Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Mendapatkan jawaban


__ADS_3

Acara makan malam pun telah usai, Romi dan Arnal sudah tidak ada lagi di kediaman Tuan Zayen. Begitu juga dengan keluarga Kakek Ganan, semua anggota keluarga Beliau sudah pulang ke rumahnya masing masing. Begitu juga dengan Deyzan dan istri yang sudah pulang lebih awal karena sang istri merasa tidak enak badan.


Selain keluarga Kakek Ganan, keluarga Kakek Tirta pun ikut pulang seperti yang lainnya.


Namun tidak untuk Vellyn dan Kalla, sedangkan Vellyn memilih untuk menginap di rumah Tuan Zayen bersama saudara perempuannya, siapa lagi kalau bukan Kalla.


"Serius nih, kalian berdua mau menginap di rumah Paman Zayen?" tanya Tuan Kazza pada putrinya dan juga keponakannya.


"Serius dong, Pa. Kalla ingin tidur ditemani Tante Afana dan juga tidur bareng Vellyn." Jawab Kalla dengan serius.


"Baik lah kalau begitu, Papa dan Kakek akan segera pulang. Jangan bikin masalah di rumah ini, ingat baik baik pesan dari Papa." Ucap Tuan Kazza separuh mengancam.


"Siap, Papa. Kalla tidak akan bikin onar, percaya deh." Jawab Kalla dengan percaya diri.


"Afna, tolong awasi keponakan kamu ini. Karena tingkahnya bisa berubah secara mendadak, dan pastinya bisa membuat jantungan." Kata Tuan Kazza pada adik perempuannya, yakni Bunda Afna.


"Tenang saja kalau bersamaku, bahkan dia akan menjadi pemalu seperti siput." Sahut Bunda Afna sedikit bergurau.


"Tante, kok seperti siput sih? Kalla kan merasa kek jadi kancil." Kata Kalla ikut menimpali.


"Ada ada aja kamu ini, Nak. Sudah lah, kalian berdua masuk ke kamar. Nanti Tante menyusul kalian, Tante harus ganti baju dan juga cuci muka. Ingat, kalian berdua juga harus cuci muka agar terasa segar. Kalau untuk soal baju, sudah disiapkan oleh pelayan. Jadi, buruan masuk ke kamar." Ucap Bunda Afna, Vellyn mau Kalla segera masuk kedalam kamar.


Sedangkan Bunda Afna dan Tuan Zayen mengantarkan sang Kakek dan Omma, serta Tuan Kazza bersama sang istri sampai didepan rumah.


Setelah tidak lagi nampak bayangan mobil milik keluarga Danuarta, Tuan Zayen dan sang istri kembali masuk ke kamarnya.


"Pa, bagaimana hasilnya?" tanya Bunda Afna sambil mengunci pintu kamarnya.


"Kalla dan Romi masih meminta waktu untuk dipikirkan lagi." Jawab Tuan Zayen sambil melepaskan pakaiannya dan mengganti dengan baju tidur.


Begitu juga dengan sang istri, Bunda Afna mengambil baju tidurnya dari dalam lemari.


"Jadi, Vellyn dan Arnal sama sama mau menerima perjodohan? syukurlah kalau begitu." Ucap Bunda Afna, kemudian ia masuk ke kamar mandi.


"Iya, tapi masalahnya pada Kalla dan Romi." Kata Tuan Zayen sambil menunggu sang istri, Beliau menyibukkan diri dengan benda pilihnya.


Tidak lama kemudian, Bunda Afna telah selesai aktivitasnya sebelum tidur. Karena Tuan Zayen belum mencuci muka dan menggosok giginya, Beliau masuk ke kamar mandi.


Sedangkan didalam kamar yang sudah dijadikan kamar Vellyn. Kini kedua gadis cantik itu tengah sibuk dengan berbagai macam perawatan nya sebelum tidur.


"Vel, kamu yakin mau menikah dengan mantan kekasihnya Kak Lunika? yang benar saja, kamu." Tanya Kalla yang menyayangkan saudara perempuannya menikah dengan seorang duda, pikir Kalla.

__ADS_1


"Entah lah La, aku sendiri tidak tahu. Yang jelas aku mendapatkan pelajaran didalam keluargaku sendiri, contohnya Tante Neyla dengan Paman Seyn." Jawab Vellyn sambil mengurai rambutnya yang sebahu.


"Cerita dong Vell, serius aku tidak tahu cerita dari bagian keluarga Wilyam. Yang aku tahu hanya Omma Qinan dan Kakek buyut Angga. Aku kagum dengan kesabaran Beliau dan kesetiannya, meski banyak hinaan dan cacian, Omma Qinan begitu sabar menghadapi sosok Kakek Angga yang super dingin itu. Kalau untuk Tante Neyla dan Paman Seyn, aku benar benar tidak tahu." Ucap Kalla bercerita tentang masa lalu.


