
Nyonya Afna masih terus mendesak, begitu juga dengan istri Tuan Guntara dan juga Omma Zeil. Ketiganya sama penasarannya, bahkan bersusah payah untuk menebaknya. Namun tetap saja, Tuan Viko tetap tidak menjawabnya.
"Tante, Vey gandeng Tante Afna, ya. Boleh kan, Tante?" sosok Vey yang tiba tiba datang dan bersikap santai. Meski sebenarnya sangat bersedih, namun mau bagaimana lagi. Vey tidak mempunyai pilihan selain mengikuti permintaan ayah mertuanya dan juga keluarga lainnya. Vey hanya bisa nurut dan tidak dapat untuk menolaknya. Bersedih, itu pasti.
"Katakan pada Tante, Vey. Ada apa dengan semua ini? siapa yang meninggal? kamu jangan menutupinya pada Tante."
"Iya Vey, sebenarnya ada apa dengan semua ini? kamu sedang tidak bercanda, 'kan?" tanya ibu mertua yang juga ikut menimpali.
"Iya Vey, cepetan kamu katakan yang sejujurnya." Ucap Omma Zeil yang juga menyimpan rasa penasaran yang teramat dalam.
"Nanti kita akan mengetahuinya sendiri, ayo Tante." Jawab Vey, kemudian mengajaknya untuk segera menuju ketempat yang dimana orang orang tengah berkerumunan.
Dilihatnya dengan detail, pandangan Nyonya Afna melihat satu persatu orang orang yang ada dihadapannya. Seketika, pandangan nyonya Afna tertuju pada sebuah foto besar yang terlihat jelas begitu nyata. Sepasang matanya pun berkaca kaca melihatnya.
"Zi -- Zi --Zic -- Zicko." Panggilnya dengan suara semakin melemah.
"Tidak, tidak mungkin ini terjadi. Semua sedang bercanda, bukan? tidak, tidak!!!!!"
BRUGGGGGG
Seketika, sang ibu berteriak histeris dan jatuh pingsan ketika melihat foto Zicko yang terlihat begitu jelas.
Salah seorang segera menggendongnya dan dipindahkan ke tempat duduk, sedangkan Vey segera menyadarkan Tantenya.
__ADS_1
"Tante, bangun Tante. Maafkan Vey, Tante. Ini salah Vey, yang sudah membohongi Tante." Ucap Vey sambil mengusap usap minyak angin pada pelipis milik Nyonya Afna. Begitu juga dengan yang lainnya ikut membantu menyadarkan Nyonya Afna yang tengah pingsan setelah melihat foto putranya yang begitu sangat jelas.
Berulang ulang Vey menyadarkan Tantenya, tetap saja belum juga sadarkan diri. Semua semakin prustasi, termasuk keluarga Wilyam dan keluarga Danuarta serta yang lainnya ikut merasakan kesedihan yang mendalam.
Karena tidak juga sadarkan diri, Nyonya Afna akhirnya ditangani oleh seorang Dokter. Tidak lama kemudian, jari jemarinya mulai digerakkan. Kemudian lanjut pada sepasang matanya dengan pelan untuk dibukanya. Seketika pandangannya pun terasa kabur dan seakan tengah berada dalam mimpi.
"Zicko, dimana kamu sayang? ini semua mimpi kan, Nak? tenda ini palsu, 'kan?" Nyonya Afna masih bertanya tanya seperti tidak percaya. Apa yang sedang dihadapinya seakan semuanya mimpi, ditambah lagi tidak ada sosok suaminya serta yan lainnya.
Tidak memakan waktu yang lama, mobil yang membawa jenazah Zicko akhirnya telah sampai bersama Tuan Zayen dan yang lainnya.
Sambil berjalan sempoyongan, kedua kaki milik Tuan Zayen seakan sudah tidak lagi mampu untuk menopang tubuhnya sendiri. Sedangkan Nyonya Afna segera bangkit dari posisinya dibantu Vey berada disebelahnya, takut sewaktu waktu jatuh pingsan secara mendadak ketika melihat jasad putranya.
Sedangkan Tuan Viko segera menghampiri Tuan Zayen, takut jika sewaktu waktu ikut jatuh pingsan secara tiba tiba. Begitu juga dengan Tuan Seyn, Beliau berdiri didekat sang adik. Namun kedua matanya pun mengamati istri dari sang adik, yakni Afnaya yang terlihat tidak berdaya.
