Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Bersiap siap


__ADS_3

Pagi yang cerah, Lunika tengah bermain bersama putranya didalam kamar. Begitu asik dengan keduanya, antara anak dan seorang ibu. Bahkan lelucon yang diperlihatkan oleh Niko begitu menggemaskan, berulang ulang sang ibu mencium pipi kedua putranya bergantian dengan gemasnya.


Sedangkan Tuan Zayen dan istri tengah duduk santai di balkon sambil menikmati secangkir kopi.


"Sayang, bagaimana nasib Niko jika kelak di usianya empat tahun? jika dia mengetahui tidak mempunyai seorang Ayah. Aku takut, jika dia akan dibully oleh teman temannya karena tidak mempunyai seorang Ayah. Apalagi dia anak laki laki, pasti menjadi kebanggaan Ayahnya." Ucap sang istri membuka suara.


"Iya, apa lagi dijaman yang sekarang ini, tapi mau bagaimana lagi? semua sudah menjadi takdir." Jawab Tuan Zayen yang juga ikut kepikiran akan kembang tumbuh cucu laki-laki nya.


"Bagaimana kalau kita carikan Lunika seorang suami? mungkin akan membuat hidup Lunika dan Niko akan berwarna." Ujar sang istri memberi saran pada suaminya.


"Kamu pikir semudah itu, hem. Lunika bukan type orang yang mudah luluh pada seseorang, aku rasa jika Lunika tetap akan menolaknya." Jawab sang suami yang sudah menangkap sosok menantunya.


"Kita kan belum mencobanya, tapi ... sama siapa? aku pun belum menemukan lelaki yang cocok untuk Lunika." Ucapnya dan tersenyum lebar.


"Hem, kaya gitu kok mau nyariin suami untuk menantunya. Jangan menghayal ketinggian, kalaupun ingin mencarikan suami untuk Lunika seharusnya kita izin terlebih dahulu pada kedua orang tuanya. Karena Lunika masih ada orang tua yang lengkap, kita bicarakan dulu dengan mereka. Tidak baik dan tidak sopan, jika kita tiba tiba membujuk Lunika untuk menikah lagi." Sahut Tuan Zayen yang sedikit takut akan melukai perasaan menantunya serta kedua orang tuanya.


"Iya juga sih, baik lah kalau begitu. Kita atur saja pertemuannya, lebih cepat lebih baik. Jugaan sudah dia tahun kepergian Zicko, sedangkan Niko juga membutuhkan figur seorang Ayah." Ucap sang istri yang takut akan mental pada cucunya ketika ia tidak memiliki seorang figur ayah.


"Terserah kamu saja, aku hanya mengingatkan kamu saja untuk tidak terburu buru maupun memaksanya. Karena seseorang memiliki perasaan yang berbeda beda, mungkin saja Lunika ingin tetap sendiri bersama putranya. Karena aku yakin jika Lunika akan memeliki kesetiaan pada suaminya, sama seperti tante Ellin." Sahut Tuan Zayen menebaknya.


"Iya juga sih, tapi apa salahnya kita untuk mencoba." Ucapnya.


"Iya ya ya, sudah sana temui Lunika. Katanya kamu mau menyuruh Lunika untuk menghadiri acara reuni bersama teman teman sekolahnya."


"Ah iya, hampir saja aku lupa. Ya sudah, aku mau turun dan meminta pelayan untuk menemui Lunika." Ucapnya, Tuan Zayen pun mengangguk. Kemudian sang istri segera turun.

__ADS_1


Sampai di bawah anak tangga, nyonya Afna mencari seorang pelayan yang bisa untuk dimintai tolong.


Sedangkan Lunika masih asik bermain bersama putranya dengan riang, celotehan lucu terdengar jelas di dalam kamar.


"Permisi Nona,"


"Iya Mbak, ada apa?" tanya Lunika.


"Kata Nyonya, Nona diminta untuk bersiap siap. Bukankah hari ini Nona ada acara reuni bersana teman teman sekolah?"


"Tapi Mbak, sepertinya saya akan memilih untuk absen saja."


"Sudah, cepetan bersiap siap. Biar Niko bersama Mama, lagian juga hari ini Papa libur kerja. Jadi, kamu bisa menikmati harimu ini bersama teman teman kamu." Ucap sang ibu mertua yang tiba tiba sudah berada didalam kamar.


