Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Ketahuan


__ADS_3

'Kalau bukan karena telah menyelamatkan kamu, aku tidak akan sudi meminta maaf dengannya.' Batinnya, kemudian menggandeng tangan sang istri menuju ruang makan.


Karena tempat duduk yang sudah dipenuhi yang lainnya, Zicko dan Lunika duduk bersebelahan. Hanya saja posisi duduk Deyzan berhadapan langsung dengan Lunika, hingga membuat Zicko kembali terbakar rasa cemburu.


Dengan santai, Deyzan menikmati makan malamnya. Sedangkan Zicko hanya mengawasi antara sang istri dan sepupunya sendiri.


Dengan telaten, Lunika melayani suaminya dengan penuh perhatian seperti biasa. Seketika semuanya hening, hanya suara sendok yang tengah beradu dengan piringnya.


Sesekali Zicko memperhatikan istri dan Deyzan secara bergantian, takut apabila ada sesuatu yang tidak diketahuinya.


Setelah memakan waktu yang cukup lama ketika menikmati makan malamnya, Tuan Zayn maupun Tuan Viko serta anak dan istrinya segera kembali ke kamar. Namun tidak untuk Zicko dan Lunika, keduanya masih duduk di ruang makan.


"Kenapa kamu belum juga meminta maaf, sayang? apakah kamu masih marah dengannya? meski hal sepele, masalah bisa jadi besar jika diantara salah satunya menyimpan rasa kebencian." Tanya Lunika membuka suara, Zicko menoleh pada istrinya.


"Baik lah, aku akan temui Deyzan. Sekarang kamu masuk lah ke kamar, aku akan menyusulmu nanti." Jawab Zicko dan segera bangkit dari posisi duduknya.


'Kenapa begitu cemburu pada sepupunya sendiri? sedangkan dengan Arnal saja biasa biasa aja.' Batin Lunika penuh keheranan dan segera kembali ke kamar.


Sedangkan Zicko kini menemui saudara sepupunya, dengan malas Zicko mengetuk pintu kamar.


"Ada apa, Kak?" tanya Deyzan yang sudah berada dihadapan Zicko.


"Apa kamu ada waktu?" tanya Zicko balik.


"Tentu saja ada, Kak Zicko mau mengajakku mengobrol dimana?"


"Di sana, tempat untuk santai." Jawab Zicko sambil menunjuk kearah yang dimaksudkan, Deyzan mengangguk. Lalu keduanya berjalan menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh Zicko.


"Duduklah, aku hanya ingin berbicara sebentar." Ucap Zicko dan menarik kursinya, lalu ia duduk.


Setelah keduanya duduk dan berhadapan, Zicko memulai pembicaraannya.

__ADS_1


"Dey, maafkan aku soal yang tadi. Aku terbawa emosi, karena aku tidak ingin ada yang berani menyentuh istriku. Entah lah, aku sendiri masih terbayang bayang dengan seseorang yang kapan saja bisa merebut istriku."


"Hem, soal istrimu. Tenang saja, aku tidak akan merebutnya darimu. Kamu pikir aku ini pebinor, ada ada aja kamu ini Kak. Sudah sana Kakak istirahat, temani istrinya atau manjakan dengan pijatan pijatan lembut untuknya." Jawab Deyzan dengan santai.


"Baik lah, aku kembali ke kamar." Ucap Zicko yang serasa malas untuk berbicara, Deyzan pun mengangguk.


Usai berbicara dengan Deyzan, Zicko kembali ke Kamarnya. Dilihatnya sang istri yang tengah mengganti pakaian tidurnya, Zicko hanya menatapnya malas.


"Sayang, kamu kenapa? kok sepertinya kelihatan sedang kesal?" tanya Lunika yang mendapati suaminya masuk ke kamar.


"Tidak apa apa, mungkin aku lelah." Jawabnya datar, Lunika semakin bingung dan penasaran. Akhirnya ia mendekati sang suami untuk mengetahui apa yang menyebabkannya terlihat murung.


"Sayang, kamu kenapa? ada masalah lagi?" tanya Punika sambil memainkan jari jemarinya seraya menggoda suaminya dengan nakal. Kemudian mengecup bibir milik suaminya dengan menggoda.


Karena pikirannya yang tengah dikuasai emosi, sedikitpun Zicko tidak meresponnya. Lunika semakin bingung dengan sikap suaminya yang berubah total saat kedatangan saudara sepupunya.


