
Usai sama sama berterus terang, Vey dan suami bergantian untuk membersihkan diri. Dey sendiri tidak ingin terlalu buru buru untuk meminta haknya, biarlah waktu yang akan menyatukan hubungannya bersama sang istri. Setidaknya ia sudah berkata jujur atas perasaannya yang tidak ingin lama lama untuk menyembunyikannya, yang terpenting hubungannya tidak lagi seperti Tommy and Jerry, pikirnya.
Begitu juga dengan Vey, ia sendiri akan mencoba untuk bersikap layaknya sebagai istri yang sebagaimana mestinya. Meski ia sendiri sedikit kesulitan untuk merubah prilakunya yang tidak seperti perempuan lainnya yang terlihat feminim dan bermanja mesra didepan suaminya.
"Bagaimana kalau kita makan malamnya diluaran sana, di pinggir jalan sambil menikmati malam seperti anak muda lainnya. Sudah lama aku tidak menikmati hari hari seperti anak muda pada umumnya, nongkrong bersama kawan dan bergosip tentang masa depan. Meski kenyataannya apa yang dibicarakan kaum lelaki tidak berujung ada penyelesaiannya." Ajak Dey sambil meraih tangan istrinya dan menggandengnya, Vey sendiri tersenyum malu.
Begitu cepat reaksi suaminya untuk dekat dengannya, bahkan dengan mudahnya untuk berkata tentang perasaan.
"Setuju nih, ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang juga. Oh iya, bagaimana kalau kita pakai motor saja. Sepertinya akan jauh lebih menyenangkan, bukan?"
"Serius nih naik motor, kalau begitu biar aku yang bonceng kamu, bagaimana?"
"Hem, tidak. Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu mengendarai motor, bisa bisa harga diriku jatuh begitu saja."
"Ye ... kan lebih keren kalau aku yang bonceng, bagaimana? mau sih, ya ... ok ok!"
"Sekali tidak, ya tidak. Yang ada tuh, yang dikatain keren tuh kamu. Enak saja, aku tidak mau. Lebih baik kamu itu nurut, ok."
__ADS_1
"Hem, padahal aku ingin menyalurkan energiku. Kamu tahu? jika aku tidak menyalurkan hobiku, bisa bisa nanti malam aku bisa menjatuhkan kamu dari tempat tidur seperti semalam, bagaimana coba?" dengan senyum merayu, Vey berusaha mencari ide untuk bisa mengendarai motor sesuai keinginnya. Meski alasannya itu sedikit konyol, namun mau bagaimana lagi. Hanya itu satu satunya ide yang dimiliki oleh Vey untuk merayu serta memberi ancaman pada suaminya.
"Hem, ancaman kamu tidak akan manjur untuk aku. Sudahlah, ayo kita berangkat. Jangan banyak debat, lebih baik kamu nurut saja dengan suami kamu ini. Malam ini aku akan mengajakmu berbahagia, dan momen malam ini tidak akan bisa kita lupakan, ok."
"Dih, segitunya. Baiklah paduka raja, istrimu ini siap berlabuh kemana arah yang akan Kanda tuju." Jawab Vey sambil meledek, Dey yang mendengarnya hanya tertawa kecil dan menjapit hidung mancung milik istrinya. Lagi lagi Dey mencuri ciuman dari bibir ranum dan manis milik istrinya.
"Dih! dasar mesum, sukanya nyuri ciuman dari bibirku yang se*ksi ini." Ucap Vey dan mengerucutkan bibirnya, Dey lagi lagi tersenyum dan mengajaknya keluar sambil menggandeng tangan istrinya.
Sedangkan ditempat lain, ada Lunika yang tengah gelisah dan terasa sangat gerah. Meski dirinya telah menyalakan AC nya cukup dingin, namun tidak membuat rasa gerahnya hilang. Justru yang dirasakan Lunika kini semakin tidak karuan, ditambah lagi yang selalu buang air kecil dijam yang tidak lama dan berkali kali harus ke kamar mandi.
