Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Rasa penasaran


__ADS_3

Saat membuka kedua matanya, Vellyn memperhatikan isi kamar yang ia tempati.


"Dimana aku? kamar siapa ini?" gumam Vellyn bertanya tanya sambil mengamati isi kamar.


"Arnal! iya, itu orang yang sudah membawaku kemari. Awas saja nanti, aku hajar itu orang." Gumam Vellyn sambil meremat kedua tangannya dengan perasaan geram, seakan sudah siap untuk melayangkan tinjauan nya.


Karena masih terlalu pagi dan pemilik rumah pun belum ada yang terbangun dari tidurnya. Akhirnya Vellyn memilih untuk mencuci mukanya agar rasa kantuk nya cepat menghilang.


Sedangkan di kamar tamu, Arnal masih terlelap dari tidurnya. Namun, tiba tiba ia teringat dengan Vellyn yang tengah tidur di kamarnya.


"Itu anak sudah bangun belum, ya? marah, marah tuh anak. Bodoh amat lah, salah sendiri tidur didalam mobil." Gumam Arnal sambil menatap langit langit kamarnya, disaat itu juga dirinya kembali teringat dengan sosok perempuan yang sudah menjadi perusak hubungan nya dengan Lunika.


"Aku pikir jalan hidupku tidak serumit ini, rupanya rumitnya mengalahkan rumus matematika. Sampai sekarang pun aku masih tetap dengan statusku, duda. Yang benar saja aku sudah menjadi duda, duda macam apa aku ini." Gumam Arnal yang tiba tiba mentertawakan dirinya sendiri ketika mengingat akan statusnya yang cukup mengenaskan.


"Tertawa, lagi. Bangun! sekarang juga, antarkan aku pulang." Sahut Vellyn yang sudah berdiri diambang pintu yang tidak ditutup sama sekali oleh Arnal, disaat itu juga Arnal langsung bangkit dari posisinya secara reflek.


"Nona Vellyn, sudah bangun?" tanya Arnal sambil menajamkan pandangan nya agar tidak kabur.


"Tidak usah banyak omong, sekarang juga antarkan aku pulang. Sebelum kamu memperalat aku, cepetan ambil kunci mobilnya." Kata Vellyn dengan tatapan kesal, Arnal sendiri masih setengah sadar dan tidak sadar saat mendengar perintah dari Vellyn.


"Ok ok ok, saya akan antarkan Nona pulang. Tapi ... setelah semuanya beres, termasuk saya sudah mandi, sarapan, dan membereskan bawaan saya yang akan dibawa ke luar Kota. Jika Nona tidak sabar, maka hubungi saja keluarga Nona." Jawab Arnal, kemudian mengucek kedua matanya.


Vellyn yang tidak mempunyai pilihan, akhirnya hanya bisa nurut. Baginya sangat percuma jika dirinya menghubungi keluarganya, apa lagi sang kakak. Jika satu menolak, maka seluruh keluarga yang lainnya akan menanggapi hal yang sama untuk menolaknya.

__ADS_1


"Iya ya ya, tidak Paman, kak Dey, kak Zicko, sama aja. Apa lagi kamu, tidak jauh beda sama mereka bertiga." Ucap Vellyn dengan ketus, Arnal yang mendengar Vellyn tengah berdecak kesal hanya tersenyum dan meninggalkan Vellyn ke kamar mandi begitu saja.


Vellyn yang merasa dicuekin akhirnya memilih untuk kembali masuk ke kamar. "Benar benar sial aku ini, gara gara ayam geprek, sial ku tidak kunjung selesai." Gumam Vellyn sambil berjalan menuju kamar.


Saat sudah berada didalam kamar, Vellyn mulai memperhatikan isi kamar tersebut. Dilihatnya konsep kamarnya yang cukup menarik dan juga rapi. Disaat pandangan nya pada cermin, tiba tiba sepasang matanya tertuju pada sebuah bingkai foto kecil yang terdapat di atas lemari kecil milik Arnal. Rasa penasarannya pun membuat Vellyn ingin memastikan foto itu.


