ke rumah kakek Dana. Oh iya, Arnal mana? kok tidak diajak masuk ke rumah?"
"Sudah pergi, Tante. Katanya sih sudah tidak ada waktu, jugaan mau berangkat keluar Kota katanya sih, Tante." Jawab Vellyn beralasan.
"Hem, yang bener? palingan juga tidak kamu tawarkan untuk masuk ke rumah, hayo ngaku."
Disaat itu juga, Vellyn tersenyum pasta gigi. "Iya Tante, habisnya dia reseh banget sih. Pakai bawa Vellyn nginap di rumahnya segala, kan
Vellyn jadi malu, Tante. Pacar bukan, calon istri apa lagi." Jawab Vellyn sambil memasang muka cemberut nya.
"Berarti kalau dijadikan calon istri, mau nih nginap lagi di rumah Arnal? hem." Ledek Bunda Afna sambil menyikut lengan milik keponakan nya.
"Dih! apa apaan sih Tante, Vellyn kan cuman perumpamaan. Tante Afna jangan ngada ngada deh, Vellyn kan tidak meminta untuk jadi calon istri." Kata Vellyn sambil berjalan menuju ruang keluarga untuk duduk dan bersandar di sofa.
"Tante ... jangan mancing emosi Vellyn dong, perasaan dari kemarin semuanya bikin kesal deh. Apa lagi Paman Zayen, udah kek mak comblang aja deh."
"Apa yang kamu bilang, Vellyn?" tanya Tuan Zayen yang tiba tiba sudah berdiri tidak jauh jaraknya dengan Vellyn. Disaat itu juga, Vellyn tercengang mendengarnya. Ingin menoleh saja tidak berani, Vellyn hanya duduk dan menatap lurus kedepan.
"Kamu akan Paman jodohkan dengan Arnal, hari pernikahan kamu juga akan segera dimajukan. Tidak hanya itu, kedua orang tuamu dan juga Kakek maupun Omma akan kembali ke Tanah Air dalam jangka dekat ini." Ucap Tuan Zayen dengan blak biakkan.
Seketika, Vellyn membelalakan kedua bola matanya kearah Tuan Zayen yang tengah berdiri tegak.
"Paman, jangan begitu dong. Memangnya Paman sudah mendapatkan jawaban dari Arnal? belum 'kan? Paman Zayen jangan ngada ngada juga deh."
"Paman sudah mengatakan nya sejauh jauh hari, Paman sudah menanyakan langsung dengan Arnal."
__ADS_1
"Terus, apa jawaban nya?"
"Jawaban nya ada pada diri kamu, mau tidak mau kamu akan tetap menerimanya."
"Paman, jahat banget sih sama Vellyn. Salah Vellyn tuh apa, coba? Vellyn tidak mau dijodohkan jodohin. Apa lagi Arnal adalah mantan nya kak Lunika, yang benar aja." Ucap Vellyn dengan perasaan dongkol.
"Apa salahnya menikah dengan mantan dari kak Lunika, Vel. Bukankah Tante Neyla juga menikah dengan Paman Seyn? mantan kekasih istrinya Paman sendiri, yaitu Tante Afna." Jawab Tuan Zayen.
"Bagaimana? mau 'kan? Paman yakin jika kamu tidak akan pernah menyesal setelah mengenal Arnal. Dia orang yang baik, tulus, dan menolong tanpa pamrih." Kata Tuan Zayen.
"Orang baik? tulus? Vellyn tidak percaya, buktinya aja sudah meninggalkan kak Lunika dan menikah tanpa sepengetahuan Kak Lunika." Jawab Vellyn mencoba mengingat masa lalu kakak iparnya sendiri.
"Kamu salah, justru duluan kak Lunika yang menikah daripada Arnal. Jadi, keduanya memang sudah sama sama salah dan tidak saling terbuka. Lagian juga, mereka berdua tidak berjodoh. Buktinya saja Arnal langsung menceraikan istrinya dan pergi jauh dari rumahnya dan hidup mandiri walau hanya sebagai penjual buah." Kata Tuan Zayen untuk menjelaskan semuanya pada Vellyn. Sedangkan Vellyn masih diam, dirinya bingung untuk menjawabnya
"Arnal hanya korban, jadi jangan menilai seseorang dari kesalahan nya saja. Walaupun kesalahan itu sangat fatal sekalipun, setidaknya dia menyadari dan segera lepas diri sebelum hal buruk menimpanya. Contohnya langsung menceraikan istrinya, dan meninggalkan pergi sejauh mungkin." Ucap Tuan Zayen untuk meyakinkan keponakan nya.
"Rileks, jangan dibuat tegang. Pikirkan dengan baik, Paman hanya memberimu pilihan. Jika kamu menolaknya pun, Paman tidak mempermasalahkan nya. Itu hak kamu, Paman hanya menjalankan peran sebagai orang tuamu. Jangan dibuat paksaan, jika hati kecilmu menolaknya." Ucap Tuan Zayen sambil menepuk pundak keponakan nya untuk berpikir lebih jernih lagi.
"Iya, Paman. Vellyn mengerti maksud dari Paman, terima kasih sudah perhatian pada Vellyn." Jawab Vellyn, Tuan Zayen hanya mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Bunda Afna yang melihat keponakannya yang terlihat dilema, Beliau segera mendekatinya.
"Jangan dibuat tegang, Vel. Paman kamu memang suka begitu, maklumin saja Paman kamu itu. Dari dulu Paman kamu itu tidak suka basa basi ataupun bersenda gurau, pilihan tetap pilihan. Jadi, pikirkan baik baik. Apa yang dikatakan Paman kamu itu ada benarnya. Ikuti apa kata hatimu yang memilih jalan hidup mu, jangan selalu ketergantungan dengan apa yang membuat mu tidak merasa kesulitan." Ucap Bunda Afna mencoba untuk memberi penjelasan pada keponakannya, Vellyn sendiri pun mengangguk.
"Iya Tante, Vellyn tau maksud dari Paman." Jawab Vellyn sambil melingkarkan kedua tangannya ke lengan tangan milik Bunda Afna layaknya orang tuanya sendiri.
__ADS_1