
Pagi yang begitu cerah, secerah kebahagiaan Zicko dan Lunika serta keluarga besarnya. Kini, Lunika sudah dapat diizinkan untuk pulang ke rumah utama. Karena persalinan Lunika tidak dilakukan operasi, maka tidak harus berlama lama berada di rumah sakit. Hanya saja ada beberapa jahitan karena harus menambah jalan untuk mempermudah jalannya lahiran.
Dalam perjalanan pulang, Lunika berada dalam sandaran suaminya. Zicko pun berulang ulang mencium pucuk kepala istrinya penuh perasaan bahagia, bahkan hingga tidak terhitung seberapa bahagianya yang didapatkannya.
"Sayang, maafkan aku yang sudah mengkhawatirkan kamu. Andai saja aku tidak melakukan panggilan video denganmu, mungkin aku tidak akan mengganggu pekerjaan kamu. Sampai sampai kamu harus meninggalkan pekerjaan kamu, maafkan aku." Ucap Lunika merasa bersalah pada suaminya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, aku sudah meminta orang kepercayaan Papa untuk menggantikanku, siapa lagi kalau bukan Romi sahabat kamu itu. Kamu dan Niko adalah nyawaku, aku tidak akan mengulangi kesempatan emas ini. Aku akan selalu ada untuk kalian berdua, apapun yang harus menjadi taruhan. Meski nyawaku sekalipun, aku akan mentaruhkannya demi kamu dan Niko." Ucap Zicko meyakinkan dan kembali mengeratkan pelukannya.
Tidak memakan waktu yang lama, Zicko dan istri telah sampai dihalaman rumah. Karena takut terjadi apa apa pada sang istri, Zicko dengan sigap segera turun dari mobil lebih dulu, kemudian ia menggendong istrinya sampai didalam kamar. Sedangkan bayi Niko berada pada gendongan Nyonya Afna ditemani istri Tuan Guntara.
Sampai didalam kamar, Zicko menurunkan istrinya dengan sangat hati hati sekali.
"Lunika, sepertinya Niko sangat haus. Jangan lupa, kamu beri ASI dulu ya, Nak. Tapi sebelumnya kamu cuci kaki dan juga cuci tangan terlebih dahulu, biar Zicko yang membantumu untuk mengambil airnya. Oh iya, jangan lupa ganti bajunya juga." Ucap sang ibu mertua dan meminta putranya untuk melakukannya, Zicko pun mengangguk dan segera mengambil air dari kamar mandi.
Setelah sudah selesai semuanya, kini bayi Niko berada dalam pangkuan Lunika sambil memberi ASI untuk putranya. Sedangkan Zicko berada disebelahnya untuk menemaninya.
Karena ia lupa belum juga mandi, segera ia membersihkan diri selagi sang istri yang sedang memberi ASI untuk putra kesayangannya.
"Aku mandi dulu ya, sayang. Kalau ada sesuatu yang ingin kamu butuhkan, kamu bisa tekan bel nya. Nanti salah satu pelayan akan datang, aku tinggal mandi dulu." Ucap Zicko sambil melepas kemejanya, Lunika pun mengangguk.
Dengan perasaan lega dan tidak lagi ada tekanan yang ia pikirkan, Lunika kini dapat bernapas lega.
"Syukurlah, suamiku dan bayiku dalam keadaan baik baik saja. Aku berharap diantara kami tidak ada lagi kata perpisahan, semoga saja." Gumam Lunika penuh harap.
"Sayang, jangan banyak melamun. Kasihan Niko kamu cuekin, hem ... tidak baik memikirkan sesuatu yang dapat memicu kesehatan." Ucap Zicko yang mengagetkan istrinya yang tengah melamun..
"Habisnya kamu benar benar sangat mengkhawatirkanku, jadi wajar jika aku banyak melamun."
"Iya ya ya, aku tahu itu. Beruntung banget aku memiliki istri sepertimu, begitu mengkhawatirkan suaminya. Ditambah lagi aku memiliki jagoan yang sangat tampan, aku berharap ketangguhannya akan sekuat diri kamu." Ucap Zicko, kemudian lagi lagi mencuri ciuman saat kedua matanya saling bertemu.
"Aku sangat merindukan kamu, bahkan aku tidak bisa tidur dengan tenang. Karena apa? kamu bagiku candu yang tidak bisa hilang, selamanya dan untuk selamanya. Oh iya, kamu ingin makan apa sayang? nanti aku akan meminta sama pelayan untuk memasaknya. Karena kamu harus banyak makan, agar nutrisi pada ASI yang ada pada kamu melimpah ruah." Ucapnya lagi, kemudian menawarkan sesuatu yang istrinya inginkan.
__ADS_1
"Apa saja, kalau boleh sih bebek bakar terus tumis sayur bagaimana?"
"Baik lah, aku akan meminta pelayan untuk menghidangkannya untuk kamu. Tunggu sebentar, ya. Aku mau membuatkan kamu susu dan mengambilkan buah untuk kamu makan, bebek bakarnya nanti menyusul." Ucap Zicko.