Entah perasaan sesedih apa yang ada didalam pikiran Lunika, sehingga membuatnya terasa sakit untuk ia rasakan. Mungkinkah karena bawaan si jabang bayi, atau ada sesuatu yang tidak mengenakkan untuk dilewatinya. Sebisa mungkin Lunika untuk menepis pikiran buruknya, namun tetap saja ia merasa kesulitan.
"Sayang, kenapa dadaku terasa sakit dan sesak. Aku sudah berusaha untuk menepisnya, tetapi aku tidak dapat untuk melakukannya. Mungkinkah karena bawaan buah hati kita, atau ... perasaanku saja yang akan menghadapi kelahiran anak kita tanpa adanya kamu disampingku, hingga aku menjadi dilema seperti ini. Aku sendiri tidak tahu, apa yang sebenarnya yang akan terjadi. Tapi aku merasakannya, bahkan ini jauh lebih sesak dari sebelumnya. Aku kembali ketakutan, dan aku pun tidak bisa untuk menenangkan perasaan kekhawatiranku." Gumam Lunika sambil menatap ke arah foto pernikahannya dan menitikan air matanya.
Disaat itu juga, Vellyn terbangun dari mimpinya. Dilihatnya sang kakak yang tengah memandangi sebuah foto pernikahannya. Tidak hanya itu saja, Vellyn pun dapat melihat jika sang kakak seperti menangis karena sebuah kerinduan, pikirnya.
Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada kakak iparnya, Vellyn beranjak bangun dari tempat tidur dan mendekati kakak iparnya untuk mengajaknya kembali beristirahat.
__ADS_1
"Kak Lun, ada apa dengan Kakak? apakah Kak Lun merindukan Kak Zicko?" tanya Vellyn sambil berdiri disebelah sang kakak.
Lunika yang merasa dikagetkan adanya adik iparnya disebelahnya, segera ia menoleh kearah Vellyn.
"Kak Lun habis menangis?" tanya Vellyn lagi dan mengusapnya bersama ibu jarinya dengan lembut. Lunika sendiri segera menyingkirkan tangan milik Vellyn, ia tidak ingin membuat adik iparnya ikut khawatir.
"Iya, Kakak menangis karena rindu. Jangan berpikiran yang aneh aneh, ini hal yang wajar sebagai seorang istri yang ditinggal pergi ke luar Kota dengan keadaan hamil tua. Terus, kenapa kamu bangun?"
"Vellyn sangat khawatir dengan Kakak, takut Kak Lun kenapa napa. Karena Vellyn melihat Kakak tengah menangis, jadi Vellyn langsung mendekati Kakak. Tapi benar 'kan? jika Kakak tidak menyembunyikan sesuatu pada Vellyn."
"Tidak ada yang Kakak sembunyikan sama kamu, Vellyn. Kakak itu hanya merindukan suami Kakak karena jarak yang jauh memisahkan, jadi tidak perlu kamu cemaskan Kakak." Sahut Lunika beralasan, meski kenyataannya tidak hanya rindu saja yang dirasakannya. Namun kekhawatiran terhadap rumah tangganya sendiri, antara dirinya, sang buah hati, dan juga suaminya sendiri yang bisa dijadikan umpan untuk orang yang tidak bertanggung jawab.
"Benar, ya ... jika Kak Lun tidak bohongi Vellyn. Karena Vellyn takut jika sampai terjadi sesuatu dengan kesehatan Kakak." Ucap Vellyn yang masih merasa cemas terhadap Kakak iparnya.
"Tidak ada yang perlu kamu cemaskan, Vellyn. Lihat lah jarum jamnya, sudah menunjuk waktu yang hampir larut malam, bukan? sekarang juga ayo kita kembali ke tempat tidur. Besok kita harus bangun pagi pagi untuk berolahraga ditaman belakang. Jadi, ayo kita tidur. Tidak baik untuk bergadang, sayang kesehatannya." Ajak Lunika untuk kembali beristirahat, Vellyn pun hanya mengangguk nurut pada kakak iparnya.
Karena rasa kantuk yang tidak dapat untuk ditahan, Lunika dan Vellyn akhirnya terlelap dari tidurnya. Keduanya pun sama nyenyaknya dan terbawa dalam mimpinya.
__ADS_1