"Benarkah ini kak Lunika? cantik banget kak Lunika saat masih sekolah abu abu, pantas aja Arnal tidak bisa move on. Rupanya dia masih menyukai kak Lunika, foto mereka berdua saja masih ada. Cinta memang menyakitkan, kasihan sekali dia. Untung aja aku tidak mempunyai kisah sepahit dia, benar benar menyakitkan." Gumam Vellyn ketika mendapati foto kakak iparnya sendiri.


Setelah melihat foto Lunika dengan bingkai kecil, sepasang matanya tertuju pada sebuah album foto diatas meja. Lagi lagi Vellyn menyimpan rasa penasaran yang lebih jauh lagi, akhirnya ia mencoba melihatnya.


"Album, rupanya masih ada yang menyimpan foto lewat album. Sepertinya ini album sudah cukup lama, jadi penasaran deh." Gumam Vellyn mencoba untuk membuka nya.


"Siapa laki laki ini? ooh iya, foto ini bukannya kak Denra? ini seperti Romi, ini Arnal, ini kak Lunika. Wah ... beruntung banget ya, kak Lunika. Dikelilingi cowok ganteng ganteng semua, eh! ngapain juga aku memuji sekretaris Arnal, kepedean banget kalau dia dengar." Gumamnya cukup terdengar oleh seseorang yang ada didekatnya.


Seketika, sekujur tubuh Vellyn mendadak lemas tidak berdaya. Vellyn pun tercengang mendengarkannya, ingin menoleh tapi tidak mempunyai nyali.


"Kenapa berhenti, Nona? bukankah Nona masih penasaran dengan album itu?"


Disaat itu juga, akhirnya Vellyn langsung meletakkan album nya. Kemudian ia menoleh kebelakang, tepatnya pada Arnal yang sudah berdiri dengan tegak.


"Tidak jadi, lagian aku tidak mengenalmu. Jugaan tidak ada yang lucu untuk membuatku tertawa, permisi." Ucap Vellyn dan segera keluar dari kamar, namun tiba tiba tangannya dicegah oleh Arnal.


"Maaf Nona, bukan niat saya untuk lancang. Ini ada pakaian untuk Nona, segera lah mandi. Sebentar lagi kita akan pergi dari rumah ini, waktu saya tidak banyak untuk menunggu Nona berlama lama di dalam kamar." Sahut Arnal, kemudian menyodorkan paperbag pada Vellyn.

__ADS_1


"Dapat baju dari mana, kamu?" tanya Vellyn penasaran.


"Saya sudah memesannya sejak tadi malam, Nona. Jangan berpikiran yang aneh aneh, bajunya masih tersegel." Jawab Arnal dengan tatapan serius.


"Awas ya, kalau sampai ini baju milik mantan istri mu." Ucap Vellyn dengan tatapan kesalnya.


"100% milik butik, Nona. Jika kurang percaya, lihat sendiri segelnya. Kalau begitu saya permisi Nona, silahkan untuk membersihkan diri." Sahut Arnal, kemudian ia segera keluar dari kamarnya.


Sedangkan Vellyn langsung mengunci pintunya dan segera mengecek pakaian yang diberikan dari Arnal.


"Ah iya, rupanya butiknya paman Zayen. Jangan jangan ... ih! menyebalkan, ini pasti kerjaan paman Zayen." Gumam Vellyn sambil berdecak kesal ketika mendapatkan merk baju atas nama keluarganya sendiri.


Karena tidak ingin membuang buang waktu, akhirnya Vellyn segera membersihkan diri di jam yang masih sangat pagi. Mau tidak mau, Vellyn terpaksa untuk mandi. Begitu juga dengan Arnal, ia segera membersihkan diri di kamar tamu.


Setelah selesai, Arnal mengemasi beberapa stel pakaian yang akan ia bawa ke luar Kota. Sedangkan Vellyn yang sudah siap, ia segera keluar dari kamar.


Saat berada di ruang tengah, tiba tiba Vellyn merasa tenggorokannya kering. Akhirnya ia menuju ke dapur.


"Eh Nona, Ada perlu apa Nona ke dapur?"


"Saya haus, Bu." Jawab Vellyn malu malu.


"Ooh, mau minum? sebentar ya Nona, saya ambilkan dulu."

__ADS_1


"Tidak usah repot repot, Bu. Saya bisa mengambilnya sendiri kok, Bu." Kata Vellyn yang tidak enak hati diperlakukan bak Majikan.


__ADS_2