"Maafkan aku yang sudah merepotkan kamu, terima kasih banyak, sayang." Sahut Lunika, kemudian Zicko segera keluar dari kamar untuk membuatkan susu istrinya dan juga tidak lupa dengan buahnya.
"Tuan, biar saya saja yang membuatkan susu untuk Nona. Lebih baik Tuan temani Nona saja, biar saya yang melakukan pekerjaan ini." Ucap salah satu pelayan yang merasa tidak enak jari melihat Bosnya yang melakukan pekerjaan yang semestinya tidak untuk dikerjakan.
"Ini spesial untuk istri tercinta, aku ingin melayani istriku dengan baik. Karena istriku sudah berjuang dengan mentaruhkan nyawanya untuk melahirkan sang buah hati, jadi biarkan saya yang melakukannya." Sahut Zicko yang bersikukuh untuk melayani istrinya dengan baik.
"Baik lah Tuan, kalau begitu saya permisi untuk melanjutkan pekerjaan saya." Ucapnya izin pamit, Zicko hanya mengangguk sambil membuat susu untuk istrinya.
Sedang di dalam ruang kerja, ada Tuan Zayen tengah sibuk berkomunikasi dengan orang kepercayaannya, yakni Romi. Sahabat dekat Lunika, serta sudah dianggapnya bagian keluarganya. Meski tidak pernah muncul dikeluarga Lunika dan Zicko, Romi tengah sibuk dengan pekerjaannya serta untuk mempelajari lebih dalam lagi.
"Sayang, kenapa kamu belum juga berangkat ke Kantor? bukankah hari ini kamu ada pertemuan penting dengan Radenra, nanti terlambat loh."
"Iya, aku tahu itu. Tapi aku sedang kebingungan untuk mencari seseorang untuk masuk ke Perusahaan kita, masih kurang satu orang lagi. Sedangkan Romi sudah mulai aktif untuk menggantikan Zicko, lantas siapa orangnya yang dapat kita percaya?"
"Baik lah, sekarang juga kamu panggil Zicko untuk menemuiku di ruang kerja. Aku tunggu, waktuku tidak lama lagi harus berangkat ke Kantor."
"Baik lah, aku panggilkan Zicko." Sahutnya, kemudian sang istri segera memanggil putranya untuk menemui sang ayah yang berada di ruang kerjanya.
Tidak lama kemudian, Zicko segera menemui sang ayah sesuai pesan dari ibunya.
"Permisi, Pa."
"Masuk lah, jangan buang buang waktumu." Perintah sang ayah, Zicko pun menurutinya dan duduk dihadapan Beliau.
"Papa tidak mempunyai banyak waktu, ada yang harus Papa bicarakan pada kamu."
"Iya Pa, silahkan."
__ADS_1
"Apakah kamu masih mempunyai seseorang yang dapat kamu percaya untuk menjadi orang kepercayaan di Perusahaan kita? jika ada sebutkan namanya."
"Seseorang? maksud Papa?" tanya Zicko yang juga belum mengerti apa yang dimaksudkan ayahnya itu.
"Begini Zicko, Papa membutuhkan seseorang untuk bekerja di Perusahaan kita. Sedangkan orang tersebut yang mampu dipercaya dengan baik. Apakah kamu punya pandangan? karena Romi sudah ditugaskan untuk menggantikan kamu jika ada pertemuan di luar Kota, sedangkan untuk ke luar Negri Papa sendiri yang akan berangkat."
"Terus ... tugas Zicko apa dong?"
"Tugas kamu bermain dibalik layar, mulai sekarang kamu harus belajar dari Paman kamu, yaitu Paman Viko. Makanya, kamu beri tahu Papa jika kamu mempunyai orang kepercayaan yang dapat dipercaya dengan baik."
Disaat itu juga, otak lelahnya dipaksakan untuk berpikir. Berulang ulang Zicko berpikir untuk mengingat siapa siapanya yang dapat ia percaya dengan baik.
"Joni, ah! iya Joni. Tapi ... aku kurang mempercayainya soal kepintarannya yang terbilang lebih." Gumamnya sambil terus berpikir.
"Ah!!! iya, Zicko ingat. Arnal, iya! Arnal."
"Arnal?" Tuan Zayen pun kembali mengingatnya.
"Iya Pa, Arnal. Tapi ..."
"Tapi kenapa, Zicko?"
"Em ... tidak apa apa Pa, mantan kekasihnya Lunika. Sekarang ia duda, duda dadakan." Jawabnya sambil nyengir pahit.
"Hem, tidak. Papa tidak setuju, Papa takut ada konflik antara kamu dengan Arnal."
"Tidak lah Pa, Zicko sudah mengenalnya dengan baik. Sedikitpun Zicko tidak begitu khawatir terhadap Arnal, justru Zicko khawatir terhadap Denra."
"Hem, terserah kamu saja. Keputusan ada di Kantor, ok."
"Iya Pa, nanti akan Zicko pikirkan lagi." Jawab Zicko, kemudian ia segera kembali ke kamarnya.
__ADS_1