"Sayang, sebenarnya ada apa denganmu? kenapa kamu tiba tiba berubah dingin seperti ini sih? apa aku ada salah? tunjukan salahku itu dimana?" tanya Lunika yang semakin bingung dibuatnya. Bahkan godaan darinya saja tidak mendapatkan respon sedikitpun.


"Bayang bayang apa maksud kamu, sayang? aku tidak mengerti dengan apa yang kamu pikirkan." Tanya Lunika yang penasaran.


"Aden, aku takut dia akan kembali dan merebutmu dariku. Apa kamu tidak menyadarinya? Aden rupanya menyukaimu sejak dulu, tapi kalah cepat dari Arnal mantan kamu itu." Jawabnya sambil menatap lekat pada istrinya.


Seketika, Lunika tercengang mendengar penjelasan dari suaminya. "Aku tidak percaya, kamu pasti terbawa suasana kedatangan Deyzan di rumah ini." Ucap Lunika menatap suaminya tidak percaya atas penjelasannya.


"Sejauh ini aku sudah menyelidikinya, dan itu kebenarannya."


"Dari mana kamu menyelidikinya? pasti dari Romi, iya 'kan?"


"Tidak, justru aku tidak kepikiran dengan Romi."


"Terus, dari mana?"

__ADS_1


"Tidak penting, aku takut masa lalu Papa akan kembali terulang lagi. Sepertinya kita tidak akan ke Amerika, aku tidak ingin buah hati kita akan mengalami hal yang sama seperti Papa karena asmara yang tertolak." Ucap Zicko yang tiba tiba teringat akan masa lalu orang tuanya yang terpisah dari keluarganya, dan harus berujung dendam.


"Aku tidak akan memaksamu, itu pilihanmu. Jika harus tetap di Tanah Air pun aku tidak mempermasalahkannya, tapi ..."


"Tapi kenapa?"


"Siapa yang akan menggantikan Deyzan di Amerika?"


"Tentu saja Papa, kan cuma sementara." Jawab Zicko.


"Aku hanya bisa nurut dengan kamu, tentunya kamu bicarakan baik baik dengan Papa maupun Paman Viko. Aku tidak ingin kamu mengecewakan kepercayaan mereka berdua, jelaskan dengan detail alasan kamu." Ucap Lunika dan mengingatkannya, Zicko pun mengangguk dan menge*cup kening milik istrinya. Keduanya sama sama tersenyum dan saling memeluk.


"Aku janji, aku akan selalu menjagamu dan tidak akan ada yang bisa menyentuhmu dengan kasar." Ucap Zicko sambil memeluk istrinya.


"Hem, hanya aku nih yang dijaga." Jawab istrinya mengingatkan.


"Ah iya, aku lupa lagi. Ada calon buah hati yang ada di perut kamu, sayang. Iya, intinya aku akan menjaga kalian berdua dan tidak ada yang berani menyentuhnya dengan kasar." Ucap Zicko dan membenarkan ucapannya itu, kemudian keduanya sama sama melepas pelukannya.


"Aku minta, boleh?" tanya Zicko dengan ekpresi yang terkesan genit. Lunika yang melihatnya pun terasa geli dengan sikap suaminya itu.


Karena tidak sabar menunggu jawaban dari istrinya, Zicko langsung menyerang istrinya tanpa harus merayunya lagi.


Lunika hanya tersenyum merekah saat menerima perlakuan dari suaminya, keduanya kembali dimabuk asmaranya.


Sedangkan dikamar lainnya, ada Deyzan yang tengah kesulitan untuk memejamkan kedua matanya. "Keluar cari angin aja, apa ya?" sambil rebahan dan juga sambil berpikir untuk mencari solusinya.


Karena tidak ingin larut dalam kejenuhan, Deyzan memilih untuk keluar dari kamar. Dengan hati hati Deyzan membuka pintunya, berharap tidak ada yang melihat serta mendengarkannya.


"Dey, mau kemana?"


Dey yang hendak berjalan ke ruang tamu, tiba tiba langkah kakinya terhenti karena kepergok. Dengan malas, Dey menoleh kebelakang. Dilihatnya seorang ayah yang seakan tengah mengawasinya. Dey menatapnya dengan lesu dan tidak bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2