Dengan kondisi tubuhnya yang lunglai, Nyonya Afna sedikitpun tidak bergeming. Detak jantungnya seakan ingin berhenti, begitu dasyatnya ketika harus menerima kenyataan pahit disertai duka yang mendalam. Nyonya Afna serasa kehilangan semangat hidupnya, bahkan hidupnya kini tidak berarti lagi ketika harus kehilangan putra semata wayangnya.
Disaat jasad Zicko akan dikebumikan, Nyonya Afna menatapnya dengan lekat. Dilihatnya perjumpaannya yang terakhir kalinya bersama putra kesayangannya yang selau ia manjakan.
Nafasnya yang berat, Nyonya Afna benar benar tidak sanggup lagi untuk menatap putranya yang terakhir kalinya.
BRUGGGGGGG.
Seketika, Tuan Zayen dan sang istri jatuh pingsan bersamaan saat tidak lagi mampu menatap jasad putranya yang terakhir kalinya.
__ADS_1
Disaat itu juga, Seyn langsung menangkap tubuh Nyonya Afna dengan sigap dan dibantu Vey yang juga menangkapnya.
Dengan perasaan panik, Tuan Seyn segera memindahkan Nyonya Afna ke tempat duduk. Kemudian sang Dokter kembali ditangani oleh seorang Dokter. Begitu juga dengan Tuan Zayen, salah seorang Dokter laki laki juga segera menangani Tuan Zayen yang tidak sadarkan diri.
Karena takut disalah artikan, Tuan Seyn segera berpindah tempat. "Vey, jaga Tantemu." Ucap Tuan Seyn memberi pesan pada Vey, kemudian Vey mengangguk.
Setelah itu Tuan Seyn segera menghampiri sang adik yang juga belum sadarkan diri. Bagaimana Tuan Zayen tidak pingsan? kebahagiaan yang baru Beliau terima, kini harus dibayar dengan kabar duka yang sangat mendalam.
"Syukurlah jika kamu sudah sadarkan diri, ingin pulang atau ..." tanya Tuan Seyn menggantungkan kalimatnya.
"Temani aku sebentar," sahut Tuan Zayen mengerti atas apa yang diucapkan dari sang Kakak. Begitu juga dengan sang istri, Nyonya Afna pun juga ingin mendatangi makam putranya.
Kini sepasang suami istri tengah berjongkok dan menatap batu nisan yang kini tertuliskan nama Zicko Wilyam putra semata wayangnya. Hadirnya ke Dunia seakan dalam waktu yang begitu singkat. Kenangan demi kenangan seakan begitu berat untuk diingatnya kembali. Hingga keduanya kini tidak mampu untuk berucap sepatah katapun.
Karena takut semakin larut dalam kesedihan, Kakek Alfan dan Kakek Tirta mendekati putra putrinya yang tengah dirundung kesedihan yang begitu dalam.
"Zayen, Afna, sudah cukup kalian berada disini. Ayo, kita pulang.' Ajak Kakek Alfan yang tidak ingin anak dan menantunya semakin tidak terkendali akan kesedihan yang tengah dirasakannya.
Tuan Zayen serta sang istri yang tidak tahu harus berbuat apa, keduanya hanya bisa nurut tanpa bersuara.
Sampainya di tempat parkiran, semua kembali menaiki mobil masing masing. Sedangkan Tuan Zayen dan sang istri kini kembali memikirkan menantunya yang sama sekali belum mengetahui kebenarannya, ditambah lagi adanya sang buah hati. Benar benar sangat menyedihkan harus berhadapan dengan menantu serta cucu kesayangannya.
'Apa yang harus aku jelaskan pada Lunika, apa yang harus aku katakan padanya. Bagaimana aku bisa, sedangkan di pangkuannya ada sosok bayi yang harus mendapatkan kebahagiaan bersama kedua orang tuanya. Dan kini harus menjadi seorang anak yatim, sungguh hatiku serasa dicabik cabik hingga tidak lagi terbentuk hati.' Batin Nyonya Afna yang tidak mampu membayangkan menantunya ketika harus menerima kabar duka sedalam dalamnya.
__ADS_1