"Paman Seyn itu, mantan kekasih Tante Afna. Sedihnya lagi, Paman Seyn menggagalkan pernikahannya yang tinggal menghitung hari." Ucap Vellyn untuk menarik napasnya. Disaat itu juga, Bunda Afna sudah berada disebalah Vellyn.


"Terus ...."


Seketika, Vellyn terkejut saat mendapati Bunda Afna yang sudah berada didekatnya.


"Tante ...." dengan reflek, Vellyn memanggil Beliau.


"Kirain Tante itu, kalian sudah tidur. Rupanya masih ngerumpi, hem. Kalian sedang ngobrolin apaan? sepertinya sangat serius."


"Tante jangan pura pura tidak tahu dong ... maafkan Vellyn ya, Tante. Bukan maksud Vellyn untuk membicarakan hal buruk tentang Tante. Tetapi, Vellyn mendapat pelajaran dari kisah Tante ke Tante Neyla." Jawab Vellyn yang pada akhirnya berterus terang.


"Tidak perlu meminta maaf sama Tante, kamu tidak bersalah. Dan Tante juga tidak marah, karena itu masa lalu dan juga memang kenyataan. Jadi, wajar wajar saja jika kamu ingin bercerita. Ambil saja segi positifnya, jika menurut mu itu ada. Kalau tidak ada nilai positifnya, kamu bisa buang segi negatifnya itu. Karena disetiap masalah, pasti ada pelajaran yang bisa kita ambil." Ucap Bunda Afna mengingatkan.


"Vellyn mau ke kamar mandi dulu ya, Tante. Tiba tiba Vellyn kebelet banget." Ucap Vellyn beralasan.


"Kok keluar?" tanya Bunda Afna heran.


"Vellyn mau ke kamar mandi yang ada di bawah Tante, soalnya didalam kamar ada Tante dan Kalla. Yang ada bisa bisa berhenti sampai didepan pintu gerbang." Jawab Vellyn beralasan.


"Bod*oh amat, wek ..." kata Vellyn sambil menjulurkan lidahnya. Kemudian ia segera keluar dari kamar.


Setelah Vellyn tidak ada lagi didalam kamar, kini Kalla tinggal berdua saja bersama Bunda Afna.


"Oh iya, bagaimana tadi?" tanya Bunda Afna membuka obrolan.


"Maksud Tante?" Kalla bertanya balik.


"Tadi loh, saat kamu berada didalam ruangan bersama Kakek Gan dan Paman Seyn. Bagaimana tanggapan dari kamu? apakah kamu menerimanya?" tanya Bunda Afna memastikannya langsung.


"Em ... Kalla belum memberi jawaban nya, Tante." Jawab Kalla sambil menunduk.


"Kenapa? apakah kamu meragukan sosok Romi? atau ... kamu sudah mempunyai kekasih?" Bunda Afna kembali bertanya.


"Kalla takut mengecewakan dan juga takut kecewa, Tante. Ditambah lagi diantara kita belum ada rasa cinta, Kalla takut akan ada perasaan yang akan tersakiti, Tante." Jawab Kalla dengan keraguannya.


"Coba kamu pikirkan dengan baik, usia kamu sekarang ini sudah tidak lagi muda. Kamu harus mulai berani untuk terjun ke lapangan, hidup kamu bukan hanya untuk bersenang senang saja. Tetapi ada sebuah masa depan yang harus kamu hadapi, karena kedua orang tuamu tidak akan selalu berada didekatmu. Lantas, apa tujuan hidupmu? apakah hanya sebatas sampai usia dewasa berakhir?"

__ADS_1


Kalla yang mendengarnya pun, ia merasa bingung untuk menjawab pertanyaan dari Tante nya.


"Kalla takut, Tante." Jawab Kalla dengan singkat, Bunda Afna akhirnya duduk lebih dekat dengan keponakannya. Kemudian merangkulnya dengan posisi duduk bersebelahan, sedangkan Kalla memilih untuk bersandar pada Bunda Afna yang sudah seperti Ibundanya sendiri.


"Kamu takut, takut kenapa?"


"Takut seperti Omma Arsyla, yang diduakan oleh Kakek Darma demi perempuan lain." Ucap Kalla yang tidak pernah lupa dengan asal usul keluarganya dari sang ibu.


"Kenapa bisa bisanya kamu memikirkan hal yang sejauh itu, Nak?" tanya Bunda Afna.