"Tapi, Ma ... untuk apa Lunika dateng. Lagian juga Lunika sudah ada Niko, Lunika tidak kesepian kok Ma." Jawab Lunika yang terasa enggan untuk menghadiri acara reuni bersama teman teman sekolahnya.


"Mama tahu dari mana?" tanya Lunika penasaran.


"Dari Zicko, dulu suami kamu pernah bercerita pada Mama. Ah sudah lah, sekarang cepetan kamu bersiap siap. Mama sudah meminta pak Yitno untuk mengantarkan kamu, jadi sekarang lebih baik kamu segera bersiap siap."


"Iya Ma, Lunika akan bersiap siap." Jawab Lunika dengan pasrah.


"Ya sudah, kalau begitu Niko biar sama Mama saja. Kamu bersiap siap, jangan khawatirkan Niko. Karena Mama dan Papa tidak pergi ke mana mana, hanya di rumah saja." Ucap sang ibu mertua meyakinkan menantunya, Lunika pun mengangguk sedikit merasa tidak enak hati.


"Iya Ma, terima kasih atas perhatiannya pada Lunika." Ucap Lunika tidak enak hati.

__ADS_1


"Hem, mulai. Sudah sana mandi, nanti terlambat loh." Sahut sang ibu mertua dan segera menggendong cucunya untuk diajaknya untuk keluar dari kamar.


Kini tinggal lah Lunika yang berada didalam kamar sendirian, lagi lagi ia merasa malas untuk membersihkan diri. Terasa berat untuk pergi hanya seorang diri, ditambah lagi dengan statusnya seorang janda. Semakin resah dan gelisah jika ia berkumpul bersama teman teman sekolahnya. Takut, jika dirinya akan dikatakan wanita pengganggu dan semacamnya.


"Ma, bukannya Lunika tidak mau menghadiri acara reuni bersama teman teman. Lunika hanya takut menjadi pusat berbincangan, apalagi dengan status Lunika yang tidak lagi mempunyai suami. Ini sangat berat untuk Lunika hadapi, dan Lunika lebih memilih untuk di rumah saja bersama Niko. Itu akan jauh lebih baik dari pada harus keluar yang akan menimbulkan konflik, apa lagi dengan masa lalu Lunika yang hanya seorang gadis miskin." Gumam Lunika sambil menatap cermin.


Karena terpaksa harus menuruti permintaan ibu mertuanya, Lunika akhirnya segera bersiap siap. Kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi, Lunika mengenakan pakaian pemberian dari ibu mertuanya. Begitu wah untuk siapa yang memperhatikan penampilan Lunika. Namun tetap saja, semewah apapun yang dikenakannya tidak akan membuatnya tersenyum bahagia dengan sempurna.


"Andai saja kamu masih ada, aku akan menjadi seorang istri yang sangat bahagia. Bahkan aku bisa mengatakannya sangat sempurna, namun kenyataannya jauh dari kata bahagia." Gumam Lunika sambil memperhatikan penampilannya didepan cermin.


Tidak memakan waktu yang begitu lama, akhirnya Lunika sudah siap untuk berangkat. Karena tidak ingin datang terlambat dan dijadikan pusat perhatian, Lunika memilih untuk datang lebih awal.


Sampainya dibawah anak tangga, Lunika kembali terasa berat untuk meninggalkan putranya. Namun mau bagaimana lagi, Lunika hanya bisa pasrah.


"Kok belum berangkat?" sang ibu mertua pun mengagetkan nya.


"Mama, em ... itu ... em ..." jawab Lunika bingung.


"Sudah sana berangkat, pak Yitno sudah menunggu didepan rumah. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Niko, cucu Mama baik baik saja di rumah. Jugaan hari ini Papa libur kerja, jadi kamu tidak perlu untuk mencemaskannya." Ucap sang ibu mertua, Lunika sendiri merasa tidak enak hati.


"Iya Ma, terima kasih sudah memberi waktu untuk Lunika bertemu bersama teman teman sekolah Lunika. Kalau begitu Lunika pamit untuk berangkat, Lunika titip Niko pada Mama." Jawab Lunika berpamitan, kemudian mencium punggung tangan milik ibu mertuanya sebelum berangkat.


"Tentu saja Mama tidak akan melarangmu, hati hati disana." Ucap sang ibu mertua.

__ADS_1


"Iya Ma," jawab Lunika dan mengangguk, lalu tersenyum.


__ADS_2