"Karena Kalla tidak bisa menilai sebuah rumah tangga itu, hanya karena dari rasa tidak suka dan menjadi bucin. Tetapi .... dari cinta dan berakhir dengan kepahitan, itu yang Kalla takutkan." Jawab Kalla yang masih bersandar pada Bunda Afna.


"Tante tidak begitu tahu masa lalu yang seperti apa yang ada pada keluarga Mama kamu. Kalau Tante boleh memberi saran, buang lah pikiran burukmu itu. Berdoalah, semoga kamu terhindar dari masalah yang sudah silam." Ucap Bunda Afna menasehati, kemudian Beliau memeluk keponakannya itu yang tengah bersandar pada dirinya dan mengusap lengannya.


"Tante hanya bisa memberimu nasehat kecil untuk kamu, jika kamu merasa berat untuk menerima perjodohan ini, kamu berhak untuk menolaknya. Jika kamu memiliki tekad yang bulat seperti Vellyn, maka kamu harus siap menanggung segala resikonya. Apapun itu sebuah kehidupan, pasti ada ples minusnya. Tinggal diri kamu sendiri, bagaimana caranya untuk menjalani kehidupan kamu. Berjalan, atau jalan ditempat." Ucap Bunda Afna mengingatkan nya, Kalla yang mendengarkannya pun mulai tersentuh hatinya.


"Tante benar, semua pasti akan ada resikonya. Seperti Tante dan Paman Zayen, yakni tidak hanya satu dua kali mendapatkan ujian yang harus Tante Afna dan Paman hadapai, bahkan entah berapa banyaknya sebuah ujian yang harus diterima dengan hati yang lapang." Jawab Kalla yang mulai sedikit demi sedikit hatinya pun mulai terbuka.


"Ingat, jangan paksakan diri. Pikirkan lagi dengan baik, ikuti apa yang menjadi tekadmu. Jangan karena si Vellyn menerimanya dengan mudah, lantas kamu hanya sekedar mengikutinya. Jangan, jangan sampai kamu mempunyai prinsip yang seperti itu." Ucap Bunda Afna yang terus memberikan nasehat nasehat kecil untuk keponakannya yang tengah dilema dengan sebuah keputusan yang harus ia pilih.


"Iya Tante, sekarang Kalla sudah mengerti dengan apa yang Tante ucapkan." Jawab Kalla, lalu ia melepaskan pelukan dari Bunda Afna.


Setelah itu, Kalla melepaskan pelukannha dari Bunda Afna. Kemudian, ia menarik napasnya pelan, lalu membuangnya dengan napasnya yang pelan.


"Jadi ... bagaimana keputusan kamu, Nak?" tanya Bunda Afna dengan tatapan penuh intens.


"Kalla siap untuk menerima perjodohan dari Kakek Ganan." Jawab Kalla untuk meyakinkan Bunda Afna.


"Kamu serius, Nak? jangan kamu bohongi kamu sendiri." Tanya Bunda Afna untuk memastikannya.


"Kalla srius, Tante. Keputusan ini benar adanya dari Kalla, bukan sekedar omong kosong." Kata Kalla dengan serius.


"Syukur lah jika ini memang benar benar keputusan darimu, Tante ikut senang mendengarnya." Ucap Bunda Afna dan tersenyum.


"Terima kasih ya Tante, sudah memberi nasehat untuk Kalla. Tidak hanya itu saja Tante, mulai sekarang Kalla akan merubah sikap Kalla sebaik mungkin. Kalla ingin menjadi seorang perempuan yang lembut dan elegan seperti Tante." Kata Kalla yang tiba tiba merasa kagum dan ingin seperti sosok Bunda Afna yang begitu lembut untuk memberikan sebuah nasehat.


'Pantas aja, Vellyn begitu lengket dengan Tante Afna. Rupanya benar benar nyaman berada di dekat nya. Meski aku juga dekat dengan Tante Afna, tapi malam ini benar benar sangat berbeda.' Batin Kalla merasa lebih tenang.


Sedangkan ditempat lain, tepatnya di rumah orang tua Romi. Kini dirinya tengah dilema dengan sebuah pertanyaan yang diberikan dari Kakek Ganan.


Ingin meminta pendapat dari kedua orang tuanya, Romi merasa tidak berani untuk berterus terang.

__ADS_1


"Bagaimana ini? apa yang harus aku katakan pada Tuan Seyn. Aku merasa kurang yakin, jika perempuan yang bernama Kalla Kalla itu mau menerimaku. Dih! kenapa aku jadi menyebut namanya." Gumam Romi dengan segala kegelisahannya.


Dengan pelan pelan, Romi keluar dari kamarnya. Berharap, semuanya akan baik baik saja seperti diinginkannya.


__ADS_2